
Hingga tak ku sadari mas Abhi beranjak dari duduknya dan mata kami pun saling bertemu.
Ku palingkan mukaku dengan cepat dan hendak beranjak dari sana. Rasanya sudah tidak tahan lagi, terlalu sakit Hati.
"Binar" Ucap mas Abhi sambil mencekal lenganku. Tak ingatkah engkau jika tangan mu itu sudah kamu gunakan untuk menggenggam jemari tangan perempuan lain mas.
Maka aku segera menyingkirkan tangan itu.
"Dengerin penjelasanku dulu Bee... "
Penjelasan apa lagi mas...
Jika aku sudah mendengar semuanya. Malas rasanya aku menanggapi ucapan laki-laki yang pernah sangat ku gilai ini.
Beruntung nya aku terselamatkan dengan kedatangan mbok Sumi. Perempuan paruh baya itu tiba-tiba datang menyusulku keluar.
"Non.. Gendis nyariin Non Binar sama tuan. Eh... tuan sudah datang rupanya" Ucap mbok Sumi yang tidak tau kejadian yang sebenarnya. Mbok Sumi hanya taunya mas Abhi yang sudah ada disini saja.
Kulihat wajah bingung menghiasi wajah tampan mas Abhi. Sempat mas Abhi melihatku dan meminta penjelasanku namun dengan segera ku palingkan wajah ini.
"Gendis kenapa mbok? " Tanyanya pada mbok Sumi. Karena jelas aku tak akan mau menjawabnya.
"Aduh.. tuan ini bagaimana bukannya Non Binar sudah bilang tadi lewat telpon.Tadi Non Gendis demam terus kami bawa kesini.Non Gendis kena typus tuan jadi perlu dirawat disini" Jelas mbok Sumi. Biarkan saja mbok Sumi yang menjelaskan aku mendadak saja malas ngomong sama kamu mas.
"Apa" Teriak dua orang bersamaan. Karena tiba-tiba saja mbak Hana sudah ada di samping mas Abhi. Perempuan itu nampak syok mendengar anaknya yang sedang sakit.
"Kok bisa Gendis sakit mbok? Apa karena saya ngajak dia jalan-jalan tadi sehingga Gendis kecapaian? " Tanya mbak Hana sedih.
"Han.. sudahlah.. tidak akan terjadi apa-apa dengan putri kita. Sebaiknya kamu istirahat saja. Kamu kan juga sedang sakit"
Sakit tak berdarah yang ku rasakan. Kamu bisa berkata lembut pada mantan istrimu mas...tapi pernahkah sekali kamu berkata lembut padaku.
Mbok Sumi memandangku dengan tatapan iba. Mungkin karena kedatangan mbak Hana ini terjawab semua pertanyaan nya.
"Gak mas... aku mau ketemu sama Gendis" Rengek mbak Hana.
"Ya sudah tapi sebentar saja. Setelah itu kamu harus kembali ke kamarmu. Besok kamu juga harus menjalani pemeriksaan" Ucap mas Abhi penuh kasih. Setelah itu laki-laki itu menuntun mantan istrinya menuju kamar rawat Gendis yang ada disamping kamar mbak Hana.
Tauhkah kalian bagaimana sakit nya hatiku. Suamiku lebih memilih menuntun mantan istrinya dibanding aku yang sebenarnya untuk berdiri saja sudah tidak kuat.
Ya... setelah sempat mengabaikan sakitku tadi karena khawatir dengan keadaan Gendis. Kini tubuhku benar-benar sudah tidak kuat lagi.
"Non... Non gak apa-apa? Mau saya belikan makanan dulu Non. Soalnya Non kan belum makan. Non juga kelihatan lemes banget"
Ah... kenapa harus kamu mbok yang khawatir padaku. Kenapa bukan suamiku saja.
"Antarkan aku ke kantin rumah sakit saja mbok" Jawabku.
Kenapa aku milihnya kesana? Karena kalau aku milih kembali ke kamar Gendis makan sakit hati yang akan aku terima.
Mungkin saat ini Gendis sedang bercengkrama dengan kedua orang tua kandungnya. Kalau aku memaksa kesana maka aku akan seperti benalu diantara mereka.
"Mbok balik ke kamar Gendis saja. Takutnya nanti mas Abhi atau Gendis butuhin bantuan mbok lagi" Ucapku pada mbok Sumi begitu perempuan paruh baya itu telah mendudukkan ku di kursi kantin rumah sakit.
Ada rasa enggan yang ditunjukkan dari raut wajah mbok Sumi.
