
Abhi Pov
Ada-ada saja keinginan Binar. Masa iya aku disuruh beliin pem-pek yang penjualnya bernama pak Tarno. Mau cari dimana coba? Udah pekerjaan numpuk masih harus pusing mikirin keinginan Binar. Ini dia belum hamil dan ngidam lo.
Gak bayangin kalau sampai itu terjadi. Ternyata keputusanku untuk memintanya tidak hamil adalah keputusan yang tepat. Mungkin setelah ini aku akan membicarakan langsung dengan Sania. Binar tidak boleh hamil karena aku memang tak mengharapkan lagi anak dari wanita manapun.
Hanya Hana yang boleh memberiku keturunan. Tidak Binar atau perempuan lain.
Ngomong-ngomong soal Hana...
Andai kamu datang lebih awal dari pada pernikahanku dengan Binar. Mungkin saat ini kita bertiga bisa menjadi keluarga bahagia. Terlepas dari sakitmu yang bisa ataupun tidak sembuh nantinya. Setidaknya tidak akan ada penyesalan dalam hidupku dan aku bisa merawatmu sepanjang hari.
Ya...
Aku menyesal karena menurut, i Hana untuk menceraikan nya waktu itu. Andai aku lebih bersabar sedikit. Mungkin Hana masih istriku. Karena tidak mungkin dia menyimpan lebih lama penyakitnya jika aku masih bersamanya.
Tapi saat kami berpisah tentu dia akan lebih leluasa menyimpan rasa sakitnya itu.
Aku membayangkan saat Hana harus menahan rasa sakit itu sendiri. Maaf Hana karena aku tak bisa selalu bersama mu.Saat ini Binar seolah menjadi penghalang kita. Apalagi mama yang sudah mengancamku.
Jahatkah aku mengatakan Binar adalah penghalang. Entahlah....
Tapi nyatanya Binar menang hadir diantara aku dan Hana yang memang masih saling mencintai.
Tapi aku pun tidak seharusnya menyalahkannya. Aku yang memintanya menikah denganku waktu itu. Andai aku bisa berfikir logis waktu itu, mungkin aku bisa jadikan Binar sebagai baby sister saja bukan sebagai seorang istri. Toh... sama-sama merawat Gendis bukan.
Bedanya jika hanya sebagai baby sister aku hanya berkewajiban membayarnya. Tapi jika sebagai istri maka semua yang berkaitan tentang Binar otomatis menjadi tanggung jawabku.
Ah...
Kenapa aku jadi mikirin hal yang aneh-aneh seperti ini. Bahkan aku tak sadar jika pekerjaanku sudah lama selesai dan sudah waktunya pulang. Lagi pula aku juga harus nyari pesanan Binar.
Bergegas ku rapikan semua barang-barangku. Mengunci ruangan ku lalu melangkah keluar dari kantorku. Namun baru beberapa langkah HP ku berbunyi.
[Hana sudah dapat pendonor ginjalnya. Besok kami akan memeriksa apakah ginjal itu cocok atau tidak. Saat ini Hana sedang cuci darah]
Pesan dari Randy.
Masih ingat bukan, Randy adalah sahabatku yang berprofesi sebagai dokter. Kedatangan Randy kembali ke Indonesia manuntunku untuk menemukan fakta bahwa alasan Hana menceraikan ku bukan karena dia tidak mencintaiku lagi tapi karena selama ini Hana sakit dan tak ingin merepotkan ku.
Dua minggu yang lalu Randy menerima Hana sebagai pasiennya. Karena Randy yang tak pernah di Indonesia membuat Hana tak tau jika Randy adalah sahabat ku. Tapi Randy cukup mengenal wajah Hana dari diriku. Makanya dia kemudian mengabarkan padaku.
[Ok... aku kerumah sakit sekarang]
Balas ku.
Aku bahkan sudah lupa dengan pesanan Binar. Entahlah.. untuk saat ini Hana yang paling penting.
Bergegas ku lajukan mobilku menuju rumah sakit. Begitu sampai aku segera menuju ruang rawat Hana.Ah... kenapa aku bisa lupa kalau hari ini jadwalnya dia cuci darah. Pantas saja tadi Hana minta izin mengajak Gendis jalan-jalan. Karena rupanya besok Hana tidak mungkin menemui Gendis.
Kupandang perempuan cantik yang sudah tertidur pulas saat aku datang itu. Sedikit menyesal karena aku tak ada selama proses itu berlangsung. Semoga saja besok hasil pendonor itu cocok dengan ginjal Hana. Sehingga Hana bisa hidup normal dan tidak kesakitan lagi.
