
Akhirnya hari ini aku putuskan bersama Gendis seharian. Setelah sebelumnya mbak Reni yang berjuang membujuk bapaknya Gendis.
Ternyata mbak ketemu gede ku itu faham banget jika aku berkeinginan bersama Gendis. Syukurlah.....
Biarlah hari ini aku kegerahan yang penting aku bisa bersama Gendis. Sedikit penasaran juga? Kok bisa Gendis selalu bisa nemuin aku di manapun aku berada. Dulu disaat aku sedang bersembunyi di dalam mobil Gendis juga tau keberadaan ku, sekarang saat aku menyamar jadi badut pun Gendis juga tau? Sebenarnya ikatan apa yang dia punya untukku?
Entahlah....
"Bunda... bunda... buka penutup kepalanya bunda. Memangnya bunda gak kegerahan apa? Kan papa sudah tidak ada disini" Ucap polos Gendis saat kami ada di taman komplek. Sedangkan mas Abhi memang sudah berangkat kerja tadi.
Eh....
Rupanya Gendis beneran tau kalau yang jadi badut itu aku. Aku fikir cuma nebak aja.
"Gendis tau dari mana kalau yang jadi badut itu bunda? " Tanyaku sambil membuka penutup kepala. Bener juga kata Gendis. Ngapain juga masih disembunyiin toh sudah ketahuan juga.
"Tau lah...? Gendis kan hafal bau nya bunda.
Tiap malam juga Gendis bakal ciumin baunya bunda kalau bunda gak bobok, in Gendis. Bunda jangan pergi-pergi lagi deh. Marahnya sama papa jangan lama-lama. Eh... kata oma, papa jahat ya sama bunda. Kalau gitu bunda perginya lama juga gak apa-apa. Tapi Gendis ikut bunda ya?Jangan tinggalin Gendis sendiri"Jawabnya.
Gemes banget dengar Gendis yang berceloteh seperti itu?Kayak bukan Anak-anak saja.
" Memang oma bilang papa jahat sama bunda? "Tanyaku kemudian
Gendis mengangguk kan kepalanya.
" Papa jahat banget ya sama bunda. Sampai bunda perginya lamaaaaaa...banget. Gendis sampai kangen tau gak ketemu bunda dua minggu"
Anak didepanku ini semakin menggemaskan saja.Aku jadi semakin menyayanginya. Agak gak rela tinggalin Gendis.
"Bunda boleh nanya satu hal gak sama Gendis? "
"Boleh bunda? " Jawabnya berubah ceria.
Kalau selama ini aku diam saja dengan perlakuan Gendis yang berubah drastis padaku. Maka kali ini aku harus bertanya langsung.
Dari awal bertemu Gendis yang sering kali membuatku sebal tapi kenapa bisa berubah jadi sangat manis denganku. Bahkan seakan tak terpisahkan denganku. Adakah yang sedang disembunyikan anak itu? Entahlah...
"Gendis kan dulu sering ngerjain bunda tuh? Kok sekarang enggak pernah lagi. Bukannya bunda gak suka, hanya saja bunda penasaran dengan sikap Gendis sama bunda yang sekarang jadi menggemaskan itu? "Lolos sudah pertanyaan itu. Semoga Gendis bisa menjawab rasa penasaran ku.
"Habisnya bunda gak ingat lagi sama Gendis. Jadinya Gendis ngerjain bunda biar ingat sama Gendis lagi"
Eh... ingat...?
Maksudnya apa coba? Emang sebelum acara baca puisi didepan umum itu aku pernah ketemu apa sama Gendis? Kok aku gak pernah ingat ya?
"Bunda gak ingat ya sama Gendis? " Tanya Gendis lagi.
Jawab jujur atau bohong gak ya? Tapi aku beneran gak ingat sama sekali. Orang yang aku temui banyak setiap hari. Masalahnya aku yang kerja ditoko jadi sering berinteraksi sama orang.
"Maaf.. tapi bunda lupa? Gendis mau bercerita gak awal ketemu sama bunda. Biasanya bunda kan yang cerita waktu Gendis bobo. Sekarang gantian dong Gendis yang bercerita? " Rayu ku.
Semoga saja Gendis beneran mau bercerita tapi juga gak marah karena aku yang melupakan awal pertemuan kami. Benar saja wajah Gendis berubah menjadi antusias.
Flashback On
Gendis Pov
Nama ku Gendis usiaku baru empat tahun.Awalnya aku bahagia.... banget. Punya papa dan mama yang sangat menyayangiku.
