Nguber Duda

Nguber Duda
Duapuluh Dua



Pagi ini ku rentangkan tanganku sangat lebar. Ku hirup dalam-dalam udara yang diberikan percuma oleh Tuhan Yang Maha Esa kepadaku saat ini.


Sungguh nikmat tiada terkira. Apalagi udara di pedesaan jauh lebih berkualitas dibandingkan dengan udara yang ada dikota.Kebanyakan kendaraan umum jadi banyak polisi.


Ah.. andai aku tak dituntut oleh hutang yang banyak, maka aku akan lebih memilih tinggal di desa seperti ini. Tapi apa boleh buat, keadaan yang memaksaku meninggalkan kehidupan desa.


"Sudah bangun nak, sana sholat subuh dulu." Ucap Ibu yang baru saja masuk, i kamarku.


Ku lebarkan senyumku didepannya lalu ku lingkar kan tanganku di perutnya saat beliau sudah mendekat. Sungguh aku merasa sangat rindu padanya. Empat tahun bukan waktu yang sebentar dan aku terus merindukan kasih sayangnya.


"Sebentar lagi ya bu, Binar masih kangen sama ibu" Ucapku yang masih betah memeluknya. Ibu tampak mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang.


"Ayo nanti keburu waktunya habis" Ucap ibu tapi....


Perempuan yang masih cantik diusianya yang sudah setengah abad ini pun masih membiarkan ku tetap memeluknya. Mungkin sebenarnya dia juga masih rindu padaku.


Entahlah... kadang-kadang saat aku melihat wajah ibu. Ibu lebih pantas jadi gadis kota saja. Ibu memiliki kulit putih bersih dan wajahnya yang beda dengan yang lainnya. Ibuku benar-benar cantik.


Mungkin ibu memang gadis kota yang dipersunting ayah dan menetap di desa. Sayangnya tak pernah aku temui satu pun keluarga dari pihak ibu.


Entahlah...


"Sudah... nanti dilanjut lagi meluk ibunya"Ucap ibu lagi.


" Ish... ibu mah gak asyik"Ucapku manyun tapi tetap saja aku menjalankan perintahnya.


"Nanti habis sholat ikut ibu ke pasar ya nduk" Teriak ibu sambil tersenyum.


"Siap bu... " Ucapku sambil berlari menuju kekamar mandi.


Selesai melaksanakan sholat bergegas ku temui ibu yang sudah menungguku di luar rumah. Tampak juga beberapa ibu-ibu juga sudah diluar rumahnya. Sepertinya ini sudah menjadi kebiasaan warga sini sejak dulu. Mereka akan pergi ke pasar beramai-ramai sambil jalan kaki. Tapi karena sekarang jaman sudah canggih maka sudah ada kendaraan juga yang mengangkut mereka.


"Ini Binar ya bu Ela, Kapan pulangnya? Sekarang sudah besar ya? " Ucap seorang ibu saat kami sudah menaiki mobil terbuka yang mengangkut kami menuju pasar.


"Iya bu, pulangnya semalam. Saya juga kaget malam-malam ada yang ngetuk pintu. Tau-tau Binar pulang diantar sama Wawan"


Ibu yang bertanya hanya manggut-manggut. Selebihnya kami lanjutkan dengan obrolan ringan sampai tempat tujuan.


Ibu mengajakku membeli bahan-bahan makanan yang bagus. Katanya hari ini ibu mau masak besar dan akan dibagikan pada tetangga sebagai rasa syukurnya melihatku yang pulang dengan selamat.


"Bu Ela apa kabar" Tiba-tiba seorang laki-laki menegur ibu yang sedang memilih sayuran.Kami serentak menoleh ke arah sumber suara itu.


"Baik juragan"Jawab ibu ketika mengenali pria itu.


Ibu manggilnya juragan? Itu berarti laki-laki ini adalah Juragan Santos (Namanya Santoso ya mak. Biar keren dipanggilnya Santos Haha) Orang yang meminjami uang sewaktu ayah sakit dulu.


Rasanya aku ingin berterima kasih padanya karena mau meminjami kami uang waktu itu. Bahkan ketika mengembalikan pun boleh kami cicil.


"Sama siapa bu? " Tanyanya lagi pada ibu.


"Ini anak saya juragan yang kerja dikota itu. Ayo Binar salim sama Juragan Santos" Ujar ibu dan mau tak mau aku menyalami pria itu.


Juragan Santos juga membalas uluran tangan ku. Sambil memperhatikanku dari atas sampai bawah. Sebenarnya risih ketika aku harus dipandangi seperti itu. Hanya saja untuk menegurnya aku merasa sungkan. Biar bagaimanapun dia orang yang pernah menolong keluarga ku dulu. Biarlah... asal dia tidak kurang aj*r saja padaku.


