Nguber Duda

Nguber Duda
Empat Puluh Lima



Ditinggal Gendis kerumah mama membuat suasana rumah jadi sepi. Gak ada temen berceloteh dan diajak gila-gilaan.


Hampa rasanya...


Udah terlanjur klop sih kalau lagi berdua.


Sama mbok Sumi juga gak mungkin. Masa orang tua diajak selengekan.


Mas Abhi juga lagi kerja. Hubunganku sama mas Abhi selama seminggu ini juga makin baik. Mas Abhi yang udah mau ngajakin aku ngobrol, mas Abhi yang kadang romantis tapi garing. Pokoknya lumayan lah sudah ada perkembangan.


Apa aku pergi ke kantor nya mas Abhi lagi ya? Takutnya malah ganggu sih.Jadi mending gak usah.


Tiba-tiba aku teringat ucapan Gendis sebelum pergi kerumah oma nya.


"Bunda.. crayon Gendis yang warna kuning sama hijau putus-putus. Sekarang tinggal kecil"


Ah... kenapa aku gak pergi beliin Gendis crayon saja. Dari pada dirumah suntuk.Mas Abhi tetap melarang ku pergi bekerja sih. Meskipun aku sempat marah-marah kemarin. Toh perintahnya yang jauh lebih ku taat, i.Istri sholehah gitu lho...


Masalah uang....


Benar kata mbok Sumi. Jika ATM yang diberikan mas Abhi padaku jumlahnya bejibun. Buat beli baju se tokonya pun bisa.Tapi aku sih hampir gak pernah jajan. Toh dirumah sudah disediakan semuanya.


Kemarin sempat diajarin mbok Sumi cara menggunakannya sih dan sempat juga narik lima ratus rupiah. Kalau sekarang aku beliin crayon baru untuk Gendis cukuplah. Mas Abhi juga gak akan marah kali kalau uangnya aku pakai apalagi buat Gendis juga.


Segera setelah aku berpamitan sama mbok Sumi aku pun pergi ke toko perlengkapan anak.Jadi disana jual alat tulis sama mainan anak-anak juga Belinya gak ditoko mbak Maya ya? Mau sedikit cari angin dan yang agak jauh dikit. Sekalian buat refreshing. Semoga aja gak ketahuan sama mbak Maya, bisa di tabokin aku kalau ketahuan gak beli di toko nya ha..ha..ha....


Setelah sampai ditoko yang ku tuju.Bergegas aku menuju rak tempat crayon-crayon berjajar.


Banyak banget pilihannya...


Jadi bingung mau pilih yang mana?Ingat-ingat crayon yang biasa dipakai Gendis saja deh.


"Beli crayon ya mbak? Yang merk ini aja. Meskipun murah tapi kualitas nya paling bagus dan aman untuk anak-anak lho" Ucap seorang perempuan yang tak ku kenal sambil mengambil salah satu crayon yang ada di rak itu dan menyodorkannya padaku.


Ku pandangi sosok yang berdiri dihadapanku itu. Sangat cantik dan membuat teduh orang yang memandangnya. Apalagi orangnya begitu baik. Tanpa diminta pertolongan pun perempuan itu mau membantu.


Gegas ku ambil crayon itu dari perempuan yang belum ku ketahui namanya itu.


"Masa sih mbak ini yang paling bagus. Biasanya anak saya pakai yang merk ini lho" Ucapku sambil menunjuk satu merk yang lainnya.


"Bener kok mbak, keponakan saya biasanya pakai yang ini dan hasilnya bagus banget. Kalau merk yang mbak tunjuk tadi biasanya kalau ditangan suka belepotan gitu"


Aku manggut-manggut membenarkan. Iya juga sih.. sering kali aku lihat Gendis kalau habis mewarnai tangannya pasti belepotan. Mungkin Gendis waktu beli crayon nya hanya tertarik dengan bentuknya yang lucu saja.


"Ya udah deh mbak saya nyoba sarannya mbak saja. Makasih ya mbak. Semoga saja anak saya suka"


Perempuan itu hanya tersenyum manis dihadapanku.


Ya Tuhan...


Kalau saja aku punya senyum semanis itu pasti mas Abhi langsung klepek-klepek padaku. Aish..apaan sih kamu Binar. Gak bersyukur banget sama diri sendiri. Segera ku enyahkan fikiran itu.


"Mbak nya mau beli crayon juga? " Kali ini aku yang bertanya.Sambil menetralisir perasaan ku.


Tapi perempuan itu hanya menggeleng.


