
"Bunda... bunda... bagus tidak kado yang mama kasih. Kata mama ini bikinan sendiri lo. Kata mama juga waktu kecil dulu mama selalu bikinin kayak gini"
Hah...
Ku hembuskan nafasku pelan. Inilah yang bikin aku penasaran dari tadi. Sweater yang dipakai Gendis saat pulang tadi. Sweeter itu sama persis seperti sweater yang Hana bikin bersama denganku kemarin.
Ettt... dah...
Dunia mah sempit amat. Ternyata kecurigaan ku benar adanya. Hana yang kutemui kemarin ternyata benar mama nya Gendis mantan istri mas Abhi. Pantas saja mas Abhi tergila-gila padanya. Hana begitu sempurna berbeda denganku yang cuma biasa-biasa saja.
"Bunda.. bunda.. marah ya sama Gendis. Kok diam saja sih? Maafin Gendis ya bunda, semalam papa bilang itu mama nya Hana jadi Hana kesenengan dan gak mau diajak pulang. Gendis cuma kangen sama mama... " Ucap Gendis sendu.
Rasanya tidak tega. Kamu gak salah kok Gendis. Semua anak memang menginginkan kasih sayang ibu kandungnya. Apalagi ibu kandung sebaik Hana.
Ya...
Aku bisa pastikan kalau Hana perempuan baik.Toh aku tadi sempat curi dengar percakapan mas Abhi dan juga mamanya.
Flashback on
"Apa-apaan kamu Abhi? Kamu pergi menemui Hana? Padahal mama sudah bilang kan, kalau Binar sudah mempersiapkan surprise buat ulang tahun Gendis. Makanya mama izinkan kamu bawa pulang Gendis. Kamu juga bawa Gendis menginap dengan Hana? Harusnya kamu mikir perasaan Binar kayak gimana Bhi? Jangan jadi lelaki plin-plan kamu. Hana cuma masa lalu kamu"
Saat ini mama dan mas Abhi sedang berada dikamar mas Abhi. Sejak kepulangannya tadi mama langsung menyeret mas Abhi ke kamarnya.
Bukan aku lancang mau mendengarkan perbincangan mereka. Hanya saja aku cuma berniat mengantar minuman kesana. Aku maunya mama dan mas Abhi bicara baik-baik. Sambil minum teh hangat yang ku buat ini.
Kalau ditanya apa aku cemburu? Tentu saja. mana ada istri yang tidak cemburu mendengar suaminya semalam menginap ditempat yang sama dengan mantan istrinya. Walaupun itu dengan anak mereka.
Karena terlanjur dengar aku pun hanya berdiri didepan pintu sambil membawa nampan itu. Toh aku juga penasaran dengan jawaban mas Abhi selanjutnya.
"Gendis yang minta menginap ma? Anak itu yang bilang kangen mamanya? Lagian kami tidur terpisah kok ma"
Ada sedikit kelegaan dalam hatiku. Setidaknya mas Abhi tidak menghianati pernikahan kami.
"Mama tau? Tapi kamu kan bisa pulang kerumah. Kalau Gendis sama mamanya ya biarkan saja. Tapi kamu gak ada kewajiban apapun dengan Hana" Ucap keras mama.
Baru aku mengerti, mama nya mas Abhi memang tipe perempuan yang bar-bar seperti diriku tapi sangat tegas dalam mengambil keputusan.
"Hana sakit.. ma? Sakit keras, dia hanya ingin bersama anaknya saja. Kalaupun dia tidak bisa sembuh nanti dia masih sempat mencurahkan kasih sayang buat Gendis"
Jadi mbak Hana sakit?
Ah...
Mendengar itu aku kasihan sama Gendis. Sekaligus marah sama mas Abhi. Yang terkesan masih perhatian dengan mantan istrinya.
"Lalu... Bukan urusan kamu lagi kan. Kalau Hana sakit. Ingat kalian sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi" Terdengar suara mama yang begitu menentang perbuatan mas Abhi.
