
"Siapa kalian ...?"tanya Leo terheran.
Saat Leo dan Owen keluar dari kelas...mereka dikejutkan dengan dua orang pria berbadan tegap berpakaian serba hitam.
"Maaf Tuan Muda...kami diperintahkan untuk menjemput Tuan Muda Leo dan Tuan Muda Owen.."jawabnya sopan.
"Atas perintah siapa..?"Owen ikut bertanya..
"Tuan Levin...Tuan Muda.."
"Dad..."Leo dan Owen saling memandang.
Drrrtt...drrrt...
Leo mengangkat ponsel yang bergetar disakunya. Lalu mengangkatnya segera saat nama Daddynya muncul dilamar ponselnya.
"Dad..."sapa Leon saat hubungannya tersambung.
"Hi Son....kalian pasti sudah bertemu dengan orang orangku. Mereka orang kepercayaanku. Maafkan Daddy...jika kalian terkejut..."
"It's ok Dad. Kami hanya belum pernah melihat mereka..."
"Kalian mungkin belum pernah melihat mereka. Tapi mereka sangat mengenalmu Nak."
Deg...Leon mengernyitkan dahinya.
"Mereka akan membawa kalian padaku. Ada yang harus kita bicarakan.."
"Baiklah Dad.."
Levin memutus sambungan telponnya.
"Mari Tuan Muda.."dua orang kepercayaan Levin mendampingi Leo dan Owen.
"Baiklah. Ayo Owen.."
***********
"Apa masih jauh...?"Leo buka suara karena sudah satu jam lebih mereka belum juga sampai tujuan.
"Tidak Tuan Muda...sekitar lima belas menit lagi."jawab salah satu pria yang duduk disamping kemudi.
"Apa mereka juga ikut mengawal kami...?"Owen melihat kedepan dan kebelakang yang sedari tadi merasa heran karena didepan mobil mereka ada dua mobil didepan mobilnya dan dua lagi dibelakangnya.
"Benar Tuan. Mereka juga yang selama ini melindungi anda anda Tuan Muda.."
"Apaa ...!"
"Baru kali ini mereka keluar dari persembunyiannya..."lanjut salah satu pria yang mengendarai mobilnya.
"Aku tidak mengerti..."ungkap Leo.
"Tuan Levin sangat jeli jika menyangkut Tuan Leo dan Tuan Owen. Terlebih lagi pada Nyonya Keyra.."
"Mommy..."ujar Owen.
"Sudah sampai Tuan Muda. Mari..."pertanyaan Owen tak dijawab oleh mereka.
Leo dan Owen seketika terpana saat melihat gedung besar,megah dan sangat modern berdiri tegak didepan mereka.
"Apa Dad ada didalam..?"tanya Leo
"Ada Tuan.."
"Mommy...?"timpal Owen
"Tentu Tuan Muda..."
"Tuan Levin tidak akan mungkin meninggalkan Nyonya Muda dalam waktu lama.."sambung pria itu.
"Silahkan masuk Tuan muda.."seseorang membukakan pintu besi.
Leo dan Owen benar benar takjub melihatnya. Ruangan besar dan elegant dimana setiap sekeliling dindingnya dipenuhi foto foto keluarganya.
Bagaimana tidak..
Pertama kali yang mereka lihat adalah foto cantik seorang gadis sedang bermain piano dan seorang pria memandang gadis itu kagum. Leo dan Owen saling memandang dan tersenyum...mereka yakin foto itu adalah foto pertama kali orang tua mereka bertemu.
"Dari dulu Mom sangat cantik..."ujar Owen.
"Ya kau benar...dari dulu juga mata Dad hanya tertuju pada Mommy.."timpal Leo
Langkah berikutnya...mereka dikejutkan dengan foto besar yang sangat mengharukan. Dimana Levin dan Keyra menikah.
Namun ditempat yang tidak layak. Rumah Sakit.
