Nguber Duda

Nguber Duda
Enam Puluh Satu



Ku langkahkan kaki ku menuju ruangan tempat Gendis dirawat.


"Binar" Teriak mas Abhi.


Tak ku hiraukan panggilan lelaki yang menyandang status suami ku itu.


Biarlah...


Aku masih sungguh kesal padanya. Sekali-kali kamu juga harus merasa kan rasanya dicuekin mas.Siapa tau setelah itu kamu akan sadar. Betapa tidak enaknya dicuekin.


Kalau biasanya aku akan mudah memaafkan saat mas Abhi kemudian berlaku manis terhadapku, tapi kali ini tidak.


Ah...


Bahkan seingatku mas Abhi hanya meminta maaf padaku dan aku dengan mudahnya memaafkan nya.


Tapi kali ini aku tidak butuh kata maaf lagi dari mu mas. Yang aku butuhkan adalah perubahan perilaku mu pada ku.


Percuma saja punya suami tampan tapi tidak punya rasa cinta dan gak pernah perduli padaku.


"Binar... maaf.. " Ucapnya sambil mencekal tanganku.


Ku pandang wajah suami yang berhasil melukai hatiku itu sebentar. Lalu perlahan melepas cekalan tangannya tanpa mengucapkan kata-kata.


Maaf mas...


Ku lakukan semua ini demi kelanjutan hubungan kita mas. Jika memang setelah ini kamu masih belum berubah maka aku akan menyerah mas. Mungkin jodoh kamu memang mbak Hana bukan aku.


"Binar... please kita harus bicara" Ucap mas Abhi lagi.


"Apa kita saling kenal ya? Suami saya sedang lembur dikantor dan belum bisa saya hubungi dari tadi. Oh... ya.. ya.. ya... anda laki-laki yang menjaga perempuan cantik disebelah kamar putri saya kan? Anda ini suami, pacar atau gebetan perempuan cantik itu ya? "Ucapku tajam sekaligus menyindir mas Abhi aja.


Biarin aja, gak usah lagi ditutupin, kalau aku tuh memang kesel banget sama mas Abhi.


" Bee... aku gak niat bohong sama kamu. Aku cuma gak ingin kamu tau kalau aku nemuin Hana. Aku takut kamu cemburu. Sumpah aku cuma kasihan dan niat nemenin dia saja dirumah sakit ini. Aku gak mungkin macam-macam sama dia. Please Bee...Disini Hana gak punya saudara. Siapa lagi kalau bukan aku yang perduli sama dia"Ucap mas Abhi panjang lebar.


Aku faham... mas...


Tapi aku gak suka cara kamu membohongiku mas. Kalau saja kamu mau jujur mungkin aku gak akan sesakit ini. Kamu seolah lebih mementingkan mbak Hana dari pada aku. Padahal disaat yang sama aku yang lebih dulu membutuhkanmu mas.


"Maka pergilah sesuka hatimu mas, bukankah mbak Hana sangat membutuhkan mu. Biar Gendis aku yang rawat" Ucapku tanpa ekspresi.


"Binar.. gak gitu maksudnya? "


Tapi tak ku hiraukan. Ku percepat langkah ku hingga sampai di kamar Gendis. Terlihat Gendis yang sedang dibacakan dongeng oleh mbak Hana....


Ah...


Harusnya aku memastikan dulu, mbak Hana masih ada disana atau tidak. Bukan aku membencinya..


Tidak sama sekali.


Tapi entahlah aku tidak bisa memungkiri. Jika ada cemburu dihatiku. Entah kenapa aku semakin menjadi asing di dalam ruangan ini.


Mbak Hana, mas Abhi dan juga Gendis seolah jadi keluarga bahagia sedangkan aku seperti benalu diantara mereka. Padahal kini aku adalah istri sah mas Abhi.


"Maaf.. aku mengganggu mbak, nanti aku akan kembali lagi setelah mbak Hana selesai membacakan dongeng untuk Gendis" Ucap ku hendak keluar lagi.


"Bunda sini... " Ucap Gendis


Sontak aku berhenti dan menatap gadis kecilku itu.


