My Two Men Protector

My Two Men Protector
64.



Keyra pov.


Tak terasa usia kandunganku sudah masuk ke tujuh bulan. Woooww... Jika kalian melihatku pasti akan sangat terkejut. Perutku sangat sangat besar.


Tapi aku harap kalian jangan lupa kalau aku mengandung baby twin.


Berat...of course.


Tapi aku tak pernah memperlihatkannya pada mereka. Kalian tentu tahu siapa yang kumaksud.


Tapi jangan salah juga...selama aku hamil aku tak pernah melewatkan latihanku. You know what i mean..?


Yaa....latihan yang selalu aku lakukan disaat belum hamil. Senam hamil itu sudah pasti. Yoga...itu salah satu hobiku. Dan latihan karate yang dulu aku sering lakukan...menurut kalian apakah aku masih melakukannya...??


Hsssttt...ini rahasiaku, Momy dan Bunda.


Aku masih melakukan latihan karate. Tapi tentu saja tidak seberat sebelum aku hamil. Ada master khusus yang melatihku. Aku melibatkan Momy dan Bunda..tentu saja dan itu harus. Karena aku tidak bisa kemana mana tanpa salah satu keluarga menemaniku. Dan jika untuk satu hal ini mereka lah yang menemaniku. Oh God... Love you so much My Momy and My Bunda.


Dan hasil dari semua latihanku....badanku tidak terlalu besar bahkan aku merasa sangat kuat.


Entahlah mungkin aku merasa anak anakku yang ingin menjadi kuat untuk melindungiku. Karena setiap suamiku berbicara pada mereka dia selalu mengeluarkan kata kata "Jadilah anak anak yang baik dan kuat disana baby's agar bisa melindungi Momy kalian. Dan setelah kalian keluar nanti Dady dan kalian harus menjaga Momy kita. Ok.. "


Itulah kata kata pengantar tidur ...no...no...lebih tepatnya pesan dan titah seorang raja pada pangerannya.


"Sayaaanngg... "


Panggilan itu membuyarkan lamunanku. Aku yakin dia pasti mencariku.


"Aku disini Kaaakk...diruang kerja Dady.."jawabku dengan berteriak juga.


Entahlah aku suka sekali diruang kerja Dady karena tempatnya dilantai bawah dan terasa segar. Karena jendelanya mengarah ketaman rindang sehingga udara yang masuk ke ruangan benar benar sangat alami.


"Sedang apa disini sayang...?"


"Tidak ada.. "jawabku apa adanya. Karena memang aku tidak melakukan apapun. Hanya sedang duduk santai sambil mengelus perut besarku.


Kak Levin mengecup keningku lama lalu berjongkok mengecup perutku.


"Pagi sayangnya Dady...sepertinya kalian senang jika Momy kalian libur. Kalian selalu bisa menguasai wanita cantik ini dan bersembunyi dariku.." Kak Levin mulai berbicara dengan mereka yang ada diperutku.


Aku hanya bisa tersenyum geli.


Oh ya...aku masih bekerja sebagai sekretaris suamiku. Tapi bisa disebut aku tidak bekerja. Mungkin lebih bisa disebut menemani. Hhh....itu keinginannya.


"Kak..."


"Hmmm.."


"Apa seluruh keluarga sudah datang..?"tanyaku karena memang hari ini akan ada acara untuk memperingati usia kandunganku yang ketujuh bulan. Hanya acara keluarga...mengundang keluarga dari kedua belah pihak. Dan teman teman kuliah Max cs dan tentu saja karyawan kantor tempatku bekerja.


Jika seluruh karyawan perusahaan keluarga Ferdinand hadir ...waahh akan jadi pesta yang sangat besar.


"Mereka semua sudah datang karena itu aku mencarimu.."


"Baiklah...ayo..." aku mulai mengangkat tubuh beratku perlahan. Dan anehnya bukan aku yang meringis tapi suamiku.


Kak Levin membantuku dengan raut muka yang sangat sangat ketakutan.


Aku hanya tersenyum geli.


Dia memegang lenganku dan merengkuh pinggangku erat.


"Kenapa dengan wajahmu Kak..?"tanyaku geli. Karena sungguh lucu dilihat.


"Bagaimana bisa kau tertawa geli disaat seperti ini. Aku tidak tega melihatmu sayang..." Kak Levin mengecup pelipisku sambil keluar ruangan.


Lagi lagi aku hanya tersenyum geli.


"Percayalah Kak...bahkan aku masih bisa melawan dua orang sekaligus.."jawabku asal.


"Sayaaanngg...." teriak Kak Levin memperingatiku.


Ups aku lupa. Dia sungguh tidak suka mendengar tentang keahlianku. Bukan karena iri...percayalah suamiku sangat ahli dalam hal bela diri. Bahkan melebihiku. Tapi dia tidak suka karena keahlianku selalu membawa derita untukku sendiri. Yaah aku menyadarinya.


"Maaf..."ucapku lirih.


