
Aku merasakan ada yang menggelitik wajahku saat aku sedang tertidur.Tubuhku juga terasa sedikit susah bergerak. Kayak ada yang nindih gitu.
Mimpikah aku......
Tapi semuanya seakan nyata.Perlahan ku coba membuka mataku, meski sejujurnya sungguh masih terasa berat. Masih ngantuk banget aih....
Saat mata ini mulai sedikit terbuka. Sayup-sayup ku lihat ada sosok yang sedang menindihku dan menggerakkan tangannya disekitar wajahku.
Alamak....
Aku ingat betul kalau semalam aku tidur dikosan ku. Jadi gak mungkin ada laki-laki yang masuk kesini. Apalagi ini kosan khusus perempuan.Eh..mikirnya kok gitu banget. Meskipun begitu tetap saja ku paksakan mata ini untuk terbuka sempurna.
Begitu mata ini terbuka...
Jrenggggg...
Aku berdecak sebal melihat sosok yang ada diatas tubuhku.
"Gendis"
Kok bisa anak itu masuk kedalam kamarku??
O... o...
Ini kesalahanku yang lupa mengunci pintu kamar kos ku semalam. Sehingga pagi ini makhluk kecil itu leluasa memasuki kamarku. Menindih tubuhku dan....
Ya Salam....
Gadis kecil itu tampak membawa crayon di tangan nya yang sudah belepotan. Bergegas ku turunkan tubuh kecilnya dari atas tubuhku. Aku segera berlari menuju lemari kaca ku. Ku pandangi wajahku dengan sendu. Wajah yang sudah kusam karena gak pernah pakai skincare harus berubah warna-warni karena ulah Gendis.Bahkan gunung maupun bunga-bunga sudah tergambar jelas disana.
Apa-apa an ini? Emang difikir mukaku buku gambar apa dicoret-coret pakai crayon.
Memang sudah berapa lama kira-kira Gendis sudah ada disini. Sehingga wajahku sudah bergambar pemandangan yang indah. Kalau aja kamu gambar nya ditempat yang benar mungkin aku sudah memuji nya. Sayangnya kamu gambar ditempat yang salah. Ini sudah benar-benar keterlaluan dan gak bisa ditolerir.
Gak ada capeknya kamu mengerjai ku Gendis...
Segera aku berbalik menghadap Gendis. Ku pandangi gadis kecil itu dengan tatapan penuh intimidasi
"Gendis.. ini sudah keterlaluan ya? Bisa gak sih kamu bersikap manis seperti selayaknya anak kecil diluaran sana" Ucap ku sedikit keras.Ya mungkin sekali-kali aku harus tegas.
Tapi entahlah..
Mungkin karena efek bangun tidur juga aku jadi berbicara sedikit keras dengan gadis kecil itu. Apalagi aku yang mendapati wajahku sudah acak-acakan pas bangun.
Bukannya minta maaf, Gendis malah melemparkan semua Krayon nya lalu berlari keluar dari kamarku.
Siapa yang salah, siapa pula yang ngambek?
Hah.. salahkah aku?
Meskipun aku sangat menyukai mas Abhi tapi perbuatan Gendis kali ini keterlaluan. Aku bukan orang yang suka berpura-pura. Gendis salah dan dia perlu ditegur.
Entahlah... Semoga Gendis gak ngadu aneh-aneh dengan mas Abhi. Bisa gagal usahaku untuk nguber duda ganteng itu.
Segera setelah Gendis keluar aku segera mengambil tisu basah dan mengelap muka ku. Gak mungkin juga aku membersihkannya dikamar mandi. Bisa jadi olokan satu kosan nanti. Apalagi kamar mandinya ada diluar dan tentu saja harus antre terlebih dahulu.
Setengah jam kemudian aku pun berangkat ke tempat kerja.
Begitu sampai didepan rumah mas Abhi tampak rumah masih begitu sepi. Kemana lagi kiranya orang-orang yang ada disini? Padahal semalam kan mereka semua sudah kembali? Apa mereka pergi kerumah oma nya Gendis lagi ya?? Hah.. bakalan kesepian lagi gak bisa lihat mas Abhi.
Dengan langkah malas, ku ayunkan kembali langkah ku menuju tempat kerja. Namun baru beberapa langkah terlihat mbok Sumi datang dengan tergopoh-gopoh.
"Non Binar... nonton" Ucapnya masih ngos-ngosan
Aku berhenti sejenak menunggu mbok Sumi tenang dan mendengar penjelasannya memanggilku tadi.
"Ada apa mbok? Tumben mbok pagi-pagi udah lari pagi gini? " Tanya ku padanya.
"Ish" Mbok Sumi mengibaskan tangannya padaku.
