
"Cantiknya anaknya bunda" Puji ku pada Gendis yang malam ini memakai baju yang aku belikan tadi pagi di pasar. Meskipun murahan dan gak sebanding dengan baju Gendis yang biasa dia pakai. Toh putriku itu memang terlihat cantik dan menggemaskan. Emang dasarannya cantik ya mau pakai baju apapun tetap saja cantik.
Yang dipuji hanya tersenyum malu-malu menunjukkan lesung pipit di pipinya. Sesekali diputar tubuh kecilnya sehingga roknya mengembang.
Udah kayak model aja putri kecil ku ini.
Ah.. rasanya sungguh bahagia melihat Gendis se bahagia ini.
"Cantiknya juga bundanya Gendis" Kali ini Gendis yang ganti memujiku.Sambil mencium pipiku.
Ceh.. dasar peniru. Gemes banget sih. Gak apa-apa ding mumpung ada yang memuji. He.. he...
"Bundanya siapa dulu dong? "
"Bundanya Gendis" Jawab kami bersamaan sambil tertawa bersama.
Tak pernah terbayangkan jika aku dan Gendis bisa mempunyai ikatan seperti ini. Gendis memang bukan anak yang terlahir dari rahim ku. Tapi aku sudah menganggap Gendis seperti anak ku sekarang.Awalnya memang kami sering cekcok tapi aku bahagia sekarang bersamanya.
Senang rasanya melihatnya yang lengket padaku.
Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil. Kayaknya mas Abhi sudah pulang. Ok let's Go... saat nya menyambut suami tercinta pulang.
"Kita sambut papa dulu yuk" Ajak ku pada Gendis.
"Bunda saja deh, Gendis mau ambil bando dulu dikamar" Ucap Gendis lalu berlari ke kamarnya.
Anak ini..
Aku pun hanya menggelengkan kepalaku.
Lalu aku segera turun ke bawah menemui mas Abhi.Begitu sampai dihadapannya segera aku raih tangannya dan mencium nya.
Mas Abhi terlihat bengong melihatnya. Kelamaan menduda sih kamu mas, makanya agak aneh gitu pas ada yang menyambut kamu waktu pulang kerja.
Emang gak rugi kamu memperisti Binar yang sholeha ini. Ea....
"Biasa kali mas istri nyambut suami nyium tangan. Gak usah sampai bengong gitu" Sindir ku saat mas Abhi yang masih bengong aja.
"Atau mas Abhi mau sambutan yang beda. Cium tangan udah biasa kali yah. Coba mas bilang mau dicium dimana disini, disini atau disini" Tambah ku sambil menyentuh pipi, kening dan bibirku dengan telunjuk tanganku.
Mas Abhi tampak menghela nafas dengan kasar.
"Bisa gak sih kamu gak terlalu mesum. Kalau Gendis lihat gimana? Sudahlah... aku ganti baju dulu setelah itu kita kerumah mama" Ucap mas Abhi lalu meninggalkanku sendirian.
"Ck... masih aja gak ada manis-manisnya. Air mineral aja ada manis-manisnya, masa kamu dari dulu datar mulu mas" Gerutu ku dalam hati.
Masa sih aku mesum...
Perasaan biasa aja, mas Abhi aja yang gak peka. Coba kalau cintanya mas Abhi buat aku pasti udah kesenengan saat aku mau menciumnya. Awas aja nanti kalau udah bucin minta cium-cium aku. Gak bakal aku kasih.
Jiah... ceritanya dendam nih. Kalau nanti mas Abhi udah bucin ya aku pasti seneng banget dong.Aku kasih deh seluruh wajahku untuk diciumnya. Sayangnya... kapan waktu itu terjadi entahlah....
******
Mobil mas Abhi baru saja memasuki kediaman orang tuanya. Begitu mobil sudah terparkir sempurna kami pun segera turun dari mobil.
Pas aku keluar, pertama kali yang ku lihat adalah mobil yang berjajar-jajar. Sepertinya sedang acara di dalam rumah ini. Tapi acara apa? Mungkinkah mas Abhi sudah memberi tahu keluarganya tentang pernikahan kami, sehingga saat ini di adakan acara penyambutan ku.