"Aku maafkan..." jawabnya dengan mencuri kecupan dibibirku.


Keyra pov end


"Ya....Ya...silahkan kalian bermesraan. Anggaplah kami hanya menumpang di bumi ini..." suara Max mengejutkan Keyra.


Dia tak sadar bahwa dirinya sudah berada didepan seluruh keluarga Ferdinand.


Dan Levin ...dia tetap santai menghiraukan ucapan Maxy. Dia terus berjalan menuntun Keyra istrinya mendekati keluarganya.


Maxy Kevin dan Rey berlari mendekati Keyra bermaksud menggantikan Levin tapi malah tatapan tajam darinya


"Mau apa kalian..!"


"Membantu Kakak Keyra.." ujar Rey


"Kalian tak lihat ada aku disampingnya..!"


"Tapi pasti Kakak Key ingin aku yang mendampinginya.." sekarang giliran Kevin mencoba menyentuh lengan Keyra namun segera ditepis oleh Levin.


"Siapa kau...!"


"Aku adik kesayanganya..."


"Whaaatt...!"


"Pergi kalian...!"


"Tapi aku tak bisa pergi jauh dari Kak Keyra.." dan sekarang Maxy penuh dengan lebainya menambah suasana semakin tak sehat.


"Are you Crazzyy..." teriak Levin tak kuat menahan emosinya.


Dan Keyra dengan sabar hanya menggelengkan kepala. Dia menoleh kearah Dady yang dari tadi memperhatikannya dengan senyuman.


Keyra mengedipkan matanya pada Dady Jon.


Seolah tahu maksud dari putri kesayangannya dia mendekat pada mereka yang masih sibuk berdebat.


Dady Jon mengulurkan tangannya pada Keyra.


"Come sweety..."dengan mudah dan tak pikir panjang Keyra menyambut uluran tangannya.


"Thank you Dad.."


Keyra terlepas dari kungkungan empat pria tampan dengan lega.


"Anything for you dear.."


Keyra dituntun perlahan oleh Jon tanpa memperdulikan keributan yang diciptakan oleh anak anaknya.


Saat sadar mereka berteriak.


"Dad..."


"Uncle.."


Teriak mereka berempat bersamaan.


"Dad tidak tahu akan apa jadinya jika satu lagi pengawal pribadimu datang.."ucap Jon sambil membantu Keyra duduk disamping Momy dan Bundanya.


" Ya itu benar. Momy juga tidak bisa membayangkan..."timpal Momy.


"Bagaimana perasaanmu sayang.." tanya Bunda.


"Key baik baik saja Bunda. Seperti biasa.." jawab Keyra dengan wajah cerianya.


"Apa Kak Fero belum datang juga..?"


"Dia mungkin akan datang terlambat sayang. Ada rapat darurat dan sangat tidak bisa digantikan. Dady sudah memperingatinya jika sudah selesai langsung kemari..."


Keyra nampak murung.


"Baiklah..."


Jon tahu arti dari wajah murung putrinya.


Tak lama acara dimulai dengan penuh kesederhanaan. Banyak para tamu dan keluarga terkagum dengan acara ini. Karena belum pernah melihatnya.


Para uncle, para aunty, Momy, Bunda, Rey Kevin Maxy Sandy, teman kulian mereka, teman dari Levin, karyawan Levin dan banyak lagi yang hadir diacara itu. Hanya satu yang Keyra nantikan belum hadir.


Dia terus memandangi pintu masuk namun tak kunjung datang.


Tawa bahagia dan wajah cerianya menutupi kerinduan pada Kakak Kandungnya itu.


"Apa Fero belum datang..?" tanya Jon pada Levin.


"Belum. Barusan dia menghubungiku katanya ada kendala sehingga sulit untuk ditinggalkan.." jawab Levin dengan nada kesal.


"Bodoh. Aku menempatkan dia sebagai pemimpin. Masa tak bisa membuat keputusan. Awas saja kalau dia membuat putriku bersedih gara gara meeting sialan itu..." ucap Jon dengan geram.


Acara selesai sudah namun sosok Fero belum datang juga.


"Kak...Dad....Kak Keyra belum makan apapun dari tadi. Kami sudah membujuknya tapi dia malah menangis.." tiba tiba Sandy datang menghampiri Levin dan Jon sambil berlari.


"Apa. Kenapa menangis..?" Levin terkejut dibuatnya.


"Ayo cepat. Mungkin denganmu dia mau makan. Bahkan Momy dan Bunda sudah membujuknya tapi Kakak hanya menangis tanpa berkata apa apa.." Sandy menarik lengan Levin


Levin dan Jon mengikuti Sandy. Saat sudah didekatnya dia bisa melihat Keyra duduk dikelilingi oleh beberapa keluarga yang sangat khawatir padanya.


Levin berlutut didepan istrinya. Dia mengusap air mata yang mengalir dikedua matanya.


Keyra menatap Levin dengan bersalah.


"Maaf..."


