Nguber Duda

Nguber Duda
Tiga Puluh Sembilan.



"Mas hari ini aku udah mulai kerja lagi ya? " Ucapku ketika mendatangi mas Abhi yang sedang duduk di teras sambil membaca koran pagi ini.


Tumben banget belum siap-siap kerja dan masih malas-malasan gitu.


Mas Abhi berhenti sebentar lalu melipat korannya kemudian menatap kearahku dengan tajam.


Idih... serem amat mas....Tatapanmu itu lho setajam silet. Ea...


"Jangan macam-macam Binar. Kamu mau mama marah lagi sama aku? "Ucapnya akhirnya.


Huh.. aku kira kamu tadi bakalan marah-marah gitu mas. Tapi syukur deh kalau enggak.


"Tapi kan aku udah kerja sebelum nikah sama kamu mas. Kasihan mbak Maya dan mas Johan kalau aku berhenti kerja? " Protesku tak terima.Sekaligus alasan aja.


Kalau aku gak kerja dapat uang dari mana coba?Mau jajan pakai apa? Kalau Gendis minta sesuatu gimana? Yang dikasih mas Abhi ke aku itu kartu ATM bukan uang. Mana tau aku cara menggunakannya? Selama ini transfer juga mas Johan yang transferin.


"Tugas kamu sekarang jagain Gendis. Ini bukan perintah tapi kewajiban Binar"


Aku tau mas. ..


"Aku pasti jagain Gendis kok mas..Tapi .... "


"Gak usah tapi-tapian...Sekarang kamu ikut aku, aku gak mau terjadi dua kali kejadian semalam. Hampir putus telingaku gara-gara kamu" Ucapnya lalu beranjak berdiri.


Mampus aku...


Kalau mas Abhi beneran gak ngizinin aku buat kerja. Gimana aku bisa ngirimin uang buat ibu yang ada di kampung? Tapi kalau aku ngebantah namanya durhaka sama suami dong. Ish.. mas Abhi kenapa jadi posesif gini sih sama aku.


"Ayo Binar.... " Teriak mas Abhi lagi karena belum melihat pergerakanku.


Aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan pasrah. Lalu mengikutinya menuju mobil.


Emangnya mas Abhi mau ngajakin aku kemana sih? Kencan? Pagi-pagi banget. Setiap malam kan udah dapat jatah.Mumpung Gendis lagi nginep dirumah mama dari semalam kale jadi kita bisa quality time berdua.


Cie... mikirin itu pipiku jadi merah merona kayak pipi nya jengkelin. Ngomong dong mas dari tadi kalau ngajak kencan. Kan gak perlu repot-repot ngebantah omongan kamu. Masalah aku kerja, bisalah.. nanti pelan-pelan aku ngebujuk kamu.


Mobil pun perlahan dijalankan menuju ke suatu tempat yang belum aku ketahui dimana.Misterius banget ya mas Abhi. Tapi aku suka sih...


Sepanjang jalan mas Abhi hanya diam dan aku sibuk mantengin wajahnya yang ganteng itu.Dari pada bete gak diajak ngomong. Mendingan ngagumin makhluk Tuhan yang paling sexy didepanku. Maksudnya paling ganteng dimataku ding he...


Biar kata kamu masih galak dan belum nganggap aku sepenuhnya istri kamu. Tapi aku gak akan menyesal mas. Cinta itu memang butuh perjuangan dan aku bakal perjuangin cinta aku ke kamu. Setidaknya selama aku masih sanggup bertahan dengan cinta aku. Semoga aja kamu cepat membalas perasan ku padamu. Jangan sampai aku lelah sebelum kamu jatuh cinta padaku nanti.


"Jangan lihatin aku kayak gitu Bee... saya lagi nyetir" Ucapnya kemudian. Akhirnya pecah juga suaranya.Aku terkekeh... Bisa salting juga mas Abhi.


"Kenapa...? Orang Binar mandangin suami Binar sendiri" Protes ku


"Tapi aku gak bisa konsentrasi kalau kamu lihatin aku kayak gitu"


"Pura-pura gak lihat aja" Jawabku asal.


"Semut kalau lihatin aku aja bisa lihat apalagi kamu" Lagi-lagi aku terkekeh mendengar jawabannya yang terlihat asal itu.


