My Two Men Protector

My Two Men Protector
11.



"Kenapa ade gue Lev.." tanya Fero saat baru saja melihat adiknya digendong oleh Levin. Mereka baru saja sampai dirumah setelah perjalanan dari kampus.


"Hanya kelelahan dan tertidur" ucap Levin santai.


Ya..setelah beberapa kepanikannya di kampus melihat kondisi Keyranya, namun saat dimobil nafasnya mulai teratur dengan nyaman menandakan dia baik baik saja Levin menjadi tenang kembali.


"Sini biar gue yang gendong" ucap Fero


"Tidak usah. Biar gue aja.."jawab Levin dengan segera menuju lantai dua kamar Keyra. Dia pun sempat minta izin dengan Bundanya Key sopan.


"Permisi Bunda.." ucap Levin seraya melewati Bunda.


Bunda menganggukan kepala dan tersenyum.


Fero dan Bunda melihat Levin yang sedang menggendong Key dengan tersenyum.


"Bun..sepertinya kita sudah mulai bisa tenang, kita sudah menemukan orangnya. " ucap Fero dengan merangkul Bundanya.


"Ya..kamu benar Nak." jawab Bunda.


------------------


"Eeenngghhh.." erangan Key dari tidurnya.


Dia tiba tiba saja terbangun oleh suara perut yang keroncongan. Lalu dia menatap kesamping atas melihat jam dinding yang menempel disana.


"Jam 5.." ucap Key lirih


Dia pun bangkit dari tidurnya dengan badan sempoyongan layaknya orang bangun tidur yang belum terkumpul sepenuhnya.


Dia melangkah kekamar mandi. Melakukan aktifitas disana. Beberapa menit kemudian dia keluar dengan wajah masih basah. Meskipun masih belum sepenuhnya sadar dia tetap melakukan kewajibannya.


"Assalamualaikum wr wb." Key menengok kekanan


"Assalamualaikum wr wb." Key menengok ke kiri.


Sesaat setelah itu Fero datang menghampirinya mengingat kamar Key tidak pernah terkunci.


"Tumben sudah bangun.." ucap Fero. Lalu ikut terduduk dilantai disamping Keyra.


"Ehhm.. Badan Keyra lemes banget Kak , laapperrr" ucap Keyra manja.


"Tapi kan masih jam segini Ka pasti Bunda belum masak. " lanjut Keyra dengan terkejut. Sepertinya dia ingat sesuatu hal yang sangat penting.


Hening sejenak.


"KAK..." teriak Key membuat Fero tersentak.


"Astaghfirulloh..Key katanya lemes laper..kenapa itu suara keras banget sii..." ucap Fero seraya mengelus kedua telinganya.


"Maaf Kak...tadi jadi inget Bunda." ucap Key lemas.


"Kak..Bunda udah tau..?" lanjut Keyra.


"Soal kafemu..?" jawab Fero. Keyra pun menganggukan kepala.


"Sudah..Kakak sudah crita sama Bunda kok." "ucap Fero


.


"Terus...terus...gimana Kak.."ucap Keyra sambil menggoyangkan lengan kekar Fero dengan manja.


"Tidak tahu..." ucap Fero dengan menaikan kedua bahunya.


Seketika rasa bersalah hinggap di hati gadis itu. Dia telah berbohong pada ibunya. Dia takut jadi anak durhaka.


Dia langsung melesat cepat turun kelantai bawah mencari Bundanya dengan berlari.


"Bundaaaa.." teriak Keyra di sela sela lari kecilnya.


"Keyyy...hati hati. Buka dulu mukenamu." teriak Fero panik dan segera mengikutinya dari belakang.


Di lantai bawah Bunda sedang menyiapkan sarapan pagi.


"Bunda..?" ucap Keyra lirih.


"Hai Keyra sayang..kamu sudah bangun" ucap Bunda saat menyiapkan sarapan dimeja makan.


