Nguber Duda

Nguber Duda
Tujuh Puluh Delapan



"Bee... Binar... lihat bibit kacang hijau yang ada disini gak nak? " Tanya ibu padaku.


Aku yang sedang duduk karena dilarang mas Abhi membantu segera menghampiri ibu. Kulihat wadah bibit kacang hijau yang tadi aku tinggal masih separuh kini sudah tandas tak tersisa.


Otak ku segera berfikir keras. Kemana pergi nya bibit-bibit itu. Perasaan tadi masih ada. Emang ada gitu orang yang sengaja mencurinya..? Buat apa bibit murah seperti itu? Minta pun akan kami beri, karena kami orang kampung juga terbiasa berbagi.


Tidak... tidak...


Bahkan tak kulihat ada orang yang mendekat ke kebun kami. !


Mataku pun menjelajah ke arah kebun kami. Benar saja tak ku lihat ada orang disekitar kami. Hanya ada beberapa orang tapi juga sibuk di kebunnya masing masing. Dan juga....


Hanya ada mas Abhi dan Bagas yang sedang semangat-semangatnya menanam. Sambil sesekali bercanda dengan Bagas.


"Binar tanya mas Abhi dulu deh bu? Mungkin saja mas Abhi tau" Ucapku


Ibu hanya mengangguk saja. Maka segera aku mendekati mas Abhi dan juga Bagas yang sedang asyik bercanda.


"Mas.... " Lirih ku


Mas Abhi menoleh ke arahku.


"Ada apa sayang? kamu mau apa hemm? " Tanya mas Abhi


Hah...


Kalau lihat sikap mas Abhi kaya gitu harusnya aku bahagia banget.


Pertama... dari sikap mas Abhi seperti saat ini rasanya sangat berbeda dari sikap mas Abhi yang datar saat kami pertama kali bertemu bahkan saat kami sudah menikah. Ja..uh.... malahan... mas Abhi yang sekarang jauh lebih lembut padaku.


Kedua... mas Abhi yang biasa hidup mewah dan tak pernah berpanas-panasan rela membantu ibu menanam kacang hijau dikebun ini.


Tapi kenapa aku merasa kurang yakin dengan semuanya. Apa karena aku yang terlalu takut disakiti lagi dan lagi. Entahlah...


"Sayang... kamu kenapa? " Tanya mas Abhi sekali lagi.


Ah.. iya.. hampir saja aku lupa dengan tujuan ku menemui mas Abhi.


"Mas.. lihat bibit kacang yang ada disana gak? " Tanyaku akhirnya sambil menunjuk ke arah ibu.


"Sudah aku tanam sama Bagas lah! " Jawab mas Abhi kemudian.


"Sisanya mana mas? " Tanyaku lagi karena gak mungkin sudah habis. Toh waktu mas Abhi ke sini lahan yang akan ditanam tinggal sedikit. Jadi pasti ada sisa.


Bukannya dapat jawaban tapi yang kulihat cengiran di bibir mas Abhi. Maksudnya apa coba?


"Sudah habis sayang? " Jawab mas Abhi kemudian.


Mendengar jawaban itu aku jadi bisa melongo. Kok bisa sudah habis emang di kemanain semua bibit nya.


"Aku tanam banyak-banyak saja tiap lubang. Biar nanti tumbuhnya dan panen nya juga banyak" Jawab mas Abhi tanpa rasa bersalah.


Ku tepuk jidat ku dengan telapak tangan ku.


Ya ampun mas.. mas...


"Kenapa sayang, benar kan yang aku bilang? " Tanya nya sekali lagi.


"Mana ada mas.. yang ada nanti kacang hijau nya pertumbuhannya terhambat, panen nya juga tambah dikit. Karena satu lubang banyak yang tumbuh jadi berdesak-desakan" Jawab ku sebal.


Huh.. dasar mas Abhi..


Pintar sih... tapi gak semua orang pintar bisa bekerja jadi petani. Makanya bestie.. jangan suka merendahkan pekerjaan orang. Karena nyatanya setiap pekerjaan butuh keahlian khusus. Ea...


Mas Abhi hanya menggaruk kepalanya yang entah gatal beneran atau tidak. Yang jelas setelahnya pasti mas Abhi hanya minta maaf saja.


Ck... mau marah pun susah, karena memang mas Abhi gak tau juga sih.


****


Author Pov


Sementara di tempat lain...


Kenapa seolah kenangan masa lalu gadis kecil itu seolah terulang lagi. Tapi anehnya sekarang Gendis lebih tidak terima jika sekali lagi Gendis harus kehilangan apa yang dia sayangi.


