Nguber Duda

Nguber Duda
Tiga Puluh Satu



Esok paginya aku, mas Abhi dan Gendis langsung balik ke kota. Niatnya sih masih pengen liburan di kampung tapi karena mas Abhi kerjanya disana dan katanya lagi sibuk-sibuknya jadi aku disuruh ibu balik ke kota ikut suami. Padahal masih rindu ibu...


Emang bener lagi banyak kerjaan atau cuma alasan aja sih mas kamu itu? . Mana ada hari minggu gini banyak kerjaan. Pasti karena kejadian yang dikamar mandi itu.


Jiah...suamiku itu memang penakut banget. Mana ada laki-laki takut hantu.Mas Abhi bilang,lebih baik menghadapi sepuluh orang begal dari pada lihat penampakan hantu. Masa...


Begal segitu banyak mah.. malah bikin kita jadi hantu. Lha kalau hantu di pelototin aja udah lari dia.Ha.. ha.


Yow.. wes.. lah aku ngikut kamu aja mas. Kemanapun kamu pergi aku ikutin dah.


Mobil mas Abhi pun melaju dengan perlahan. Ah.. rasanya kami seperti keluarga kecil yang baru pulang dari liburan. Masih gak nyangka aja mas Abhi beneran jadi suamiku. Suami beneran ya mom's bukan suami jadi-jadian. Mungkin aku adalah perempuan yang paling beruntung didunia.


"Nanti sore kita ke rumah sakit ya Bee... tadi aku sudah buat janji dengan dokter kenalan ku" Ucap mas Abhi di sela-sela perjalanan kami.


Rumah sakit...


Dokter...


Emang siapa yang sakit?


"Yang sakit siapa mas? " Tanyaku. Biar saja aku dikatakan bodoh. Toh mas Abhi memang kasih informasi nya gak jelas gitu.


"Gak ada yang sakit Bee.. hanya saja kamu perlu konsultasi dengan dokter Sania dia dokter langganan ku saat mamanya Gendis hamil dulu"


"Iya mas " Jawabku singkat.


Aku cemburu saat mas Abhi bilang tentang mamanya Gendis tapi rasa cemburu itu berubah jadi rona bahagia saat mas Abhi begitu perhatian padaku.


Gimana gak perhatian coba. Baru nikah kemarin saja mas Abhi sudah ngajak aku konsultasi ke dokter kandungan. Jangan-jangan mas Abhi emang ngebet punya anak yang lahir dari rahim ku.Toh Gendis juga sudah besar. Duh... jadi malu.....


Setelahnya mas Abhi kembali diam dan aku bercanda dengan Gendis. Suamiku itu emang irit banget ngomongnya sejak aku mengenalnya. Tapi kok aku bisa cinta ya? Bukan cuma aku sih mungkin hampir semua wanita mengidamkan mas Abhi jadi suaminya.


Gak apa-apa mas yang penting sekarang kamu milik ku. Sekarang tugasku adalah membuatmu mencintaiku dan membasmi bibit-bibit pelakor yang sedang melanda negri ini. Berharapnya sih rumah tangga kita adem ayem saja. Amin..


Hampir tiga jam perjalanan kami pun akhirnya sampai di rumah mas Abhi.


Tampak Gendis berlari-lari menuju rumah. Entah apa yang mau dia lakukan.


Sementara aku segera mengeluarkan barang-barangku yang sempat ku bawa pulang kampung kemarin.Aku bawa pulang ya karena aku fikir gak bakal balik ke kota lagi. Eh...tau nya Kali ini tidak aku bawa ke ke kosan tapi malah aku bawa kerumah mas Abhi.


Ngomong-ngomong kalau anak-anak kos denger aku udah balik dan tinggal dirumah mas Abhi pasti langsung heboh. Apalagi kalau mereka tau aku udah nikah dan Ehemm.... sama mas Abhi pasti mereka langsung pada kepo. Ha.. ha.. jadi gak sabar lihat wajah mereka yang patah hati.Hari patah hati nasional nih ye....