Hampir dua jam aku menunggu Hana tertidur hingga masuk sebuah pesan dari mbok Sumi. Ada apa tumben mbok Sumi mengirim pesan. Bergegas ku buka pesan itu.
[Mas ini aku Binar. Kok kamu belum pulang mas?Masih nyari pem-pek pesenan ku kah? Kalau misalnya yang jualan pem-pek nya gak ada yang namanya pak Tarno gak apa-apa deh mas. Yang penting pem-pek aja]
Rupanya bukan mbok Sumi tapi Binar. Rupanya dia menungguku.
Lalu aku harus jawab apa?
Hana belum bangun dan aku tak tega meninggalkannya begitu saja. Apa aku bohong saja ya. Setidaknya aku akan pulang saat Hana sudah sadar nanti. Segera ku ketik pesan jawabanku.
[Maaf Bee.. kayaknya aku lembur dikantor hari ini. Bahkan mungkin gak bisa pulang. Kamu beli sendiri saja ya]
Sudah aku bilang bukan jika aku akan pulang saat Hana bangun dan memastikan dia baik-baik saja.
[Oh... ok.. ]
Ada pesan lagi dari Binar. Syukurlah dia gak curiga atau tanya macam-macam.
Kini aku fokus lagi memandang, i Hana yang sedang tertidur.
Hingga satu jam kemudian Hana menggeliat kan tubuhnya.
"Mas Abhi.. " Ucapnya pelan begitu memandang ku ada disampingnya.
"Hai.. kamu sudah sadar, ada yang sakit? Apa aku perlu panggil dokter? " Tanyaku bertubi-tubi.
Hana menggeleng.
"Mas Abhi ngapain disini? Harusnya mas Abhi pulang. Udah malam juga kan? Kasihan Gendis" Ucap Hana.
Ku gengam erat satu tangannya.
"Dirumah ada Mbok Sumi dan juga Binar yang jagain anak kita. Kamu disini sendirian, aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu"
"Mas.... " Ucap Hana sambil melepaskan genggaman tanganku.
"Kita gak ada hubungan apa-apa lagi. Kamu juga harus jaga perasaan Binar. Gimana kalau dia tau kamu ada disini. Kamu gak mungkin bilang kan kalau saat ini kamu bersamaku" Cercanya.
Memang benar, Binar itu cemburuan banget jadi mana mungkin aku bilang sama dia. Apalagi kalau sampai ngadu sama mama. Sama Mira yang masih saudaraan sama aku aja cemburu apalagi sama Hana yang mantan istriku.
"Kalau kamu lupa, kamu adalah ibu dari anak ku. Aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu. Aku gak mau Gendis sedih nanti" Ku patahkan kata-kata nya yang mengatakan tak ada hubungan apa-apa. Karena nyatanya Gendis yang menyatukan kami.
"Kita sudah bercerai mas dan kamu juga sudah beristri. Gendis memang anak kita dan kita gak akan bisa lepas dari itu. Tapi kamu sudah tidak ada kewajiban menjaga ku. Pulanglah mas.. Binar dan Gendis pasti menunggumu. Aku sudah tidak apa-apa. Lagi pula disini ada dokter dan suster yang akan menjaga ku"
Ku hembuskan nafasku pelan.
Aku memang berniat pulang saat melihatmu tak apa-apa Hana. Tapi ya sudahlah, karena aku sudah melihatmu bangun dan tidak apa-apa makan aku akan pulang. Besok aku akan kembali datang untuk memastikan pendonor ginjalmu.
"Ya sudah aku pulang. Hubungi aku jika kamu membutuhkan sesuatu"
Hana mengangguk.
Ku acak rambutnya sebelum meninggalkan nya pulang.
Hana tersenyum manis padaku.
Hingga ku sadari ada orang yang melihatku dibalik pintu yang setengah terbuka.
Mata kami saling bertemu. Untuk sepersekian detik aku merasa sangat bersalah padanya.
*
*
*
Hi...Saya kasih Double up lagi kak. Mumpung bisa. Soalnya sebentar lagi bakal sibuk banget... musim kawin he... he..
Bab ini adakah yang pengen nimpukin mas Abhi.Yuk.. sama-sama kita timpukin mas Abhi pakai sandal. Ini othornya aja gemes gimana reader nya.😀😀
Tetap dukung karya saya ya kak dengan cara Like, komen Vote and beri poin. Terima kasih.