Nguber Duda

Nguber Duda
Delapan Puluh Tiga



"Aduh... sayang... sepertinya nanti aku akan menyuruh tukang buat kamar mandi di dalam kamar deh. Kalau perlu rumah kamu ini aku rombak semuanya dan ada kamar mandinya di dalam. Masa ada kamar mandi jauh banget, serem lagi"Ucap mas Abhi sambil mengelus perutnya yang sakit dan mengoles,i nya dengan minyak kayu putih.


Sejak semalam mas Abhi memang sudah bolak-balik ke kamar mandi karena diare dan berlanjut hingga pagi hari ini. Salah sendiri gak bisa makan sayur kangkung malah nunjuk asal makanan itu. Mana aku tahu coba?Tinggal serumah cuma sebulan doang terus sebulan lebih pisah rumah. Pantesan aja mbok Sumi gak pernah masak sayur kesukaan ku itu.


"Ya.. ya.. terserah kamu aja deh mas" Ucapku sambil memejamkan mata. Udah gak bisa fokus sama ucapan mas Abhi.Jafi suka-sukavkamu aja deh mad.


Gara-gara mas Abhi yang diare semalam, aku pun gak bisa tidur juga. Alhasil sekarang aku ngantuk banget. Ya minta dipijitin lah, ya minta di antarin ke kamar mandi lah. Mau kerumah sakit ataupun puskesmas pun susah, jauh.... kalau dari sini. Adanya juga obat warung. Itupun udah malam jadi warungnya banyak yang tutup. Jadinya baru bisa beli pagi ini.


"Aku udah siapin makan di atas meja mas, aku juga udah beliin obat diare diwarung. Kamu makan dan minum obatnya sendiri ya mas. Maaf gak bisa nemenin kamu. Mata aku ini udah tinggal satu watt. Aku mau tidur sebentar dulu" Ucapku lalu menarik selimut sampai menutupi kepala ku.


Asli...


Aku udah gak bisa nahan kantuk lagi. Biar deh di bilang istri durhaka. Tapi kan udah dari semalam aku jagain mas Abhi? Udah ambilin makan juga obat juga. Sekarang aku mau istirahat sebentar dulu.


Lagian mas Abhi walaupun diare gak lemes-lemes amat. Aslinya cuma beberapa kali doang ke WC nya. Hanya saja kenapa kalau laki-laki yang sakit itu manjanya minta ampun. Beda banget kalau perempuan yang sakit.(Ada yang samaan di dunia nyata Hi.. Hi...). Berasa perempuan lebih bisa nahan sakit dari pada laki-laki.


Setelahnya aku benar-benar tertidur dan gak ingat apa -apa lagi.


Aku baru terbangun saat ku dengar ada suara berisik dari luar.


Pelan... aku mengucek mataku lalu menghampiri sumber suara itu. Terlihat mas Abhi sedang berbincang dengan seorang pemuda. Siapa? Kayaknya gak pernah lihat. Tapi tetap saja aku menghampirinya karena penasaran.


"Sayang udah bangun " Sapa mas Abhi padaku. Ku lirik sebentar mas Abhi. Outfit yang digunakan masih sama seperti semalam saat mulai diare. Kaus oblong dan juga sarung punya ayah.


Pengen ketawa tapi takut gak sopan. Masa iya aku ngetawain suami sendiri, lagi ada tamu lagi.


Eh... tapi tamunya siapa sih? Kayak pernah lihat tapi agak-agak lupa gitu.


"Ada tamu mas, Siapa? " Tanyaku dari pada penasaran.


"Saya Vano mbak Binar, masa lupa sih? Itu lho adik nya mbak Ranti" Ucap Vano sendiri yang memperkenalkan diri.


Lho.. lho.. kok dia bisa kenal namaku sih? Vano... Vano... siapa sih. Ranti juga siapa?


Ah... ya... Tiba-tiba aku ingat nama Ranti. Bukan nya mbak Ranti itu istri pertama dari juragan Santos. Jangan- jangan Vano ini mata-mata juragan Santos lagi. Bisa saja pria doyan kawin itu mau balas dendam sama keluarga kami karena kemarin di kerjain habis-habisan sama mas Abhi.


