Nguber Duda

Nguber Duda
Lima Puluh Tiga



Aroma minyak kayu putih yang tercium di hidungku perlahan membuat ku tersadar.


Tumben aku pakai pingsan segala. Biasanya nahan lapar satu setengah hari aja kuat. Ini baru beberapa jam aja udah KO duluan.


Gak tau kenapa rasanya kepala ini sakit banget....


Tapi aku paksain untuk buka mata. Masih jelas diingatan ku yang terakhir ada ibunya mas Kai mencaci maki ku.


Tidak....


Aku gak lagi disurga kan? Beneran masih hidup kan aku? Cuma pingsan doang kan?


Ck.. gini.. ni.. kalau otak lagi gesrek.


Ku hembuskan nafas lega saat ku lihat pertama kali mbak Reni ada disampingku dan aku berada dikamar kos ku yang dulu. Kebetulan belum ada yang nempatin.


Syukurlah.. kamu menyelamatkan aku dari ibunya mas Kai mbak kalau enggak. Mungkin saja saat aku pingsan perempuan itu mencabik-cabik ku. Jadi ngeri...


Namun netraku membulat saat ada sosok lain disamping mbak Reni.


Kok bisa Mira ada disini? Sementara tak ku lihat sosok mas Kai dan ibunya lagi. Jangan-jangan mereka kabur lagi pas aku pingsan biar dak diminta pertanggungjawaban. Ck... apaan sih kok mikir nya suudzon gitu. Berfikir positif Binar.


"Anda sudah tidak apa-apa bu Binar? " Tanya Mira padaku dengan sopan.


Ku paksakan tubuh ku ini untuk duduk. Gak enak aja ada mbak Reni dan juga Mira yang duduk sementara aku berbaring sendirian. Aku juga cuma pingsan doang gak sakit keras.


"Berbaring aja lah Bee.. kalau masih pusing?Mau minum dulu? " Tawar mbak Reni.


"Aku emang lagi puasa mbak"


"Cuma puasa sunah kan Bee..masih boleh dibatalkan. Bahkan kalaupun wajib juga boleh dibatalkan saat sakit" Celoteh mbak Reni.


Aku hanya menggelengkan kepalaku.Sudahvkepalng tanggung pesan mas Abhi pem-pek bikinan pak Tarno masa harus batal puasanya. Nanti mas Abhi kecewa lgi. Belum lagi Genis.


"Gak apa-apa mbak, udah enakan kok. Sayang kamu kalau harus batal" Jawabku.


Mbak Reni hanya mendengus kesal. Tak mampu membalas perkataanku. Dari dulu aku memang perempuan tangguh yang jarang sakit. Sekalinya aku sakit pun susah untuk disuruh diam. Sudah dari cetakannya aku diharuskan bekerja keras. Jadi pantang untuk sakit dan merasakan sakit.


"Kita kedokter saja ya bu, takutnya nanti terjadi apa-apa sama ibu"


Ku geleng kan kepalaku.


Ck.. nyebelin banget sih Mira ini. Masa aku yang masih muda ini dipanggil ibu. Emang muka ku udah kayak emak-emak apa?


"Panggil Binar atau Bee.. aja Mir.Lagian katanya kamu ini masih anak dari sepupunya mama nya mas Abhi kan. Itu artinya kita masih saudara"


Ku lihat Mira hanya tersenyum. Gila.. bener.. perempuan-permpuan yang dekat dengan mas Abhi ini rata-rata punya senyum pepsodent. Manis banget iuh...


Lha aku...


Apalah arti diriku yang seperti upik abu.


"Ngomong-ngomong kok bisa kamu ada disini Mir? Bukannya ini masih jam kantor ya?? " Tanyaku bertubi-tubi.


Mira dan mbak Reni hanya berpandangan.


"Seb... "


Cek lek


Belum juga Mira menjawab terdengar pintu terbuka.


Eh...


Yang masuk mas Kai sama... ibunya lho.


Oh.. my good


Ibu nya mas Kai gak niat ngehina-hina aku lagi kan? Ini juga mas Kai kok bisa masuk kos-kosan ku sih. Kan ini khusus perempuan.


Ku telan ludah ku susah-susah saat mas Kai dan ibunya semakin mendekat.


Ini pada mau ngapain makin dekat gini.


Ini juga malah mbak Reni berdiri dan digantikan sama ibu nya mas Kai. Mereka berempat ini gak niat ngebunuh aku kan. Mira sama mbak Reni kan orang baik. Mas Kai juga. Kalau ibunya mas Kai...? Pasti kalau punya niatan itu. Ketiga orang tersebut akan mencegah.


