Nguber Duda

Nguber Duda
Seratus Satu



Tinggal di rumah sakit, sehari saja rasanya udah gak betah. Dua minggu waktu koma sih gak terasa lha ini? Baru sehari saja sudah pengen pulang saja.


Kalau boleh milih nih ya? Aku mending tidur di kosan ku yang lama dari pada harus di rumah sakit. Apalagi pas sakit gini.


Beruntung karena aku doyan makan dan rajin minum obat.Tiga hari setelah aku bangun dari koma. Aku pun kini di perbolehkan untuk pulang ke rumah.


Sebenarnya bukan hanya gak betah aja sih. Aku juga pengen gendong dan lihatin Dewa secara langsung. Tiga hari ini cuma bisa lihatin Dewa lewat vidio call saja.Anak ku itu sudah tumbuh gendut sekali. Jadi gak sabar pengen ketemu.


"Sudah siap, Sayang, " ucap Mas Abhi. Suamiku itu telah selesai mengemasi barang-barang kami. Dan baru saja memasukkan barang-barang itu ke mobil.Kini dia bersiap menjemputku. Kenapa demikian?


Karena barang yang ada dirumah sakit bejibun.


Dua buah koper besar.


Hadeh..


Di fikir nya kita ini sedang liburan atau gimana?Toh kenyataannya kami sedang dirumah sakit. Katanya biar tidak bolak-balik pulang kerumah ambil baju ganti dan alat tempurnya saat bekerja. Selama aku koma Mas Abhi memang memprioritaskan menjaga aku dan hanya meng-handle pekerjaannya dari rumah sakit ini. Kata Mas Abhi gak tega kalau sampai ninggalin aku. So sweet banget 'kan?Jadi malu pernah suudzon sama dia.


"Sudah , Mas, " jawabku sambil tersenyum.


Mas Abhi membalas senyumku tak kalah manisnya. Jadi takut kena diabetes deh. Lalu setelah itu segera mendorong kursi roda ku.


Tapi baru saja Mas Abhi membuka pintu, pintu itu lebih dulu terbuka dan muncullah seorang perempuan paruh baya. Yang... kayaknya... pernah lihat tapi lupa di mana?He.. he.. dasar pikun.


"Tante... mau apa kesini! ''ucap Mas Abhi jutek banget.


Tumben nih orang bisa sejutek itu. Emang kenal ya?Apa aku juga kenal sama dia?


" Seperti katamu kemarin Bhi... Tante kesini hanya untuk minta maaf sama istri kamu. "


Aku...?Mas Abhi pun menghela nafasnya. Makin penasaran 'kan?


Memangnya punya salah apa nih tante-tante sama aku. Perasaan belum pernah ketemu deh.Duh... kok jadi pikun gini sih.Ingat dong Bee... ingat...


Tapi sekuat apapun aku mengingat nyatanya memang gak ingat. Apa mungkin sebagian memori ku menghilang saat koma? Tidak......


"Binar masih belum pulih benar tante. Tiga hari lagi datanglah kerumah! " ucap Mas Abhi benar-benar sewot banget.


Duh... Mas Abhi jangan bikin penasaran dong. Tapi aku gak berani nanya ding,takut salah. Apalagi mas Abhi juga terlihat tidak suka dengan tante-tante ini.


"Kalau tante nunggu tiga hari kedepan perusahaan tante keburu bangkrut Bhi... Sudahlah... sama saja toh sekarang atau nanti yang penting kan tante dapat maaf dari istri kamu ini. Lalu keluarga kita seperti semula. "


Makin gak ngerti, tapi jujur aku gak suka dengan cara tante-tante ini ngomong. Berasa tidak menghargai orang lain saja dan mau enaknya sendiri.


"Datang tiga hari lagi ke rumah tante. Permintaan maaf itu pun harus tulus. Bukan karena rasa terpaksa. "


Setuju...


Meskipun aku gak ngerti masalahnya tapi aku setuju dengan perkataan mas Abhi barusan.


"Kamu jangan egois lah Bhi... tante sudah sempat-sempatkan datang ke sini mau minta maaf tapi malah kamu tolak. "


"Abhi kan gak maksa tante, lagi pula Abhi juga gak rugi apapun. Jadi terserah tante saja. Kalau gitu Kami permisi tante, istri Abhi butuh banyak waktu istirahat. "


Mas Abhi lalu mendorong kursi roda ku begitu saja melewati tante-tante yang belum ku tau namanya.


