
Pov Abhi
"Sayang sudah seminggu kita disini pulang ke rumah yuk" Ajak ku pada Binar istri ku. Rupanya meskipun kami baikan, belum membuat istriku ini mau di ajak kembali ke rumah kami sendiri.
Terus terang juga, meskipun sebenarnya aku sudah kerasan tinggal di kampung ini. Tetap saja aku punya tanggung jawab di sana.
Ada ribuan karyawan yang bergantung padaku. Kalau aku terus-terusan di sini kasihan papa yang meng-handle perusahaan sendiri.
"Tapi rumah ibu kan belum selesai mas. Kasihan kan kalau ibu disini sendirian sama Bagas saja" Ucapnya.
Benar juga sih, Mama,Vika om Aldo dan tante Sofia sudah kembali ke kota.Kalau aku mengajak ibu dan Bagas ke kota tentu akan mereka tolak. Di ajak om Aldo aja gak mau. Katanya ibu lebih nyaman hidup di desa.
Padahal...
Aku sudah merasakan bagaimana keras nya ibu nya Binar bekerja. Satu hal yang tidak pernah terduga dari kami semua adalah. Perempuan manja seperti ibu nya Binar rupanya bisa menjadi perempuan kuat setelah melewati berbagai ujian hidup.
Tapi masa iya aku harus pulang ke kota sendirian. Tujuan aku ngikutin Binar ke sini kan untuk mengajaknya pulang ke rumah. Kalau sekarang gak bisa ngajak Binar pulang ya sama aja bohong.
Lagian sekarang aku sudah terbiasa hidup dengan Binar. Kalau kami di pisahkan.....
Tidak... tidak.. pokoknya aku harus cari cara supaya Binar mau pulang ke rumah kami lagi.
"Gimana kalau kita nyuruh Vika aja yang nemenin ibu kamu disini yang, kan Vika juga gak kerja. Kalau perlu biar mas bayar dia aja deh biar mau. Lagian siapa tau nanti dia dapat jodohnya disini" Ucap ku kasih saran.
Semoga saja Binar setuju.
"Emangnya Vika mau gitu mas? " Tanya nya..
Ah...
Sepertinya ada angin segar nih. Sekarang tinggal bujuk, in gadis bar-bar itu. Gampang..
Vika kan mata duitan jadi aku yakin ketika aku tawarkan gaji besar pasti dia mau. Meskipun sebenarnya tanpa gaji Vika harusnya mau. Kan Vika masih keponakan ibu nya Binar.
"Pasti mau yang, nanti mas yang akan ngomong sama Vika"
"Terserah mas aja deh"
Ah...
Rasanya aku seperti hidup lagi. Yes.. yes.. yes.. aku berhasil bawa istri ku pulang kerumah. Itu artinya aku gak jadi bang Toyib dong. He.. he..
"Kalau gitu aku mau ke tempat Vano dulu ya yang, mau pamitan sekaligus menyerahkan segala sesuatu tentang pembangunan rumah ibu sama dia" Ucapku kemudian
"Memangnya Vano bisa dipercaya mas, takutnya nanti kayak bi Harti lagi"
Senyumku mengembang, gak nyalahin Binar sih kalau dia agak trauma.
"Tenang saja yang, aku kenal baik Vano kok. Dia tipikal orang yang bisa dipercaya dan pekerja keras. Jadi aku sangat yakin mempercayakan pembangunan rumah ibu sama dia. Lagi pula nanti juga ada Vika yang mengawasinya. Biar dia juga gak makan gaji buta dari aku"
"Ck.. kamu itu mas" Cebiknya yang bikin dia tambah menggemaskan. Tapi masih harus ditahan. Nunggu pulang kerumah baru akan aku sikat habis he.. he...
"Mas berangkat dulu ya yang, supaya kita cepat bisa pulang kerumah. Atau kalau kamu ikut juga gak apa-apa" Ajak ku, kali aja Binar sedang bosan di rumah dan pengin jalan-jalan.
"Gak ah.. mas, kasihan Gendis sedang tidur sendirian di rumah. Entar kalau bangun gak ada orang"
Huft...
Lupa ding kalau masih ada putriku disini. Beruntungnya aku punya ibu sambung buat Gendis yang begitu menyayangi Gendis dengan sepenuh hati.
"Ya sudah deh sayang mas berangkat dulu" Ucapku sambil mencium pipi nya.
Lima belas menit kemudian aku sudah sampai di toko bangunan punya Vano. Kulihat dua orang sedang mengangkut pasir ke atas mobil pickup.