"Ma... jangan ngomong gitu lah? Bagaimanapun Hana adalah ibu kandung dari putri ku.Dia adalah orang yang berarti bagi Gendis. Asal mama tau, Hana minta cerai dariku bukan karena dia sudah tidak mencintaiku tapi karena dia sudah tau tentang penyakitnya. Dia gak ingin Gendis dan aku ikut tidak bahagia dengan sakitnya dia"
Tes...
Tanpa terasa air mata ini jatuh begitu saja. Dari yang ku tangkap mas Abhi memang masih mencintai mantan istrinya itu. Bahkan dihadapan mama nya mas Abhi begitu membela mbak Hana dan mengabaikan perasaanku. Meskipun saat mengatakan itu mas Abhi fikir nya aku tak tau.
Tak terdengar suara mas Abhi mau menjawab atau membantah ucapan mama nya. Nyatanya laki-laki itu hanya diam tanpa mengiyakan atau mentidakkan ucapan mamanya. Artinya ada dua kemungkinan. Mas Abhi yang berniat kembali dengan mbak Hana atau kemungkinan kecil dia mau meneruskan pernikahan kami. Toh.. sampai sekarang pun pernikahan kami masih siri dan belum secara negara. Mungkin dengan mudahnya mas Abhi bakal ninggalin aku bukan.
"Dengar Abhi... Jangan sampai kamu membuat keputusan yang salah sama dengan keputusan yang Hana buat kamu. Mama tau kamu sudah sangat dewasa untuk memutuskan semuanya dengan akal sehat kamu. Jangan sampai kamu menyesal kemudian hari. Pertahankan apa yang sudah jadi milik kamu sekarang dan lupakan masa lalu kamu"
Tanpa terasa air mata ini semakin deras. Meskipun aku sakit hati dengan mas Abhi toh nyatanya mama mertuaku begitu membela ku.
Saat tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki menuju pintu, bergegas ku hapus air mataku dan segera berlari kekamar ku yang sudah ada Gendis disana.
Flashback off
Senyumku pun mengembang walau tidak sesempurna biasanya. Tapi aku mau menunjukkan pada Gendis kalau aku tidak marah padanya. Bukankah ini ulang tahun putriku. Maka tidak boleh ada kesedihan dihari ini.
"Siapa bilang bunda marah sama Gendis. Kalau Gendis bahagia bunda juga bahagia dong" Ucapku sambil mencubit pipinya yang gembul.
Ada senyum diwajah Gendis.
"Bunda... bunda... itu pasti kado buat Gendis ya? " Tiba-tiba Gendis meraih bingkisan kado yang ku bungkus semalam.
Ah... aku lupa menyembunyikannya.
Pasti Gendis akan kecewa dengan kado yang akan ku berikan padanya. Sangat beda jauh dengan yang mbak Hana kasih.
Tanpa menunggu jawaban dari ku. Gendis lalu merobek kertas yang membungkus kado itu. Matanya berbinar saat melihat isi kado itu.
"Yey.. Gendis dapat crayon baru. Makasih bunda.. Gendis seneng banget" Ucap Gendis sambil mencium pipiku.
Kalau kamu tau Gendis. Mamamu yang memilihkan crayon itu.
"Wow... Gendis juga dapat jepit rambut baru" Teriaknya tiba-tiba.
Ah.. bahkan mama mu juga yang mengajari bunda merajut. Kenapa seakan aku tak ada gunanya disini.
"Bunda.. kenapa bunda jadi sedih" Tiba-tiba Gendis menakup wajahku dan menghadapkan pada wajahnya.
"Bunda jangan sedih ya? Biarpun kado dari mama bagus. Kado dari bunda tetap yang terbaik"
Ah... meleleh rasanya hatiku.
Entah kenapa kamu adalah penguatku Gendis. Dan karena kamu aku akan selalu mempertahankan mas Abhi juga. Selama aku bisa....
*
*
*
Maaf kak ya up nya gak teratur lagi. Ini juga baru sampai mudik. He... he...
Di bela-belain demi kalian pecinta nguber duda.
Salam terus love.. love... buat kalian semua.