"Kalian pasti terkejut..."suara bariton seorang pria membuat mereka memalingkan wajahnya kebelakang.
"Dad..."Leo dan Owen menghampiri dan memeluk Levin bergantian.
"Kalian baik baik saja.."tanya Levin.
"Apa kalimat itu yang selalu Dad tanyakan pada kami.."tanya Leo kembali.
"Kami baik baik saja Dad."
"Dad lihat..."
Levin tersenyum.
"Kemarilah..."Levin membawa kedua putra kembarnya maju kedepan foto besar itu.
"Dad hanya ingin menceritakan sedikit tentang kami. Lebih tepatnya Mommy kalian..."
Mengalirlah cerita hidup Levin dan Keyra dari awal mereka saling mengenal hingga muncullah si kembar yang sangat didambakan.
Mendengar cerita Levin...mata Leo berkaca kaca, dan sang adik..Owen ... dia sudah menangis dipelukan sang Dady.
Mereka sudah duduk bertiga disofa panjang dengan Levin duduk ditengah tengah diapit oleh putra kembarnya menghadap sebuah foto berukuran paling besar diantara lainnya.
Yaitu foto saat Keyra tersenyum letih disebuah mobil. Wajah pucat nya tidak memudarkan kecantikannya, keringat yang menetes terlihat jelas disudut pelipisnya. Foto itu adalah.... Saat sikembar terlahir ke dunia.
Entahlah apa yang dipikirkan Levin saat itu. Baginya senyum dimoment ini begitu berarti dan tak akan pernah bisa dilupakan olehnya. Meskipun selama ini dia tak pernah bisa hidup tanpa senyumnya.
"Apa kalian tahu Nak...kenapa foto ini yang paling besar..?"
Leo dan Owen terdiam memandang Levin menunggu cerita selanjutnya.
"Ini adalah foto saat istriku melahirkan kalian..."
Deg..
Deg..
"Jika kalian sudah mendengar kalau kalian dilahirkan disebuah mobil...itu benar adanya.."
Tak ada respon dari kedua putranya hingga Levin menoleh ke arah mereka.
"Apa kalian malu..?"
Dia berpikir ketakutannya karena putra putranya akan merasa malu dilahirkan ditempat yang tidak seharusnya. Namun semua itu sirna saat melihat air mata turun dari kedua putranya sambil terus memandang foto sang ibu.
"Kenapa Dad berpikiran seperti itu tentang kami.."ujar Leo tiba tiba tanpa mengalihkan pandangannya.
"Apa karena alasan itu semua keluarga mennyembunyikan identitas kami.."sambung Owen. Dan langsung menatap Daddynya dengan air mata yang beriringan. Dia sudah tidak bisa menahannya.
Melihatnya Levin memeluk Owen.
"Maafkan Daddy Son...dan Daddy mohon jangan menyalahkan Mommy kalian.."Owen menguraikan pelukannya.
"Awalnya Daddy tidak pernah terpikirkan tentang hal ini. Tapi hati Mommy kalian yang terlalu baik dan perhatian membuatku dengan terpaksa menuruti keinginannya.." Levin berdiri dan mendekati foto besar itu dan merabanya.
"Dengan polosnya istriku meminta maaf padaku dan Granpa kalian. Dia takut nama baik keluarga Ferdinand dipandang jelek oleh orang lain..."kekeh Levin.
"Bukankah itu hal konyol bukan..?"Levin memutar balik badannya memandang putra kembarnya.
"Bagi Daddy...tak perduli dimanapun kalian dilahirkan, tak perduli nama dan kekuasaan...Mommy kalian...istri tercintaku tetap selalu yang teratas diatas segalanya.."
"Daddy akan melakukan apapun untuk menjaga kebahagiaanya.
"Dan kalian...putra putraku...Daddy berharap besar pada kalian agar selalu menjaga keluarga besar kita..."
"Kalian mengerti.."
