
Pov Angela
Pernah menjadi seorang yang begitu jahat di masa lalu, membuatku harus menerima dengan lapang dada saat karma perlahan datang menghampiriku.Bahkan seakan aku dilarang untuk protes dengan keadaanku saat ini. Aku menerima nya sangat menerima...
Dulu....
Aku yang begitu jahat memisahkan sepasang kekasih yang saling mencintai hanya demi cintaku yang sepihak.
Sungguh aku menyesal memaksa Satria mau menerimaku bahkan dengan cara yang begitu keji. Ah... sungguh yang ku fikirkan saat itu hanya kebahagianku semata. Saat itu aku masih remaja yang hanya mengerti cinta saja tanpa mengerti sebab dan akibatnya. Bahkan aku melibatkan kakak ku Aldo untuk melakukan kejahatan itu.
Mana aku tau jika karena ulahku Satria nekad bunuh diri waktu itu. Satu kalimat yang terus terngiang ditelingaku sebelum Satria ku pergi untuk selamanya.
"Maafkan aku yang tidak bisa melabuhkan cintaku padamu Angel. Sungguh mau dipaksa bagaimanapun tetap cintaku hanya untuk Jingga. Jadi biarlah aku yang mengalah sekarang"
Mengalah...
Baru aku tahu arti mengalah itu ketika ku lihat tubuh Satria telah terbujur kaku.
Andai aku yang mengalah waktu itu mungkin semua ini tak akan pernah terjadi. Kami bertiga tidak akan sama-sama menderita.
Akibatnya...
Aku mengila.
Bahkan aku benar-benar jadi gila karena rasa bersalah ku.Pada Satria maupun pada Fahira.
Andai... andai... dan. ..andai...
Inilah awal karma yang aku terima.
Kehilangan Satria membuatku kehilangan separuh jiwaku. Hingga memaksaku berada di rumah sakit jiwa selama bertahun-tahun.Sungguh aku sangat menyesalinya.Sangat... entah orang akan percaya atau tidak tapi memang aku menyesal.
Hingga suatu hari Fahira menemui ku. Air mataku menetes saat mantan rival ku itu datang. Tanpa terasa kesadaranku perlahan mulai kembali.
Bahkan aku sempat meminta maaf padanya. Dengan jelas aku pun mengatakan jika aku lebih rela Satria bersama dengan Fahira dari pada harus kehilangan Satria untuk selamanya seperti waktu itu.Aku lebih rela melihat Satria bahagia dengan perempuan yang dicintainya daripada memilih jalan pintas itu. Sayangnya penyesalan memang datangnya terlambat.
Tapi kedatangan Fahira benar membuat aku punya kesempatan untuk hidup.
Sungguh rasanya beban di hatiku runtuh semua. Rasanya begitu lega. Tapi tak tau apakah dosaku bisa dimaafkan atau tidak. Yang penting aku sudah minta maaf.
Selepas kepergian Fahira aku pun memutuskan kabur dari rumah sakit jiwa.Bukan lari dari kenyataan. Tapi....
Aku akan pergi yang jauh... kalau bisa aku akan menghilang dari orang-orang yang mengenaliku dan pernah aku sakiti. Biarlah mereka hidup bahagia tanpa kehadiran ku. Termasuk keluargaku sendiri.
Bertahun-tahun juga aku hidup lontang-lantung dijalanan. Sebenarnya aku sudah tidak gila tapi berlagak gila untuk melindungi diriku. Hingga suatu hari aku dikejar beberapa preman yang hendak men*da'i ku dan terpaksa harus bersembunyi di mobil pick up milik seseorang.
Inilah awal aku bertemu suamiku.Ayahnya Binar dan juga Bagas.
Ya...
Nama nya sama Satria hanya orang nya yang berbeda.
Aku masih berpura-pura gila saat pertama kali bertemu dengannya. Tapi kesabaran Satria merawat orang gila seperti ku membuatku luluh.
Dengan jelas dia ingin memuinangku walau semua orang tau aku orang gila.Tapi mas Satria dengan senyumnya selalu meyakinkanku. Sadarkah dia siapa aku.....
Ya Tuhan......
Mungkinkah Engkau telah memaafkanku dan memberiku satu kesempatan untuk aku merasakan bahagia.
