
"Bee.. kamu mau ikut jenguk bibi mu tidak nanti sore. Kata Wawan bibi mu itu sedang dirawat di puskesmas" Ucap ibu siang ini sepulang dari kebun
Aku yang sedang melipat pakaian pun menoleh.
Hah...
Baru juga tadi aku bertemu dengan juragan Santos yang ternyata masih bikin masalah itu. Eh...
Kenapa sekarang aku pun harus ketemu sama bi Harti. Asli malas banget, mengingat ulah nya sebelumnya yang menilap uang ku. Tapi kalau gak ingat bang Wawan dan ibu, malas sekali aku menemuinya.
Akhirnya sore itu mau tak mau aku pun ikut ibu ke puskesmas. Bersama Bagas dan juga mas Abhi.
Hemmm...
Heran saja mas Abhi dari kemarin ngintilin aku melulu. Padahal sudah aku cuek-cuekin dari tadi pagi. Tapi tetep... aja ngintilin aku. Gak capek apa dia. Terserahmu lah mas...
Sampai di ruang rawat inap bi Harti,aku hanya diam saja hanya ibu yang sibuk memanyai keadaan bi Harti. Sementara mas Abhi, Bagas dan Wawan berada diluar karena ruangan nya yang sempit.
Ingin rasanya aku ikut di grombolan tiga lelaki itu saja. Malas banget aku ada didalam. Kalau yang dijenguk saja orang nya masih sengak dan gak tau diri seperti itu.
"Kamu datang kesini kalau gak bawa uang banyak gak usah jenguk sekalian. Aku gak butuh dijengukin kamu Ela ,tapi aku cuma butuh uang. Jadi kalau kamu cuma bawa bingkisan yang tidak seberapa itu dan gak bawa uang mendingan kamu pulang saja" Ucap bi Harti tanpa beban sedikit pun dan gak ada rasa bersalah sama sekali. Padahal ibu menanyakan keadaannya.
Nah lo kalau dengar orang ngomong gitu apa gak langsung pengen meledak aja. Ya jelas... aja Binar kok di lawan. Biar saja puskesmas ini jadi gempar sekalian.
"Kalau bibi mau uang, balikin dulu deh uang Binar yang bibi tilep itu. Nanti kalau sudah balik semua, Binar bakal kasih bibi uang lima puluh ribu buat beli bakso. Lagian udah kena karma sakit masih aja otaknya mikirin uang. Yang dibutuhkan bibi saat ini bukan cuma uang saja bi tapi juga doa orang-orang yang mau do'ain bibi supaya sembuh. Emang bibi mau Binar kasih uang banyak tapi setelah itu bibi Ko*it"Balas ku yang tak kalah pedas. Meski setelahnya aku dapat srnggolan dari ibu.
Tapi terbukti kan setelah itu bibi bermulut cabe itu pun terdiam. Apalagi saat ku sebut uang ku yang ditilep nya. Aku masih punya kartu As dia untuk mwmgancam bibi, dengan bukti transfer yang aku punya. Jika aku mau aku bisa melaporkan nya pada polisi. Walaupun sebenarnya aku tak akan melakukannya juga sih karena pemilik rekening itu Wawan bukan bibi. Jadi kalaupun aku lapor polisi makan Wawan lah yang akan masuk penjara
"Ya... sudah lah.. bu, mending kita pulang saja dari pada yang dijengukin gak mau didoain sembuh. Anggap saja saat ini kita sedang jalan-jalan di puskesmas" Tambah ku kemudian.
Bi Harti makin diam..
Biar ngerasa bersalah dia.
"Gak boleh gitu Be.. biar bagaimana pun dia tetap bibi mu? " Bela ibu. Heran aku kok ibu bisa baik gitu padahal sudah didholimi bibi.
Makin besar kepala kan tuh bibi. Dari pada makan hati terus ku putuskan menyusul tiga laki-laki itu saja. Biar ibu saja yang ada didalam.
Setelah hampir setengah jam akhirnya ibu keluar dan kami pun memutuskan pulang.
Ada yang aneh saat aku berasa didekat rumah. Seperti ada yang ngawasi gitu. Apa hanya perasaan ku saja ya....
****
Dinda Pov..
Pernah kebayang gak sih di hidup kamu bakal jadi istri ketiga. Siapa coba yang mau. Tapi bisa apa aku saat tuntutan hidup memaksaku harus menjalani nya.