"Kenapa minta maaf sayang..?" tanya Levin dengan lembutnya sambil mengecup kedua matanya.


"Make you worry..."


"Lalu kenapa kau menangis sayang..?"


"Apa tidak suka dengan acaranya..?" tanya Levin. Bahkan dia sudah tahu kenapa istrinya bersedih.


"Tidak...tidak.." Keyra menjawab dengan cepat sambil menggelengkan kepala.


"Bukan itu Kak. Aku sangat bahagia. Semua keluargaku berkumpul." ucap Keyra dengan melihat sekeliling menatap seluruh keluarganya.


"Tapi...entah kenapa hatiku tiba tiba merasa sangat sedih.." tanpa ijin air mata Keyra mengalir lagi dengan derasnya.


Levin mengerti perasaan istrinya saat ini yang sedang hamil besar.


Dia memeluknya erat.


"Maaf. Aku hanya sedang sensitif Kak.."ucap Keyra diceruk leher Levin yang sangat erat dipelukanya.


" Tak apa. Aku mengerti. Tapi mau kah kau makan sesuatu. Kasihan baby kita mereka pasti kelaparan..."bujuk Levin sambil mengusap lembut punggung Keyra.


Keyra sadar satu hal. Bagaimana dia bisa lupa kalau dia sedang hamil. Kemudian dia mengusap air matanya.


"Aku mau makan.."


Levin tersenyum.


Dia menguraikan pelukannya. Dan menerima satu piring nasi dan lauk pauknya dari Bundanya.


Keyra melihat isi dari piring itu.


"Aku tak mau makan itu Kak. Aku makan salad saja.."


"Tapi perutmu belum terisi apapun sayang.."


"Aku akan makan nasi setelah Kak Fero datang.." ucapan Keyra membuat seluruh keluarga terharu.


Ada perasaan haru sekaligus kesal mendengarnya.


"Baiklah.. "


Levin dengan sabar menyuapi Keyra.


Namun baru beberapa suapan Keyra menghentikan tangan Levin yang hendak menyuapinya.


"Kakak sudah datang.." ucap Keyra tiba tiba dengan menatap pintu masuk.


Seluruh keluarga spontan menoleh ke arah pintu masuk. Beberapa menit tak kunjung sosok itu muncul. Hingga suara langkah sepatu berlari mendekati ruangan.


Sosok itu muncul. Keyra tersenyum.


Dengan penuh keringat Fero mendekat. Tas kantorpun dia jatuhkan saat melihat satu air mata lolos dari mata adik kesayangannya. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya.


Keyra perlahan berdiri dibantu Levin.


Dengan tergesa Fero berlari mendekati Keyra dan memeluknya erat.


"Maaf sayang....maaf..."ucap Fero masih memeluk adiknya dengan terus mengecup puncak kepalanya berkali kali.


Ada perasaan senang sedih sekaligus marah yang dirasakan Keyra saat ini. Tapi dia ingin melepas rindunya pada Kakak kandung kesayangannya ini. Dia semakin memeluk erat Fero didepan semua keluarga sambil menangis tersedu sedu. Sungguh pemandangan yang mengharukan.


"Aku pikir Kakak lupa masih punya adik sepertiku.." kata kata Keyra sungguh menusuk hati Fero paling dalam.


Apa maksudnya "sepertiku".


"Apa maksudmu sayang. Kakak sama sekali tidak lupa padamu. Dan tidak akan pernah mungkin melupakanmu.."ucap Fero dengan menekan pelukannya. Dia lupa bahwa adiknya itu sedang hamil besar.


"Kak...kau terlalu erat memelukku.." isak Keyra.


Dengan sigap dan cepat Fero melepas pelukannya.


"Oh Tuhan...maaf sayang...maaf..maaf"


Fero membantu Keyra duduk kembali.


Lalu di berlutut didepannya.


"Kakak sehat...?"tanya Keyra dengan menangkup kedua pipi Fero.


Fero mengangguk dengan menahan sakit hatinya. Bukan karena adiknya menyakitinya. Tapi karena kesalahannya. Dia sadar....selama satu bulan ini dia jarang bertemu dengannya. Kerja keras Fero memimpin perusahaan yang diamanatkan Jon padanya membuahkan hasil. Perusahaannya maju pesat. Namun dia juga lupa bahwa dirinya masih punya beberapa perusahaan di Indonesia yang masih terus dipantaunya.


Hingga akhirnya dia lupa kapan terakhir kali dia bertemu dengan adiknya.


"Maafkan aku jika mengganggumu Kak.." ucap Keyra serak menahan tangis.


Fero sedih. Dia menggelengkan kepala. Kenapa harus adiknya yang minta maaf. Dia terdiam tak bisa berkata apa apa.


"Awal bulan kemarin aku ingin bertemu tapi kau keluar kota. Satu minggu berikutnya Kakak sibuk dengan proyek barumu. Dua minggu yang lalu aku ingin mengabarkan bahwa aku ingin kau datang diacara pentingku. Aku tahu jarak dari rumah ini sangat jauh. Aku tahu bagaimana sulitnya kau mengatur waktumu. Aku menyadari itu makanya aku tidak terlalu menanggapinya.." luluh sudah air mata Keyra.