Aku suka... setidaknya mas Abhi sudah mencair sedikit.


"Klau kamu gak mau aku lihatin maunya dilihatin sama siapa mas? " Kali ini mas Abhi terdiam.


"Terserah"Jawab mas Abhi cuek dan lagi-lagi kekehan ku semakin keras. Emang kelihatan banget mas Abhi saat ini sedang salting. Ini baru ngelihatin mas...


Untungnya kami segera sampai ke tpat yang mas Abhi tuju. Bayangin aja kalau tempatnya masih jauh.Bisa-bisa hal yang tidak diinginkan benar-benar terjadi.


"Turun Binar.. kita sudah sampai" Ucap mas Abhi ketika kami telah sampai dan aku yang masih sibuk memandang inya.


"Bisa gak sih mas... nyampai nya ditunda satu jam lagi gitu? " Jawab ku asal.


"Kamu mau tetap disini atau mau turun? terserah kalau mau disini" Ucapnya sedikit kesal. Lalu keluar dari pintu mobil.


"Mas..... "Rengek ku manja.


" Apasih Binar..? Buruan turun saya lagi sibuk ini"Omel nya padaku.


Selain ngambekan mas Abhi juga hobi banget marah-marah sih. Untung aku sudah punya kekebalan tersendiri.Lagian kalau sibuk ngapain ngajakin kesini coba?


"Bukain pintunya dong"


Lagi-lagi sikapku membuatnya melongo. Karena ini di tempat umum. Mau tak mau mas Abhi menuruti permintaan ku.


"Biar romantis gitu lho mas" Ucapku ketika pintu mobil berhasil dibuka.


Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya dan dia langsung ngelonyor saja. Mau tak mau aku pun mengikuti langkahnya yang lebar-lebar itu. Dasar ya mas Abhi gak ada romantis-romantisnya. Gandeng kek? Atau kalau perlu aku digendong sekalian. Biar semua orang tau kalau kamu cuma milik aku mas.


Rupanya mas Abhi ngajakin aku ke butik. Mungkin ini jawaban atas apa yang terjadi semalam. Rupa-rupanya mas Abhi beneran gak mau menerima jurus ****** beliung dari mama lagi.


"Kamu bisa pilih semua baju yang kamu suka disini. Terserah berapapun, yang penting mama gak bakal ngomel-ngomel karena kamu haharus beli baju dipasar lagi"


Datar....


Lagi-lagi gak ada manis-manisnya. Air mineral aja ada manisnya. No coment deh. Males debat sama kamu mas..toh aku gak bisa nolak. Itu pikiran awal ku sih.


Tapi.....


Saat aku melihat harga baju yang tertera mataku membulat sempurna.


"Belinya dipasar aja deh mas. Mahal... satu baju bisa dapat dua puluh potong kalau beli dipasar" Bisikku sama mas Abhi.


Gak enak aja kalau keras-keras nanti kedengeran sama penjaga tokonya.


"Kamu tinggal pilih Binar, gak usah banyak protes"


"Nanti kamu bangkrut lho mas. Sayang uangnya, lebih baik ditabung? "


"Binar.... "


"Janji mama gak bakal tau kalau baju yang aku pakai nanti belinya dipasar deh" Ucapku masih protes. Ku acungkan dua jari ku membentuk huru V supaya mas Abhi percaya.


"Buruan pilih atau aku cium kamu disini"


"Lagian ya mas... terbuat dari apa sih baju ini kok bisa mahal banget. Pokoknya anterin aku ke pas... "


Cup


Tiba-tiba satu kecupan mendarat di pipi ku yang otomatis membuat ku terdiam. Seriusan mas Abhi nyium aku? Ditempat umum kayak gini?


Duh... Emak... mas Abhi nyium aku lho. Seketika otak ku jadi blenk.


"Mau pilih atau aku cium lag? " Tanya nya.


Sebenarnya mau cium lagi tapi kan malu kalau ditempat umum kayak gini. Akhirnya mau tak mau aku milihnya pilihan yang pertama.


Sambil megangin pipi bekas ciuman mas Abhi aku pun mulai berjalan menuju rak-rak baju. Namun naas saat baru dua langkah.


Jedug...


Dasar gak ada akhlak nih patung. Berdirinya sembarangan banget. Duh... malunya....


*


*


*