
Suasana makan malam dirumah terasa begitu menyenangkan malam ini. Entahlah..
Meskipun aku masih sedikit ragu untuk memaafkan mas Abhi, tapi tak ku ingkari jika suasana ini lah yang begitu ku rindukan sejak dulu. Aku rindu kehangatan keluarga ku seperti ini.Makan bersama keluarga ku. Sejak ayah meninggal aku sudah dituntut untuk bekerja dan jauh dari keluarga ku.
Ah...
Andai ayah pun masih hidup mungkin semuanya akan terasa sempurna.Sayang nya ayah telah lama meninggal dan digantikan mas Abhi di hidupku.
Semoga engkau bahagia melihat keluargamu di sini bahagia ayah.
Bahagia....?
Apa itu artinya aku harus memaafkan mas Abhi dan kembali merajut asa bersama nya. Entahlah.. aku pun masih bingung.Tapi jujur aku menyukai kebersamaan ini.
Ku tatap wajah lelah yang sedang makan dengan lahap nya itu.
Satu hal yang membuat ku ragu akan keputusan ku yang sebelumnya.
Kesungguhan mas Abhi...
Suamiku itu rela pontang-panting membantu kami disini. Mulai dari ke kebun bahkan mencari rumput untuk hewan ternak kami. Padahal sebelumnya...
Kena sinar matahari aja jarang. Mas Abhi lebih sering menghabiskan waktunya didalam ruangan.Coba bayangin....
Hati perempuan mana yang tidak akan meleleh melihatnya laki-laki mau melakukan apapun demi membuktikan kesungguhannya. Apalagi yang dilakukan mas Abhi bukan sesuatu yang sering dilakukannya.
Apa ini memang pertanda..?
Mungkin sebaiknya aku memberi kan kesempatan kedua untuk mas Abhi. Setiap orang memang berhak diberi kesempatan kedua bukan? Kalau dia memang bersungguh-sungguh.Kalau saat ini aku belum yakin untuk diriku setidaknya aku memberi kesempatan anak ku nanti untuk bisa bersama papa nya nanti.
Ya.. aku memang harus ingat itu dan aku tidak boleh egois dengan anak ku sendiri.
"Mau nambah gak mas makannya? " Ucap ku kemudian.
Ini pertama kalinya aku ngajakin ngomong sejak aku marah sama mas Abhi. Terlihat mas Abhi pun kaget. Bahkan suamiku itu sempat menghentikan makannya sejenak dan memandang ke arahku.
Biasa aja kale mas...
"Boleh sayang, mas mau nambah lagi. Masakan ibu ini memang T-O-P-B-G-T sampai-sampai mas pengen makan terus" Ucap mas Abhi kemudian sambil terus tersenyum.
Tuh.. kan makin gak jelas pakai senyum-senyum segala lagi. Emang segitu seneng nya yaya mas? Eh.. apa mas Abhi bilang? Mau nambah makan?
"Beneran mas mau nambah? " Tanya ku sekali lagi. Tadi aku memang menawari mas Abhi sekedar basa-basi doang. Aku sih emang berniat memulai hal yang baik aja dengan mas Abhi.
Tapi....
Saat mas Abhi menanggapi kok aku jadi ragu ya??
Masalahnya dari tadi mas Abhi itu udah makan banyak banget. Masa iya mau nambah lagi sih.
"Iya sayang, mas mau nambah yang itu-tu" Ucap mas Abhi sambil menunjuk asal cah kangkung yang ada di meja. Sementara matanya masih setia menatap ke arah ku.
Masih sedikit ragu aku pun mengambilkan makanan itu ke piring mas Abhi. Kemudian sambil senyum-senyum gak jelas mas Abhi pun kembali melanjutkan makannya dan sesekali masih menatap ke arah ku.
Dasar mas Abhi aneh banget, gitu aja udah baper. Gimana kalau dia tau aku sudah memaafkannya. Pasti langsung heboh.
Sepuluh menit kemudian acara makan malam kami pun selesai. Mas Abhi dan Bagas kembli ke kamar masing-masing. Sementara aku membantu ibu mencuci piring di dapur. Sebenarnya mas Abhi tadi memaksa ikut membantu cuci piring,tapi dilarang sama ibu.
Syukurlah...