Aku adalah anak yatim sejak kecil, ayahku meninggal saat aku berusia empat tahun. Ibu ku juga adalah seorang buruh tani. Dengan pekerjaan seperti itu, kami pun susah walau hanya sekedar buat makan doang. Makanya ketika aku ditawarkan menikah dengan orang terkaya di desa ini segera ku iyakan saja.
Tidak masalah jika wajahnya gak ganteng-ganteng amat dan matanya yang suka jelalatan dengan perempuan yang penting uangnya banyak dan gak pelit terhadapku. Terbukti sekarang aku hidup dengan bergelimang harta dan terbebas dari kemiskinan. Ya.. kini bahkan aku jadi disegani banyak orang karena uang. Berbeda dengan dulu yang selalu di hina.
Meski resikonya aku harus siap jika suatu saat akan dimadu lagi
Sempat aku menolak, tapi begitu mendengar kata uang aku pun jadi bersemangat.
Dan lebih menggiurkan lagi, suamiku menawari harta yang banyak jika aku berhasil membujuk seorang perempuan yang disukainya untuk dijadikan istri keempat.
Maka disinilah aku sekarang di belakang pohon di depan rumah tempat perempuan itu tinggal. Jadi penasaran seperti apa rupa perempuan itu hingga suamiku tergila-gila pada nya? Apakah lebih cantik dariku yang notabennya adalah kembang desa di desa sebelah. Atau lebih jelek dari ku? Entahlah...
Yang jelas saat ini aku masih setia disini menunggu.
Lagi pula kemana perginya orang-orang ini sih? Kok dari tadi belum nongol juga. Padahal tubuhku sudah gatal-gatal karena digigit nyamuk.
Sial....
Namun tak lama kemudian datang empat orang menuju rumah ini. Dan dengan segera aku menyembunyikan diri.
Pantas saja dari tadi aku menunggu tak kunjung ada orang dari dalam sana. Ternyata mereka sedang keluar.
Segera ku pasang telinga dan mata untuk menemukan perempuan incaran suamiku itu. Dan sepertinya aku sudah menemukannya.
Sial....
Rupanya perempuan itu benar cantik. Bahkan ku akui dia lebih cantik aku atau tepatnya lebih cantik dari pada kami bertiga. Pantas saja mbak Ningsih bilang cantik dan pantas saja bang santos tergila-gila padanya.
Hah...
Ingin rasanya aku menolak rencana suamiku untuk menikahi perempuan itu. Bagaimana jika bang Santos lebih perhatian dengan perempuan itu dari pada aku nanti? Meskipun aku tidak mencintai suamiku tetap saja jika aku tak rela kasih sayang nya lebih besar padanya nanti.
Tapi percuma saja. Mau aku tolak atau pun tidak, tetap tidak akan berpengaruh. Jadi dari pada mbak Ningsih atau mbak Rania yang mendapatkan banyak uang mendingan aku mendahului mereka.
Ok... tunggu saja perempuan, besok akan ku buat kamu menuruti perintah ku dan membuat ku kaya raya.Dari wajahnya, sepertinya dia mudah untuk ditaklukan.
Sekarang sebaiknya aku pulang saja dan memikirkan langkah selanjutnya.
Tapi...
Baru beberapa langkah, ku lihat sosok lain yang membuatku menganga.
Pantas saja si Binar-binar itu menolak menikah dengan bang Santos. Ternyata suaminya kece badai. Ah... sekarang setelah melihat ketampanan lelaki itu aku jadi berubah fikiran.
Akan ku buat Binar menikah dengan bang Santos setelah mendapatkan banyak uang aku akan menikahi laki-laki tampan itu.
Siapa juga yang mau lama-lama hidup dengan laki-laki bang Santos yang sudah jelek punya banyak istri pula.
Aku juga sangat yakin jika laki-laki itu tau aku banyak uang pasti dia mau menerimaku. Siapa juga yang tidak mau uang
*
*
*
Sesuai janji double up. Meskipun matanya agak bureng dan kayak habis dipukuli atau kayak habis nangis semalam suntuk gitu.
Hi... ada-ada saja macam penyakit ini. Semoga kakak-kakak pembaca selalu diberi kesehatan ya... amin.
Terima kasih juga buat kakak-kakak yang udah kasih Vote dan juga kasih poin. Semoga rezekinya makin banyak juga.
Poin dan Vote nya diganti rezeki yang berlimpah ya kak. Aminn... He....