My Two Men Protector

My Two Men Protector
65.



"Sayangku ...Putri cantikku...percayalah bahwa Ayah akan selalu disampingmu Nak. Percayalah..."


"Hhhh....Hhhh..." Keyra terbangun dari mimpinya dengan penuh keringat. Dan mulai melihat sekeliling dan dia sendirian.


Dia memutar wajahnya melihat jam dinding diatas nakasnya. Waktu menunjukan pukul delapan malam. Rupanya dia tertidur dari sore.


Keyra beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Mandi segar yang dia butuhkan saat ini. Setelahnya dia memakai baju kesukaannya.


Kemeja panjang kebesaran milik Levin. Namun karena perutnya yang sudah semakin membesar. Kemeja itu sudah cukup pas ditubuhnya hanya panjangnya masih bisa menutupi pahanya.


Dan setelah itu dia ambil celana hotpants dilemari bajunya. Yang pasti itu adalah celana pendek khusus didesaign khusus wanita hamil.


Kemudian membuka pintu kamar dan melihat sekeliling dan ke lantai bawah tak mendapat penghuni satu pun. Keyra mulai penasaran dan turun tangga dengan sangat perlahan.


Baru saja dua tangga. Seseorang merengkuh pinggangnya dan menuntun lengannya.


"Oh Tuhan...kau mengejutkanku Kev..."ujar Keyra sampai tubuhnya terlonjak kaget.


"Maaf...aku memang sengaja menunggumu dikamarku. Takut Kakak tiba tiba keluar kamar..." jawab Kevin.


Kevin memang dari tadi berada dikamarnya namun karena sedikit tertidur dia terkejut saat mendengar suara pintu kamar Kakaknya terbuka. Dan benar Kakak kesayangannya itu sudah bangun. Dengan secepat kilat dia mendampingi Keyra yang hendak turun tangga hingga mengejutkannya.


"Dimana yang lainnya ..?" tanya Keyra.


"Mereka sedang merundingkan hal penting diruang kerja uncle Jon dengan uncle Moe dan uncle Fian. Sedangkan para nyonya besar sedang menyiapkan persiapan perayaan kampus. Dua hari lagi kan ulang tahun kampus Kak. Kakak harus datang ." jelas Kevin sambil menuntun Keyra dengan sangat lambat.


Keyra mencerna penjelasan Kevin. Suami dan yang lainnya pasti sedang membahas pelaku itu.


"Aku baru tahu ada perayaan dikampus.."


"Ya sudah direncanakan oleh pengurus kampus dan para nyonya besar jauh jauh hari Kak. Kita tidak perlu ikut campur memikirkannya. Kita hanya perlu datang dan menikmatinya.."


"Kau ini..." Keyra terkekeh geli.


"Kakak lapar...?"tanya Kevin saat sudah sampai dilantai dasar.


"Aku hanya ingin makan cemilan Kev. Aku akan mengambilnya lalu makan diruang kerja Dady..." jawab Keyra


"Mau makan apa..biar aku ambilkan.."


"Roti keju yang kemarin dibuat Momy. Dan susu kotak moca.."


"Baiklah duduk disini sebentar aku akan mengambilnya.." Kevin membantunya duduk dikursi tunggal yang berada disamping ruang makan.


Kevin berlari menuju dapur dengan sigap dia mengambil satu toples kecil yang berisi roti keju lalu mengambil satu kotak susu khusus ibu hamil dilemari pendingin.


Keyra terkekeh. Dia bisa saja memerintahkan asisten rumah tangga mereka untuk mengambilnya. Kenapa harus dengan berlari tergesa gesa seperti itu.


"Ayo Kak..." Kevin membantu Keyra berdiri.


"Biasanya kau menyuruh mereka..?"


"Tidak Kaak...untukmu aku harus mengambilnya sendiri..." ucap Kevin lalu mengecup pelipis Keyra.


"Kau ini bisa saja..jika kau seperti ini terus nanti pacarmu bisa cemburu.."


"Aku belum punya pacar Kaak..."


"Maka carilah...tidak mungkin tidak ada wanita yang kau sukai.."


"Lebih tepatnya belum ada wanita yang seperti dirimu..." ujar Kevin santai.


