Nguber Duda

Nguber Duda
Dua Puluh Enam



Ku pandangi seluruh penampilanku dari kaca yang menempel di almari ku.


Cantik....


Satu kata yang terucap, tapi aku sungguh tidak bahagia. Harusnya aku bahagia sekarang karena beberapa menit lagi status ku berubah dari single menjadi istri ketiga.


Aduh emak..


Boleh gak sih aku kabur aja dari pernikahan ini? Meski juragan Santos terkenal sayang sama istri-istrinya tetap saja berbagi bukan lah keinginanku. Harta bukanlah segalanya. Tau gini kenapa gak dari dulu saja. Kenapa aku harus susah-susah bekerja selama empat tahun. Mana uangnya ditilep biawak lagi.


Dan lihatlah.. bahkan bibiku itu sungguh tidak tau malu datang kemari.Suara tawanya begitu menggelegar sampai didalam kamarku.


Kayaknya tuh orang benar-benar bahagia melihat aku menikah dengan orang kaya. Kenapa gak dia aja yang nikah sama Juragan Santos. Kan dia yang nilep uangku. Jadi otomatis yang berhutang adalah dia.


Tapi mana mau Juragan Santos sama bibi ku yang tidak terawat itu. Bukan orang sembarangan yang bisa jadi istri lelaki itu sedang bibi ku juga gak cantik. Karena nyatanya kedua istri juragan Santos memang cantik. Meski sebenarnya Juragan Santos gak ganteng-ganteng amat.


Ceh...


Jadi heran...


"Sudah siap Binar? Juragan Santos sudah tiba didepan. " ucap seorang yang baru saja memasuk, i kamarku. Dia adalah Wawan .Ku pikir ibu tapi bukan?


Entahlah....tak kulihat wajah ibu sejak kemarin.Katanya ibu akan meminta pinjaman pada teman lamanya.


Mungkin seharusnya aku tidak mengucapkan kata penolakan kemarin-kemarin,sehingga ibu tidak merasa terbebani dengan rasa bersalahnya padaku. Maafkan aku ibu dan semoga saja dia tidak melakukan hal buruk pada dirinya.


"Iya Wan, ibu sudah kembali? "Tanyaku balik


Wawan menggeleng


"Kalau kamu merasa keberatan dengan pernikahan ini. Aku bisa bantu kamu untuk kabur. Masih ada waktu sebelum penghulu datang" Tambah Wawan lagi.


Aku menggeleng cepat. Kalau aku ada niatan itu, sudah sejak kemarin aku kabur dan tidak kembali lagi ke kampung. Tapi aku bukan anak durhaka. Apa jadinya adik dan ibu ku kalau sampai aku kabur. Hal yang paling berat adalah mereka diusir dari rumah atau paling buruk mereka akan dijebloskan ke penjara. Apalagi sekarang ibu belum kembali Gimana dengan adikku nanti?


Tidak...


Tak akan ku buat mereka menanggung semua itu. Biarkan aku yang menanggung semua ini sendiri, asal setelah ini mereka bisa hidup damai.


"Ayo kita kedepan Wan, sepertinya semua tamu sudah menunggu. " Tanyaku.


"Satu hal lagi Wan?Bisakah kamu cari ibu dan bawa dia pulang. Paling tidak ketika ijab qobul nanti aku mau ibu ada disisiku" Tambahku


Wawan kemudian mengangguk.


"Maaf.. karena ibuku kamu berada diposisi seperti ini. Kalau aku punya uang sebanyak itu pasti akan ku berikan padamu. Sayangnya semua uang itu telah dihabiskan ibu. Jual motor itu pun percuma, karena nyatanya masih kurang banyak" Ucap Wawan sedih.


"Tidak apa-apa Wan mungkin ini sudah takdirku. Jangan lupa cari ibu"Ucapku lalu keluar ruangan.


Jujur aku sungguh tak rela tapi aku berusaha menampilkan wajah bahagia. Mau gimana lagi, toh pernikahan ini tetap akan terjadi. Kecuali jika Tuhan berbaik hati menurunkan uang dari langit. Ceh... jadi ngaco kan?


Sementara itu ku lihat Wawan keluar dari arah samping. Sepertinya dia memenuhi permintaan ku untuk mencari ibu.