"Permisi pak, Vano nya ada? " Tanyaku sopan pada dua orang itu.
"Oh.. pak Vano sedang keluar. Mungkin sebentar lagi datang. Pak Abhi tunggu didalam saja kalau ada perlu dengan pak Vano" Jawab salah satu dari mereka.
Aku menganggukkan kepala ku. Dari pada nanti balik lagi mendingan aku nunggu sebentar di sini.
"Kalau gitu saya permisi masuk ya pak"
Mereka hanya mengangguk.
Segera ku langkahkan kaki ku masuk ke dalam dan duduk di ruang tunggu yang telah disediakan. Suasana toko memang cukup sepi.
"Silahkan diminum mas" Ucap seseorang yang sontak membuatku berjingkat kaget.
Astaghfirullah...
Sumpah kaget banget. Dari mana datangnya ini perempuan. Perasaan tadi gak ada orang. Kenapa coba tiba-tiba sudah muncul sambil membawa satu gelas kopi.
Kayak Jailangkung,datang gak diantar.
Tapi...
Kayaknya pernah lihat ini perempuan. Bukannya ini perempuan yang ikut naik odong-odong.
Huft...
Segera aku menutup mulut ku menahan tawa kalau ingat hal itu.
"Silahkan di minum mas teh nya" Ucapnya lagi.
Aku hanya mengangguk saja. Pantang buat ku menerima makanan atau minuman dari orang yang tidak di kenal.
"Makasih mbak, tapi saya sedang tidak haus"Ucap ku sopan
" Minum sedikit saja lah mas, masak mas nya tega. Saya sudah susah payah lo bikinin khusus buat mas nya"Ucapnya.
Yang suruh bikinin siapa coba? Gak ada yang minta juga kan. Kayaknya nih perempuan beneran mencurigakan deh. Benar kata Binar....
"Kalau gitu mbak nya saja yang minum. Saya sedang tidak haus" Tolak ku.
"Dikit saja lah mas" Ucapnya sambil menyodorkan minuman itu ke mulut ku.
Apa-apaan coba. Segera ku tepis teh itu hingga gelas yang di pegang perempuan itu jatuh dan sebagian teh itu tumpah di baju ku.
Sial....
Maksa banget sih nih perempuan. Lagian ngapain juga nih perempuan bisa ada disini sih.
"Maaf mas gak sengaja" Ucapnya sambil mencoba membersihkan tumpahan teh di bajuku. Bahkan dengan berani dia sudah membuka dia kancing bajuku.
"Stop mbak, anda tidak sopan" Ucap ku sambil menghentak kan kedua tangannya.
"Au... " Pekik nya tapi tak ku perdulikan.
Dasar perempuan gak bener dia fikir aku akan tergoda.Tentu saja tidak, istriku jauh lebih baik darinya.
Harusnya tadi aku hubungin saja Vano supaya datang kerumah dan gak perlu datang ke tempat ini.
Melihat ini kayaknya aku gak perlu lama-lama disini. Segera aku langkahkan kaki ku.
"Kenapa mas Abhi gak tergoda denganku sih, apa kurangnya aku. Aku bahkan mau jadi selingkuhan mas. Bukannya sekarang jaman nya orang kaya punya simpanan. Gak sembarang orang bisa jadiin Dinda sebagai selingkuhan lo. Ini bahkan kesempatan besar buat mas" Ucap nya gak tau malu.
Ternyata dugaanku benar. Dia bukan perempuan baik.
"Maaf saya tidak tertarik. Silahkan cari laki-laki lain saja. Jangan pernah mengusik saya, kalau tidak saya bisa melakukan hal yang tidak anda duga" Ancam ku.
Bukannya mundur perempuan itu malah tersenyum mengejek. Bahkan kini dia sudah mendekat ke arahku.
"Kalau aku gak bisa dapatin kamu secara baik-baik, maka aku akan mendapatkan kamu dengan cara ku. Suka atau tidak suka kamu akan menjadi milik ku mas" Ucapnya
Yang tiba-tiba saja merobek baju nya mengacak-acak rambut nya lalu berteriak se kencang-kencang nya.
Benar-benar perempuan penuh drama. Haruskah aku berlari saja? Atau aku tetap nunggu in tingkah konyolnya selanjutnya.
*
*
*
Hayo.. hayo... mas Abhi sebentar saja gak sama-sama dengan Binar udah ada yang bikin masalah aja.
Kira-kira mas Abhi bisa menyelesaikan masalahnya dengan mudah atau sebaliknya nya? Kok mas Abhi tenang banget sih.
Tunggu bab selanjutnya ya🤭🤭🤭