Keyra menghela nafasnya sambil menggelengkan kepala.


Hhh lagi ...lagi.


Ceklek


Kevin membuka pintu ruang kerja Jon yang secara otomatis semua langsung menoleh kearah pintu masuk.


"Bisa tidak ketuk pin..." suara Max yang penuh emosi terhenti seketika saat sosok wanita hamil ikut serta bersama dengan laki laki yang tadi ingin dia sembur dengan luapan emosinya.


"Apaaa...!!"Kevin menjawab dengan pelototan matanya.


"Kau tidak lihat aku bawa apa..!" lanjutnya sambil menunjuk sebuah toples dilekukan ketiaknya dan lengannya menggenggam susu kotak. Sedang satu lengannya yang lain menuntun lengan Keyra.


"Iya...iya...maaf.." jawab Maxy menyesal.


Keyra tersenyum.


"Apa aku mengganggu..?"


"Tentu saja tidak sayang.."Levin mendekati dan meraih lengan istrinya.


"Maaf tadi meninggalkanmu sendiri saat tidur.."


"Tak apa Kak...aku tidak sendiri. Lihatlah ada Kevin..."


"Uncle Moe...uncle Fian...bagaimana kabar kalian.." sapa Keya saat berhadapan dengan mereka.


"Seperti yang anda lihat Nona..kami selalu sehat.." jawab Uncle Moe dengan sedikit menunduk namun dibalas Keyra dengan merentangkan kedua tangannya.


Uncle Moe tahu maksudnya lalu memeluk tuan putri kesayangannya.


"Bisakah seperti ini saja jika bertemu.."ucap Keyra. Kemudian berganti memeluk Uncle Fian.


"Bagaimanapun juga kau adalah Tuan Putri keluarga Hijaya Nona.." jawab uncle Fian.


"Baiklah...baiklah...terserah kalian.."


"Nona...perutmu semakin besar saja.."


"Uncle benar...dan itu membuat para penjaga disini semakin cerewet.." ucap Keyra sambil melirik mereka berlima.


"Apa maksudmu sayang...?"tanya Levin sambil membantu istrinya duduk disofa.


"Dan dia yang paling cerewet..." Keyra mengusap pipi Levin sebagai jawabannya sambil menatap para unclenya. Dan dibalas dengan kekehan dari semuanya.


"Aku tak perduli dengan sebutanmu sayang. Kau tahu..aku merasa setiap jamnya perutmu seperti akan meledak.."


"Hey son...kalian jangan membuat ulah didalam sana. Dady tak mau melihat Momy kesakitan.." Levin sedikit membungkuk untuk mengusap lembut perut istrinya lalu mengecupnya.


Keyra mengusap puncak kepala Levin.


"Apakah ada kabar terbaru Uncle..?" Keyra membiarkan Levin terus mengusap perutnya. Lalu satu tangannya diulurkan kearah Kevin meminta cemilan yang tadi dibawanya.


Kevin menyerahkan toplesnya dan langsung diterima Keyra dengan cepat lalu memangkunya dipahanya.


Kevin menggelengkan kepalanya gemas melihat tingkah Kakaknya itu.


Sebelum menjawab Uncle Moe tersenyum. "Uncle tahu sekarang kenapa perutmu semakin membesar..."


"Maaf . Tapi sungguh aku cepat sekali lapar..." ucap Keyra pada para unclenya dan Jon.


Mereka yang lebih tua darinya hanya bisa tertawa. "Tidak ....tidak sayang. Itu sudah sewajarnya. Kami sangat mengerti sayang .."Dady Jon berkomentar sambil tersenyum.


"Baiklah Nona..akan saya jelaskan.." uncle Moe membuka kembali dokumen yang tadi disimpannya.


Sebelumnya mereka memang sudah membahas kasus yang terjadi beberapa bulan lalu. Namun solusi belum terpecahkan.


"Anda tahu James Nona..?" Keyra menganggukan kepalanya dengan mengunyah roti keju. Siapa yang tidak ingat dia adalah pelaku pembunuhan ayahnya. Tapi sekarang sama sekali tidak berpengaruh lagi padanya.


