Nguber Duda

Nguber Duda
Delapan



"Jadi anak itu anak tetangga dekat kosan kamu Bee... aku fikir kamu beneran udah nikah sama duda yang punya anak gitu.Kan aku taunya sebelumnya kamu emang belum nikah. Syukur deh kalo gitu. Setidaknya masih ada harapan untuk hubungan kita" Ucap mas Kai ketika kami bertemu ditaman sore ini dan tentunya setelah aku menjelaskan panjang kali lebar perihal suara anak yang memanggilku bunda di sambungan telpon tadi.


Gila senjata makan tuan nih kayaknya aku. Kemarin aku bikin Gendis KO dengan kata bunda. Eh.. sekarang justru aku yang dibikin kelimpungan sendiri. Untung Kai percaya.


Kalau ditanya aku bakal milih mas Abhi atau Kai jawabannya tentu mas Kai.Tapi setelah mas Kai punya alasan yang tepat saat meninggalkanku kemarin ya.


Aku gak munafik sih suka dua-duanya habisnya pada ganteng semua. Tapi aku bakal milih yang tentunya juga suka sama aku. Dan itu mas Kai, mas Abhi sulit untuk digapai dia terlalu datar untuk orang yang pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Apa karena wajah datarnya itu ya makanya mas Abhi pisah sama istrinya.


Lagian udah kentara sekali kalau mas Abhi gak suka sama aku beda sama mas Kai.


Ngomong-ngomong soal mas Abhi, aku gak bakalan berhenti gangguin dia walaupun nanti aku udah resmi balik lagi sama mas Kai. Bukan aku mendua ya hanya saja....


Gangguin mas Abhi itu udah kayak nikotin buat aku bikin ketagihan.Cita-cita aku saat ini adalah bikin lengkungan indah seperti pelangi dibibir mas Abhi.


Sejauh mata memandang mas Abhi itu bukan pria jahat kok. Hanya hidupnya yang terlalu monoton dan kurang berwarna. Mukanya datar... mulu.


"Bee... kamu mau maafin aku dan kembali seperti dulu kan" Tanya mas Kai memecah lamunanku.


Tidak sebelum kamu punya alasan yang pas mas.


"Jadi apa yang akan kamu katakan untuk membuatku luluh kembali"


Terlihat mas Kai menghembuskan nafasnya pelan lalu menggenggam jemari tanganku.


"Berjanjilah kamu akan tetap di sisi ku dan akan berjuang bersama ku nanti"


wait.. wait.. wait.. maksudnya apa coba. Berjuang yang kayak gimana dulu ini. Kalau buat bayar hutang ampun... utang ku masih banyak banget mas. Kalau modal ganteng doang terus banyak hutang ya kayaknya bye aja deh.


Bukan aku cewek matre ya. Hanya saja aku berfikir realistis. Aku yang udah hidup blangsak masa juga harus dapat cowok lebih blangsak lagi. Ngenes banget hidupku kalau sampai kejadian. Hidup rumah tangga gak melulu cuma karena cinta doang fakta nya uang juga penting. Bisa gak mati tua karena ini.


"Mas Kai gak lagi dikejar-kejar rentenir kan? " Tanyaku penasaran. Kali aja....


Habisnya mas Kai tiba-tiba ngilang sih.


Terlihat senyuman dari wajah mas Kai.


"Enggak lah Bee.. kalau sampai itu terjadi aku gak akan pernah kembali sama kamu. Aku lebih baik menghilang untuk selamanya"


Jawaban mas Kai bikin aku bernafas lega.


"Terus kenapa waktu itu tiba-tiba ngilang? "


"Janji dulu kamu gak akan tinggalin aku? " Ucapnya sambil mengulurkan jari kelingking.


"Gak mau ah... aku gak mau asal janji dulu mas. Takutnya aku gak bisa tepatin nanti. Kamu cerita dulu deh. Nanti kita selesai ini bareng-bareng"


Sok dewasa banget ya. Padahal aslinya hatiku sedang ketar-ketir gak karuan. Kira-kira apa yang mau disampaikan mas Kai sama aku.