***


Ku lirik sekilas lelaki yang sebentar lagi mengucap ijab qobul untukku. Senyumnya begitu mengembang sambil menyapa tamu undangan yang datang. Serasa dia dapat jacpot bisa nikahin aku. Ya iya lah..dapat nya perawan ting-ting.Sedangkan dia sudah beristri dua.


Hanya tinggal selangkah lagi.Tinggal nunggu penghulunya datang aja sih. Tapi aku berharapnya penghulunya gak bisa datang biar acaranya gagal. Lagi mencret kek atau apalah terserah. Pokoknya hari ini gak jadi nikah. Salah gak sih aku ngedoain buruk seperti itu. Tapi mau gimana lagi hanya itu satu-satunya yang bisa aku lakukan...


Tapi sayang doa buruk emang jarang dikabulkan. Saat ini sudah aku lihat pak penghulu berjalan kerumahku.


Binar jadi nikah woy...


Ku putar bola mataku malas saat mendapati Juragan Santos menyalami penghulu dan mengajaknya masuk. Sedangkan aku hanya mengikutinya dari belakang lalu duduk di sampingnya.


"Langsung dimulai saja pak ijab qobul nya" Ucap bibi Harti.


Siapa dia, berani mengatur diriku.


"Tunggu sebentar pak, saya mau nunggu ibu saya dulu. Wawan sedang menyusulnya" Tolak ku.


"Halah... kelamaan Binar, udah mendingan langsung nikah aja. Kan ada bibi disini. Sama saja kan" Ucap bibi masih gak tau malu. Sok cari perhatian banget dia.


"Ayo juragan langsung kawinin aja. Pasti itu akal-akalan mereka supaya gagalin pernikahan ini. Palingan ibunya kabur duluan " Tambah bi Harti. Kali ini juragan Santos yang jadi incarannya.


Gila... nih.. emak-emak benar-benar sudah putus urat malunya.


"Lanjutkan saja pak"Ucap juragan Santos terpancing


Nah lo kan akhirnya terpancing juga.


"Gak bisa juragan, saya hanya mau menikah ketika ada ibu saya" Ucapku tegas.


Seketika juragan Santos berdiri. Senyumnya yang mengembang tadi berubah jadi amarah. Serem juga aih saat laki-laki ini sedang marah.


"Sekarang juga kamu bisa milih sendiri. Kamu mau menikah sekarang juga atau lunasi sekarang hutangmu"


Asli aku gak bisa dibuat berkutik. Ingin nolak juga gak bisa.


"Saya lunasi hutang saya sekarang juragan" Tiba-tiba ibu datang menyela. Seketika kami menoleh kearah suara.


"Saya lunasi hutang saya juragan" Ulang ibu sambil menyerahkan amplop besar yang dibawanya tadi.


Nampak Juragan Santos dan orang-orang disana heran. Tak terkecuali diriku. Dari mana ibu mendapatkan uang sebanyak itu?Tapi jujur aku bisa bernafas lega sekarang.


"Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu Ela? Kamu tidak mencuri kan" Tanya bi Harti penasaran. Rupanya Bibi ku itu kepo juga.


"Bukan urusanmu Harti. Harusnya kamu sadar disini siapa yang mencuri. Kalau aku tidak ingat kamu saudara almarhum suamiku. Sudah aku jebloskan kamu ke penjara"Mendengar itu bi Harti langsung kicep.Punya rasa takut juga dia rupanya.


Tapi tak ku sangka ibuku bisa setegas itu.Gila keren banget kamu bu kalau galak gitu. Kayak mas Abhi. Eh... kok jadi mas Abhi sih.


Lupakan kita lanjut ke adegan berikutnya.


" Baiklah.. hutang kalian lunas. Tapi aku masih bersedia menjadi suami dari putrimu Binar. Jangan karena dia aku jadi kan istri ketiga Binar tidak akan bahagia. Saya berjanji akan membuatnya bahagia. Karena saya sudah jatuh cinta sejak pertama kali melihatnya"Ucap Juragan Santos pada ibu.


Ya kale juragan...jadi istri ketiga bisa bahagia yang ada ngenes tiap hari harus berbagi suami.Sorry.. sorry.. to say.Maaf.. maaf.. Kate nih ye..Jelas aja aku bakal nolak.


Baru saja aku ingin menolak tapi tapi suara anak kecil yang begitu familiar membuatku kaget dan sedikit tercengang.


"Bundanya Gendis.... Gendis kangen" Ucap gadis kecil itu lalu memelukku dengan erat.


*


*


*