"Anda tahu Kenan...dia dulu kuliah sama dengan Nona di Indonesia.." lanjut Moe


Keyra menghentikan makannya. Lalu mengerutkan keningnya.


"Kenan..."


Keyra seperti tak asing dengan nama itu.


"Aaahhh....Kak Kenan. Ya...dia seniorku.." jawab Keyra saat dia mengingatnya.


"Benar...dia adalah keponakan satu satunya James.."


"Apa. ..!"


"Benar Nona. Setelah James masuk penjara. Perusahaannya jadi mulai terbengkalai. Namun karena dia tidak mempunyai anak dia memerintahkan pengacaranya untuk memanggil Kenan kekota ini untuk mengurus perusahaannya dan bisnis gelapnya.."


"Karena Kenan ahli komputer. Dia lebih memfokuskan melumpuhkan musuh musuhnya dengan keahliannya. Namun jika benar benar dibutuhkan dia langsung turun tangan.."


"Ya..aku ingat. Dia memang ahli dalam komputer terutama membuat virus mematikan.." ucap Keyra dengan menerawang kejadian silam saat dirinya masih kuliah.


"Apaa..!" teriak para lelaki tampan yang dari tadi mengelilinginya. Levin disamping kanannya. Fero disamping kirinya. Disusul Rey Kevin dan Maxy berdiri dibelakang Keyra.


"Ya...Kak kau ingat dulu aku pernah kekampus karena panggilan darurat dari Prof Ben..?" tanya Keyra pada Levin suaminya.


"Tentu saja aku ingat sayang. Kau pergi kesana hanya dengan kain syal milik Momy untuk menutupi bagian bawahmu.." ucap Levin dengan sedikit geram saat mengingatnya.


"Apaa..!" teriak para lelaki lagi bersamaan.


Keyra menepuk jidatnya.


"Benar itu Kak ?"...kenapa aku tidak tahu.."Maxy mengucapkannya disamping telinga Keyra hingga dia terkejut.


"Kak...apa waktu itu aku tidak ada ?"lanjut Kevin.


Keyra mulai geram dan kesal.


"Diam kalian.." kesal Keyra.


"Kalian pikir aku hanya pakai kain syal saja kekampus..?" Oh Tuhan..."lagi lagi Keyra menepuk jidatnya keras. Sampai sampai Levin menahan lengan istrinya yang tadi menepuk jidatnya sendiri.


"Apa yang kau lakukan sayang. Kenapa menyakiti diri sendiri..!"


"Itu karena ...." teriak Keyra dengan melotot.


"Sudahlah jangan dibahas..."ucap Keyra pada akhirnya tak mau memperpanjang.


"Prof Ben adalah dosen IT dan beliau juga dipercaya untuk membuat semua program yang berkaitan dengan sistem pendidikan kampus. Jadi yang aku tahu...semua programnya dibuat sendiri olehnya. Tapi waktu itu entah kenapa Prof Ben tidak bisa menangani masalah program yang dibuatnya sendiri hingga aku dipanggil oleh beliau .."


"Dan saat aku melihatnya ada yang membuatku heran. Ada virus asing penghancur data yang sangat berbahaya. Dan setahuku program yang dibuat oleh Prof Ben tidak bisa ditembus oleh virus mematikan sekalipun kecuali ada seseorang yang mengetahui pasword keamanan program tersebut..."


"Apa ada hubungannya dengan Kenan Kak..?" tanya Rey penasaran.


"Ya...Kenan adalah asisten dari Prof Ben."


"Ya itu hanya kecurigaanku saja. Dan tak berani mengungkapnya. Hanya aku memberi kode peringatan secara diam diam pada Prof Ben agar mengganti paswordnya. Dan sepertinya berhasil. Sampai aku lulus dari sana aku tak mendengar kejadian itu terulang lagi..."


"Sepertinya kecurigaan Anda benar Nona.." suara Uncle Moe tiba tiba.


"Satu bulan sejak James dipenjara Kenan menghilang. Kami sudah menyelidiki rumahnya di Indonesia dan menemukan ini Nona.." uncle Moe memberikan beberapa foto.