Tiba-tiba ibu nya mas Kai megang kedua tangan ku.


"Maafin ibu ya Binar, sudah berfikir jelek tentang kamu" Ucapnya penuh ketulusan.


Eh.. tapi ini beneran tulus kan gak lagi acting.


"Kai udah jelasin semuanya, ibu fikir Kai nemuin kamu untuk balikan sama kamu, makanya ibu nyiram kamu. Ibu gak bermaksud bikin kamu jadi pingsan. Mira juga sudah jelasin kalau kamu ternyata istri bos nya jadi kamu gak mungkin menggagalkan pernikahan Kai nantu. Sekali lagi ibu minta maaf ya Binar. Ibu sudah menaruh kebencian yang besar sama kamu dan berfikir buruk sama kamu" Jelas ibu nya mas Kai.


"Binar udah maafin kok bu? " Jawabku tulus


"Terima kasih Kak Binar. Ibu jadi malu menuduhmu dan berkata kasar terhadap mu tadi"


Ku tanggapi dengan senyuman.


Alhamdulillah...


Satu masalah terselesaikan lagi. Setidaknya setelah ini tak akan ada kesalahpahaman antara aku dan orang tua mas Kai maupun calon istrinya nanti. Otomatis ibunya mas Kai ini akan menjelaskan tersendiri dengan menantunya nanti.


Tapi.. tunggu-tunggu....


Kok ibunya mas Kai kenal sama Mira sih.Apa tadi ibunya mas Kai datang bareng Mira. Soalnya tadi sebelum pingsan aku sekilas melihat perempuan berjilbab menahanku.


Aku mencoba memutar otak ku untuk mengingat sesuatu yang rasanya harus ku ingat.


Beberapa detik aku mencoba mengingatnya hingga ku temukan satu titik temu.


Aku ingat orang tua mas Kai pernah menyebutkan nama calon perempuan yang dijodohkan dengan mas Kai. Aku ingat betul namanya adalah Mira.


Atau jangan-jangan....


Ya salam...


Kok dunia itu sempit banget ya. Gak nyangka aja Mira yang sempat aku cemburui dengan mas Abhi ini adalah calon istri mas Kai.


Pantas saja mas Kai cepat jatuh cinta padanya. Toh memang Mira perempuan yang patut dan terlalu layak untuk dicintai dan dijadikan istri.


"Jadi Mira ini calon istri kamu mas? " Bukannya aku menanggapi ucapan ibu nya mas Kai aku malah menanyakan kejelasan hubungan mas Kai dengan Mira.


Mas Kai hanya mengangguk sambil malu-malu. Gimana gak malu kalau awalnya dia nolak.


"Pantesan aja gampang move on" Celetuk ku yang sontak menyebabkan gelak tawa diantara ketegangan yang terjadi.


"Masa sih mbak, orang mas Kai pertama kali ketemu sama Mira jutek banget" Ucap Mira.


"Itu gak jutek Mir, mas Kai itu lagi gugup ketemu sama cewek cantik dan soleha kayak kamu. Juteknya itu cuma buat nutupin gugupnya itu" Celetuk ku lagi.


Suasana yang tadi tegang sudah benar-benar jadi mencair sekarang. Bahkan ibunya mas Kai pun sudah ikut tersenyum karena sikapku. Ternyata meskipun sakit aku masih bisa menghibur.


"Ngomong aneh-aneh lagi aku timpuk pakai bantal kamu Bee.. " Ancam mas Kai. Tapi cuma bercanda.


"Ceh.. dasar gak sopan. Nanti kalau kamu sudah jadi suaminya Mira kamu harus panggil aku mbak Binar lo mas. Masalahnya masih tua mertua aku sama mertua kamu jadi otomatis tua aku sama Mira. Ingat ya panggil aku mbak"Celoteh ku yang membuat mas Kai berdecak sebal sementara yang lainnya malah tertawa.


Obrolan kami pun berlanjut hingga beberapa jam kemudian mereka pamit pulang. Aku sempat mengistirahatkan tubuh ku dulu dikamar kos lama ku ini. Hingga akhirnya aku kembali ke rumah.


*


*


*


Sepesial hari ini saya kasih double up karena pembacanya melonjak. Mood othornya jadi bagus he.. he..


Terima kasih kakak-kakak yang mau mampir ke karya receh ku ini. Jangan lupa tekan jempolnya ya. Soalnya tidak dipungut biaya apapun. He.. he..


Untuk novel antara duren atau brownis. Pending dulu ya. Gak tau kenapa gak dapat feel disana.Sesekali deh nanti di up in. Hee...