"Tapi ..." isak Keyra.


"Tapi...apa kau tidak rindu padaku. Apa kau tidak rindu pada keponakanmu. Apa kau tidak rindu pada Bunda. Apa kau sama sekali tidak ingin menanyakan keinginanku ...waktu itu aku ingin makan es krim denganmu Kak... aku ingin nonton film bersamamu,dan main game denganmu. Tapi kau tidak ada Kak...kau sulit dihubungi..."


"Sayang..."Fero tak tahan. Dia ingin menenangkan adiknya namun ditahan oleh Keyra.


Momy dan Bunda ikut sedih menangis karena mereka tahu disaat Keyra membutuhkan Fero disampingnya.


"Aku marah padamu Kak. Aku benci Kakak yang tidak ada waktu untukku. Aku tidak suka Kakak yang mementingkan pekerjaannya daripada keluarganya. Aku tidak ingin Kakak seperti itu...." Keyra menangis dengan menutup wajahnya.


"Tapi aku juga tidak bisa egois Kak. Aku tidak bisa terus memikirkanmu agar terus disampingku. Maaf....maaf jika aku egois. Maafkan aku Kak....


Tapi aku benar benar merindukanmu...seperti aku merindukan Ayah..." cukup sudah pertahanan Fero berdiam diri. Dia merengkuh tubuh Keyra dalam pelukannya. Dan menangis sejadi jadinya.


"Maafkan Kakak sayangku...maaf..." Fero memeluk erat tubuh Keyra.


Keyra menangis sambil memukul dada Fero berkali kali, ingin meluapkan kekesalannya. Tak ada kata yang keluar dari bibir Keyra hanya isakan yang menggetarkan.


Fero berusaha kembali memeluk Keyra. Namun Keyra menahannya.


"Kau boleh memukulku tapi jangan membenciku sayang. Kakak mohon.."


Fero dengan paksa memeluk Keyra.


"Aku yang salah kenapa kau yang tersiksa sayang. Kumohon jangan menangis. Apa yang harus kukatakan pada Ayah jika aku telah membuatmu menangis seperti ini. Sedangkan aku berjanji pada Ayah tidak akan membuat adikku bersedih. Tapi apa yang kulakukan sekarang..."


"Aku gagal. Maaf..." isak Fero.


Keyra membalas pelukan Fero dengan segenap sayang dan rindunya.


Lama mereka berpelukan , saling melepas rindu.


Seluruh keluarga bahagia melihat mereka kembali. Mereka tahu saat saat dimana Keyra membutuhkan Fero. Levin pun tahu disaat istrinya sedang merindukan Kakak kandungnya. Sosok Kakak bagi istrinya sudah bagaikan sosok ayah juga bagi Keyra. Jadi semua keluarga memaklumi hal itu.


Apalagi dia sedang hamil besar.


"Aku lapar Kak..."suara Keyra dengan nada seraknya mengejutkan seisi rumah. Dengan kecepatan flash seseorang berlari mengambilkan makanan untuk Keyra.


"Ini Kak..." Max menyodorkan satu piring nasi penuh dengan lauk pauknya.


"Ini untuk Keyra..?" tanya Fero terheran.


"Ya. Kakak Key memang makannya segitu Kak....Kakak tidak tahu ya makanya sekali kali pulanglah..!" ucap Maxy dengan nada sinisnya.


"Maaxxx...." Momy memperingatinya. Suasana tenang kembali menegang.


"Memang nya kenapa Mom. Memang benar kan...? Kakak macam apa dia...!"


"Maxx.." Rey segera membungkam mulut pedas Max.


"Le pas kan a ku..." berontak Max.


"Aku akan bawa Max ke belakang.." Rey dan Kevin menggiring Max kebelakang dengan susah payah karena dia terus berontak.


"Lepaskan aku...aku ingin hajar dia. Dia sudah membuat Kakakku menangis. Aku belum pernah melihat Kakakku menangis seperti itu. Itu semua karena kau..."teriak Max penuh amarah.


"Kak Levin...hajar dia untukku Kak. Kau lupa saat Kak Key ingin makan masakan Fero. Tapi dia tidak bisa datang dan kau tahu apa akibatnya...Kak Key masuk rumah sakit. Kau ingat itu kan Kak..."teriakan Maxy membuat Fero mematung seketika.


Rey lagi lagi membungkam mulut Max hingga tak terlihat lagi.


Semuanya terdiam.


Fero mematung dengan mata berkaca. Ternyata dirinya telah berubah menjadi orang yang sangat jahat.


Keyra menatap Fero kemudian beralih pada Levin suaminya. Lalu memandang seluruh keluarganya.


"Aku lapar...mau temani aku makan..?"suara Keyra mengembalikan keadaan kembali tenang.


"Tentu sayang...ayo.."