"Lihat Bunda sudah siapkan makan pagi untukmu. Bunda tahu sejak kemarin sore kamu belum makan, maaf ya..Bunda sama kakakmu tadinya mau bangunin kamu tapi kami lihat tidurmu sangat nyenyak , sepertinya kamu lelah jadi tidak jadi ...maaf ya sayang." jelas sang Bunda.


Melihat Bunda di depannya yang begitu perhatian padanya Keyra hanya teringat bahwa selama ini dia telah menyembunyikan sebuah rahasia. Sungguh dan itu sangat disesalinya.


"Sayang .. Mukenamu belum dibuka.?" tanya Bunda saat melihatnya.


"Bundaaa..."


Seketika Keyra langsung berlari dan merangkul bundanya. Dan menangis dalam pelukannya.


Bunda terkejut melihat Keyra langsung berlari kearahnya.


"Sayaaangg..ada apa..? Hmm" ucap Bunda dengan memeluk erat anaknya. Namun dia jadi teringat dengan cerita anak laki lakinya kemarin sore. Dan seketika tersenyum.


"Ayo sini kita duduk.." ajak Bunda dan membawa Key duduk disofa panjang ruang tengah.


Bunda melepas pelukannya dan menangkup pipi Keyra dengan kedua tangannya.


"Keyra sayang..sudah cukup jangan seperti ini. Bunda tidak bisa melihat air matamu ..kamu tahu kan.?" ucap Bunda dengan mengusap air mata yang terus mengalir tanpa hentinya.


"Maafin Key Bunda...sungguh..Key minta maaf.." ucap Keyra dengan terisak.


"Apa ini tentang kafemu ?" tanya Bunda.


Keyra mengangguk dengan mata merah dan masih terisak.


"Sayang...awalnya Bunda kecewa karena kamu sudah tisak jujur pada Bunda. Tapi nak ... Bunda sangat tahu bahwa pasti dilubuk hatimu pasti ada suatu alasan yang mungkin tidak bisa diceritakan pada Bunda dan Kakakmu Fero." ucap Bunda seraya melirik Fero yang dari tadi mengekor terus pada Keyra sejak dari kamarnya lalu duduk manis disamping adik kesayangannya itu.


"Nak..Bunda sekarang baru menyadari bahwa putri Bunda yang satu ini sudah dewasa..jadi Bunda harus bijak dengan menghormati keputusanmu menyembunyikan ini dari Bunda. Jauh dalam lubuk hati Bunda...Bunda percaya putra putri Bunda ini pasti akan melakukan hal hal yang baik." terang Bunda dengan masih menatap Keyra.


"Tenanglah sayang...Bunda tidak marah kok," ucap Bunda memeluk Key kembali.


"Sekarang ceritakan pada kami...Bagaimana awalnya kamu berpikir untuk mendirikan sebuah kafe. Itu butuh tekad dan keberanian sayang dan sekarang kamu berhasil nak..." lanjut Bunda.


Keyra mulai menghentikan tangisnya. Sungguh dia terobati dengan perkataan sang Bunda.


"Bundaaa...Key lapar.." ucap Key memelas. Namun masih dalam pelukan Bundanya.


"Ya Tuhan maaf sayang Bunda lupa."


"Ya sudah. Kapan kapan saja Key cerita sama Bunda ya.."lanjut Bunda. "Tunggu disini...biar Bunda ambilkan.."


"Biar kakak saja Bun yang ambilin sarapan buat dede." ucap Fero tiba tiba.


Beberapa menit kemudian datanglah Fero dengan membawa nampan kecil yang berisi roti tawar dan selai coklat dan susu moca kesukaannya. Serta tak ketinggalan nasi goreng ayam dan air putih.


"Makanlah de.." ucap Fero


"Makasih ya Kak.." jawab Key dengan mengambil sepiring nasi goreng.


Dia makan semua sarapan paginya dengan lahap. Bahkan setelah nasi gorengnya habis pun dia tetap mengambil sebuah roti dan mengolesnya dengan selai coklat.


"Laper apa rakus kamu de...de.."ledek Fero dengan mengusap kepala Keyra.


Keyra yang masih memakai mukena itupun tidak mempedulikan omongan kakaknya.


