
Dinda Pov
Sial....
Jadi selain tampan suami perempuan yang disukai mas Santos itu ternyata kaya raya, bahkan sepertinya lebih kaya dari mas Santos.
Kalau begini ceritanya aku jadi berubah fikiran. Dari pada aku harus repot membujuk perempuan yang bernama Binar itu untuk jadi istri ke empat mas Sapto. Mending aku langsung rebut saja suaminya .
Abhi...
Ya...
Ternyata laki-laki tampan itu bernama Abhi. Rasanya aku sudah tidak sabar ingin memiliki dia dan tentu saja hartanya. Kalau Binar saja bisa dibikinkan rumah srharga satu milyar maka jika aku jadi istrinya nanti aku akan minta yang lebih mahal lagi.
"Ok... Dinda pokoknya kamu harus bersemangat. Kini saat nya kamu beraksi" Ucapku sambil memoles lipstik berwarna merah menyala di bibir ku supaya aku tambah cetar membahana. Segera aku mengambil tas kecilku dan berjalan keluar rumah.
Bukankah pria kota suka pada perempuan yang sosialita kayak aku ini. Pasti juga sangat mudah mendapatkan perhatian laki-laki itu. Apalagi pria kaya biasanya mudah tergoda.
Mas Santos yang gantengnya gak seberapa aja suka tergoda dengan perempuan lain apalagi mas Abhi.
Dengan cepat ku langkahkan kakiku. Aku gak mau sampai kepergok mbak Ningsih atau pun mbak Rania nanti. Apalagi dandanan ku yang menor dan berpakaian sexy. Males banget menjawab pertanyaan -pertanyaan mereka nanti. Bisa buang waktu. Keburu mas Abhi digaet perempuan penggoda lainnya.
Siapa coba perempuan yang tidak akan tertarik dengan laki-laki se tampan dia.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Baru saja aku mengeluarkan mobilku ku lihat mas Abhi sedang berboncengan dengan perempuan udik itu. Tunggu saja perempuan udik. Akan ku rebut suamimu nanti. Aku sudah tidak perduli jika setelahnya kamu akan menikah dengan suamiku. Yang penting aku dapat suamimu.
****
"Mas... " Rengek ku pada mas Abhi. Saat ini kami sedang rebahan di dalam kamar. Mas Abhi sedang bermain handphone nya sedangkan aku tidur dengan ber bantal paha mas Abhi.
"Apa sayang" Jawab mas Abhi sambil mematikan handphone nya dan beralih menatapku.
Senang rasanya mas Abhi sudah banyak berubah. Pria yang dulunya cuek itu kini benar-benar peka terhadapku. Bahkan mas Abhi tidak ingin sampai aku menunggu nya terlalu lama.
"Kenapa hem? " Tanya nya sekali lagi.
"Kalau aku ngomong jangan di marahin ya? " Ucapku kemudian.
Terlihat mas Abhi mengernyit kan dahinya. Ya iyalah.. kan aku ngomongnya gak jelas banget. Habisnya gak enak banget kalau aku sampai nyusahin mas Abhi nanti.
"Pengen naik odong-odong yang ada dideket pasar mas. Eh...bukan aku yang minta lho? Tapi anak kamu yang pengen" Ucapku takut-takut.
Meskipun kami sudah baikan dan mas Abhi adalah suamiku. Aku masih takut untuk merepotkan nya. Masalahnya ini pertama kalinya aku minta sesuatu pada mas Abhi.
Eh.. kedua kalinya ding.
Yang pertama aku minta belikan pem- pek mas Abhi gak beliin. Jadi agak trauma ditolak lagi.
Tapi aku lupa kalau mas Abhi memang sudah merubah sikapnya terhadapku. Laki-laki itu terlihat tersenyum sambil masih mengelus rambutku
"Ya udah.. kalau gitu sekarang kita berangkat"
"Beneran mas? " Ucapku antusias.
Mas Abhi menganggukkan kepalanya yang membuat aku otomatis tersenyum bahagia lalu menegak kan badanku.
"Serius mas... ya udah kalau gitu kita berangkat sekarang" Ucap ku antusias dan hendak berdiri tapi mas Abhi menahan tubuhku.
"Ganti baju dulu sayang" Ucap mas Abhi yang otomatis membuatku melirik baju yang ku kenakan.
Baju kebangsaan emak-emak yang memang sangat nyaman sekali dipakai kalau lagi dirumah. Apalagi dengan kondisi perut yang sudah mulai begah. Apa lagi coba kalau bukan daster.
Sejak sampai dikampung memang suka banget pakai baju itu. Apalagi jaman sekarang daster terlihat sangat lucu-lucu.
"Lupa mas"Ucapku sambil nyengir
Setelah mengganti baju kami bertiga (aku, mas Abhi dan juga Gendia) pun pergi mencari odong-odong yang biasanya mangkal didekat pasar menggunakan sepeda motor yang Vika bawa kemarin.
Udara sore hari benar-benar terasa sejuk sekali dan sungguh ini adalah nikmat yang tiada terkira. Aku tak pernah menyangka jika aku masih diberi kesempatan untuk menata keluarga kami lagi. Rasanya sungguh menyenangkan.
Tiba-tiba aku merasa ada yang mengikuti kami saat kami baru saja melewati rumah juragan Santos. Beneran gak sih atau cuma perasaanku saja.
Ah... entahlah..