"Mbok bukan sedang lari pagi non, mbok itu sedang nyari non Gendis. Dari tadi pagi gak tau kemana ngilangnya. Mana tuan Abhi udah udah berangkat kerja lagi pagi-pagi tadi. Padahal si non teh harus ke sekolah"
Deg...
Dadaku bergemuruh mendengarnya. Apa Gendis ngilang gara-gara aku omelin tadi ya? Memangnya kemana gadis sekecil Gendis bisa pergi dari rumah.
"Eh... tapi si non kan harus berangkat kerja. Mbok gak mau gara-gara bantuin mbok nanti non Binar nanti dipecat" Tolak mbok Sumi.
Aku tersenyum mendengarnya. Mana berani mas Johan dan mbak Maya mecat aku. Kalau sampai itu terjadi? Akan aku hantui mereka seumur hidup.
Aish.... emang aku hantu apa? Ha.. ha.. ha..
"Mbok tenang aja Binar gak mungkin sampai dipecat. Kalau pun itu terjadi. Binar akan minta pertanggungjawaban mas Abhi dong. Kan gara-gara Binar bantuin cari anaknya, Binar jadi dipecat" Ucapku bercanda. Biar mbok Sumi gak stress-stress amat.
"Jadi kemana kira-kira biasanya Gendis pergi kalau ngambek mbok" Tanyaku pada mbok Sumi.
"Non Gendis teh gak pernah kemana-mana. Biasanya dirumah saja. Tapi tadi mbok cari diseluruh ruangan non Gendis gak ada. Dikomplek sekitar sini juga sudah mbok cariin gak ada"
Hemmm... aku berfikir sejenak.
"Ayo mbok, kita cari dirumah lagi. Gendis kayaknya gak bisa pergi jauh-jauh deh" Usul ku kemudian.
"Tapi non, tadi udah mbok cariin gak ada lho? "
"Yakin mbok sudah nyari di semua tempat? " Tanyaku lagi.
"Yakin sih non, tapi mungkin karena mbok yang udah sedikit tua jadi ada tempat-tempat yang terlewati. Ya sudah.. deh mbok nurut aja sama non" Ucap mbok Sumi kemudian.
Perlahan mbok Sumi membuka gerbang rumah dan aku pun mengikuti nya dari belakang.
Kami pun mulai menyisir semua ruangan satu persatu. Bahkan kolong meja dan juga kolong tempat tidur pun sudah dijelajahi. Namun Gendis juga belum ditemukan.
Hanya tinggal satu kamar utama yang belum kami masuki. Mungkin ini kamarnya mas Abhi. Kok aku yang jadi deg degan gini ya mau masuk kesana.
Tapi baru selangkah mbok Sumi mencegahku.
"Mbok gak berani masuk kedalam non" Ucap mbok Sumi kemudian.
"Kenapa mbok? Siapa tau Gendis benar ada didalam" Tanyaku
"Mbok gak pernah diizinin tuan masuk kedalam. Biasanya tuan selalu membersihkan kamarnya sendiri. Jadi mbok gak pernah msuk kedalam" Jelas nya.
Entah kenapa aku semakin yakin Gendis ada didalam.
"Jadi dari tadi mbok belum memeriksa kamar ini? " Tanyaku kemudian.
Mbok Sumi hanya mengangguk.
Tuh kan? Pasti Gendis ada didalam.
Ku hembuskan nafas ku pelan.
"Mas Abhi pasti faham kok mbok, kita masuk kamarnya kam bukan buat mencuri atau apa. Kita nyari anaknya yang hilang lo. Jadi mas Abhi pasti memaklumi" Terangku.
"Tapi mbok takut non"
"Kalau gitu biar Binar yang masuk. Mbok buka pintu lebar-lebar dan lihat Binar dari depan pintu. Binar juga gak mau dituduh sebagai pencuri nantinya"
Mbok Sumi hanya mengangguk.
Perlahan ku buka pintu itu. Aroma mas Abhi seakan memenuhi ruangan iku saat pertama kali kubuka. Sekilas pandanganku...
Kamar itu sangat rapi dan bersih untuk ukuran seorang laki-laki yang menempatinya. Bahkan lebih rapi dari kamarku. Ngelihat kayak gini aku makin cinta sama mas Abhi. Udah paket lengkap pokoknya.
Udah ganteng, tajir, pekerja keras bahkan termasuk orang yang cinta kebersihan. Kurang apa coba?
Lupakan mas Abhi dulu, kini saatnya aku menemukan Gendis. Begitu pintu terbuka sempurna aku baru bisa bernafas lega.
Ku lihat sosok gadis kecil meringkuk diatas tempat tidur sambil menelungkuplan wajahnya diatas lutut.
"Gendis"
*
*
*