"Gendis... Gendis.. sayang. Buka pintunya dong tante Vika mau ngomong nih" Ucap Vika sambil mengetuk pintu kamar Gendis.


Perempuan cerewet itu sengaja didatangkan mama nya Abhi untuk mengimbangi ke cerewet an Gendis. Karena biasanya kalau ada Vika, Gendis akan lebih ceria.


"Ngomong aja disana tante, Gendis gak mau ketemu sama orang lain, kecuali kalau sama bunda" Teriak Gendis dari dalam.


Sementara Mamanya Abhi dan juga Vika hanya menghela nafas kasar mendengar jawaban Gendis. Lagi-lagi jawaban yang sama sejak Gendis di titipkan di rumah ini.


"Gendis mau ketemu bunda kan? Kalau begitu buka dulu dong pintu nya. Nanti tante Vika ajakin ketemu bunda deh"


"Beneran tante" Jawab Gendis yang tiba-tiba saja sudah mengeluarkan kepalanya di pintu.


Ulah bocah kecil itu otomatis membuat dia orang dewasa yang ada didepan pintu bertingkat.


"Dasar anak-anak bisa-bisanya bikin kaget orang tua saja" Batin Vika dan mamanya Abhi yang kebetulan sama.


Tapi mereka benar hanya bisa menahan didalam hati saja. Takutnya kalau Gendis tau, bakal ngambek lagi dan memperpanjang aksi mogok keluar kamar nya. Makin gaswat kan.


"Ayo tante... kita ketemu bunda sekarang" Rengek Gendis.


Kini giliran Vika dan mamanya Abhi saling berpandangan.


Mau ketemu dimana coba? Keberadaan Abhi dan Binar saja mereka tidak tau.


Sungguh... Vika dibuat sebal dengan Abhi. Gara-gara sikap Abhi terhadap Binar kini dirinya di buat susah juga.


"Gak bisa sekarang sayang, kan.... "


Belum selesai Vika meneruskan ucapannya pintu sudah ditutup lagi dengan keras.


"Dasar... anaknya Abhi... kok bisa galaknya sama" Maki Vika dalam hati.


"Kalau gak bisa sekarang Gendis gak mau ngomong"Ucap Gendis di balik pintu.


" Kayaknya Gendis ngambeknya beneran ini Vik. Tante jadi bingung bujukin kayak gimana lagi"Ucap mama nya Abhi frustasi


"Iya nih tan, Vika juga bingung. Kita harus gimana ya? "


Vika nampak berfikir, gadis cantik itu juga bingung menghadapi Gendis dengan cara apa lagi. Masalahnya Vika sendiri belum menikah dan belum punya anak. Keponakannya juga tidak ada yang se cerewet dan se aktif Gendis. Rata-rata keponakan Vika adalah anak-anak yang kalem seperti mamanya.


"Gini aja deh tan, apa kita susulin aja Abhi dan juga Binar di kampung halamannya" Ide Vika kemudian.


Mamanya Abhi nampak berfikir.


"Iya sih Vik, tapi tante gak tau alamat pastinya Binar" Ucap mama nya Abhi. Rupanya neneknya Gendis itu menyerah sudah.


Sebenarnya mamanya Abhi berfikir untuk membuat Abhi dan Binar lebih dekat. Dengan mereka pergi ke kampung nya Binar berdua misalnya. Tapi ternyata Gendis sulit dikendalikan. Jadi mamanya Abhi pasrah saja dengan usulan Vika saat ini.


"Kalau masalah alamat, serahkan saja sama Vika tante. Biar nanti Vika yang cari tau" Ucap Vika kemudian.


Perempuan cantik itu pun kembali mengetuk pintu kamar Gendis.


"Gendis sayang, masih mau ketemu sama bunda gak. Tapi buka pintunya dulu ya? Tapi kalau gak mau sih gak apa-apa, tante Vika pulang aja deh kalau gitu" Bujuk Vika


Tiba-tiba pintu terbuka lebar dan kali ini memperlihatkan seluruh badan Gendis saja. Senyum Vika pun mengembang.


*


*


*


Hi.. Hi.. aku bangga lo kak jadi anak petani. Orang banyak mikir pekerjaan itu mudah banget. Tapi kalau melewati proses nya sungguh melelahkan sekali. Tapi aslinya seru.. juga lho.


Adakah yang sama?Kalau iya lagi musim apa. Disini lagi musim nanam padi lho.