"Gak kok mbak.. saya hanya beli alat rajut saja. Mau bikinin anak saya sweeter"Jawabnya.


Oh.. my good.. makin terpesona aku dengan perempuan dihadapanku ini. Sudah cantik, pinter bisa ngerajut lagi.


Sebenarnya sudah lama aku ingin belajar merajut. Hanya saja keterbatasan biaya dan waktu membuatku hanya bisa menahan keinginan untuk belajar. Kalau saja di kos ada yang bisa pasti aku mau sekali belajar. Kan gratisan...


"Mbak nya bisa merajut.., hebat ya mbak. Saya saja pingin bisa sayangnya gak ada yang ngajarin" Ucapku jujur.


"Kalau mbak nya mau kita bisa merajut sama-sama. Saya masih ada waktu sampai siang untuk santai. Ya.. kalau mbak nya juga ada waktu sih" Tawarnya padaku.


Mau banget...


Kalau waktu sih, hari ini free sampai sore.


"Boleh mbak, kalau mbak gak keberatan ngajarin saya" Jawabku riang.


Perempuan itu lagi-lagi tersenyum.


"Kalau gitu saya mau cari bahan yang kurang dulu ya, habis itu kita belajar merajut nya di kafe sana" Tunjuk nya pada kafe yang ada didepan itu.


Aku hanya mengangguk dan mengikuti perempuan itu. Hingga akhirnya selesai membayar dan kami berdua pun pergi ke kafe itu.


Perempuan yang belum ku ketahui namanya itu pun mengajariku merajut dengan sangat telaten. Hingga aku mulai bisa trik-trik khusus yang dibutuhkan.


Emang gak ada akhlak banget ya aku. Udah hampir satu jam kami belajar bersama, tapi aku masih belum tau nama satu sama lain.


"Oh iya mbak, kita belum kenalan ya. Nama aku binar? mbak nya namanya siapa? " Tanyaku akhirnya memberanikan diri ,sambil mengulurkan tanganku. Dari pada dari tadi manggilnya mbak-mbak aja dari tadi. Kita punya nama lho.


Lagi-lagi mbak nya tersenyum. Suka banget dia tersenyum. Tapi kalau senyum nya menyejukkan sih gak apa-apa. Malah bikin nagih.


"Hana" Jawab nya singkat lalu menjabat tanganku.


Mak Jleb... banget...


Kayak gak asing dengan nama itu. Kalau gak salah ingat kayak mantan istrinya mas Abhi gitu lho.


Ah..


Tapi gak mungkin, nama Hana kan pasaran di mana-mana saat ini. Mungkin hanya kebetulan saja. Lagian kalau Hana ini beneran mantan mas Abhi, rasanya gak mungkin terjadi perceraian diantara mereka. Hana yang ini terlihat sebagai perempuan baik-baik. Malah baik banget malahan.


Lupakan kecurigaan ku yang tak berarti.


Ku pandangi gerak cepat tangan Hana yang merajut,sambil sesekali mengajariku yang masih sering salah. Sudah kelihatan kalau dia sedang merajut sweeter untuk anak perempuan.


"


Bikin sweeter buat anaknya ya mbak? "Tanyaku pada Hana


" Iya.. biasanya setiap ulang tahunnya aku selalu bikin rajutan buat dia. Setahun kemarin gak bisa bikin dan baru tahun ini bisa bikinin lagi"


Mungkin Hana sedang sibuk kali jadi gak sempat bikin. Tapi baru sebentar saja sudah dapat segitu banyak. Masak gak di sempet-sempetin. Ish.. apaan sih kok jadi kepo gini dengan kehidupan orang.


"Gak apa-apa lah mbak, kan lain kali masih bisa bikin yang lebih banyak lagi"


Tapi Hana menggeleng.


"Sudah beda Binar, saya suda pisah dengan suami saya. Saya gak mau lagi ganggu kehidupan baru mereka yang sudah saya hancurkan. Saya maunya mereka hidup bahagia" Ucap Hana, ada kesedihan yang terpancar dari wajahnya saat mengatakan semua itu. Sepertinya ada hal besar yang disembunyikan wanita cantik ini.


Entahlah..


Mendengar cerita Hana, aku lagi-lagi teringat dengan Hana mantan istrinya mas Abhi. Apa mereka orang yang sama ya?


Ah.. semoga hanya perasaan ku saja.


*


*


*


Satu konflik besar lagi. Sebelum kita balas mas Abhi. Biar kapok... 🤣🤣🤣🤣