Nguber Duda

Nguber Duda
Tiga puluh Empat



"Nanti sore kita kerumah mama ya Bee.. aku mau ngenalin kamu secara resmi"


Itu ucapan mas Abhi tadi pagi setelah sarapan. sebelum dia berangkat kerja.


Ahhhhhhh.......


Deg deg an


Nervous


Takut


Galau


Pokoknya rasa nya campur-campur deh.


Mertua sih baik, karena aku pernah ketemu sebelumnya. Hanya saja,gimana ya? Kita nikahnya gak bilang-bilang lo. Apa gak bakalan jadi masalah sama mas Abhi. Takut nya suamiku itu dimarahin sama mamanya.


Entahlah...


Ngomong-ngomong saat bertemu orang tuanya mas Abhi nanti aku pakai baju apa ya? Mana baju ku jelek-jelek semua lagi. Dulu aja waktu ketemu sama ibunya mas Kai aku beli baju baru. Masa iya sekarang aku ketemu sama mertua beneran gak beli baju baru?


Gak ada akhlak dong


Aku pun membuka dompetku. Masih ada sisa uang tiga ratus lima puluh ribu di dompet. Sisa uang saku yang ku peroleh dari mbak Maya. Karena sebagian sudah aku berikan pada ibu kemarin.


Ok... saatnya pergi ke pasar beli baju baru. Besok kan sudah mulai kerja lagi, makan dan tempat tinggal juga udah ada yang nanggung.Cukuplah kalau buat beli baju sepotong sama buat uang jajan sebulan sebelum gajian.


Gegas ku ambil tas ku dan segera turun ke bawah. Mau pamitan sama mbok Sumi sama Gendis dulu.


"Mbok nitip Gendis sebentar ya? " Ucapku ketika ku lihat mbok Sumi sedang menemani Gendis nonton TV.


"Bunda mau kemana? " Bukan mbok Sumi yang menjawab tapi Gendis.


"Bunda mau kepasar sebentar"


"Gendis ikut... Gendis ikut" Teriak Gendis kegirangan.


Haduh...


Alamat kena palak ini. Gak mungkin dong aku beli baju terus Gendis gak aku beliin. Ya sudahlah... resiko sudah punya buntut sih. Meskipun bukan buntut ku sendiri toh sekarang Gendis adalah anakku.


"Boleh kah mbok? Apa nanti gak dimarahi sama mas Abhi ya? " Tanya ku pada mbok Sumi.


"Gak tau juga Non, biasanya mbok sih belanja bahan makanan saja ke supermarket. Memang Non mau kepasar ngapain? " Tanya mbok Sumi.


"Mau beli baju baru lah mbok. Nanti sore mas Abhi kan ngajakin saya ke rumah mama nya. Masa iya saya gak beli baju baru" Jawabku jujur.


"Yeh... Gendis mau baju baru juga"Teriaknya makin girang.Akupun tersenyum simpul.


Rupanya putri kecilku itu terlalu bersemangat. Pernahkah kalian sadari jika kebahagian bukan diukur dengan banyak uang. Terkadang hal-hal kecil seperti ini juga membuat kebahagian tersendiri.


" Biasanya untuk baju-baju Non Gendis sama tuan sudah ada yang ngantar sendiri ke sini. Kenapa Non Binar gak minta tuan Abhi aja. Biar gak usah repot-repot ke pasar"


Bukan gak mau mbok, lha masak baru jadi istrinya beberapa hari saja udah minta-minta.


"Gak deh mbok, udah kebiasaan pakai baju pasaran dari pada baju mahal. Nanti bagusan bajunya dari pada aku? " Canda ku sambil tertawa


Mbok Sumi hanya tersenyum saja.


"Ya sudah terserah Non saja. Hati-hati ya Non saat kepasar. Awas Non Gendis"


" Siap mbok"Ucapku sambil memberi hormat.


Ku gandeng Gendis sampai depan rumah. Lalu mengeluarkan motor matic milik mas Abhi. Enak banget ya punya suami orang kaya semuanya punya dan aku sebagai istrinya tinggal memanfaatkan apa yang ada.


Dasar matre....


Biarin, matre sama suami sendiri dari pada sama suami orang. Ha.. ha...


Segera ku lajukan motor itu dengan pelan. Lagi bawa krucil cin. Takut jatuh nanti lecet-lecet bisa dicincang sama bapaknya aku nanti. Parahnya lagi gak dapat jatah. Ups... bercanda ding.