"Ya..ayo kita makan. "


"Aku ingin makan di meja makan bersama kalian.."ucap Keyra dengan bahagia.


" Tentu sayang. Ayo.."Jon mengajak semua keluarganya menuju ruang makan.


Semua keluarga kembali keruang makan yang sangat besar. Keyra dibantu Fero dan Levin menuju kursi makannya.


"Maxy mana..?"tanya Keyra karena tak melihat Max duduk ditempatnya.


" Dikamarnya Kak...dia bilang akan turun.."sahut Rey.


"Aku akan memanggilnya.." ucap Keyra hampir beranjak berdiri namun..


"Aku disini Kak.." suara Max tiba tiba datang dari ujung tangga. Dia turun dan mendekati Keyra lalu membantunya duduk kembali.


"Maaf atas kelakuanku tadi Kak..." ucap Max sambil mengecup kening Keyra dan dibalas dengan senyuman olehnya.


"Makanlah..." lanjut Max.


"Kau juga harus makan Max.." perintah Keyra.


"Tentu Kak.."


Max kembali duduk ditempatnya.


"Semuanya....maaf atas kelakuanku tadi.." ucap Maxy sambil menundukan kepala.


"Dan maaf karena tidak memanggilmu Kakak tadi. Aku emosi...sekali lagi maafkan aku Kak Fero.." lanjut Maxy menatap Fero.


Fero tersenyum. Terlalu kaku setelah dirinya menyadari semuanya.


Jon memerintahkan semua keluarga memulai hidangannya.


Keyra meminta Fero untuk menyuapinya. Fero terdiam. Bukan karena tidak mau. Tapi karena dia berpikir betapa mudahnya wanita didepannya ini memaafkan semua kesalahannya. Bahkan sama sekali dia tidak mengungkitnya.


"Jika Kak Fero tidak mau...biar aku Kak Key yang menyuapimu.." timpal Maxy yang paling berani.


"Maaxxx..."semua keluarga memperingati dirinya.


" Apaaa...?"jawab Maxy asal dengan mengangkat bahunya.


"Tentu sayang...." ucap Fero tanpa sadar meneteskan air matanya.


Mereka terkejut melihatnya.


Pada akhirnya semua makan dengan tenang dan Keyra disuapi oleh Fero dengan sangat telaten. Namun begitu ada yang aneh diantara mereka yang membuat seisi keluarga tersenyum kagum.


Keyra masih dengan telaten melayani Levin suaminya. Terkadang menyuapinya, memberinya lauk dan memberinya minum.


Dan Levin tak pernah sedetikpun melepaskan genggaman tangannya pada tangan Keyra. Dia terus menggenggamnya dibawah meja.


Kejadian itu pun tak luput dari pandangan Fero.


Beberapa menit kemudian seluruh keluarga selesai dengan hidangan mereka masing masing. Keyra pun menyudahi acara makannya setelah merasa kenyang.


"Kak...ayo kita ketaman belakang.." Maxy langsung berdiri mendekati Keyra.


Keyra tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Aku ikut..." Rey berdiri


"Aku juga..." disusul Kevin


"Tunggu aku juga Kak.." rengek Sandy


Keyra dikelilingi keempat saudaranya dengan penuh canda berjalan menuju taman belakang yang sangat disukai Keyra.


Momy Bunda dan para aunty sudah meninggalkan ruang makan dan melakukan pekerjaan lainnya.


Hanya tinggal para uncle, Jon Levin dan Fero yang masih setia duduk diruang makan dengan suasana tegang.


"Ketahuilah...adikmu juga istriku..dan sepertinya sekarang aku yang lebih mengetahui dirinya dibanding denganmu.." ujar Levin tiba tiba memecah kesunyian.


Fero menoleh menatap Levin tak mengerti dengan perkataannya.


"Kau tak mengerti..?"


Fero diam.


"Aku harap kau tidak menganggap bahwa kesedihan istriku tadi hanya karena sifat manjanya atau karena keinginan saat hamil semata."


"Kau tahu sendiri sifat istriku. Dia sangat penyayang dan sangat peduli pada orang lain. Bahkan dia rela menekan keinginannya bertemu denganmu hingga masuk rumah sakit. Dan satu hal lagi...dia takut kau berubah."


"Berubah.." tanya Fero


"Kau berubah saat kau sukses. Tapi karena banyak orang yang sangat menyayanginya. Dia tidak terlalu memikirkannya. Tapi bagaimana jika kau sudah punya keluarga sendiri..?"


"Apaa..!"


Levin dan Jon dan tentunya para uncle tertawa geli.


"Fero....Dad memberikan tanggung jawab padamu diperusahaan Dady dikota ini karena agar bisa ikut menjaga Keyra. Tapi Dady tak menyangka kau tidak bisa mengatur waktu untuk putriku. Dad tahu perusahaanmu maju sangat pesat. Tapi ingatlah...Keluarga tetap Terpenting.." ucap Jon dengan tegas.


Suasana kembali hening.


