
Dinda Pov
"Tolong... tolong... " Teriak ku sambil mengacak-acak rambutku dan menyobek baju ku.
Setelah ini aku yakin aku akan di nikahkan dengan lelaki tampan dan juga kaya itu. Gak perduli jika aku tidak dicintainya yang penting aku bisa jadi istri nya dan juga menikmati hartanya.
Untuk bang Santos, aku sudah tidak perduli. Setelah nanti kami di grebek warga aku akan segera minta pisah darinya.
Setelahnya aku dinikahi mas Abhi tentu saja aku akan naik pangkat dari istri ketiga menjadi istri kedua. Syukur-syukur aku bisa mendepak Binar dari hidup mas Abhi dan jadi istri satu-satunya.
Ku keras kan suaraku berharap warga segera datang dan memergoki kami. Sebelum mas Abhi kabur dari sini. Namun aku sedikit heran saat melihat mas Abhi bukannya lari malah kembali duduk di kursinya sambil memainkan handphone nya.
Apa-apaan laki-laki itu, tak takutkah dia atau kah memang sengaja tetap tinggal biar dipergoki warga. Apa itu artinya mas Abhi juga ingin menikahi ku.
Ah...
Membayangkannya saja sudah senang apalagi nanti bisa menjadi kenyataan.
Tak berapa lama ada beberapa warga yang datang.
Gimana ini kok aku yang jadi gugup. Kalau saja tadi mas Abhi mau sudah pasti aku tidak akan bertindak seperti ini dan mempermalukan kami. Tapi sudahlah toh ini sudah terlanjur.
Setidaknya mungkin ini adalah cara tergampang untuk mendepak Binar dari hidup mas Abhi. Soalnya dia gak akan bisa berkutik. Kan kami sudah dipergoki warga.
Jenius sekali kamu Dinda.
"Ada apa ini? " Tanya salh seorang warga.
Aku pun pura-pura menangis. Akhirnya bisa aku keluarkan juga bakat acting ku.
"Laki-laki itu ingin memper*osa ku pak" Jawabku sambil sesenggukan dan menunjuk ke arah mas Abhi. Rupanya mas Abhi masih tidak bergeming dari posisinya duduk.
Jadi penasaran apa yang direncanakan laki-laki itu. Yang lebih aneh tak ada respon berlebihan dari warga kampung.
"Beneran mbak Dinda mau di perk*sa pak Abhi, tapi yang kami lihat kok pak Abhi anteng banget. Biasanya kalau ada korban perk*saan yang bisa berteriak kan peluku nya kabur atau sekedar bersembunyi. Lha ini pak Abhi malah sibuk main handphone sendiri. Kami kan jadi bingung"Ucap Bpk Rt
Glek...
Ku telan ludah ku dengan kasar.
Bagaimana ini? Kenapa warga jadi tidak percaya seperti ini?
Ck... kok bisa aku ceroboh seperti ini. Harusnya tadi aku tarik saja tubuh mas Abhi sehingga menindih ku. Dengan begitu warga akan percaya padaku.
Tapi aku gak bisa mundur begitu saja. Nama baik ku bisa tercemar. Apalagi jika mas Abhi bisa meyakinkan warga maka resiko terbesarnya aku akan di depan ole bang Santos.
Biarpun tadi aku menginginkan mas Abhi tentu saja bang Santos adalah cadangan ke dua saat aku benar-benar gagal mendapatkan laki-laki tampan itu.
"Benar pak, bapak lihat sendiri dong kondisi saya seperti apa saat ini. Lalu buat apa saya bohong. Mas.. eh.. pak Abhi ini memang mau berbuat jahat sama saya, saat kondisi toko adik ipar saya ini sedang tidak ada orang. Hu... uuuu.. saya bener-benar takut pak" Ucap ku penuh drama. Gak sia-sia aku sering nonton sinetron jadinya bisa acting jadi seperti wanita antagonis itu.
"Iya.. juga sih pak"
Yes...
Rupanya mereka mulai termakan omonganku. Kamu gak akan bisa mengelak lagi setelah ini mas.
"Duduk dulu bapak-bapak, ibu-ibu biar bicaranya jadi enak. Tenang saja saya tidak akan kabur sampai masalah ini selesai" Ucap mas Abhi kemudian.
Ternyata pria itu masih tenang saja disaat warga sudah mulai membenarkan ku.
Tapi....
Benarkah para warga sudah percaya padaku.Lalu kenapa orang-orang yang datang itu malah menuruti perintah mas Abhi untuk duduk di sofa yang sudah ada atau sekedar mencari tempat duduk yang enak karena sofa disana sudah tidak cukup.
"Silahkan duduk juga mbak... mbak.. siapa ya namanya. Oh iya... mbak Din-da betul itu namanya bapak-bapak, Ibu-ibu" Tanya mas Abhi dan dijawab anggukan oleh warga.
