Nguber Duda

Nguber Duda
Lima Puluh Enam



"Pegangan yang kuat ya mbok" Ucapku begitu mbok Sumi sudah naik di atas motor ku.


"Atuh.. jangan kencang-kencang non bawa motornya. Pelan-pelan saja yang penting sampai rumah sakit" Larang mbok Sumi.


Hah..


Ku hembuskan nafasku pelan. Susah ya kalau yang di boncengin pakai motor orang tua. Di ajak ngebut ya jelas gak mau lah. Coba aja mbak Reni yang ku ajakin ngebut. Udah barang tentu dia teriak kegirang.


Yow wes lah mbok aku nurut sama kamu. Dari pada nanti aku harus nyari jamu sawan buat kamu mbok. Akhirnya aku pun terpaksa menuruti mbok Sumi. Bawa motornya kaya semut jalan. Pelan banget coy. Semoga saja kamu hanya demam sayang.


Maafin bunda yang gak bisa cepat-cepat ada orang lain juga yang perlu bunda jaga. Coba tadi aku nurut mbok Sumi hubungin papa kamu dulu. Mungkin saat ini kita sudah sampai. Tapi mau nyesel juga percuma toh kita sudah setengah jalan.


Sekali-kali aku ngecek keadaan Gendis yang kami rapit di tengah-tengah. Tentunya dengan nanya sama mbok Sumi. Begitu keadaan Gendis aman aku pun melanjutkan perjalanan lagi.


Gini banget ya kalau anak lagi sakit. Udah kalang kabut sendiri. Rasa sakit dan juga lapar pun sudah tak kurasakan lagi.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam kami pun sampai dirumah sakit terdekat. Bergegas ku gendong Gendis menuju UGD. Tampak beberapa suster yang sedang berjaga segera menghampiri dan memeriksa Gendis.


"Sepertinya anak ibu terkena Typus dan harus dirawat. Silahkan ibu urus administrasinya dulu biar pasien segera dapat kamar inap" Ucap Dokter yang berjaga malam itu.


"Baik dok" Ucapku kemudian.


"Aku titip Gendis dulu ya mbok Sum


" Iya non"


Setelah mendapat jawaban mbok Sumi bergegas aku menuju loket administrasi. Beruntung suasana rumah sakit sepi jadi bisa dengan cepat aku mengurusnya.


"Mau kamar kelas berapa bu? " Tanya perawat yang bertugas menjaga loket administrasi.


"V-I-P" Ejaku.


Agak lupa-lupa ingat gitu. Untung sering nonton sinetron jadi agak ngerti nama kamar yang buat orang punya duit.


Ya kale.. aku tempatin Gendis dikamar kelas Satu, dua atau tiga. Bisa diamuk bapaknya entar. Gak apa-apa deh aku pakai uang yang ada di ATM yang diberikan mas Abhi padaku. Toh ini juga buat Gendis.


Setelah administrasi selesai Gendis pun dipindahkan ke ruang rawat nya.


Tampak wajah Gendis yang begitu pucat. Gak tega banget lihat anak kalau lagi sakit.


"Non... apa non gak hubungi tuan Abhi dulu" Ucap Mbok Sumi menginhatkanku.


Ya salam...


Ku tepuk jidat ku. Hampir saja aku lupa.


"Iya mbok.. boleh pinjam handphone nya lagi? "


Mbok Sumi pun menyerahkan kembali handphone nya padaku. Kali ini aku gak mau kirim pesan ke mas Abhi. Aku mau bicara langsung dengannya saja. Takut nantinya jadi salah faham karena aku tak langsung menghubunginya.


Bergegas kucari no handphone mas Abhi. Lama aku menunggu jawabanannya tapi kayaknya gak diangkat. Apa mas Abhi sibuk banget sampai gak sempat ngangkat panggilan dari aku.


Bahkan saat ku hubungi lagi hanya bertuliskan menyambungkan saja.


"Mbok kayaknya disini sinyalnya jelek. Binar mau cari sinyal diluar dulu ya? Lagian kalau saya disini juga takut ganggu Gendis dengar suara dering telpon"


"Iya non" Jawab singkat mbok Sumi.


"Nitip Gendis ya mbok"


Mbok Sumi mengangguk. Entah kenapa kata itu yang selalu keluar dari mulutku.


Padahal tanpa ku minta pun mbok Sumi pasti menjaga Gendis saat aku tak ada. Karena itu sudah tugasnya. Apa karena rasa sayangku dengan Gendis sehingga membuatku seolah Gendis bukan anak tiriku tapi Gendis adalah anak kandungku. Entahlah...