Namun Levin dan para uncle hanya tersenyum geli.


"Apa kau sudah punya kekasih..?" tanya uncle Jery tiba tiba


"Apaa..!" Fero sangat terkejut bahkan sama sekali dia belum terpikir masalah itu.


"Waahhh benar kau sudah punya kekasih. Oh Tuhaann...bagaimana reaksi istriku.." suara Levin dengan nada mengejek


"Heeii...sungguh aku belum punya kekasih. Aku benar benar sibuk dengan pekerjaan. Jangan bicara seperti itu...kau tahu aku takut sekali jika adikku marah lagi padaku. Yang ini juga belum tentu dia memberi maaf ..." ucap Fero lirih diakhir kalimatnya.


"Percayalah...dia sudah memaafkanmu. Kau mau tahu dia sedang apa..?" tanya Levin.


Fero mengernyitkan dahinya. Levin berdiri membuka tirai dan jendela disamping ruang makan yang bisa menembus ke taman belakang.


"Lihatlah..." perintah Levin pada Fero. Dan dia pun langsung berdiri menghampiri Levin


Tampaklah disana Keyra sedang duduk disebuah sofa empuk yang tertata diatas rerumputan dan atapnya terbuat dari anyaman yang indah.


Disana keempat saudara ipar duduk bersimpuh dibawah sofa yang Keyra duduki.


"Kau tahu apa yang mereka lakukan..?"


Fero menggelengkan kepala.


"Mereka sedang bercerita pada istriku.."


"Apa..?"


"Ya..lihatlah. Satu persatu mereka bercerita pengalaman keseharian mereka pada Keyra. Bagi mereka...Keyra bagai guru pembimbingnya. Sesibuk apapun istriku bekerja dikantor, selelah apapun dia melayaniku namun jika ada yang ingin bercerita padanya dia selalu mendengarkannya..lihatlah tawa mereka.."


"Mereka bahagia Fer...Keyra bahagia...dan itu melupakan segalanya. Melupakan kesedihannya, kemarahannya, bahkan kerinduannya padamu.."


"Dia pernah bilang padaku sekali sebelum tidur...." Kak...aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti dan aku tidak bisa memprediksi kapan akan terjadi...tapi aku selalu merasa firasatku selalu benar. Aku ingin jika aku melahirkan nanti para pria kesayanganku ada disampingku. Kau, Maxy, Rey, Kevin dan Kak Fero. "kata kata Keyra masih terngiang dikepalanya


"Apa maksudnya..?"


"Aku tidak tahu...tapi aku sudah menyampaikan kepada semuanya termasuk kau. Jadi itulah kenapa kami sangat menjaganya. Disela sela waktu sibuk kami ...Keyra tetap yang utama. Bahkan mereka yang masih kuliah saja tetap Kakaknya yang utama. Masa kau yang kakak kandungnya tidak bisa.." ucapan Levin sungguh menusuk hati Fero hingga meneteskan air mata.


Fero lagi lagi terdiam sambil memandang Keyra dari kejauhan. "Maafkan aku sayang.." ucapnya penuh harap dalam hati.


Fero dan Levin memutuskan untuk bergabung dengan mereka ditaman belakang.


"Kak Key...aku ingin tanya sesuatu padamu..?" tanya Max tiba tiba sambil memandangi wajah cantik Keyra dengan bertopang dagu.


"Hmm...katakan..?"


"Kenapa kau begitu cantik dan kau begitu baik...? Apa ada wanita selain dirimu didunia ini. ..?" Aawwww...."teriak Maxy saat pertanyaannya belum selesai tapi sudah merasakan seseorang menimpuk kepalanya.


"Kenapa kau ini.." Maxy melotot pada Kevin. Orang yang menimpuk kepalanya dari belakang. Keyra dan Sandy hanya tertawa renyah melihat mereka.


"Bisakah kau tidak bertanya seperti itu ditempat ini. Bagaimana kalau Kak Levin dengar hah..!" kesal Kevin.


"Apa kau ingin kita berlari sepuluh halaman rumah lagi seperti kejadian diclub dulu ..apa kau lupa. Atau kau ingin lebih parah..." timpal Rey ikut ikutan kesal.


Ya tentu saja mereka masih ingat gara gara Keyra ingin pergi ke club. Paginya mereka dihukum habis habisan mengitari halaman rumah besarnya sebanyak sepuluh kali. Dan lebih parah lagi...semua fasilitas mereka ditahan selama satu minggu.


"Tentu saja aku tidak lupa. Lagi pula apapun hukuman yang dijatuhkan pada kita aku tidak terlalu khawatir. Karena ada bidadari cantik disampingku..." ucap Maxy lebai dengan mengecup punggung tangan Keyra.


Rey dan Kevin saling memandang.


Benar juga.


Ya...saat mereka menerima hukuman dari Levin dulu. Keyra membantunya secara diam diam. Dengan memberinya uang saku dari uang pribadinya sehingga tidak terdeteksi oleh suaminya.