Foto foto itu adalah foto dirinya dan Prof Ben yang dicoret silang.


"Maksudnya apa ini ya Unc..?" tanya Keyra mengerutkan keningnya.


"Sepertinya dia memang mengincar Prof Ben awalnya namun datanglah Anda. Jadi..."


"Ya..aku mengerti.."ucap Keyra


"Lalu...apakah ada hubungannya dengan pelaku snipper yang terjadi beberapa bulan yang lalu..?" tanya Keyra lagi


"Pelaku itu sudah tertangkap dan atas paksaan dari kami akhirnya dia mau mengatakan yang sebenarnya. Dia melakukannya atas perintah Kenan..Nona.."


Keyra diam terkejut.


"Apakah karena ingin menangkapku..?"


"Itu salah satunya Nona. Namun yang utama adalah pembalasan dendam untuk James. Pamannya. Berbagai cara dia lakukan agar James bisa keluar dari penjara. Sampai sampai dia menghancurkan data komputer milik CIA. Dan itulah puncaknya Nona...dia benar benar marah karena anda menggagalkannya lagi.."


"Lalu apakah sudah ada jalan keluar..?"tanya Keyra.


"Belum sayang. Tapi Dad sudah memerintahkan orang orangnya supaya mencari penjahat itu. Dan selama belum ditemukan...kami memutuskan supaya lebih menjagamu. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu sayang..." ucap Levin dengan menatap istrinya lembut.


Keyra menganggukan kepalanya patuh. Kondisinya sekarang sangat berbeda. Mungkin jika tidak sedang hamil besar dia pasti langsung bertindak. Tapi saat ini yang terpenting adalah janin yang ada dalam kandungannya. Walau dalam keadaan terpaksa pun dia sudah tidak memungkinkan lagi untuk bergerak lebih jauh.


Namun bagaimanapun dia harus menyiapkan segala sesuatu yang akan terjadi.


"Uncle...setiap perusahaan yang Dady Jon miliki sudah pernah terkena virus komputer yang sama. Dan selalu bisa ditangani. Aku yakin dia memang sengaja menghancurkan semua milik Dady untuk membalas dendam. Tapi ada satu hal yang aku kira belum dicoba olehnya..."


"Apa Nona..?


"Kampus.." ucap Keyra.


"Dad...ada berapa kampus milik Dady..?"


"Lima.."


"Uncle...pasang semua server yang ada diseluruh kampus dengan data antivirusku dan jangan lupa juga tinggalkan pendeteksi yang canggih.."


"Baik Nona...kami segera laksanakan.


Kami permisi dulu..." dengan cepat uncle Moe dan uncle Fian berpamitan kepada seluruh keluarga.


"Hati hati Unc.."


Mereka menjawab dengan anggukan kepala.


Setelah kepergian Uncle Moe dan Uncle Fian...Keyra berpamitan keluar ruangan untuk menemui para Nyonya Besar.


"Kak...aku akan keluar sebentar.." ucap Keyra sambil bangkit berdiri kemudian mengusap punggungnya.


"Kakak temani.." Levin menggenggam lengan Keyra dan tangan lainnya merengkuh pinggangnya erat.


"Tidak usah Kak...aku hanya ingin menemui Bunda dan Momy. Didepan pasti sudah ada bibi yang setia berdiri menungguku. Bukankah itu perintahmu kepada semua bibi disini..?"


Ya. Sejak Keyra hamil dimanapun dia nanti dalam rumah ini dan diruang manapun dia berada jika tidak ada ketiga saudara laki lakinya maka para asisten rumah tangganyalah yang harus stand by didepan ruangan itu menunggu Keyra selesai dengan urusannya.


Tak tanggung tanggung Levin juga memerintahkan kepada mereka agar menghentikan semua pekerjaannya jika Keyra istrinya berjalan sendirian diruangan yang sangat besar ini. Dan tentu saja akan mendapat hukuman berat jika ada yang berani melanggarnya.


Itupun dijatuhkan secara diam diam oleh Levin tanpa sepengetahuan istrinya.


Berhubung istri cantiknya itu sangat baik hati dan tentu dia pasti akan sangat marah dengan keputusan sepihaknya itu.