"Kami mengerti Dad.."ucap tegas Leo dan disertai anggukan kepala Owen.
"Kau menakuti cucu cucuku Son..."suara besar dan serak membuat mereka bertiga menoleh seketika.
"Grandpa..."Leo dan Owen berlari dan berhambur kedalam pelukan sang Tuan Besar Jon.
Jon pun dengan senyumnya merentangkan kedua tangannya menyambut cucu cucu kesayangannya.
"Grandpa sangat merindukan kalian..."
"Kami juga Grandpa..."sahut Leo dan Owen bergantian.
"Dad...sedang apa Dad disini..?"tanya Levin dingin.
"Hhh...kau ini tidak pernah berubah. Aku hanya rindu pada cucu cucuku dan putri kesayanganku. Jadi Dad pulang lebih awal..."
Levin memberengut kesal. Karena jika ada Dady Jon...Keyra, istrinya lebih memperhatikannya dibanding suaminya.
"Listen Son...Dad belum menemui putriku. Jadi manfaatkan waktumu..."ucap Jon dengan menyeringai.
"Oh c'mon Dad...not again.."Levin mengacak rambutnya kesal. Lalu dengan tergesa berlari keluar ruangan tanpa berpamitan pada putra2 nya.
"Kenapa dengan Daddy, grandpa...?"tanya Owen namun dibalas dengan tawa renyah dari Jon.
"Hhaha...kalian tahu...Daddy kalian cemburu pada Grandpa.."
"Kemarilah....grandpa ingin bercerita banyak pada kalian..."
Jon, Leon dan Owen duduk disofa panjang.
Jon menceritakan seluruh perjalanan hidup putranya hingga dia pada akhirnya bertemu dengan Keyra. Putri menantu kesayangan keluarga Ferdinand.
Sedangkan ditempat lain...tak jauh dari ruangan itu.
Keyra sedang didapur mewah bersama chef Rio. Tempat ini berpenghuni sekitar 50 orang. Dan mereka semua tanggung jawab chef Rio di bantu oleh beberapa chef lainnya.
Namun kali ini Keyra sedang ingin membuat cake kesukaan sikembar dan Daddynya. Karena mereka akan datang ke tempat ini untuk pertama kalinya.
Keyra dengan terus tersenyum mengocok adonan yang sebentar lagi selesai.
"Nona...mau saya bantu..?"Chef Rio menawarkan bantuan padanya.
"Oh tidak Terimakasih. Kak Chef lanjutkan saja memasak yang lainnya. Sebentar lagi jadwal makan siang bukan..?"
Chef Rio tersenyum.
Majikannya satu ini sangat sopan dan lembut
"Nona terus memanggil saya seperti itu.."
Keyra terkekeh.
"Karena Kak Chef seumuran dengan suamiku.."
"Kenapa sayang...memanggilku.."tiba tiba sebuah tangan kekar melingkar sempurna ditubuh Keyra. Sempat terkejut namun Keyra kembali tenang...siapa lagi yang berani melakukan hal ini jika bukan suami dan kedua putra kembarnya.
"Dan kau Rio...kau menggoda istriku lagi.."Levin melirik tajam pada Chef disampingnya walaupun masih ada jarak diantara mereka.
Rio menggelengkan kepala.
"Saya tidak berani Tuan..."
"Alasan saja kau ini. Aku sering mendengarmu dan istriku mengobrol.."
"Tapi itu kan tentang masakan Tuan. Nona cantik ini kan suka sekali memasak..."
"Hey....lihat...lihat...kau sudah berani memanggil cantik pada istriku didepanku..."
Keyra sama sekali tak menanggapinya.. Dia terus saja menyelesaikan pekerjaannya. Dia tahu...saat Rio dan Levin bertemu pasti akan terjadi perang dunia. Jadi biarkan saja..
"Memang dia cantik kan..."
"Tapi tidak seharusnya kau mengatakan itu didepanku..."