Memikirkan itu kok aku jadi bahagia sih. Tanpa sadar aku pun jadi srnyum-senyum sendiri.
"Bunda. . bunda... " Ucap Gendis membuyarkan lamunanku. Putri kecilku itu menarik-narik bajuku. Sehingga mau tak mau aku melihat kearahnya.
Gangguin bunda aja kamu Ndis.
"Ada apa sayang? " Tanyaku padanya. Gendis lalu menunjuk ke suatu tempat dan terpaksa aku mengikuti arah ujung jarinya.
"Bukannya itu mobil yang bikin bunda mandi lumpur tadi pagi ya? " Ucap Gendis kemudian.
Masa sih...Kuperhatikan mobil yang ada dihadapanku itu dengan teliti.
Warna mobilnya sih sama. Bentuk dan modelnya juga sama. Tapi kan yang punya mobil itu gak hanya satu dikota ini.
"Salah lihat kali Gendis" Ucapku
Gak mungkin juga orang yang membuatku mandi lagi setelah dari pasar ada disini.
Ok.. lah... kalau misalnya mobil ini yang membuat karya indah dengan cipratan nya tadi pagi. Terus sekarang aku harus apa? Balas bikin cipratan dimobil ini juga gitu.
Ya salam... Gendis...
Tadi aku cuma bercanda mencari pemilik mobil untuk pertanggungjawaban. Cuma keceplosan aja. Kali aja mobil itu memang kebetulan lewat terus gak sengaja ada genangan.
Kalau benar aku minta pertanggungjawaban bisa bikin tambah gawat.
Kan mobilnya disini otomatis yang pemilik mobil ini ada disini.
Dengar ya disini...
Artinya pemilik mobil ini kenal dengan orang tuanya mas Abhi.
Apa kata dunia melihat Binar mencak-mencak dirumah mertua? Bisa langsung dipecat jadi mantu nanti.
Ih.. gak mau..aku kan udah cinta sama mas Abhi.Gak mau deh dipisahkan dari suami tercinta ku itu.
"Ada apa Gendis sayang? " Tanya mas Abhi yang baru saja mengunci mobilnya.
"Papa itu mobil yang sudah bikin bunda mandi lumpur tadi. Pokoknya papa harus beri pelajaran sama pemilik mobil itu. Karena sudah bikin bundanya Gendis kotor semua" Cerita Gendis
Mati aku....
Kalau mas Abhi tau aku ngajak Gendis ke pasar. Beneran runyam.
Terlihat mas Abhi juga masih bingung, karena cerita Gendis yang masih menggantung. Semoga Gendis gak makin aneh-aneh ceritanya.
"Ish... papa.. gak gercap banget sih. Udah dibilangin. Pemilik mobil itu yang bikin bunda mandi lumpur dipasar papa malah diam saja"
Tet
Tot
Kamu ketahuan.....
Lihatlah mas Abhi udah melotot kearahku dan aku hanya nyengir kuda kepadanya.
"Gendis masuk kedalam dulu ya, papa mau bicara sama bunda" Ucap mas Abhi pada Gendis
Alamat dimarahin beneran ini.
Gendis mengangguk.
"Jangan lupa yang tadi papa" Ucap Gendis sambil berlari ke dalam.
Kini tinggal aku dan mas Abhi yang saling berhadapan.
Ditatap seperti itu gak bikin aku takut tapi malah bikin aku tersepona sama kamu mas. Eh.. terpesona ding.
Gak apa-apa deh kamu marahin aku mas. Asal kamu gak berubah aja jadi hulk. Hi.. Hi...
"Untuk apa kamu ajak Gendis ke pasar. Kamu gak tau kalau disana sangat berbahaya" Omel mas Abhi di awal kalimat.
Ck.. dasar kamu lebay mas. Dimana pun tempatnya juga ada bahayamya masing-masing. Kita cuma perlu hati-hati saja.
"Cuma mau beli baju baru saja mas. Ini yang aku pakai sama yang dipakai Gendis tadi? " Jawabku jujur.
Sesuai dugaanku mas Abhi pasti langsung syok.
"Jadi kamu kasih anak saya baju murahan" Ucap mas Abhi cukup keras.
Ya salam...
Hobby banget kamu marah-marah mas. Untung gak cepat tua.
*
*
*