Papa lebih tepatnya yang selalu ada untukku. Kalau mama...? Sayang tapi gak se sayang papa. Soalnya mama sering pergi di luar kota. Kata papa sih mama lagi kerja?
Suatu hari rasa bahagiaku itu berubah saat mama baru pulang dari luar kota . Untuk pertama kalinya aku lihat mama dan papa bertengkar.
Sejak saat itu semua berubah. Mama jadi jarang pulang dan lebih sering pergi. Bahkan ketika mama pulang selalu saja terdengar teriakan yang berasal dari suara mama dan papa.
Aku sedih... dan sering kali menangis didalam kamarku sendiri.
Hingga suatu hari aku dipertemukan dengan seseorang yang entah mengapa aku yakini sebagai sumber kebahagianku.
Sore itu ketika lagi-lagi aku mendengar pertengkaran mama dan papa aku menyelinap keluar rumah. Rasanya telingaku sudah tidak tahan lagi mendengar suara-suara itu.
Saat aku sedang berjalan tiba-tiba sebuah sepeda menyerempet ku hingga terjatuh. Lututku berdarah, pengemudi itu segera turun dari sepeda nya.Untung cuma sepeda kecil saja.
"Maaf sayang... kakak gak sengaja. Aduh gimana ini? Lututnya berdarah lagi?Mama kamu mana sayang? Kok anak cantik kayak kamu bisa berjalan sendiri di jalan an? " Ucap kakak cantik itu sambil meniup-niup luka yang ada di lututku.
Sempat aku memandang nya. kakak cantik itu benar-benar terlihat khawatir. Rasa khawatir yang harusnya aku dapatkan dari mama ku sendiri dan kini sudah jarang ku dapatkan sejak mama dan papa sering bertengkar.
"Sakit banget gak sayang, kalau sakit kakak ajak ke puskesmas ya. Maaf kakak gak bisa bawa kamu kerumah sakit. Soalnya kakak gak punya uang banyak. Tapi sebelum itu kita cari orang tua kamu dulu ya. Nanti kakak dikira nyulik kamu lagi" Ucapnya penuh kasih sayang.
Tapi aku gak mau mama sampai papa tau. Bisa-bisa nanti mereka tambah berantem lagi.
"Gak sakit kok bunda, ditiupin bunda aja langsung sembuh" Ucapku reflek. Gak tau kenapa aku pengen banget panggil kakak cantik itu bunda.
Kakak cantik itu menatap ku dengan heran. Tapi gak bisa berkata apa-apa lagi.
"Masa sih gak sakit"
Aku menggelengkan kepala
"Beneran gak sakit" Tanya kakak eh bunda ding. Kan kakak cantik itu sudah Gendis anggap jadi bunda nya Gendis.
"Jadi beneran gak pakai ke puskesmas atau ke rumah sakit dulu? " Tanya bunda lagi.
Aku menggeleng lagi.
"Tapi lukanya berdarah lo, harus diobati biar gak infeksi. Gini aja? Kakak beliin betadin sama hansaplast di warung dulu nanti kakak yang obatin kamu"
"Bunda yang obatin, bukan kakak"
Lagi-lagi bunda memandangku heran tapi tetap tersenyum.
"Ya sudah kakak...eh...maksudnya bunda beliin betadin dulu ya? Kamu tunggu disini dulu"
Bunda segera berlari menuju warung terdekat. Tak berapa lama kemudian bunda kembali lagi membawa satu kantong obat yang dibilangnya tadi.
Dengan penuh perhatian bunda mulai mengobati luka yang ada di lututku. Harusnya mama yang melakukannya tapi mama lagi sibuk berantem sama papa.
"Dah... bentar lagi pasti sembuh. Anak kuat anak hebat. muaah.. muaah.. "
Setelah mengobati lukaku bunda menciumi luka itu. Sehingga aku benar-benar merasa sangat bahagia. Setelah mengobati lukaku bunda mengajakku makan bubur ayam di pinggir jalan baru kemudian mengantar ku didepan rumah ku.
Maaf bunda... Gendis gak bisa ajak bunda masuk. Nanti mama dan papa marah lagi. Gendis cuma berharap kita bakal ketemu lagi bunda? Dan semoga bunda gak lupain Gendis.
Flashback Off
*
*
*
Dikit dulu yang penting bisa up. Lagi capek banget habis bantuin acara tujuh bulanan adek.
Besok lanjut lagi ya? Semoga bisa banyak up nya. He... he... kalau gak ada acara.