"Lalu aku harus mengatakan didepan orang lain..aneh sekali kau ini.."
"Apa kau bilang ...aku aneh. Kau yang membuatku aneh.."
Istriku cantik hanya aku yang boleh memujinya.."
"Baiklah...baiklah...aku tidak ingin berdebat denganmu.."
"Maafkan aku...karena sudah mengobrol dengan istri cantikmu..."Rio menekankan nada bicara pada Levin saat mengatakan dikalimat terakhirnya.
"KAU..."Levin hampir saja mencengkram leher Rio jika dia tidak merasakan sentuhan lembut seseorang dipundaknya.
"Cukup..."
Levin memutar badan dan langsung merubah raut wajah seramnya.
"Sayang...dia menggodamu.."
"Tapi aku tidak tergoda.."
Jawaban sang istri membuat amarah Levin menguap entah kemana. Dia langsung mengangkat tubuh Keyra dan memeluknya erat. Posisi ini selalu disukai pria gagah ini.
Keyra melingkarkan kedua kaki dipinggang Levin.
"Benarkan kau tidak tergoda..?"Keyra menggelengkan kepalanya cepat.
Rio yang masih di belakang mereka hanya memutar bola matanya jengah. Heran sekali...seorang pria dingin dan tegas hanya bisa bermanja manja dengan satu wanita cantik ini.
"Jika dia terus menggodamu aku akan patahkan tangannya biar dia tidak bisa memasak lagi.."
"Kau ini...jangan lupa dia juga sahabat kecilmu.."ujar Keyra dengan terkekeh.
Ya...Rio dan Levin adalah sahabat kecil yang lama tidak bertemu. Empat tahun lalu mereka bertemu disebuah restoran. Dan Levin langsung membawanya ke markas besarnya ini.
"Siapapun tidak boleh menggodamu dan merebutmu dariku.."Levin terus mengecup bibir Keyra berkali kali.
Keyra terkekeh geli.
"Aku menginginkanmu..."bisik Levin ditelinga sang istri. Dan langsung melangkah cepat menuju kamar pribadi mereka tanpa menunggu jawabannya.
Karena langkahnya Keyra spontan mengeratkan pelukan dileher sang suami.
"Kak Chef...tolong jaga cake buatanku ya. Jangan biarkan gosong..."
Rio tertawa geli.
"Siap Nona. Dengan senang hati.."
"Puaskan bayi besarmu Nona...aku bosan melihat dia cemburu terus.."jawab Rio dengan tawa kerasnya.
"BULAN INI GAJIMU AKU POTONG ..RIO..!"
Suara teriakan pria membuat Rio membungkam tawanya.
*******
"Moommm....Dadd..."panggil Leo dengan suara kerasnya.
"Moooommmm...."Owen turut menyahut.
"Tuan muda..."tiba tiba seorang pria berpakaian ala chef menghampiri dan menyambutnya sopan.
"Tuan Muda Leo...Tuan Muda Owen....Tuan Besar Jon..."Rio mengulang dengan menundukan badannya.
"Selamat datang.."
"Anda...?"tanya Leo.
"Saya Chef Rio. Nona Keyra sudah menyiapkan cake kesukaan Tuan Muda. Mari..."Rio membantu mereka menuju meja makan.
"Mommy dimana...?"tanya Owen.
"Nona Keyra bersama Tuan Levin.."
"Dimana..?"
"Dilantai tiga..."
"Ayo Owen ...."Leo segera melangkah cepat didepan Owen. Namun terhenti saat suara Rio menghentikannya.
"Tapi Tuan Muda...Tuan Levin melarang siapapun mengganggunya.."
"Kecuali mereka.."suara Jon dengan senyum diwajahnya.
"Rio...bagaimana kalau temani aku makan cake buatan putriku ."
Perintah Tuan Besar tak bisa dia bantah lagi.