"Ya kau benar. Kau malaikat kami Kak...i love you..." ucap Kevin sambil merengkuh pinggang Keyra.


"I love you too Kak..." lanjut Rey merangkul bahu Keyra.


Keyra tertawa.


"Jika suamiku mendengar pernyataan kalian. Aku tidak mau membantu kalian lagi..." canda Keyra.


"Aku juga menyayangimu Kak..." Sandy tak mau ketinggalan.


"Ya Ya ..aku tahu kalian menyayangiku. Aku bisa merasakannya. Dan kalian juga tahu kalau aku juga menyayangi kalian. Aku percaya satu hal suatu hari nanti kalian akan mendapat pasangan hidup yang terbaik..."


"Jika Kakak percaya maka kami juga akan menjaga kepercayaan itu Kak.." ujar Rey.


"Kak...Kakak sudah memaafkan Kak Fero..?" tanya Maxy tiba tiba dengan nada dinginnya.


"Memang kenapa dengan Kakakku..?"


"Kaaak...kau sangat menggemaskan. Dia membuatku marah Kak. Gara gara dia kau masuk rumah sakit. Aku tidak terima.." Maxy sangat kesal jika mengingatnya.


Keyra tersenyum.


"Itu bukan sepenuhnya salah Kak Fero. Salahku juga karena acara ngidamku yang begitu lebai..." Keyra tertawa geli saat mengucapkan kata terakhirnya.


"Max...aku sudah memaafkannya. Jadi kau juga harus memaafkan Kakakku.." ujar Keyra tegas.


Maxy tampak berpikir serius


"Bolehkah aku menghias wajahnya...sedikiit saja.." tanya Maxy dengan menunjukan kelingkingnya.


Keyra tahu maksudnya.


"Jika kau sedikit saja melukai wajah tampan Kakakku. Aku tak ingin melihatmu selama satu bulan..!"


Oh Tidak. Maxy mematung seketika diikuti Rey dan Kevin.


Bagaimana bisa Max tidak bisa melihat wajah Keyra dalam satu bulan. Satu hari saja ketiga laki laki itu tidak melihat Keyra. Mereka akan mencarinya kemanapun. Seperti saat mereka dihukum oleh Levin dimana semua fasilitas ditahan termasuk ponsel. Dan saat itu Keyra disibukkan dengan pekerjaannya bersama Levin diluar kota selama dua hari.


Dan betapa terkejutnya mereka bertiga saat pulang kuliah tak menemukan Keyra dirumahnya.


Bagaikan anak kehilangan induknya mereka berteriak dan memanggil nama yang sama berkali kali.


Dan karena kejahilan ayah mereka masing masing yang memberitahukan bahwa Keyra tidak akan pulang selama satu minggu membuat Rey Kevin dan Maxy geram dan membuat onar di ruang rapat. Mereka menyusul keluar kota dengan menggunakan pesawat umum tanpa embel embel nama keluarga Ferdinand.


Waktu itu Keyra sedang mempresentasikan programnya dengan berdiri didepan meja rapat. Tak menyangka mereka bertiga masuk dan dengan sopan meminta ijin untuk bertemu dengan saudara perempuannya.


Flashback on


Suara keributan membuat pintu ruang meeting terbuka secara paksa. Dan seorang sekretaris wanita diikuti tiga orang pria tampan dengan berpakaian rapi masuk menghentikan Keyra yang sedang berdiri mempresentasikan program komputernya.


"Maaf Tuan...mereka memaksa masuk.." wanita itu menunduk takut.


"Siapa kalian ? Aku tidak mengenal kalian atau kalian dari pihak klienku.." ujar seseorang yang mempunyai perusahaan itu dengan geram.


"Maaf mengganggu. Kami hanya ingin bertemu dengan wanita itu.."Maxy maju selangkah sambil menunjuk Keyra yang masih berdiri dan tersenyum geli tanpa memperdulikan tatapan tajam Levin dan Jon.


Tentu saja Keyra tahu siapa mereka.


Keyra membenarkan letak kacamatanya lalu berujar.


"Maaf Tuan...mereka adik adikku. Aku tidak tahu ada keperluan apa denganku. Tapi bisakah kita menyelesaikan programku agar aku bisa segera menangani mereka..?" ujar Keyra profesional.


"Dan kalian...bisakah duduk dengan tenang..?" lanjut Keyra menatap mereka bertiga.


Semua penghuni ruang rapat bukan merasa terganggu tapi malah tertegun melihat sikap Keyra.


Orang itu tersenyum.


"Baiklah...silahkan lanjutkan. Tapi mereka tidak akan mengganggu..?" asal tahu saja orang itu belum tahu hubungan Keyra dan kliennya Levin.


"Jangan khawatir Tuan. Mereka hanya rindu pada kakaknya.." Keyra tersenyum santai sambil melirik Levin yang dari tadi mengepalkan tangan menahan emosi.