Sebenarnya pasar dari rumah mas Abhi gak terlalu jauh. Kalau tadi Gendis gak ikut aku akan naik angkot saja. Berhubung Gendis ikut jadi aku bawa motor saja.


Kurang dari lima belas menit kami pun sampai dan ku parkir kan motorku pada tukang parkir langganan ku.


"Siap Non"


Baru setelah itu aku mulai memasuki pasar.


Terlihat penjual baju yang berjajar-jajar. Mulai baju anak-anak, dewasa perempuan dan laki-laki. Semuanya lengkap ada dipasar ini. Berbagai model pun juga ada. Tinggal pilih yang disuka aja.


Mata Gendis terlihat berbinar melihatnya. Putri kecilku itu mungkin baru melihat pasar untuk yang pertama kali makanya terlihat antusias.


"Sempit ya kak, gak kayak belanja di mall" Ucapku mengalihkan pandangan Gendis padaku.


"Kok manggilnya kak, bunda? "


Ya Tuhan... anak satu ini emang peka banget. Padahal aku niatnya pengen biasain diri aja. Kalau nanti Gendis punya adik kan dia harus dipanggil kak.


"Gak apa-apa. Bunda salah sebut saja. Yuk cari bajunya" Elak ku.


Bisa gaswat kalau sampai Gendis ngadu sama bapaknya. Makanya untuk mengalihkan perhatian Gendis segera ku tarik putriku itu menuju lapak penjual baju.


Benar saja, Gendis pun nampak lupa dan mulai memilah-milah baju anak-anak yang dia suka.


"Bunda ini bagus ya? " Tanya Gendis sambil menunjukkan sebuah Dress warna pink dengan lengan bentuk Sabrina. Sangat cocok untuk Gendis yang berkulit putih bersih.


"Bagus sayang, Gendis mau itu? " Tanyaku


Gendis mengangguk dengan cepat.


"Sebentar ya, bunda tanyain harganya dulu. " Ucapku sambil mengambil baju ditangan Gendis.


"Ini harganya berapa pak? " Tanyaku pada pemilik lapak.


"250 neng"


"Apa? " Pekik ku kaget. Baju sekecil ini harganya segitu.. mahal amat. Bisa langsung terkuras isi dompetku. Bukan aku perhitungan dengan anak sendiri. Hanya saja bagaimana nasibku sebulan kedepan.


"Gak bisa kurang apa pak? " Rayu ku kemudian.


"Maaf atuh neng disini harga pas, kalau gak percaya neng bisa tanya dilapak lain. Pasti harganya jauh lebih tinggi. Ini bahannya juga bagus dan adem banget" Celoteh penjual itu. Udah macam seles kompor aja, lemes cin. Kalau gak lemes ya gak mungkin laku dong dagangannya.


Ku hembuskan nafasku berat. Benar apa yang di bilang bapak ini. Memang disini lah lapak yang paling laris makanya banyak pengunjung yang datang kesini.


Kalau baju Gendis saja sudah haga dua ratus lima puluh ribu maka bajuku harus kurang dari seratus ribu.


Ya salam...


Bisa-bisanya harga baju anak kecil yang gak makan banyak kain ini harganya selangit. Mau minta cari harga baju yang lebih murah juga kasihan. Ini pertama kalinya Gendis minta aku lho.


Yo wes lah gak opo-opo.


Terpaksa aku nyari baju yang harganya dibawah harga seratus ribu. Yang penting baju baru lah dan layak dipakai bertemu dengan mertua.


Setelah selesai belanja kami pun kembali menuju parkiran. Ku pandangi uang yang ada digenggaman tanganku. Tinggal sepuluh ribu bestie, sebentar lagi juga buat parkiran lima ribu. Artinya uang jajan ku tinggal lima ribu rupiah.


Nasib... nasib...


It's ok yang penting Gendis bahagia. Lihatlah bahkan sedari tadi bajunya di bawa sendiri sambil dipeluk-peluk.


Ah... ikut senang melihatnya.


Tiba-tiba kulihat sebuah mobil yang mendekat kearah kami. Bukan mau menabrak. Hanya saja ada genangan air yang ada tak jauh dari tempat kami berdiri. Segera ku peluk tubuh Gendis untuk melindungi gadis kecil itu, dan....


Byur...


Genangan air itu sukses membasahi seluruh tubuhku.


Sial....


Akan ku cari kamu sampai ketemu pemilik mobil.


*


*


*