
"Sayang... alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga. Mas, kangen banget tau sama kamu. Mas, takut kalau sampai kehilangan kamu, " ucap laki-laki yang ada di sampingku.Jemari tangannya terus menggenggam jemariku. Sesekali dikecup nya jemariku itu.
Beh luar biasa...
Kalau saja kondisiku sudah sehat dan tidak lemah sudah aku kibaskan tangannya itu jauh-jauh dari tubuhku. Bahkan mungkin aku akan memukili Mas Abhi dan juga Mbak Hana dengan sapu atau apapun itu
Mereka fikir aku tak tau.
Pandai sekali mereka melakukan pencitraan di depan ku saat ini. Memangnya aku tidak dengar apa yang barusan Mas Abhi ucapkan pada mantan istrinya itu. Ataupun apa yang di ucapkan Mbak Hana dengan Mas Abhi. Meskipun mataku terpejam, tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.Sangat jelas malahan.
Ya...
Dua jam yang lalu mata ini kembali terbuka setelah sekian lama aku tersesat di sebuah tempat yang tak ku ketahui di mana?Aku seakan terombang-ambing di suatu tempat dan tidak tau arah jalan pulang.
Hampir aku menyerah dengan keadaan.Sungguh saat itu aku sudah pasrah dengan takdir yang harus aku terima.Ketika sayup-sayup aku mendengar suara Mas Abhi dan Mbak Hana yang sedang berbincang-bincang. Suara itu membawaku menuju ke sebuah pintu. Semacam pintu yang di miliki doraemon mungkin. Karena setelah aku memasukinya, mata ini bisa melihat kembali.
Ya... seketika aku tersadar dan benar saja kedua orang itu yang pertama kali aku lihat keberadaannya.
Aku jadi yakin sekali jika ucapan Mas Abhi dan Mbak Hana itu nyata adanya.
Tega sekali mereka mendoakanku tiada. Bahkan sebelum aku di panggil Yang Kuasa mereka sudah merencanakan untuk kembali bersama dan membuangku jauh dari mereka. Apakah itu artinya ungkapan cinta yang Mas Abhi ucapkan padaku hanya kebohongan semata. Laki-laki itu hanya mencari waktu yang tepat untuk membuangku jauh dari hidupnya. Dan benar saja kini mereka memiliki kesempatan itu saat aku sedang tidak berdaya.
Tidak...
Tidak akan aku biarkan kalian menang semudah itu. Kalian memang masih bisa bersama tapi sebelum itu, akan ku bawa lari anakku jauh-jauh dari kalian. Aku tidak mau anakku harus diasuh oleh mereka. Akan aku tunggu kondisiku fit dulu baru setelah itu aku akan melaksanakan rencanaku.
Ngomong-ngomong soal anak, aku sempat nangis haru saat Mas Abhi bilang anak ku lahir dengan selamat.Aku fikir aku akan kehilangan anakku saat aku didorong dan mengalami pendarahan waktu itu. Harusnya aku berterimakasih dengan Mas Abhi karena membawaku cepat kerumah sakit. Tapi setelah mendengar ini kenapa aku mikirnya Mas Abhi hanya ingin anaknya saja yang selamat.
'Bramasta Sadewa'
Nama itu yang di pakai Mas Abhi untuk menamai anak kami. Agak heran juga sih kenapa Mas Abhi memakai nama yang aku simpan di buku catatabku. Padahal Mas Abhi 'kan niatnya mau membuang aku setelah melahirkan.
"Bee.. senang akhirnya bisa melihatmu kembali. Jangan sakit lagi ya Bee.. Mas Abhi dan anak-anak masih membutuhkan kasih sayang kamu. "
Kali ini Mbak Hana yang bicara yang otomatis membuyarkan lamunanku. Kemarin-kemarin aku masih respek sama dia dan menganggapnya memang orang baik. Namun sejak aku mendengar pernyataan nya tadi, di saat aku masih koma. Kok rasanya sekarang sebel banget ya.
Lagian...
Masih belum pulang saja sih Mbak Hana. Masih mau memastikan keadanku kah?
