Nguber Duda

Nguber Duda
Dua Puluh Delapan



"Saya terima Nikah dan Kawinnya Binar Ayu Kusuma binti Satria Aji Kusuma dengan mas kawin tersebut di bayar tunai"Ucap mas Abhi lantang


"Bagaimana saksi"


"Sah"


"Sah"


"Sah"


Ucap para saksi dan tetangga yang hadir bersamaan.Segera setelah itu doa dipanjatkan.


Tau rasanya hatiku ketika mas Abhi menyelesaikan ijab qobul nya. Kalau gak ingat saat ini aku pakai kebaya udah jingkrak-jingkrak kalau boleh sekalian goyang ngebor juga. He.. he..


Duh emak....


Binar beneran dikawinin sama mas Abhi. Impian Binar punya suami ganteng ternyata terkabul juga. Jodoh emang gak kemana ya?Gak rugi ternyata selama ini aku nguber mas Abhi. Ternyata mas Abhi beneran jadi suamiku.


Kemarin aja sok cuek-cuek bebek gak mau sama aku. Sekarang gak ada angin gak ada hujan malah udah jadi suami aku. Kamu itu ngegemesin banget sih mas Abhi.Makin cinta deh aku sama kamu.


"Binar... sekarang kamu sudah jadi istri dan juga ibu. Jadi istri dan ibu yang baik ya nak. Kamu harus nurut apa kata suami. Kamu juga harus sayang sama mereka. Apalagi Gendis, anak itu terlihat sangat menyayangimu. Ibu senang akhirnya kamu menemukan jodoh yang memang kamu inginkan"


Begitulah petuah ibu sesaat setelah acara ijab qobul dilaksanakan. Saat ini para tamu undangan alias para tetangga sedang menikmati hidangan yang ada dan kebetulan aku dan ibu sedang berdua.


Sekedar informasi ternyata ibu pergi waktu itu untuk menjemput mas Abhi dan Gendis di terminal. Karena sebelumnya tanpa sepengetahuan ku mbak Reni menelpon ke ibu bahwa ada seorang yang kucintai menyusulku kekampung.


Gak ada akhlak banget kan mbak Reni. Tapi aku suka. Entar kalau aku balik ke kota bakal aku cium perempuan itu. He.. he


"Iya bu" Jawabku akhirnya.


Singkat, jelas dan padat.


Bagaimana tidak iya, jika ternyata putrimu ini yang telah jatuh hati duluan pada duda tampan itu bu. Jelas saja aku akan menyayangi mereka. Gendis... tentu saja, toh ternyata gadis kecil itu sudah tak pernah usil lagi padaku.Maka dengan sepenuh hati aku akan menyayanginya dan menggantikan sosok mama nya yang entah kemana.


Karena sebenarnya aku pun tak tau keberadaan dan penyebab mereke berpisah.


"Bundanya Gendis... Gendis lapar" Ucap bocah kecil itu yang baru saja menghampiriku. Dielus nya perutnya menandakan gadis kecil itu memang tengah lapar.


Segera aku menghampiri nya dan menggendongnya.


"Mau makan apa anaknya bunda? "


Tampak Gendis berfikir lalu menunjuk pada salah satu yang orang yang sedang membawa semangkuk nasi dan kuah soto.


"Gendis mau makan Soto" Tanyaku padanya.


Gadis itu mengangguk. Lalu segera aku menurunkan dari gendongan ku.


"Gendis ke papa dulu ya? Bunda ambilkan nasi sama kuah sotonya dulu. Nanti bunda suapin"


Lagi-lagi Gendis mengangguk lalu berlari menuju papanya yang tampak berbincang dengan penghulunya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan saat ini. Mungkin proses pernikahan kami supaya terdaftar di negara. Toh saat ini kami hanya menikah siri saja.


Jangan fikir ini novel terus langsung bisa sulap ya mak. Kayak yang ditivi-tivi. Jadi apa prok.. prok.. prok..


Semua butuh proses, aku baru bertemu kembali dengan mas Abhi tadi. Sedangkan yang terdaftar di penghulu adalah namaku dan juragan Santos. Jadi butuh proses lagi untuk mengesahkan di negara.


Kalau gak salah tebak... Entahlah kalau mas Abhi hanya menjadikanku istri sirinya saja.