"Wah... ada acara apa hari ini bu, kok ibu belanja banyak banget" Ucap Juragan Santos.


"Ini.. anu.. juragan saya mau bikin selamatan kecil-kecilan karena kepulangan anak saya" Jawab ibu jujur.


"Wah... bagus itu. Kalau begitu nanti siang saya mau kerumah ibu. Sekalian ada hal penting yang saya mau bicarakan. Kalau begitu saya permisi dulu bu. Mari.. mari Binar"


Nih.. orang kalau dilihat-lihat agak aneh gitu. Mungkin aku yang gak kenal kali ya makanya aku ngerasa kayak gitu. Entahlah...


Setelahnya aku melanjutkan acara belanja kami. Sesampainya dirumah rupanya aku masih gak bisa istirahat. Sebenarnya udah ngerasa capek hanya saja,gak tega biarin ibu masak sendirian di dapur. Sedangkan adikku masih sekolah.


Sekedar informasi ya mak. Bang Wawan alias Rifky Setiawan adalah anak dari adik ayah. Jadi kami masih ada hubungan sepupu.


Baru juga aku mendudukkan boko**ku di kursi untuk istirahat. Eh... udah ada tamu aja. Siapa lagi kalau bukan juragan Santos. Ternyata pria itu benar-benar datang kerumahku.


Seperti yang dia bilang dipasar tadi. Kayaknya ada yang serius banget yang mau dibicarakan. Gila... kok aku jadi deh degan gini ya....


Berasa mau dilamar sama Juragan Santos.


Eh... gak mau ding.Dulu aja pas pertama kali aku merantau istrinya sudah dua. Sekarang udah empat tahun yang lalu bisa jadi udah nambah tiga atau sudah empat. Ih seyem.... No.. no.. no...


"Silahkan masuk juragan silahkan duduk" Ucap ibu sopan.


Yang dipersilahkan hanya diam dan langsung duduk di kursi didepanku. Dengan tergopoh-gopoh ibu mengambil masakan yang sengaja dia persiapkan untuk juragan Santos. Tadi pria itu bilang datang kesini makanya ibu sengaja menyiapkan khusus untuknya.


"Silahkan dimakan Juragan " Ucap ibu sopan


Segera Juragan Santos melahap makanan itu dengan cepet. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia sampaikan pada kami. Sementara ibu sudah kembali kedapur jadilah aku yang menemani Juragan Santos didepan.


"Sudah berapa lama kamu kerja dikota Binar"Tanya Juragan Santos setelah menghabiskan makanannya lalu mengelap bibirnya dengan tisu yang dia bawah.


Aku yang ditanya awalnya kaget karena juragan Santos yang langsung bertanya padaku. Aku fikir dia ada perlu dengan ibu. Tapi ya sudahlah... toh kami sama saja.


" Empat tahun juragan"Jawabku akhirnya..


Juragan Santos manggut-manggut.


"Berarti uang yang kamu hasilkan pasti banyak" Ucapnya ngelantur...


Aku bilang ngelantur karena Juragan Santos yang mengira uangku banyak. Padahal kan semua gajiku sudah aku kirim ke kampung dan diserahkan padanya.


Pulang kampung aja aku diberi uang saku sama mbak Maya gimana ceritanya aku punya uang banyak coba.


"Saya hanya pegawai rendahan di kota Juragan. Mana bisa sekaya Juragan" Ucapku akhirnya. Biasanya orang kaya akan takut tersaingi kekayaannya maka biarlah aku merendah. Biarpun itu kenyataan nya. He...


"Tapi kamu pasti pulang karena kamu mau bayar hutang bapak kamu sama saya kan"


Deg...


Saat juragan Santos mengatakan hal itu kenapa perasaan saya jadi gak enak ya??


"Maksud juragan apa? Bukannya saya selalu menyicil hutang ayah saya tiap bulannya? Saya selalu ngirim uang saya tiap bulan lo? Bahkan saya masih nyimpen bukti transfer saya " Ucapku tegas. Meskipun sebenarnya hatiku diliputi rasa ketakutan tapi aku gak bisa diam saja.


" Memang benar setahun pertama uang itu saya terima. Tapi pada bulan berikutnya sampai sekarang saya tidak menerima satu peser pun dari keluarga kamu"


Pyar...


Tiba-tiba aku dengar suara gelas pecah dari arah belakangku. Ibu yang sedang membawa kopi untuk juragan Santos menjatuhkan gelasnya begitu mendengar penyturan juragan Santos.


Dari yang ku amati, sepertinya ibu juga tidak tahu menahu soal ini. Lalu kemana perginya uang yang aku kirim. Padahal.. jelas Aku mengirim semua gajiku pada bang Wawan untuk diserahkan pada ibu.


Entahlah...


Cobaan apa lagi ini.


*


*


*


Hayo... hayo.. uangnya ditilep sama siapa???