Karena malas menjawab ku alihkan saja wajahku ke arah lain. Biar aja mereka tau kalau aku mendengar obrolan mereka makanya sekarang aku jadi sebel sama mereka.
Tak ku dengar lagi suara Mbak Hana maupun Mas Abhi. Tapi sempat aku lihat mereka berpandangan sebentar. Tapi... Setelahnya mereka malah tertawa.
Apanya yang lucu?
Kok aku jadi horor ya? Jangan-jangan mereka berniat mengatakan hubungan mereka padaku saat ini juga.
Setega itukah mereka padaku.
"Kamu sakit aja ngegemesin banget sih Yang. Apalagi kalau gak sakit. Aku suka cemburu kamu itu. Karena tandanya kamu memang cinta mati sama suami kamu ini," ucap Mas Abhi yang bikin aku makin bingung.
Maksudnya apa coba ngomong gitu sama aku.
"Kamu tau gak, Yang. Waktu kamu koma. Setiap harinya Mas selalu ngajakin kamu bicara. Mas cerita tentang masa kita pertama kali bertemu, Mas cerita tentang anak-anak kita. Perkembangan Dewa dan juga Gendis. Tapi kamu gak ada respon sama sekali. Tapi.... " Sedikit Mas Abhi menjeda ceritanya.
Bikin penasaran, beneran gak sih Mas Abhi ngelakuin semua itu. Tapi kok aku gak ngerasa seperti itu.
"Mau tau gak Yang lanjutannya. Tapi harus lihat sini dong kalau mau lanjut terusannya, " ucap Mas Abhi.
Noleh apa enggak ya. Kalau noleh berarti aku menghadap mereka lagi tapi kalau enggak 'kan jadi penasaran. Akhirnya meski masih manyun ku toleh kan saja kepala ku ke arah Mas Abhi dan juga Mbak Hana.
"Senyum dong , Sayang. Kalau gak senyum gak Mas terusin nih. "
Nyebelin...
Akhirnya ku paksakan senyum pepsodent ku. Biar kata aku koma dua minggu tapi waktu aku bangun badanku wangi semua. Mungkin suster di sini merawatku dengan baik. Makanya aku bisa wangi.
"Nah... gitu 'kan cantik. "
Kembali Mas Abhi meraih jemariku dan menggenggam nya dengan erat.
"Kamu tau, Sayang. Ternyata kamu bisa sadar karena ada Hana. Respon kamu begitu cepat saat ada Hana. Bahkan kami sengaja bersandiwara dengan mengatakan akan kembali bersama saat kamu tak kunjung sembuh. Benar bukan, seketika kamu langsung membuka mata kamu. Tapi demi Tuhan. Tak pernah terpikir sedikitpun Mas, akan berpaling dari mu. Bahkan jika terjadi sesuatu hal terburuk terjadi. Mas berniat akan menyusulmu. "
Ucapan Mas Abhi berhenti seiring dengan jatuhnya air mata laki-laki itu. Pertama kali nya ku lihat laki-laki yang berstatus sebagai suamiku itu menangis di hadapanku.
"Jangan ragukan cintanya Mas Abhi sama kamu ya Bee... Dulu memang kami pernah bersama.Tapi itu dulu dan sudah menjadi masa lalu. Percayalah, cintanya Mas Abhi sekarang hanya untuk kamu seorang, " tambah Hana.
Benarkah apa yang aku dengar di tidur ku itu hanya sandiwara. Nyatanya memang tidak aku temukan kebohongan di wajah mereka. Semuanya terasa benar adanya.
Jika seperti itu? Apakah artinya Mas Abhi memang sangat mencintaiku?
"Mas, cinta kam, Sayang. Sangat cinta, maka jangan ragukan rasa cinta ini lagi, " ucapnya yang seolah tau aku sedang bertanya seperti itu.
Kalau sudah begini haruskah aku masih ngambek? Tentu saja tidak. Meski bibir ini masih belum bisa berucap tapi aku menjawab semua rasa cinta Mas Abhi dengan senyuman. Senyuman yang tulus tentunya.
'I love you to, Mas, 'batinku
*
*
*