"Baik..mari Tuan Jon.."jawabnya pasrah.
"Moomm..."
"Moomm..."
Mendengar panggilan keras dari sang putra kembar, Keyra segera mendorong Levin yang terus saja memeluknya.
"Kak...please.."Keyra segera beranjak dari atas kasurnya. Lalu dia dengan tergesa memunguti baju bajunya dan segera masuk kedalam kamar mandi.
"Sayaang.."teriak Levin tak terima perlakuan sang istri.
"Ok i'm sorry. But please...putra putramu didepan pintu. Wake up and open the door..."teriak Keyra dari kamar mandi.
Levin terkekeh geli. Istrinya ini lucu sekali.
Meskipun dia kesal tak ketinggalan dia meminta maaf padanya.
"Ok Honey..."jawabnya dengan senyum yang terus mengembang.
Ceklek...
"Mom..."Owen langsung saja masuk. Namun panggilannya terhenti saat melihat penampilan Daddynya.
Leo menyusul dibelakang Owen.
"Mom...where are..?" Leo pun sama sama terkejut melihat penampilan Levin yang....
"Hi boys..."sapa Levin santai.
"Dad...kenapa Dad selalu menahan Mommyku..?"kesal Owen.
"Dimana Mommy..?"suara dingin Leo dan tatapan sinisnya pada sang Daddy tidak menjawab pertanyaannya.
Levin mengerutkan keningnya mendapat tatapan dari putra sulungnya. Benar benar dia mewarisi sifatnya..batinnya.
"Hhh...."Levin menghela nafas dan berbalik badan menaiki kasur kembali.
"Kalian ini selalu saja menggangggu Daddy.."ujarnya bersidekap dada dengan santainya dan duduk bersandar diranjang kasurnya.
"Apa kalian tidak ingin punya adik..?"
Ucapan Levin sontak membuat Leo dan Owen membelalakan mata.
"Whaatt...!!" teriak mereka bersamaan.
Ceklek
"Hi boyys..."Keyra keluar dari kamar mandi dengan merentangkan kedua tangannya dan dengan senyum yang terus mengembang.
"Moomm..."Leo dan Owen langsung berlari menghambur kedalam pelukan Mommynya. Dan membawanya menuju sofa panjang didalam ruangan itu.
Levin melihat perlakuan mereka tersenyum gemas.
"Seperti tidak pernah ketemu setahun saja.."
"Maaf kalau Mommy tidak langsung menyambut kalian.."
"Its ok Mom...bukan salahmu..ini salah Daddy.."Leo terus mengecup berkali kali pipi dan pelipis Keyra. Hilang sudah sifat dingin dan tatapan sinis tadi dan berubah menjadi kemanjaan seorang anak pada ibunya.
"Heyy...kemana tatapan sinis tadi padaku. Sangat tidak adil.."batin Levin kesal.
"Mom...Mommy akan terus menyayangiku kan..?"Owen bertanya sambil mengeratkan pelukan diperut Keyra dan mencium berkali kali pipinya.
Keyra mengerutkan keningnya tak mengerti.
"What do you mean dear...?"
"Of course..Mommy akan selalu menyayangimu. Menyayangi kalian. Sampai akhir hayatku..."ucapan Keyra membuat Owen berkaca.
"I love you Mom. Apapun yang terjadi dimasa lalu kami.."ucapan Leo membuat jantung Keyra berdenyut. Dia mengerti sekarang.
"I love you too Mom. And i'm sorry...jika kami sempat meragukanmu. I'm sorry..."isak Owen.
Keyra memeluk Owen. Dia menangkup wajah satu persatu putra kembarnya dan menciumi wajah mereka bergantian dengan sayangnya. Air mata Keyra membasahi wajah putra kembarnya.
