Nguber Duda

Nguber Duda
Delapan Puluh Empat



Bundaaaaa.... bunda.... " Tiba-tiba ku dengar suara teriakan anak kecil.


Kayaknya aku kenal banget dengan suara itu. Segera aku berdiri dan berbalik. Gendis terlihat berlari dan menerjang ku.


"Bunda.. Gendis kangen" Ucap nya sambil ndusel-ndusel ke tubuh ku. Segera ku ciumi wajah tembem putri kecilku itu. Bukan cuma kamu aja sayang yang kangen. Bunda juga kangen banget.


"Bunda juga kangen sama Gendis" Ucapku pada gadis kecilku itu. Gendis tersenyum kemudian mencium pipiku.


"Sa... yang.. bunda" Ucapnya bahagia.


"Ehmm... emang Gendis gak kangen ama papa apa? Masa yang dipeluk dan dicium cuma bunda doang" Kali ini mas Abhi ikut nimbrung.


"Gak... Gendis gak kangen sama papa. Habisnya papa yang udah buat Gendis jauh dari bunda sih"Ucapnya manyun,sambil melipat kedua tangannya didada dan memalingkan muka nya dari wajah papanya.


Lucu.... banget ekspresi nya.


" Gak percaya deh kalau Gendis gak kangen sama papa"Ucap mas Abhi langsung meraih tubuh Gendis dan menciumi pipi Gendis dengan gemas. Gendis yang semula manyun jadi tertawa karena kegelian dicium, i papa nya.


Ah... senang nya... berasa jadi keluarga lengkap ini.


"Ehmmm... ehmmm... sepertinya kehadiran saya sudah tidak dibutuhkan nih pak. Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya. Besok pagi pesanan bapak akan saya antar" Ucap Vano mengingatkan.


Lupa ding kalau sedang ada tamu. Saking senang nya lihat Gendis datang. Eh... ngomong-ngomong Gendis kesini sama siapa ya?


"Maaf No, ini saking senengnya putri saya datang sampai kami lupain kamu, Ok deh kalau gitu kita antar kamu keluar dulu. He... he... sekali lagi saya minta maaf ya No? " Ucap mas Abhi kemudian.


"It's ok pak. saya juga faham kok"Ucap Vano kemudian.


Vano kemudian berjalan keluar terlebih dahulu disusul mas Abhi yang menggendong Gendis dan aku ada di belakang nya.


Tapi baru juga kami tiba di pintu, kami bertiga dibuat heran dengan pemandangan yang ada. Kami lihat Vika sedang berkeliling memandang dan melihat-lihat mobil milik Vano. Sementara mama berdiri dibelakangnya.


Ah.. kini pun terjawab sudah pertanyaan ku.Dengan siapa Gendis datang kesini? Rupanya sama mama dan juga Vika. Syukurlah... berarti Gendis gak datang kesini sendiri ding. He... he... ya gak mungkin lah Gendis datang sendiri. Ajaib dong....


Tapi kenapa mereka gak langsung ikut masuk dan malah disana. Jadi gak enak kan sama Vano.


"Vika yakin banget tante kalau mobil ini itu mobil milik Vika. Tuh.. lihat aja plat mobil dan juga warna mobilnya sama persis.Kalau warna ok masih ada yang sama. Tapi masa iya plat mobil juga sama. Meskipun Vika baru beberapa hari nih punya mobil ini tapi Vika bisa merasakan keberadaan nya. Tapi kok anehnya mobil ini bisa disini ya tan. Padahal kemarin sore kan mogok dijalan. Jangan-jangan mobil Vika bisa jalan sendiri dan nemuin Vika. Kalau gitu Vika senang banget dong"Cerocos Vika yang bisa kami dengar sangat jelas. Sementara mama hanya geleng-geleng kepala.


"Sudahlah Vik, lupain aja mobil butut kamu itu. Masih untung kamu ditukarin motor baru yang gak mogokan. Dari pada mobil buntut kamu itu" Ucap mama


Masih gak faham apa yang sedang mereka bicarakan. Mobil, motor.. apaan sih?


"Permisi.... "Potong Vano kemudian.


Vika dan mama sama-sama menghadap ke arah Vano. Mat Vika langsung melotot.


" Tuh... kan...tante benar? Berarti ini beneran mobil Vika? Ini kan cowok itu? Ucap Vika, mama hanya mengangkat bahunya dan menarik nafas dengan kasar.


Sementara aku dan mas Abhi hanya jadi penonton saja.


"Maaf ya mbak ini mobil saya" Ucap Vano yang membuat Vika berkecak pinggang dan melotot le arah Vano.


Wah.. wah.. wah... kayaknya bakal ada pertunjukan seru nih. Vika yang biasa bersikap judes dan meledak-ledak. Eh... tapi baik sih..


Dan juga Vano yang sepertinya gak mau kalah. Entah siapa nanti yang jadi pemenangnya. Bahkan kini mama pun sudah bergeser kearah kami dan menarik kami duduk diteras.