"Kak...Ka Levin mana..?" ucap Key tiba tiba meskipun mulutnya masih penuh dengan makanan didalamnya.


"Hoooyyy...De..kamu sadar tidak tanya begitu...?" ucap Fero terkejut.


Keyra langsung menghentikan proses kunyahan dimulutnya. Dia juga terkejut kenapa tiba tiba teringat dengan pria posesif itu.


"Hehe....cuma inget aja.." ucap Key dengan wajah pupy eyesnya.


"Kak...kapan perban Key dilepas? Dua hari lagi Key harus tampil di kampus soalnya ka..?" lanjut Key mencoba mengalihkan pertanyaannya tentang Levin.


Kenapa hatinya rindu akan sosok pria itu ya. Rindu akan tingkahnya yang posesif.


"Nanti sore aja ya de..Kakak nanti antar ke dokter biar kontrol sekalian. Kamu hari ini kekampus..?" tanya Fero.


"Ya ... Berangkat siang Kak jam 9" ucap Key.


Setelah Keyra menghabiskan makan paginya. Dia segera naik ke atas. Melepas mukena dan merapikannya.


Saat ini Keyra sedang mengecek hasil dari kafenya melalui laptop kecilnya. Itu memang kegiatan rutin sehari harinya yang tidak pernah dia lupakan.


Saking asyiknya menatap kerjaan dilaptopnya dia tidak menyadari kedatangan Bundanya.


"Key...Keyra sayang..." ucap Bunda mendekati Keyra.


"Bunda.." jawab Key dengan segera menoleh kebelakang. Dilihatnya Bunda sedang menatap layar laptopnya yang sedang Keyra kerjakan.


"Apa ini hasil dari kafemu sayang..wow...keren juga anak Bunda." ucap Bunda melihat data penjualan yang ada dilayar laptop itu.


"Mana...mana Bunda..." teriak Fero tiba tiba masuk kekamar Keyra.


"Waahhh...dedeku yang cantik ini bakal jadi sainganku nih. Keren banget .." puji Fero.


Dia tidak menyangka adik kesayangannya dibalik kemanjaannya dia juga sangat pintar dan mandiri.


"Bundaaa...Kak Ferooo...jangan ngledek deh.." ucap Keyra dengan memanyunkan bibirnya dan segera menutup layar laptopnya.


"Bunda...maafin Key ya. " ucap Keyra kembali.


"Bunda maafin kamu sayang..." jawab Bunda


"Sekarang mau crita ke Bunda kenapa kamu rahasiaan ini ke Bunda" lanjutnya.


"Ke Kakak juga dong...kakak kan juga belum denger ceritanya. "ucap Fero tidak mau kalah.


Mereka pun bertiga akhirnya duduk disofa panjang yang ada didalam kamar Keyra.


"Sebenarnya kafe ini Key bangun setelah satu tahun meninggal Ayah." ucap Key lirih. Seketika Fero dan Bunda saling memandang.


"Waktu itu Key masih tidak bisa melupakan Ayah. Key bingung dan sakit kepala saat memikirkan kenapa Ayah ninggalin Key. Key yakin Ayah meninggal karena dibunuh Bunda tapi melihat berita yang beredar kalau Ayah meninggal karena kecelakaan. Hanya itu yang setiap hari ada dipikiran Key.


"Key sudah seperti orang gila tapi Key masih sadar Bunda. Sampai suatu hari...Key bertemu seseorang." ucap Key mulai terisak.


"Namanya Pak Anton .." ucap Key kembali yang membuat Fero terkejut.


"Maksudmu Paman Anton yang di kafe itu?"tanya Fero. Keyra menganggukan kepalanya.


"Bunda tahu...Key bertemu dengannya disebuah pemakaman dekat makam ayah Bunda. Keadaan paman saat itu sangat lusuh dengan menggendong seorang anak kecil. Entahlah..waktu itu tiba tiba ingin sekali menyapanya."


