Nguber Duda

Nguber Duda
Lima Puluh Dua



Pagi ini seperti biasa mbak Hana datang kerumah. Rencana nya sih mau ngajak aku dan Gendis keluar. Soalnya besok mbak Hana pamit mau pergi. Gak tau deh pergi kemana?.Tapi karena aku yang udah terlanjur puasa jadi malas pergi-pergi. Badan lemes banget bray apalagi perasaan ku sedang jungkir balik karena ucapan mas Abhi tadi pagi.


Jadilah aku nyuruh mbok Sumi yang menemani Gendis dan mbak Hana pergi. Setelah sebelumnya izin dulu sama mas Abhi.


Sepeninggal mereka kok rumah jadi sepi banget. Nyesel juga gak ikut jalan-jalan tadi. Padahal selama aku menikah sama mas Abhi jarang banget aku keluar rumah. Hari-hari ku cuma diisi dengan merawat Gendis saja.


Jadi kangen suasana kosan, kangen anak-anak juga.


Setelah aku fikir-fikir dari pada rebahan dirumah dan makin lemes saja. Mending aku buat jalan-jalan. Selain lupa makan dan minum, waktu juga semakin cepat berlalu.


Segera ku ambil tas ku yang hanya berisi uang ratusan ribu dan juga ATM.


Yup...


Uang lima ratus ribu yang ku ambil bareng mbok Sumi itu, baru aku buat beli crayon sama bahan rajutan saja. Waktu ngafe itu pun dibayari sama mbak Hana.Mau beli apa lagi coba? Kalau semua sudah tersedia dirumah.


Ku langkahkan kaki ku pelan menuju tempat tinggal ku sebelum menikah sama mas Abhi.


Niatnya pengen santai bestie..


Tapi agaknya sulit, saat ku lihat sosok yang ku kenal sedang berdiri dan berbincang dengan mbak Reni di depan gerbang kosan ku dulu.


Mau apa lagi mas Kai disini?


Ku hembuskan nafasku pelan, tapi juga makin mendekat ke arah dua orang tersebut. Gak mungkin lagi menghindar toh mbak Reni juga sudah lihat aku.


"Nah.. itu orangnya? " Tunjuk mbak Reni saat melihat ku. Gegas mas Kai yang membelakangiku pun menoleh.Pandangannya tajam ke arah ku.


Entah apa yang sedang laki-laki itu pikirkan tentang aku. Mungkinkah mas Kai sudah tau aku menikah dengan mas Abhi? Mungkinkah dia kecewa karena itu?


"Kalau gitu aku tinggal dulu ya Bee... " Ucap mbak Reni kemudian masuk ke dalam kosan.


Kini tinggal kami berdua yang masih terdiam dengan fikiran masing-masing.


****


"Apa kabar Bee..? " Tanya mas Kai pertama kali. Saat kami memutuskan berbicara di taman komplek.


"Baik mas"Jawabku pelan.


" Aku dengar kamu udah nikah? Dengan duda,mantan majikanmu itu. Benar? "Tanyanya penuh intimidasi.


Sama dengan kebiasanku yang langsung bertanya mas Kai pun langsung demikian.


Kupandang matanya sebentar, lalu aku hanya mengangguk. Tanda aku membenarkan ucapannya.


" Jadi itu alasanmu menolak berjuang dengan ku waktu itu? "Tanya nya lagi. Kali ini mas Kai menggali lebih dalam. Sebagai jawabannya aku menggeleng.


" Bukan karena itu mas, sudah aku katakan aku tak ingin ada pertengkaran di antara keluarga kalian karena aku. Lagi pula aku nikah sama mas Abhi karena kebetulan. Dia yang ngelunasin semua hutang aku dan dia juga yang nyelametin aku dari gelar istri ketiga. Matre... ya.. aku..? "Ucap ku sesak.


Jika diingat awal pernikahan ku, aku memang terkesan menikah karena uang. Apa itu sebabnya sampai sekarang mas Abhi masih belum mencintaiku.


" Bee.. gak usah ngomong gitu. Maaf karena aku udah nuduh kamu yang enggak-enggak"Ucap mas Kai yang akhirnya luluh dan gak lagi marah sama aku.


"Gak usah minta maaf lah mas, orang seperti aku ini memang sudah terbiasa di perlakukan seperti itu"Ucapku tajam. Gak tau kenapa bawaan nya pengen marah-marah, sedih-sedih kayak orang PMS aja.