Mungkin memang benar hanya perasaanku saja. Segera aku abaikan dan kembali menikmati suasana yang tersaji dihadapanku saat ini. Rupanya bukan hanya aku saja yang bahagia tampak Gendis yang duduk didepan berteriak kegirangan.
Tak berapa lama kami pun sampai di tempat tujuan. Tempat itu memang di khusus kan buat anak-anak. Tampak bermacam-macam odong-odong berbagai bentuk terpampang disana .
Mas Abhi pun sudah menarik tanganku dan membimbingku menuju satu odong-odong yang bisa dinaiki orang dewasa dan juga anaknya.
Tapi ku geleng kan kepalaku.
"Katanya mau naik odong-odong sayang? " Tanya mas Abhi kemudian. Tapi aku masih tetap menggeleng
"Gak mau yang itu mas tapi mau nya yang itu" Tunjuk ku pada satu jenis odong-odong yang sepertinya hanya bisa dinaiki anak-anak saja.
Terlihat mas Abhi melotot kan matanya.
"Sayang yakin mau naik itu? Memang muat apa? " Tanya mas Abhi heran. Dengan antusias ku anggukkan kepala ku.
"Iya... nanti mas Abhi yang goes in ya" Ucap ku sambil cengar-cengir
"Serius sayang" Ucap mas Abhi menatap ku dengan penuh tanya. Aku makin mengangguk antusias.
Anak kamu ini pengen nya memang yang aneh-aneh saja.
"Hore... kita mau naik itu ya bunda. Gendis... mau... Gendis mau... " Ucap Gendis ikut antusias.
Hah...
Senengnya punya anak yang klop banget. Jadi makin yakin naik itu.
Mas Abhi pun akhirnya pasrah dan mendatangi pemilik odong-odong itu.
Entah apa yang mereka bicarakan tapi yang jelas mas Abhi kini sudah berdiri di samping odong-odong itu. Dengan antusias aku pun menaiki odong-odong itu dibantu mas Abhi.
Agak susah memang karena aku harus naik ke atas. Sementara Gendis pun tidak repot sama sekali.
Meskipun kerepotan akhirnya aku bisa menaikinya. Dengan segera mas Abhi mengayuh odong-odong nya.
Aku dan Gendis sama-sama berteriak kegirangan. Gak perduli jika saat ini kami bertiga menjadi tontonan orang-orang.
Tiba-tiba kami kedatangan seorang perempuan berdandan sangat menor untuk ukuran perempuan buang tinggal di kampung.
Kayaknya nih perempuan kebanyakan nonton sinetron. Jadinya dandanan nya kayak gitu. Bibit-bibit pelakor handal ini.
"Wah gak nyangka ya ternyata odong-odong ini bisa di naiki orang dewasa juga.Mana yang narik ganteng lagi. Saya boleh ikut naik kan? " Ucapnya dengan gaya yang di centil-centilin.
Tuh... kan.. apa aku bilang tadi. Ck.. kenapa kamu ganteng banget sih mas.. Lain kali kalau jalan keluar kamu aku pakai in masker aja deh. Biar perempuan gatal macam nih orang gak jelalatan.
Heran...
ternyata gak hanya laki-laki saja yang jelalatan perempuan juga bisa.
"Boleh... boleh.. silahkan mbak" Ucap mas Abhi
Apa...
Nyebelin banget sih..
Kok mas Abhi bolehin perempuan itu naik sih. Kan aku yang lagi ngidam.
Lihatlah perempuan gat*l itu tampak tersenyum bahagia dan berusaha naik ke atas odong-odong.
Bagus deh mas Abhi gak bantuin dia kayak bantuin aku tadi. Mas Abhi terlihat lebih sibuk menurunkan Gendis.
Tak berapa lama perempuan itu berhasil menaiki odong-odong.
"Sudah mas.. boleh segera dimulai" Ucap perempuan itu. Sementara aku sudah bersungut-sungut ria. Pengen meledak.
"Sebentar ya mbak? " Ucap mas Abhi sambil menghampiriku.
Perempuan itu tampak tersenyum bahagia.
"Ayo sayang kita cari odong-odong yang lain" Ucap mas Abhi sambil mengangkat tubuhku dan membantuku turun.
Rasanya plong... kayak habis minum spr*te he.. he..
Rupanya mas Abhi gak tergoda cin sama perempuan itu.
"Mang.. silahkan ini ada penumpang" Ucap mas Abhi pada pemilik odong-odong itu. Tampak sangat pemilik mendekat dan duduk diposisi nya lalu mulai mengayuh odong-odong nya.
"Lho-lho.. kok bukan mas nya sih yang narik odong-odong nya. Kalau gitu saya gak jadi naik deh" Ucap perempuan itu.
Namun naas
Glodak
Creekkk
Brakkk
Grubyak....
Pengen ngakak banget cin. Baru kali ini calon pela*or langsung dapat azab.
Udah tersandung, bajunya sobek jatuh dari odong-odong nya. Eh... odong-odong nya patah nimpain dia.
Lengkap sudah he.. he...
*
*
*
Binar lagi ngidam odong-odong modelan kayak gini lo kak.
Kira-kira bentuknya kayak gimana ya kalau Binar naik odong-odong kayak gitu. He... he...
Ada-ada saja sih kamu Binar. Bayangin juga pas Dinda jatuh dari sana. Ha....