"Mbok.. mbok.. lihat deh bundanya Gendis ada disini. Kan Gendis sudah bilang kalau Gendis akan bawa pulang bundanya Gendis" Tiba-tiba terdengar celotehan Gendis dari dalam rumah. Tak berapa lama putri kecilku itu menarik mbok Sumi keluar dari rumah.


Perempuan paruh baya itu tampak menunduk dihadapanku. Mungkin karena kejadian dia yang tidak bisa membelaku waktu itu. Makanya mbok Sumi sedikit sungkan padaku.


"Baik non" Jawabnya masih menunduk.


"Tau gak sih mbok, bundanya Gendis mau tinggal disini sama Gendis lho. Jadi sekarang Gendis ada yang nemenin bikin PR, mandiin Gendis, suapin Gendis, bahkan bakal ada yang bacain dongeng waktu Gendis mau bobo. Iya kan bunda" Celoteh gadis kecil itu sambil melirik ku.


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Sementara mbok Sumi masih terlihat sangat bingung.


"Saya dan Binar sudah menikah siri dikampung Binar mbok. Mungkin berkas untuk pernikahan secara negara akan segera diurus nanti" Ucap mas Abhi yang baru menutup pintu jok belakang mobilnya. Tempat aku menyimpan barang-barangku tadi.


Ku lihat mbok Sumi tersenyum. Meski belum banyak bicara lagi denganku. Aku yakin mbok Sumi ikut bahagia mendengar pernikahan kami.


"Habis ini tolong siapkan kamar tamu untuk Binar ya mbok"Ucap mad Abhi lagi.


Deg...


Seketika jantungku berdetak kencang.


Baru juga aku di lambungkan di atas awan tapi kenapa sudah dijatuhkan begitu saja. Apa maksudnya aku harus tinggal dikamar tamu? Bukankah aku istrimu mas? Harusnya aku dan kamu tinggal dalam satu kamar.


"Kenapa harus dikamar tamu tuan? Kenapa tidak dikamar tuan saja? " Pertanyaan mbok Sumi sungguh mewakili diriku.


Ku pandangi wajah mas Abhi untuk mendengar penjelasannya.Aku harap ini bukan pertanda buruk didalam pernikahan ku.


"Kamar saya adalah privasi saya mbok. Tidak ada yang boleh masuk didalam nya. Kecuali saya dan Gendis tentunya"


Tapi aku ini istrimu mas. Kenapa aku tidak boleh masuk kedalam kamarmu. Bahkan sebelumnya pun aku sudah masuk kedalam dan tidak ada yang yang terasa sepesial didalamnya.


"Tapi tuan bilang non Binar sudah jadi istri tuan. Bukan kah pasangan suami istri harus tinggal satu kamar? " Tanya mbok Sumi lagi. Entahlah... tapi aku benar-benar mendukung semua pertanyaan yang terlontar dari bibir mbok Sumi. Sungguh semuanya mewakili perasaan ku dan aku hanya mampu diam membisu.


"Siapa yang bilang kami tidak akan satu kamar mbok. Saya juga akan tidur dikamar tamu. Hanya saja kamar saya tetap jadi privasi saya. Di sana tempat saya jika ingin sendiri"


Jawaban itu masih kurang sreg aja dihatiku. Tapi aku bisa apa. Aku memang dinikahi mas Abhi tanpa cinta. Mungkin....


Tapi yang terpenting adalah mas Abhi mau menerimaku sebagai istrinya. Setidaknya sampai saat ini aku tidak menerima perlakuan buruk darinya.


Tanpa banyak bicara aku mengangkat barang-barangku dengan dibantu mbok Sumi menuju kamar baruku.


Tak apalah.. yang jelas kamar itu lebih nyaman dari pada kamar kosanku dulu. Apalagi akan ada mas Abhi yang akan menemaniku tidur nanti. Sesuai dengan ucapannya yang akan tidur satu kamar denganku.


*


*


*