Bergegas aku keluar dari ruangan itu. Siapa tau didalam tadi sinyalnya memang hanya sedikit.


Beberapa kali aku coba menghubungi mas Abhi namun masih belum tersambung juga. Entahlah... dengan cara apa aku harus menyampaikan kabar ini pada mas Abhi.


Ah... kenapa gak terfikir dari tadi? Tapi aku gak tau mbok Sumi nyimpan nomor mama pakai nama apa. Jadi aku harus masuk dulu dan bertanya pada mbok Sumi.


Bergegas ku balikan tubuhku untuk kembali ke kamar. Namun netra ku menangkap sosok tak asing dibalik pintu yang setengah terbuka.


Lama aku berdiri disana dan mendengar percakapan kedua orang yang ada di dalamnya.


"Mas Abhi... " Lirih mbak Hana pertama kali dan suara itulah yang menyadarkanku siapa kedua orang yang ada didalamnya.


"Hai.. kamu sudah sadar, ada yang sakit? Apa aku perlu panggil dokter? "Jawab mas Abhi


Kamu menghawatirkan mbak Hana tapi kamu tidak berfikir aku menunggumu hanya untuk sekedar makan.


"Mas Abhi ngapain disini? Harusnya mas Abhi pulang. Udah malam juga kan? Kasihan Gendis" Ucap mbak Hana.


Yang lebih buat ku tercengang kamu berani menggenggam tangan mbak Hana. Sungguh aku tak sanggup melihat semuanya. Tapi aku harus melihatnya karena aku ingin tau sejauh apa hubungan mereka.


"Mas... "Ucap mbak Hana sambil melepas genggaman tangan itu.


Syukurlah...


"Kita gak ada hubungan apa-apa lagi. Kamu juga harus jaga perasaan Binar. Gimana kalau dia tau kamu ada disini. Kamu gak mungkin bilang kan kalau saat ini kamu bersamaku" Ucap mbak Hana lagi dan aku semakin kagum padanya.


"Kalau kamu lupa, kamu adalah ibu dari anak ku. Aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu. Aku gak mau Gendis sedih nanti" Lagi-lagi mas Abhi mencoba mentangkalnya.


Kamu tega padaku mas....


"Kita sudah bercerai mas dan kamu juga sudah beristri. Gendis memang anak kita dan kita gak akan bisa lepas dari itu. Tapi kamu sudah tidak ada kewajiban menjaga ku. Pulanglah mas.. Binar dan Gendis pasti menunggumu. Aku sudah tidak apa-apa. Lagi pula disini ada dokter dan suster yang akan menjaga ku"


Tes tanpa ku sadari satu tetes bening keluar dari kelopak mataku.


Sungguh....


Hatiku benar-benar teriris mendengarnya.


Ah... mbak Hana.


Sungguh aku berharapnya kamu adalah mantan istri yang jahat saja yang sengaja merayu suamiku dan memggodanya kembali. Sehingga dengan begitu aku bisa leluasa mencak*r wajahmu atau sengaja meneriaki mu wanita pereb*t suami orang. Tapi sayangnya kamu memang perempuan baik mbak.Untuk berteriak dihadapanmu saja aku tidak tega.


""Ya sudah aku pulang. Hubungi aku jika kamu membutuhkan sesuatu"Ucap mas Abhi akhirnya.


Bahkan kamu juga yang meminta mas Abhi pulang dan menjaga perasaan ku.


Untuk kamu mas....


Sungguh tak pernah ku sangka kamu berani membohongiku sedalam ini. Apa susahnya kamu berterus terang padaku.Aku pasti mengerti jika kamu memang berniat menjaga mbak Hana yang sedang sakit.


Walaupun hatiku juga sakit tapi lebih baik dibandingkan aku yang mengetahui membohongiku seperti ini.


Ceh.. lembur dikantor. Sungguh alasan yang sangat bagus dan sulit aku curigai.


Aku mempercayaimu mas...tapi dengan tega kamu mengobrak-abrik kepercayaanku. Bahkan karenamu sampai sekarang aku belum masukkan sesuap nasi ke mulutku.


Hingga tak ku sadari mas Abhi beranjak dari duduknya dan mata kami pun saling bertemu.


*


*


*


Niatnya triple up. Eh.. pas subuh dilihat kok masih review.


Adakah yang salah. Padahal mah kata-katanya biasa aja.