"Orang tua ku tau hubungan kita Bee.. mereka mengirim aku ke kampung ayah. Bahkan tanpa alat komunikasi sama sekali. Makanya aku gak bisa hubungin kamu"


Ada rasa sesak yang menghimpit relung dada ini. Jadi karena masalah restu.


"Apa karena aku orang miskin ya mas" Ucapku pelan.


Mas Kai menggenggam jemariku dengan lembut. Dan sepertinya tebakanku memang benar.


"Kamu pernah dengar tetesan air hujan yang bisa melubangi batu.Aku mau kita sama-sama berjuang seperti air hujan itu Bee.. Kita sama-sama yakinkan ibu dan ayah ku untuk menerima kamu"


"Bee... kamu mau kan berjuang bareng aku" Tambah mas Kai.


Hah... sepertinya aku harus pasrah. Cowok ganteng didepanku ini kayaknya udah bucin habis sama aku. Apa bagusnya coba diriku. Gak cantik-cantik amat miskin lagi. Tapi aku juga salut sama perjuangan mas Kai sih..


"Iya mas, aku mau" Jawabku kemudian dan seketika membuat laki-laki itu memelukku dengan erat.


"Makasih ya Bee... " Ucapnya dengan penuh kegembiraan.


Aku tidak tahu apa keputusanku ini benar atau salah. Tapi aku hanya mengikuti naluri ku saja.Mas Kai benar-benar orang baik.


Ck... jadi ingat mas Abhi. Apa artinya setelah ini aku gak bisa lagi manggil-manggil namanya. Kamu sih mas Kai datangnya pas aku udah kecanduan berat sama mas Abhi.


"Kalau gitu besok pulang kerja aku jemput kamu buat ketemu sama orang tuaku ya Bee... "Ucap mas Abhi tiba-tiba.


Asli aku langsung melongo mendengarnya. Secepat itukah? Gimana kalau orang tua mas Abhi garang macam kak Ros? Ish... ish... ish... kok jadi ngeri sendiri?


" Emang gak kecepetan mas? "


Kemarin aja pas ketahuan kamu diungsikan ditempat terpencil mas, gimana kalau sekarang mereka tau kamu bawa aku untuk nemuin mereka? Bisa-bisa bukan kamu aja tapi aku juga yang langsung mereka buang ke planet pluto.


Eh.. pluto udah gak diakui jadi planet ya. Ya udah deh dibuang yang dekat-dekat aja.Planet Mars mungkin? Biar gak lama-lama pulangnya bisa langsung pesan gojek he.....


"Lebih cepat lebih baik Bee.. aku gak mau menunda lagi"


Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk pasrah. Terserah kamu aja lah mas?Kita jalani aja dulu.


Setelah itu kami banyak membicarakan masa lalu kami. Hingga kemudian mas Kai mengantarku kembali ke kosan ku.


Ya saat aku mengenang masa lalu kami.Aku seperti ditarik ke waktu saat pertama kali bertemu mas Kai dulu.


Mengingat itu aku jadi ingat saat pertama kali bertemu dengan mas Abhi juga. Kalau ditanya apa aku lupa dengan mas Abhi jawabannya tidak. Justru kenapa aku malah ke ingatan sama mas Abhi ya? Apalagi Gendis. Tiba-tiba aku kangen dengan kejahilannya.


Entahlah... sepanjang perjalanan pulang aku hanya mengingat mas Abhi. Bayangan ke garangan orang tua mas Kai saja kalah dengan ingatanku tentang mas Abhi.


Aku tidak berani mengatakan kalau aku jatuh cinta padanya.Tidak... tidak....


Toh nyatanya saat ini aku dan mas Kai kembali menata hubungan kami.


"Apa sih kamu Binar... masih aja ingat laki-laki lain. Fokus sama laki-laki yang ada dihadapan kamu" Ucapku dalam hati mencoba melupakan mas Abhi.


Tanpa terasa motor yang kami tumpangi sudah sampai didepan kosan ku.


"Kamu ngelamun Bee, udah sampai nih" Ucap mas Kai.


Segera aku turun dari motor. Namun baru juga aku melepas helm kulihat Gendis sudah berdiri didepan gerbang kosan ku.


Wah... alamat cari masalah ini.


*


*


*