Aku kan gak jadi canggung karena sikap mas Abhi yang jadi aneh itu. Ingin aku berlama-lama saja diluar karena masih ragu ketemu sama mas Abhi. Tapi ibu udah maksa aku buat tidur. Terpaksa deh aku turutin perintah ibu dan kembali ke kamar.
Kok malah jadi deh deg an gini ya. Padahal aku kan gak salah apa-apa. Cuma bayangin baikan aja sama mas Abhi. Kira-kira apa yang dilakukan laki-laki itu setelah tau nanti.
Pelan.. aku membuka pintu
Saat membuka pintu kamar, pertama kali yang aku lihat adalah mas Abhi sedang rebahan diranjang dan bangun begitu melihatku masuk.
"Sayang sudah gak marah sama mas lagi kan? " Tanya mas Abhi to the point. Kayaknya ini pertanyaan sudah disiapin dari tadi. Terbukti pas aku masuk mas Abhi langsung bertanya seperti itu.
Kasih jawaban langsung atau aku godain dulu ya enaknya? Tapi kasihan juga sih kalau masih aku kerjain kan selama ini udah aku cuekin dia.
Akhirnya aku pun menganggukkan kepala ku. Biarlah aku sudahi saja perang dingin kami ini. Semoga saja setelah ini mas Abhi gak bikin ulah yang membuatku marah-marah mulu.
"Iya mas aku udah maafin mas" Jawabku akhirnya
"Makasih sayang" Ucap mas Abhi sambil mengangkat dan memutar-mutar tubuhku. Sehingga membuatku menjerit karena kaget.
"Mas... turunin gak. Anak kamu kepencet ini" Ucapku yang sontak membuat mas Abhi menurunkan ku.
Setelah aku turun sempurna mas Abhi segera berjongkok dan mengelus perutku.
"Maafin papa ya sayang. Kamu kesakitan ya disana. Habisnya papa saking senengnya ,tau gak nak, bunda kamu udah maafin papa lho. Papa janji deh setelah ini papa gak akan buat bunda marah lagi sama papa. Papa gak mau kita berempat berpisah lagi" Ucap mas Abhi mengajak ngobrol anak yang ada di perutku.
Tes....
Kok aku jadi mellow gini. Rasanya terharu banget melihat mas Abhi ngajak ngobrol anaknya. Hal yang sebelumnya tak pernah aku bayangkan.
"Kenapa sayang kok nangis gitu, mas bikin kesalahan lagi ya" Ucap mas Abhi penuh penyesalan sambil mengusap air mataku
Kalau kamu tau mas, aku menangis karena aku terlalu bahagia untuk kebersamaan kita kembali. Aku gak pernah ngebayangin jika kita bakal bisa seperti ini. Dulu kamu terlalu susah untuk digapai tapi sekarang aku benar telah melihat senyum bahagiamu.
"Gak apa-apa mas... aku menangis karena bahagia aja kok" Jawabku akhirnya. Mas Abhi lalu memelukku dan menciumi pipiku.
"Ck.. mas...bukan berarti saat aku bilang sudah maafin kamu, terus kami bisa langsung mes*um kayak biasanya ya. Kamu masih harus puasa dulu.Enak saja...."Ucapku yang membuat mas Abhi manyun.
Kebiasaan...
"Tapi puasanya udah terlalu lama lo yang"
"Biarin" Jawabku sambil berjalan menuju ranjang.
Tapi diluar dugaan mas Abhi malah mengangkat tubuhku.
"Mas.... " Teriak ku
Tapi yang ku panggil hanya nyengir tak berdosa. Baru juga mas Abhi meletakkan tubuhku diranjang tiba-tiba...
Bruttt...
"Ih.. mas Abhi kentut ya? " Ucapku sambil kembali duduk dan menutup hidung.
"Maaf sayang mas kekenyangan tadi"
"Bau tau mas"
"He.. he... cium bau kentut bikin awet muda lo yang"
"Yang ada bikin mau pingsan mas" Ucapku sewot dan mas Abhi hanya nyengir
"He... bau nya sedap kok yang. Yang antarin mas ke belakang ya"
Apa...
*
*
*
Mas Abhi.. jorok. Untung udah baikan kalau enggak bisa diusir dari kamar. Terus yang ngantarin ke belakang siapa. Masih takut sama hantu kan Hi.. Hi....