Jangan tanya keberadaan juragan Santos ya. Toh setelah ucapan mas Abhi yang tegas itu,lelaki itu langsung pergi dari sini.Apalagi pas tau mas Abhi bukan orang sembarangan.


Ok kembali ke saat aku yang sedang mengambilkan putriku makan. Cie...putri..cuit..cuit ...jadi malu. Lha emang kan udah sah keles.


Sengaja aku ngambilnya dua piring. Kali aja mas Abhi nanti juga lapar. Biar sekalian gak bolak-balik.Gendis aja lapar siapa tau mas Abhi juga lapar.


"Saya tidak lapar" Jawabnya tanpa menerima makanan dariku.


Masih datar aja mas... Udah sah juga kan.


"Yakin gak mau makan? Ya.. sudah... Tapi Bee.. gak ikut-ikut ya nanti kalau pingsan karena kelaparan. Bisa-bisa dikira tetangga kurang.. ehmmm. Tetangga disini nyinyirnya ngalah-ngalahin akun gosip lho mas" Ucapku sengaja nakut-nakutin. Habisnya bebal sih.. udah repot-repot dibawain istri cantiknya makanan malah ditolak.


Sengaja juga aku taruh makanan itu dikursi kosong didepan tempat dudukku. Biar saja deh nanti kalau gak mau makan aku yang habisin sendiri. Dikiranya aku juga gak lapar apa. Sekalian ngisi tenaga buat nanti malam. Cie....


"Ayo Gendis sayang bunda suapin"


Bocah kecil itu segera mendekat kearahku. Dengan lahap Gendis memakan makanan yang aku suapin dengan tanganku.


"Enak sayang? " Tanyaku sambil melirik bapaknya yang ternyata sudah menelan ludahnya.


Gendis mengancungkan dua jempolnya. Yang tandanya putriku itu menyukai masakan daerah kami. Akupun tersenyum melihatnya.


"Gendis aja bilang enak lo mas. Yakin masih gak mau makan" Bisikku pada mas Abhi.


"Suapin aja bunda kayak Gendis. Mungkin papa malu kalau makan sendiri" Celetuk Gendis.


Boleh banget idenya.


"Jadi papa maunya disuapin bunda nih? " Godaku kemudian.


Mas Abhi mendelik ke arahku yang semakin membuatku jadi gemas.


"Gak usah, saya makan sendiri saja" Ucapnya sambil mengambil semangkuk makanan yang aku letakkan tadi, lalu perlahan mulai melahap makanan itu. Lahap bener... tadi aja bilang gak mau. Bahkan dalam sekejap mangkuk itu sudah hampir kosong.


"Makan yang banyak ya mas, biar nanti malam kuat"


Uhuk... uhuk.. uhuk..


Tiba-tiba mas Abhi tersedak segera aku mengambilkan air mineral dan menyerahkan padanya.


Rasanya pengen ketawa aja ngelihat mas Abhi yang salah tingkah kayak gitu.


Mas... mas.. digoda sedikit aja udah kalang kabut. Gimana ngadepin nanti malam. Lagian ini juga bukan yang pertama buat kamu kan mas?


"Pelan-pelan dong mas makannya. Gak usah buru-buru kalau mau nambah nanti dibelakang masih banyak"Godaku


Aku pura-pura cuek aja sambil mengelus punggung mas Abhi pelan.


" Jadi nggak nafsu makan"Ucapnya sambil meletakkan mangkuknya ketempat semula. Ku lirik sebentar isi mangkuk itu yang ternyata sudah kosong. Tawaku segera meledak melihatnya.


"Siapa coba yang nafsu makan mangkuknya saja"


Mas Abhi hanya cuek sambil pura-pura memainkan handphone nya. Sementara aku sibuk kembali menyuapi Gendis yang sempat tertunda karena ulah suamiku yang lucu itu.


"Ini belum seberapa mas. Lihat aja nanti. Akan ku buat harimu lebih berwarna" Ucapku dalam hati.


*


*


*


Ada ya perempuan macam Binar. Othor nya yang nulis aja dibikin geleng-geleng kepala.


Jangan lupa Like, komen and Vote. Poin juga boleh😍😍😍