Terserah kamu aja lah mas, mungkin aku memang lagi amnesia sebagian makanya gak kenal sama tante itu. Yang penting aku yakin sama kamu aja kalau itu memang yang terbaik. Nanti aja lah kalau waktu senggang aku baru nanya sama kamu.


***


Ku pandang dengan haru sosok bayi laki-laki yang sudah berusia lebih dari dua minggu itu. Sudah berisi dan terlihat sangat menggemaskan.


Bayi laki-laki itu seolah tau jika bundanya sudah datang. Matanya terbuka sangat lebar, padahal kata mama dan ibu jam segini Dewa biasanya akan tidur. Bahkan bayi laki-laki ku itu sudah membuka matanya satu jam sebelum kedatanganku.


Sama...Bunda pun kangen, pengen peluk, pengen cium bahkan pengen gendong Dewa. Maafin Bunda ya? Karena bunda lemah makanya kita terpisah lebih dari dua minggu. Setelah ini bunda akan rawat Dewa, Kak Gendis dan Papa dengan baik. Bunda akan jadi kuat untuk kalian.


"Mau Gendong anak kamu Bee... " ucap mama.


"Iya... Ma... boleh 'kan"


Mama tersenyum mendengarnya.


"Tentu saja boleh, tapi sebentar saja ya? karena kamu masih butuh banyak istirahat. Nanti kalau sudah sembuh benar baru kamu bisa rawat Dewa sebaiknya. "


Aku hanya mengangguk. Tanpa mama bilang pun aku pasti melakukannya. Tapi aku masih bersyukur karena mama masih mau mengingatkanku.


Baru setelahnya mama menyerah kan Dewa ke pangkuanku.


Baru beberapa menit Dewa ada di pangkuanku bayi laki-laki ku itu langsung terlelap.


"Ah... ternyata cucu kita ini pandai sekali ya Ngel, padahal dari tadi udah kita nina boboin tapi gak mau bobo juga. Sekarang giliran di pangkuin bundanya langsung tidur saja, " ucap mama.


Ada yang terasa hangat di dada ini.Untuk kesekian kali aku memandang wajah Dewa. Sebel banget sih, ternyata Dewa mewarisi wajah papanya. Lha aku cuma ke bagian, matanya aja yang mirip sama aku.


"Udah Sayang, waktunya istirahat dulu. Gak usah di pantengin gitu Dewa nya. Tau banget kalau Dewa memang ganteng kayak papa nya. "


Ish...


Kok Mas Abhi tau sih kalau aku mikirin itu. Nyebelin kan.


Mama dan Ibu hanya tersenyum. Tapi Mas Abhi juga benar sih aku memang butuh istirahat. Kepala juga udah mulai pusing. Maka aku kembalikan Dewa pada mama.


Kini Mas Abhi mendorong kursi roda ku menuju kamar. Sebel ya kalau gak bisa berbuat apa-apa seperti ini. Mau ngapa-ngapain harus dibantuin dulu.


"Maaf ya, Mas. Aku ngerepotin kamu terus. "


"Gak ada yang ngerepotin, Sayang. Justru kalau gak gini aku gak bisa ngerawat kamu. Aku juga mungkin gak akan pernah tau kalau aku gak akan bisa hidup tanpa kamu. Waktu kamu koma, Mas sempat berfikit akan bunuh diri kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu. "


"Mas... " ucapku sambil menutup mulutnya.


Gak ada ceritanya kisa VA jilid dua dan terjadi pada anak-anak ku.


"Tapi aku senang akhirnya kamu bisa kembali bersama kami semua" Ucapnya sambil memelukku erat.


"Mas... " pekik ku kaget. Karena Mas Abhi melakukannya dengan cepat.


Tapi aku bahagia...


"Oh... iya , Mas. Tante-tante yang dirumah sakit tadi siapa sih? Memangnya aku kenal ya? Kok aku lupa ya?" akhirnya keluar juga pertanyaan itu. Ternyata susah nahan penasaran hi...


Terlihat Mas Abhi menghela nafas.


"Dia saudara sepupu Mama. Ibunya Mira dan... dan... dia yang mendorong kamu waktu di pernikahannya Mira dan mantan kamu itu. "


What...


*


*


*


Ekspetasinya gagal mau up tgl 1.Tiba-tiba saja ada sedikit musibah. 🤭