"Mbok tungguin non aja deh, takut non kenapa-napa juga. Non Gendis kan sudah ada tuan sama mbak Hana disana"
Ku paksakan senyum di bibir ku.
"Aku gak apa-apa mbok. Cuma lapar doang. Ini mau makan juga kan? Setelah ini aku pasti baik-baik saja"
Mbok Sumi menggelengkan kepala.
"Ck.. gak akan mbok. Lagipula ini rumah sakit. Kalau pingsan udah langsung bisa di tangan in. Udah gak apa-apa mbok balik aja"
Please mbok...
Aku lagi pengen sendiri.
Beruntungnya mbok Sumi akhirnya mau menuruti keinginanku. Perempuan paruh baya itu mau meninggalkan ku dengan syarat aku berjanji mau makan.
Jelas saja lah mbok. Masa gara-gara gini aja aku sampai gak makan. Aku pun juga gak mau mati sia-sia karena seorang laki-laki saja.
Biarpun udah ketanam kata-kata itu dihatiku, nyatanya tetep aja gak selera.
"Makanannya nangis lo kalau dianggurin" Ucap seseorang yang tiba-tiba saja datang dan dengan santainya duduk dihadapan ku.
Kayak kenal sama orang ini tapi dimana ya....
Ah... iya, hampir saja aku lupa. Ini cowok kan yang sama mas Abhi waktu di mall itu.
"Randy kan? Ngapain disini? "Tanyaku jutek. Biarin aja deh. Kali ini yang berkaitan dengan mas Abhi bakalan aku jutekin.
Laki-laki itu hanya menatapku sambil tersenyum.
" Lha aku kan emang dokter disini. Ya jelas aku disini lah. Kamu ngapain disini? Nyusulin Abhi ya? "Ucapnya seenak kate
Gak tau apa kalau orang lagi sedih bin galau ini.
" Eit... salah ngomong ini"Ucap Randy kemudian sambil menutup mulut nya.
Mungkin karena aku yang diam saja dan gak se bar-bar saat awal kami bertemu saat itu. Membuatnya menyimpulkan bahwa aku memang sedang tak baik-baik saja.
"Maaf ya.. karena aku yang pertama kali ngasih tau Abhi tentang keadaan Hana. Beneran aku gak niat apa-apa kok Bee.. sama hubungan kamu dan Abhi.Justru aku orang yang paling bahagia saat Abhi kasih tau aku, kalau kalian udah nikah. Hanya saja aku kasihan sama Abhi yang selama ini masih penasaran sama Hana. Dia berusaha move on tapi ya gitu deh masih penasaran sama mantan istrinya itu. Ya... pas aku tau yang sebenarnya. Aku kasih tau aja Abhi. Bukan apa-apa, hanya saja aku pengen lihat apa yang akan dilakukan Abhi setelah tau kebenarannya "Ucap panjang dokter Randy ini.
Padahal aslinya aku gak kenal-kenal amat. Kok bisa dia ngerocos begitu panjangnya. Gak nanya juga kale....
Pikiran udah buntu sama kelakuan mas Abhi. Rasanya pengen nyerah aja.
" Jangan putus asa gitu lah Bee... aku yakin kok perasaan Abhi sama Hana itu udah berakhir. Kalaupun kamu lihat saat ini mereka dekat ya karena Abhi kasihan aja sama Hana. Lagipula mereka kan punya Gendis. Biar bagaimanapun Gendis adalah anak kandung mereka. Tapi aku yakin seratus persen jika Abhi itu cintanya sama kamu. Cuma dianya aja yang bodoh ngelak terus sama perasaan nya"
Ya Tuhan...
Niat hati ingin menyendiri dan tenang kok malah ketemu sama dokter Randy ini. Rasanya kepala ku pengen pecah dengan ocehannya. Mana omongannya gak ada buktinya lagi. Sudah jelas-jelas aku mendengar sendiri dengan telingaku ucapan dan perlakuan mas Abhi dengan mbak Hana. Kalau benar mas Abhi cintanya sama aku gak mungkin dia nyakitin aku sedalam itu.
Mendingan aku cari tempat lain aja deh untuk menyendiri. Heran...
Di mana-mana masih aja ada yang berhubungan dengan mas Abhi.
Segera aku berdiri dari tempatku.
"Aku serius Bee.. kalau perlu aku bantu kamu menyadarkan perasaan Abhi padamu" Tambahnya
Namun tidak kuhiraukan. Aku kembali berjalan meninggalkan dokter Randy. Namun baru beberapa langkah kepalaku sakit lagi.
"Jangan... jangan pingsan lagi" Batinku
Namun setelahnya aku tak ingat lagi.
*
*
*