"Maafkan Mommy. Tidak seharusnya Mommy menutupi asal usul kalian. Mommy hanya takut kalian akan malu. Berkali kali Daddy dan Grandpa membujuk Mommy untuk tidak perlu menutupi jati diri kalian. Tapi Mommy sangat keras kepala. Maafkan Mommy...maaf..."Keyra menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Suara isak tangisnya membuat siapa yang mendengarnya tak tahan untuk memeluknya.
Leo dan Owen memeluknya dari kanan kirinya. Levin segera beranjak turun dari kasurnya tak tahan melihat isak tangis sang istri tercinta.
"Honey...honey....please. Don't cry like this.."ujar Levin berusaha menarik kedua tangan Keyra dari wajahnya.
Leo dan Owen menguraikan pelukan mereka.
"Honey...kumohon...jangan menangis.."Levin mengusap air mata Keyra.
"Ini bukan salahmu sayang. Kau tidak keras kepala. Kau begitu mencintai mereka maka dari itu kau ambil keputusan itu. Dan aku mengerti sayang.."Levin menangkup wajah Keyra membujuknya.
"Dan sekarang putra putra kita sudah besar...lihatlah mereka juga sangat mencintaimu. Mereka tidak menyalahkanmu. Lihatlah..."Keyra menoleh kekanan dan kekiri...menatap Leo dan Owen. Melihat senyum mereka.
Keyra tahu...mereka tidak menyalahkannya. Tapi tetap saja dia merasa bersalah. Levin menangkup kembali wajah Keyra.
"Jika kau mencintai kami maka hilangkan rasa bersalahmu itu sayang..."
"Kami akan merasa tersakiti jika kau terus bersedih.."
Levin, Leo dan Owen...benar benar seperti satu hati satu jiwa. Kata kata yang diucapkan Levin benar benar mewakili perasaan Leo dan Owen.
Keyra memeluk Levin.
"Maaf....maaf..."ucap Keyra berkali kali diceruk leher Levin. Levin mengusap lembut punggung Keyra dan mengecup puncak kepalanya.
"I love you Honey.."hanya itu yang diucapkan Levin. Karena sama sekali istrinya ini tidak bersalah. Levin mengedipkan mata pada sikembar.
"I love you My Best Mom.."
"I love you My Beautiful Mom..."
Leo dan Owen bersamaan memeluk Keyra dan Levin.
Keyra tersenyum disela sela isakannya. Sebutan sikembar padanya membuatnya terharu.
"And I love you all My Best Man.."
Mereka semua tertawa bahagia.
"Ehem.."suara besar membuat mereka berhenti tertawa dan menoleh ke sumber suara.
Tanpa disadari oleh mereka...Jon dan Rio dari tadi berada diluar pintu kamar itu. Ingin masuk karena ternyata tidak tertutup rapat..namun mereka urungkan karena mendengar isak tangis Keyra dan suara Levin sedang membujuknya.
"Daddy..."Keyra terkejut melihat kedatangan Daddy Jon. Dia langsung bangkit berdiri.
"Helo my princes...siapa yang membuatmu menangis seperti itu hmmm...come here....peluk Daddy..."Jon merentangkan kedua tangannya menyambut putri tersayangnya.
Keyra semakin terisak dan berjalan menghampiri Daddynya.
Dia langsung memeluk tubuh tinggi Daddy dan menangis tersedu.
"Daddy....Daddy..."
"Yes ...its me...your Daddy.."
"I miss you Dad..."
"I miss you too my dear.."mata Jon berkaca. Isak tangis Keyra sangat membuatnya terharu. Pasti ada yang dipikirkan oleh putrinya ini.
Levin, Rio, Leo dan Owen...memandang haru pemandangan didepannya.
"Tadi malam aku bermimpi bertemu dengan Ayah....Dad..."Keyra akhirnya mengatakan yang sebenarnya disela sela isakannya.
Benar kan..batin Jon.
Entahlah semenjak mengenal Keyra...Jon merasa hatinya selalu terkait dengan wanita cantik ini. Sepertinya memang Ayah Keyra benar benar ingin dia menjaga putri tunggalnya.