Beribu terima kasih aku panjatkan saat perlahan kebahagian itu benar adanya. Ternyata benar Tuhan itu maha Pemaaf. Terbukti saat ini aku benar merasakan kebahagian itu. Aku orang yang begitu jahat ternyata di beri kesempatan untuk merasakan kebahagian itu.
Meskipun kesederhanaan yang kami lalui setiap harinya. Tapi kami sungguh bahagia. Ah... bahagia itu sederhana. Tidak harus merebut apa yang dipunya oleh orang lain.
Hingga prahara itu datang lagi saat mas Satria divonis dokter sakit kangker. Aku tau penyakit itu belum ada obatnya. Tapi tega kah seorang istri membiarkan suaminya menderita kesakitan. Bahkan karena itu aku rela meminjam uang ratusan juta.
Kesulitan itu bertambah saat mas Satria tidak bisa diselamatkan dan hutang itu tetap ada.
Binar....
Lagi-lagi aku harus mengorbankan orang lain untuk menanggung ulah ku. Ingin rasanya aku melarang Binar cari kerja dikota tapi anak gadisku itu bersikukuh melunasi hutang kami.
Empat tahun kami lalui dengan susah payah. Aku fikir semua akan baik-baik saja. Ya...aku berusaha meyakinkan diriku bahwa ini memang ujian yang diberikan Tuhan saat sudah bertahun-tahun aku merasakan bahagia.
Tapi sayangnya ini belum berhasil. Uang hasil kerja anak ku di tilap oleh bibinya sendiri dan Binar dipaksa menikah dengan orang yang bahkan seumuran dengan ku.
Ingin rasanya aku memasukkan Harti kepenjara. Tapi aku ingat dengan perbuatanku di masa lalu. Perbuatanku mungkin jauh lebih buruk. Aku hanya berharap adik suamiku itu bisa sadar saja seperti diriku. Tapi aku akan berontak saat Harti mengusik anak ku. Tak akan ku biarkan, hanya ancaman yang bisa ku ucapkan.
Sempat aku menyerah dan ingin menghubungi kak Aldo untuk meminta bantuan untuk melunasi hutang ku. Tapi ditengah jalan aku bertemu dengan seseorang yang mengenal putriku. Seorang laki-laki dan seorang gadis kecil yang menyebut putriku bundanya.
Mungkinkah laki-laki ini yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkan keluarga kami. Entah kenapa aku sangat yakin. Kalau laki-laki ini adalah laki-laki yang baik dan jodoh terbaik putriku.
Abhi... laki-laki itu benar-benar laki-laki yang bertanggung jawab.Seriap bulan Abhi selalu mengirimi aku dan Bagas uang. Bahkan saat dikampung pun Abhi rela bekerja membantu ku dikebun bahkan mencari rumput.
Ah...
Bahagianya aku mendapatkan menantu seperti Abhi. Pasti Binar juga dilimpahkan kasih sayang oleh laki-laki itu.
Ah..Binarku yang manja dan sedikit Bar-bar.Sangat terlihat sekali jika Abhi sangat mencintai putriku. Semoga kamu tidak merasakan apa yang ibu rasakan dulu.
Terima kasih Tuhan... Alhamdulillah hi robbilalamin.
Lagi-lagi kata itu yang bisa aku ucapkan sebagai rasa syukurku. Kini aku bisa menjalani hidupku dengan tenang bersama dengan Bagas. Aku akan berjuang seperti dulu saat mas Satria masih hidup.
Tapi sepertinya tidak, saat aku pulang dari kebun kulihat seseorang dari masa laluku.
Afrilia meriska sahabat dari Jihan Alfahira Wiguna mantan rival ku.
Aku ingat belum meminta maaf padanya. Bahkan dulu kami lebih sering bersitegang. Dan lebih kagetnya Meris adalah ibu kandung dari Abhi.
Ya Tuhan....
Cobaan apa lagi ini. Jangan hancurkan pernikahan putriku karena masa lalu ku.
Dan siapa gadis disampingnya ini? Kenapa dia pun mengenaliku?
*
*
*
Yup... ibu Binar memang dari keluarga kaya. Atau tepatnya anak pejabat.
Sedangkan Meris adalah musuh bebuyutannya dulu.
Lalu apakah itu akan mengubah hubungan Abhi dan Binar yang sudah membaik.
Hayo.. hoyo...
Lalu hubungan Vika sama Binar apa ya? Kok bisa kenal Vika?
Tunggu lanjutan besok ya... udah ngantuk🤭🤭🤭