"Sini bunda... Gendis maunya dibacain dongeng sama bunda. Dari tadi gak bisa tidur kalau mama yang bacain dongeng nya. Nadanya gak pas jadi Gendis harus melek lagi biar faham isi ceritanya" Ucap polos Gendis.


Leganya...


Aku tau alasannya Gendis bilang gak bisa tidur dengan alasan, ada nada yang tidak pas saat Hana membacakan cerita.


Tidak...


Gendis tetbiasa memelukku saat mau tidur. Kalaupun tadi sore bisa tidur sendiri ya karena badan Gendis saja yang tidak dalam kondisi baik.


Sejenak aku menatap mbak Hana. Biarpun aku tadi sempat cemburu tetap saja aku pun tak mau membuat nya merasakan hal yang sama denganku. Merasa tersingkir.


Setelah mbak Hana menganggukkan kepalanya.


Aku pun mengurungkan niatku untuk keluar lagi dari kamar Gendis. Dan bergegas mendekati Gendis lalu ikut naik keranjangnya.


Putri kecilku itu melingkarkan tangannya di perutku dan aku pun mulai membacakan dongeng untuknya. Benar saja, lima menit kemudian Gendis sudah tertidur. Setelah dirasa Gendis sudah tidak akan terbangun lagi. Aku pun turun dari ranjang.


Gak enak aja masa aku tidur diatas sendiri. Sementara mbak Hana, mas Abhi dan juga mbok Sumi yang memperhatikan ku di ruangan ini.


"Gak apa-apa Bee.. kamu tidur disana saja. Lagian aku juga mau balik ke kamar aku kok"Ucap Hana mencegah.


" Iya benar non, non kan juga tadi lagi gak enak badan"Kali ini mbok Sumi yang bersuara.


Ck... mbok Sumi pakai bilang segala sih. Aku tuh gak mau dikasihani mbok.


"Kamu Sakit Bee... ? " Tanya mbak kemudian?


Tuh kan..


"Gak.. apa-apa kok mbak, tadi memang belum makan saja. Sekarang aku sudah gak apa-apa lagi"Jawabku.


" Binar gak apa-apa Han?, Sekarang sudah malam. Ayo aku antar kamu kembali keruangan kamu. Besok kamu harus melalui pemeriksaan panjang jadi kamu harus cukup istirahat"Ucap mas Abhi.


Lagi mas...


Lagi-lagi kamu gak bisa menghargai perasaan ku. Bisakah kamu tidak menunjukan perhatian kamu yang berlebihan sama mbak Hana di hadapan ku langsung.


Bahkan kamu belum bertanya apa kah aku baik-baik saja atau tidak.Asal kamu tau mas? Aku bahkan sudah dua kali jatuh pingsan.


Mas Abhi hendak menuntun mbak Hana tapi mbok Sumi dengan cepat menangkap lengan mbak Hana.


"Biar mbok saja yang antar mbak Hana kembali ke kamarnya tuan. Mbok takut nanti non Gendis bangun dan cari tuan lagi kayak tadi" Ucap mbok Sumi.


Makasih banyak mbok.


Hanya kamu yang mengerti aku. Seandainya kamu sama pekanya kayak mbok Sumi mas. Taukah kamu mas, jika dari dulu tidak ada mantan yang bisa berteman dengan istri sah jika berhubungan dengan orang yang sama yang bergelar suami.


Mas Abhi terlihat pasrah.


Menyesalkah kamu mas, saat gagal mengantar mbak Hana ke kamar tempat nya dirawat. Gagal berduaan ya.


Tiba-tiba mas Abhi menatap ke arahku. Lelaki itu terlihat canggung karena sudah aku pergoki tadi.


"Kalau kamu masih merasa khawatir dengan mbak Hana, kamu bisa menyusulnya mas. Biar aku dan mbok Sumi saja yang menjaga Gendis. Bukankan dia lebih membutuhkan kamu dari pada kami" Ucapku tajam.


Dan kalau kamu benar melakukannya. Maka tak akan ada maaf dariku lagi.


*


*


*


Alhamdulillah akhirnya bisa selesai satu bab. Meski diliputi drama sakit kepala dan ngantuk yang luar biasa. Demi siapa coba kalau tidak demi para reader setia ku. Tetap ditunggu like nya ya kak. Maaf kalau kata-katanya belepotan. Hi....