"Lama kelamaan kita saling kenal, yang Key heran. Ternyata paman itu dulu seorang direktur sebuah perusahaan. Namun karena banyak musuh yang iri dengannya, mereka berusaha menghancurkannya. Mereka berbuat kejahatan dengan menculik istri dan kedua anaknya. Saat itu paman hanya dengan anak bungsunya. Jadi mereka selamat. Tapi tidak dengan istri dan kedua anaknya...mereka dibunuh Bunda." isakan Key berubah menjadi tangisan sedih.


"Perusahaan paman diambil paksa oleh musuhnya, karena paman sedang berduka dia tidak bisa berbuat apa apa. Mereka sudah menghancurkan keluarga yang bahagia, paman melamar kerja kesana kemari untuk menghidupi putra bungsunya tapi tidak ada yang mau terima. Mungkin itu juga atas kelicikan musuh musuhnya paman.


"Takdir yang dialami paman tidak jauh beda dengan yang dulu Key alami. Bahkan mungkin lebih menderita. Tapi dia tetap kuat dan tegar Bunda. Demi anaknya. Lalu Key berpikir kembali..Paman yang kehilangan tiga orang kesayangannya sekaligus saja masih saja kuat..kenapa Key tidak bisa.?? " ucapan Keyra membuat Bunda dan Fero meneteskan air mata.


"Key tidak tahu dan belum bisa menangani sakit Key saat trauma itu datang. Tapi saatnya Key bangkit dan berusaha menjadi pribadi yang mandiri yang tidak merepotkan."


Keyra menarik tangan Bunda dan tangan Fero.


"Bunda...Kak Fero...maafin Key kalau tiba tiba sakit itu datang ya.." ucap Key pada mereka dengan mata merah terus mengalir. Seketika mereka memeluk Keyra erat.


Tanpa mereka sadari. Ada satu orang dibalik kamar Keyra yang ikut bersedih. Ingin rasanya berlari dan memeluk gadisnya itu.


"Bunda..Kak..Key ga bi sa na fas." ucap Key terbata bata karena dia dipeluk erat oleh Bunda dan Fero.


"Oh maaf sayang...Bunda khilap.."


"Dengar Bunda sayang...tidak ada yang perlu dimaafkan. Kita adalah keluarga . Kamu dan Fero adalah kekuatan Bunda, Bunda tahu rasanya yang dialami Pak Anton."


"Sakit apapun yang kamu derita ..kamu jangan rahasiakan dari kami karena itu sungguh menyakitkan nak. Berjanjilah pada kami .. Hmm.." ucap Bunda dengan menangkup kedua pipi Key.


Keyra menganggukan kepala.


"Key janji Bunda." janji Key. Meskipun dalam hatinya dia ragu. Sungguh dia tidak ingin melihat Bundanya sedih.


Bunda mencium kening Keyra. Lalu beralih menatap Fero.


"Dan kamu Fero...kamu harus tetap jagain Keyra meskipun dia sudah bisa mandiri. Sampai dia punya pendamping sendiri dan kamu pun sudah dengan pendampingmu." ucap Bunda tegas.


Tanpa diminta pun Keyra adalah tanggung jawabnya. Apalagi dia adalah adik kesayangannya. Fero pun tahu yang dimaksud Bunda dengan harus tetap menjaganya meskipun dia sudah bisa mandiri.


"Fero janji Bunda.." ucap Fero dengan tegas pula. Bunda pun mencium kening Fero.


"Bunda mencintai kalian." ucap Bunda dengan tersenyum.


Bunda keluar dari kamar Key terlebih dahulu. Dan dia terkejut saat keluar dari kamar dilihatnya seseorang yang sudah tidak asing lagi.


"Nak Lev.." ucap Bunda namun terpotong karena tiba tiba Levin memberi tanda dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya. Levin memohon pada Bunda agar tidak memberitahu pada mereka kalau dia ada didepan kamar Key.


Bunda mengangguk dan tersenyum. Levin menarik tangan Bunda dan mencium punggung Bunda. Bunda mengelus pundak Levin.


"Bunda kebawah dulu mau masak." bisik Bunda pada Levin.


Levin hanya mengarahkan jempolnya.


#bersambung#