"Lihat pertunjukan live dulu, kita cari tempat adem" Bisik mama. Aku dan mas Abhi hanya tertawa kecil lalu mengikuti mama. Boleh juga....


"Gimana kamu bisa bilang ini mobil kamu, saya yang beli pakai uang saya lo" Teriak Vika yang pasti terdengar di tempat kami. Untung jam segini suasana kampung sedang sepi jadi gak akan jadi tontonan orang-orang. Cuma kami bertiga saja. Gendis pun sudah sibuk bermain.


"Ya... tapi kan sekarang kita sudah ketemu. Jadi kamu balikin mobil saya ,saya balikin motor kamu"


"Gak bisa mbak. Ditoko aja ada larangan mengembalikan barang bila sudah dibawa pulang. Lha mobil mbak kan udah sama saya bawa jadi gak bisa ditukar lagi"


Kami bertiga pun cekikikan. Ternyata Vika punya lawan yang tangguh juga. Bahkan saking kurang a*ar nya kami. Bukannya melerai, mas Abhi malah mengambilkan rebusan kacang dan singkong untuk menonton adegan live ini.


"Jangan-jangan kamu ini komplotan penipu ya? Sok-sok baik tapi aslinya mau menipu. Enak saja motor kamu yang harganya gak seberapa itu kamu tukar dengan mobil antik milik saya yang mahallllll" Ucap Vika makin ketus.


Pantesan aja Vik, kamu belum punya cowok dari sekarang. Orang galak gitu, mana ada cowok yang mau. Padahal kalau dilihat-lihat Vano ganteng banget lo. Aku aja kalau belum ada mas Abhi pasti mau. Ups... untung mas Abhi gak tau. Bisa habis kalau mas Abhi sampi tau aku memuji laki-laki lain.


"Kalau itu mau mbaknya. Saya bisa kok. Nambahin sisa uangnya. Biar saya gak dikatain cowok penipu. Dipikir nya saya gak bisa bayar apa? "Balas Vano yang gak kalah garang


"Ka.. mu..., saya gak butuh uang kamu. Saya butuh mobil saya"


"Saya gak mau kembalikan. Itu sudah jadi mobil saya" Balas Vano gak mau kalah.


"Dasar kamu itu, cowok kok gak mau ngalah sama cewek"


"Bukannya sekarang jamannya emansipasi wanita ya, kamu boleh berjuang tapi kami sebagai cowok pun gak harus mengalah. Emang difikir cowok gak punya harga diri apa"


"Kamu.... nyebelin banget sih. Berantem sama kamu bikin lapar tau" Omel Vika.


"Ya udah sana makan, saya juga mau pulang. Lagi banyak kerjaan gak ngurusin cewek modelan kayak kamu ini" Ucap Vano menyingkirkan tubuh Vika dari mobilnya. Lalu masuk kedalam dan menyalakan mesin.


"Lho.. lho.. mobil saya mau dibawa kemana? " Ucap Vika sambil mengetuk-ngetuk pintu mobil Vano tapi Vano sudah ngirit aja.


"Dasar cowok gak ada akhlak. Tunggu saja aku bakalan kejar kamu sampai dapat. Eh... kok kata-katanya gitu sih. Aku.. bakal dapatin mobil aku kembali" Ralat Vika yang sontak membuat kami tertawa.


"Udah lah Vik, ikhlasin aja. Kalau masih rezeki nanti juga balik lagi. Lagian kamu gak cocok pakai mobil itu. Cowok itu yang cocok, soalnya dia bisa jinakin mobil kamu yang suka mogokan itu" Celoteh mama yang sontak membuat Vika manyun dan berjalan ke arah kami. Bahkan karena lagi marah Vika menarik piring dan menghabiskan kacang dan singkong di piring itu. Kaykny beneran nih anak lagi lapar.


Selanjutnya kami pun mengobrol dan masih menggoda Vika. Bahkan mama jelas-jelas mendoakan Vika berjodoh dengan pemuda itu.


"Tante mau bikin Vika mati muda ya, jodoh-jodohin dengan pemuda gak ada akhlak itu" Begitulah celotehannya yang membuat kami makin suka menggodanya. Hingga tanpa terasa hari sudah siang.


"Assalamu'alaikum" Salam ibu yang menyadarkan kami. Kami semua pun menghadap ke arah ibu.


"Waalaikumsalam" Jawabku dan mas Abhi saja. Sementara Mama dan Vika hanya terdiam. Dan ibu jadi gugup.


Ada apa ini?


"Angela"


"Tante.. angel"


Ucap Mama dan Vika secara bersamaan. Sementara aku dan mas Abhi jadi bingung. Kok mereka tau nama asli ibu sih?


*


*


*


Habis dari perjalanan jauh langsung tepar. Bangun jam 2 langsung cus... cari HP biar bisa update deh.


Eh... Vika sama mama kenal ibunya Binar lho.


Angel... ini ada di novel pertama saya ya.....