Orang itu kemudian menatap Levin dan Jon merasa aneh dengan kedua sikap mereka. Sikap Jon yang tenang dan hanya tersenyum kecil berbanding terbalik dengan Levin yang dari tadi menatap tajam kepada tiga pria asing yang baru satang itu.


"Tuan Jon ...Tuan Levin ...?" Jon dan Levin tahu maksud orang itu memanggil mereka.


"Tak masalah Tuan. Mereka hanya anak kuliah yang sedang mendapat hukuman...."


"Ya dan akan mendapat hukuman selanjutnya..." ucap Levin dengan sangat dingin dan sinis.


Seakan angin lalu Rey Kevin dan Maxy tidak menanggapi ucapan Levin. Mereka sama sekali tidak perduli dengan hukuman selanjutnya.


Keyra meneruskan presentasinya dengan lancar. Dan meeting pun diakhiri dengan sukses.


Setelah acara selesai Keyra meminta izin untuk keluar terlebih dahulu. Dan tentu saja ketiga pria tampan mengikuti dari belakang.


"Sekarang ceritakan padaku. Apa yang kalian lakukan disini.." ucap Keyra dengan bersidekap dada pada ketiga adiknya. Dan tanpa mereka sadari Jon , Levin dan beberapa orang keluar dari ruang rapat dan mengamati mereka.


"Boleh kami memelukmu dulu.." ujar Maxy sambil merentangkan kedua tangannya.


Keyra memutar bola matanya jengah namun tak urung menerima pelukan adik adiknya.


"Kak...kau jahat padaku dan pergi tak bilang bilang. Dan itu untuk satu minggu." ucapan Maxy membuat Keyra terheran. Maxy menguraikan pelukannya yang lama dan bergantian dengan Kevin.


"Apa Kakak tidak berpikir bagaimana jadinya jika satu minggu tidak mendapat kabar darimu. Bahkan ponsel kami masih ditahan oleh suami Lionmu itu.." Kevin memeluk Keyra sangat erat dan lama. Keyra masih bingung dan merasa ada yang aneh.


"Dan ini baru satu hari Kak. Kau tega sekali padaku.." ujar Rey yang sekarang gilirannya memeluk Keyra.


Keyra terheran.


"Sebenarnya apa yang kalian katakan. Kakak sungguh tidak mengerti. Kakak hanya dua hari disini. Dan jangan bilang aku tidak memberi kabar pada kalian...aku sudah menulis pesan diatas meja belajar kalian masing masing. Apa kalian tidak membacanya.." ucap Keyra panjang lebar


Rey Kevin dan Maxy saling memandang dan mulai menyadari satu hal.


Flashback off


Suara tawa Keyra menggelegar membuat seisi rumah berpaling ketaman belakang rumah itu. Begitupun dengan Levin dan Fero yang sedari tadi berdiri dibelakang mereka tanpa disadari.


Keyra tertawa melihat Rey Kevin dan Maxy saling memandang dengan wajah polosnya. Dia tahu pasti mereka membayangkan kejadian dulu saat dibodohi oleh ayah mereka.


"Wah...wah...Kak kau bahagia sekali. Sepertinya kau tahu kami sedang memikirkan apa.." ucap Kevin


Keyra menganggukan kepala dengan masih tertawa geli.


"Baiklah...baiklah....sedikitpun aku tidak akan membuat wajahnya babak belur.." ucap Maxy pada akhirnya.


Keyra hanya mengacungkan jempol tanda setuju.


Tiba tiba tanpa sepengetahuan mereka suara langkah derap kaki yang tegap dengan cepat medekati mereka dan menengahi mereka.


"Sudah...sudah. Cukup sampai disini kalian mendominasi istriku. " suara Levin tiba tiba muncul dengan dinginnya.


Levin berjongkok dan menatap lembut istrinya.


"Saatnya istirahat sayang.." Levin membopong Keyra ala brydal tanpa merasa berat sedikitpun. Tanpa membantah Keyra diam dan tersenyum.


Saat melewati Fero pun dia hanya tersenyum.


Dan dengan canggungnya Fero menghentikan langkah Levin lalu mengecup dahi Keyra yang masih dalam pangkuan Levin.


Keyra menatap Fero penuh arti dan tak lupa tersenyum manis.


Levin melanjutkan langkahnya menuju kamar pribadinya.


"Kak...ada satu hal yang harus kuberi tahu padamu. Tapi janji kau harus jaga emosimu.." ucap Keyra sambil mengencangkan pelukan dileher suaminya karena mulai menaiki tangga.


"Katakan..?"


"Janji dulu..."


"Baiklah...aku berjanji."


"Aku sudah menemukan pelakunya.."ucapan Keyra benar benar menghentikan langkah Levin.


"Apa..!"


"Bicaralah dengan uncle Moe dan Uncle Fian...mereka sudah tahu. ."


Levin terdiam lalu mengecup kening Keyra dan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


"Dan aku tahu siapa dia.." lagi lagi ucapan Keyra membuat Levin mematung dan menatapnya dengan penuh khawatir.