Sial ini kenapa bisa kayak acara perkumpulan caleg gitu. Warga seakan tunduk pada mas Abhi.
Tapi dari pada aku ketahuan aku pun duduk saja. Dari pada nanti aku yang kena amukan warga.
"Tentu saja pak Abhi bukankah ini negara hukum. Saya disini sebagai pak Rt dan warga lainnya akan memutuskan mana yang salah dan juga mana yang benar. Tentu saja setelah mbak Dinda memberikan tuduhannya maka kami akan memberi kesempatan pak Abhi untuk membela diri" Ucap pak Rt.
Double sial...
Kok jadi gini sih. Gimana kalau mas Abhi bisa membuktikan kalau dia tidak bersalah nanti. Bisa aku sendiri yang malu dan bang Santos akan membun*h ku nanti.
"Benar mbak Dinda merasa saya lecehkan tadi? " Tanya Mas Abhi.
Lho kok malah dia nanya lagi kurang jelas apa apa yang aku bilang.
"I... iya.. pak Abhi memaksa saya. Bahkan pak Abhi berlaku kasar dengan saya" Jawabku.
"Jadi selain tuduhan pelecehan saya juga melakukan kekerasan terhadap anda"
"Ten.. tentu saja"
Ish.. kok jadi gugup kayak gini sih. Apalagi yang terlihat sangat tenang adalah mas Abhi pak.Gawat bisa ketahuan ini.
"Mohon maaf Pak Abhi, bukannya tadi anda mau bilang mau memberikan pembelaan tapi kenapa anda malah bertanya saja. Kalau seperti ini berarti anda tidak punya bukti dan mengaku, i kesalahan anda" Ucap pak Rt.
Bagus pak Rt..
Rupanya perkataan mu kembali membuatku merasa menang. Lagi-lagi mas Abhi hanya tersenyum.
"Tenang pak Rt bukanlah kalau kita tenang akan bisa menyelesaikan suatu masalah dengan baik dan benar. Jangan grusa-grusu nanti jatuhnya jadi fitnah. Saya hanya masih menunggu tim saya untuk membuktikan ketidak bersalahan saya"
"Maksud pak Abhi tim apa ini? Kenapa harus didatangkan tim segala? Ini bukan acara lomba lho pak. Jadi cukup pak Abhi saja yang membuktikannya" Ucap pak Rt yang mulai kesal.
Mas.. mas.. mau setenang apapun kamu. Kamu gak akan bisa membuktikan kalau kamu gak bersalah. Apalagi bukti yang terlihat sudah nyata. Saya lah yang paling terlihat sebagai korban disini.
"Mohon maaf Pak. Baiklah saya akan jelaskan. Kebetulan saya punya teman dokter dikota dan tadi saya menghubungi nya untuk minta bantuan mendatangkan tim dokter terdekat dari desa ini. Bukankah tapi mbak Dinda bilang saya melakukan tindak kekerasan. Jadi biarkan Visum dokter yang membuktikannya"
Glek...
Kenapa harus mendatangkan dokter segala. Apa iya Visum dokter bisa membuktikan itu. Gawat.. bisa ketahuan ini.
"Dan lagi.... " Tambah mas Abhi sambil menatap ku.
Wudih... orang ganteng tatapannya juga seram aih...
"Saya mendatangkan tim dokter bukan hanya untuk melakukan Visum saja tapi juga saya curiga ada sesuatu di dalam teh yang sengaja disodorkan pada saya"
Waduh...
Gak nyangka mas Abhi bisa berfikir secerdas itu. Gawat...Beneran ketahuan ini.
"Saya juga punya bukti kuat lagi dan mungkin akan segera datang.Vano nanti akan menunjukkan Vidio dari CCTV yang terpasang di atas sana" Ucap nya sambil menunjuk keatas.
Baru ku ketahui jika disini sudah terpasang CCTV.
Tamat sudah riwayat ku.
*
*
*
Hi.. Hi... sukurin kamu Dinda. Mas Abhi dilawan.
Lagi-lagi ucapan banyak Terima kasih buat kakak-kakak yang udah ngasih poin banyak tiap minggu. Buat kak Ayodyatama yang selalu ngasih poin setiap hari senin. Buat kak Haryanti Aja juga atau kakak-kakak yang lain yang biasanya ngasih bunga. Makasih kak....
Buat yang selalu ngasih komen juga makasih kak. Meski jarang dibalas tapi tetep aku baca kok. Sambil ngikik juga.Kak Zineta Rayna Nadyne kak Indriana Ana dan lain-lain. ðŸ¤
Padahal udah mulai kumat gak mood nulisnya lho. Tapi kalian seakan jadi semangat aku. Terima kasih Kak.