" Oh iya.. ngomong-ngomong kamu nyari aku mau apa"Ucap ku mengalihkan pembicaraan. Gak mau deh kalau akhirnya berakhir berantem juga sama mas Kai.


"Kamu bahagia dengan pernikahan kamu? " Bukannya menjawab mas Kai malah berbalik bertanya.


"Aku yang nanya kamu duluan lho ini mas? Kok kamu malah balik nanya? Kalau kamu mau tau jawabannya .Maka jawabannya adalah ya.Iya mas aku bahagia dengan mas Abhi" Jawabku


Terlihat mas Kai menghembuskan nafasnya.


"Bagus lah kalau kamu bahagia dengan pernikahanmu. Setidaknya aku tidak akan merasa bersalah setelah ini" Ucap mas Kai kemudian. Yang otomatis membuat ku mengernyit kan dahiku.


"Maksudnya apa nih" Tanyaku penasaran.


"Jangan bilang kamu udah jatuh cinta ya sama perempuan yang dijodohkan sama orang tua kamu" Goda ku padanya.


Sumpah Demi apapun tak ada rasa cemburu atau pun sakit hati pada mas Kai. Jujur aku malah bersyukur mas Kai bisa menemukan jodoh terbaiknya. Selain itu hubungan dengan kedua orang tuanya juga akan baik. Lain halnya jika waktu itu kami terus memaksa bertahan. Mungkin hanya akan ada kesedihan dan air mata dari semua fihak.


"Gitu aja bilangnya gak mau. Makanya dilihat dulu baru mutusin mau apa enggak. " Goda ku sambil mencibir nya.


Mas Kai hanya tertawa dan mengacak rambutku.


"Makasih ya Bee.. kamu gak marah sama aku karena udah berpaling dari kamu" Ucap mas Kai sambil menaik turunkan alisnya.


Sembarangan aja dia. Mas Kai fikir dia yang lebih dulu move on. Kalau dia tau aku pernah ngejar mas Abhi gimana y?


"Jiah..kamu fikir kamu yang dulu berpaling dari aku mas. Sekalian aku mau jujur sama kamu kalau sebelum kita ketemu untuk yang kedua kalinya aku sempat mengidolakan mas Abhi lho.Aku juga sempat ngejar-ngejar dia. Kamu tau lah.. kalau aku memang suka ngidolain cowok ganteng. Tapi aku gak berfikir mas Abhi bakal menikahi aku sih. Eh... gak taunya kita emang jodoh. Lagipula yang nikah duluan kan aku bukan kamu. Jadi jangan bilang kamu yang berpaling dari aku. Tapi aku yang berpaling dari kamu"Cibir ku padanya.


"Jadi benar ya kamu waktu itu udah gak cinta aku. Makanya gampang banget ninggalin aku" Ucap nya pura-pura galak.


"Idih.. aku gak bilang gitu lho. Toh kalau waktu itu kita dapat restu gak masalah tuh sama kamu. Kan sama-sama ganteng. Tapi kamu akan nyesel kemudian karena gak ketemu sama jodoh kamu yang sekarang" Balas ku tak mau kalah.


"Dasar kamu, dari dulu paling bisa kalau ngeles omongan"


"Apaan enggak banget gitu lho"


Mas Kai jadi gemes padaku dan mengacak-acak rambutku.


"Ih.. mas.. rambut aku kusut nih. Entar kalau orang lihat kamu ngapa-ngapain aku lagi" Ucapku sewot sambil membenahi rambutku yang sudah kusut.


Bukannya minta maaf mas Kai malah tertawa dan aku semakin sewot padanya.


Tawanya mas Kai baru berhenti setelah seorang datang dan dengan tiba-tiba menyiram tubuhku dengan se botol air mineral.


"Dasar perempuan gak bener kamu. Masih berani godain anak saya yang sebentar lagi mau menikah. Harusnya dari dulu saya sudah bertindak tegas sama kamu. Dasar pelak*r mura*an kamu" Maki perempuan itu yang ternyata adalah ibu nya mas Kai.


Aku hanya bisa terpaku dengan makian itu. Entahlah.. tak pernah sekalipun aku pernah berfikir dapat hinaan seperti itu.


Tiba-tiba saja kepalaku jadi pusing mendengar nya dan setelah itu aku tak tau lagi apa yang terjadi.


*


*


*