"Ngapain dia datang kemari mas?Mau balas dendam ya sama kita? " Bisik ku pada mas Abhi. Sementara yang ku bisik'i hanya tertawa.


Nyebelin...


Dari tadi aku yang nahan ngetawain kamu mas, eh sekarang kamu malah ngetawain aku.


"Bukan sayang, jadi Vano ini pernah magang di perusahaan mas beberapa bulan yang lalu. Tadi waktu mas nyari toko buat bahan bangunan gak taunya yang jaga Vano. Jadi mas ajakin kesini aja. Sekalian mas mau ngobrol sama dia dan sekalian bicarain rencana mas. " Jelas mas Abhi.


Emang ya kalau ngomong sama orang ngantuk itu percuma. Aku sih udah lupa aja apa yang di bicarain mas Abhi pas aku mau tidur tadi.


"Bangun rumah ini lah yang, sekalian mas mau rombak total. Mas mau bikin kamar mandi di setiap kamar. Gila aja masa mau ke kamar mandi aja harus lewat hutan belantara dul. Serem lagi"


Hampir saja aku menyemburkan tawa ku.Jadi masih masalah yang itu...? Eh... tapi apa yang mas Abhi bilang? Mau bangun rumah ini. Uang dari mana coba kami...? Gak enak aja kalau harus pakai uang mas Abhi lagi. Yang untuk bayar hutang kemarin aja belum kami ganti. Masa iya sekarang aku harus pakai uang mas Abhi lagi.


"Mas... tapi.. kan? " Belum sempat alu mengutarakan maksudku laki-laki itu sudah menarikku di pangkuannya. Duh... malunya... ada Vano lagi di sini. Emang dasar mas Abhi mes*m.


"Gak usah mikir yang aneh-aneh sayang. Uang aku uang kamu juga. Lagian aku juga udah dapat izin dari ibu kok buat bangun rumah ini"


"Iya lah mbak, bantuin Vano juga lah. Kalau pak Abhi jadi beli ditoko bangunan kami kan bagus untuk toko juga Vano. Ini hari pertama Vano kerja dan langsung dapat pelanggan besar kayak pak Abhi ini"


"Tapi bukannya toko itu punya.. ? "


"Punya mbak saya, toko itu toko milik keluarga kami sebelum menikah dengan kak Santos. Jadi mbak gak usah khawatir tentang itu"


Syukurlah... setidaknya juragan Santos tidak bisa merecoki nanti.


"Eh... tapi mbak bisa gak mesra-mesraannya dikamar aja, gak kasihan apa sama saya yang lagi jomblo ini. Jadi pengen cepet kawin aja" Ucap Vano


Eh... hampir saja lupa kalau saat ini lagi duduk dipangkuan mas Abhi. Jadi malu sama Vano. Perlahan ku geser duduk ku sambil nyengir. Sementara mas Abhi terlihat biasa aja.


"Makanya buruan nikah, biar ada yang kamu pangku in dan gak ngiri pengantin baru aja.Mau aku cariin jodoh buat kamu"Ucap mas Abhi


" He.. he... gak usah deh pak, masih suka berpetualang belum mau tobat"


Ck... dasar cowok sekarang, sukanya ganti-ganti cewek. Sepertinya Vano tipe-tipe cowok petualang cinta. Bukan calon cowok idaman deh si Vano itu. Untung dapatnya duda jadi gak pakai main-main lagi. Udah jleb langsung cocok dihati aja. Meski ada sedikit halangan dan rintangan di awal. Tapi kini semua sudah teratasi.


"Bundaaaaa.... bunda.... " Tiba-tiba ku dengar suara teriakan anak kecil.


Kayaknya aku kenal banget dengan suara itu. Segera aku berdiri dan berbalik. Gendis terlihat berlari dan menerjang ku.


Senang... tentu saja... Entah kenapa hari ini aku merasa bahagia sekali.


*


*


*