Levin terkejut...dia tidak tahu jika istrinya bermimpi bertemu dengan ayahnya. Biasanya ...apapun yang selalu dimimpikan Keyra selalu dia ceritakan pada sang suami. Apapun itu.
"Lalu ...apa Ayah mengatakan sesuatu padamu..?"tanya Jon. Dan Keyra menganggukan kepala.
"Ayah bilang...Jika aku rindu ayah. Maka aku harus menemui Daddy. Karena ayah akan selalu bersamamu Dad.."tanpa sadar Jon meneteskan air matanya.
"Dan sekarang kau sedang rindu pada ayahmu...?"Keyra menggelengkan kepala. Tapi sekaligus menganggukan kepala.
Jon mengerutkan keningnya.
"Tadinya rindu. Sekarang sudah ada Daddy rinduku terobati. Apa Daddy tidak marah...?"
"Tentu saja tidak sayang..kau putriku. Daddy sangat beruntung ayahmu mempercayakanmu padaku. Dan Daddy harus menjaga kepercayaannya itu..."
"Tapi apa sama sekali kau tidak rindu padaku sayang. Sebagai Daddymu..?"
Keyra kembali menghamburkan pelukannya pada Jon.
"Of course i miss you Dad.."
"Daddy dan Mommy adalah orangtuaku. Aku sayang kalian..."
Daddy tersenyum dengan mengusap lembut rambut panjang Keyra.
Jon melihat ketiga lelaki didepannya.
Dia terkekeh geli saat melihat penampilan Levin. Bertelanjang dada, hanya memakai celana pendek dan dengan angkuhnya bersidekap dada.
"Nak...katanya kau membuat cake. Bagaimana kalau kita makan..?"
"Oh ya...aku lupa. C'mon Dad..."
"C'mon boys..."tak lupa Keyra memanggil putra kembarnya
"Ayo Mom..."
"Heii honey...what about me..?"teriak Levin tak terima karena Keyra tak menyebut namanya.
"Sebaiknya kau pakai dulu bajumu Nak. Sungguh kau tidak malu..?"kekeh Jon.
"Kenapa harus malu Dad. Kalian selalu menggangguku saja..aisshh..."teriak Levin kesal. Melihat mereka dengan santainya membawa wanita tercintanya.
"Cepatlah kau pakai bajumu jika tidak ingin mereka menjauhkan istrimu darimu..hahaha.."Rio berlari cepat setelah meledek Levin.
"Sialan kau Rio. Kupecat kau..."Levin berteriak sambil berlari hendak mengejar Rio namun dia urungkan. Karena penampilannya.
"Asal kau tahu saja. Kau tidak bisa memecatku tanpa persetujuan Keyra. Kau ingat itu.."ancam Rio. Pada kenyataannya Keyra lah yang tak ingin Rio dipecat. Karena Rio lah yang mengajarkan Keyra untuk membuat cake.
"You crazy Rio. I will kill you..."teriaknya menggema diseluruh ruangan.
"Kak Leeviinn..."suara istrinya membalas teriakan Levin.
Levin mematung seketika.
"Ok...Honey...."Levin menutup mulutnya dan segera berlari kedalam kamar mandi.
****
Drrtt....ddrttt..
Levin segera mengangkat ponselnya saat tertera nama Fero.
"Lev...kita harus bertemu.."
Levin mengerutkan keningnya. Pasti terjadi sesuatu.
"Lanjutkan.."
"Ini mengenai Keyra..."
Deg
"Keyra dalam bahaya.."
Jantung Levin spontan berdebar cepat. Aliran darahnya terasa naik keseluruh tubuhnya. Matanya memerah, rahangnya mengeras, tangannya mengepal.
"Nanti malam...kita semua berkumpul di rumah besar.."ucapnya tegas dan dingin.
"Ok...akan kuhubungi yang lain.."