Kembali kecerita.


Levin terkejut mendengar pertanyaan Keyra.


"Ba bagaima na kau tahu sayang..?" ujar Levin dengan menggarukan kepala belakangnya.


Keyra mengangkat kedua tangan dipinggangnya.


"Tentu saja aku tahu. Awalnya aku curiga kenapa semua bibi dirumah ini sering ganti ganti. Dan akhirnya aku menyelidikinya hingga aku tahu bahwa itu adalah keputusan sepihakmu.."


Semua para pria didalam ruangan itu hanya bisa terkekeh geli menahan tawa. Kesempatan ini jarang terlihat dimana seorang Levin yang dingin dan tak ingin terbantah semua perintahnya hanya bisa bertekut lutut dibawah omelan seorang wanita cantik. Istrinya.


Levin merasa kesal saat melihat keluarga lainnya meledeknya dengan menahan tawa.


"Sayaangg...aku lakukan itu kar..."ucapan Levin terpotong saat Keyra menunjukan telapak tangannya kedepan wajah suaminya.


"Cukup Kak...Kakak terlalu berlebih." kemudian Keyra menghadap keempat saudara laki lakinya yang sedang menahan tawa. "Kalian juga..." ucap Keyra geram.


Semua terdiam mendengar gertakan Keyra.


Keyra mendekati Jon.


"Dad...aku pergi. Lanjutkan meetingnya. Aku tahu pasti tadi belum selesai.." ucap Keyra lembut.


"Baiklah Nak. Kau hati hati. Mau Dad antar.." ucap Jon setelah mengecup keningnya.


"Tidak Dad...bibi sudah menungguku didepan..." jawab Keyra dengan tersenyum.


"Dad akan panggilkan dari sini.." Jon memencet tombol interkom dan memberitahukan asisten rumah tangganya boleh masuk keruangannya.


"Thanks Dad.."


Jon menjawabnya tanpa suara "anything for you"


Tak lama seorang bibi..itu yang biasa dipanggil Keyra pada seluruh pelayan rumah besar ini masuk dengan sedikit menundukan badannya. Kemudian mendekat kearah Nonanya.


"Mari Nona..." dia meraih lengan Keyra.


"Maaf merepotkan Bi..."


"Tidak Nona. Dengan senang hati saya melakukannya." jawab bibi itu dengan senyumnya.


Saat berpapasan dengan kelima pria tampan kesayangannya Keyra berhenti dan membuat mereka sangat terkejut hingga melototkan mata dengan tingkah gemasnya. Keyra mengeluarkan lidahnya.


"uwe.."


"Ayo Bi..." Keyra kembali melangkahkan kakinya dibantu oleh bibi disampingnya.


"Mari Nona.."


"Apa tadi istriku...?"suara Levin saat sadar istrinya telah keluar dari ruangan itu.


"Dia mengejekku..?" Fero masih melamun dengan mata terbelalak.


"Apa Kakak marah padaku ya..?" Kevin dengan wajah cengonya.


"Apa salahku ya..?" Rey menggarukan kepalanya sambil berpikir.


"Kakakku Key sangat menggemaskan.." suara Maxy tiba tiba menghancurkan lamunan mereka.


Sontak saja keempat saudara lainnya menengok dan mengarahkan tatapan tajam pada Max. Terutama Levin dengan secepat kilat dia mendekati Maxy dan mencengkeram kerah bajunya. Namun sebelum kata kata tajam Levin keluar Jon berucap.


"Hentikan atau kalian keluar dari sini..!"


Suara tegas dan dingin Jon membuat Levin bungkam dan secara perlahan melepas cengkramannya.


"Dengarkan Dady...kita sudah tidak bisa bersantai santai lagi sebelum pelaku itu tertangkap. Orang orang hebatku bahkan sudah Dad kerahkan semuanya. Tapi ada satu hal yang tidak bisa kita abaikan.."semua pria tampak serius mendengarkan Jon.


"Keluarga kita..!"Jon mengatakannya dengan wajah penuh kekhawatiran.


Semua pria tampan menatap Jon dengan pandangan kaku dan tegang.


"Dad tak ingin karena kita lebih fokus mencari pelakunya kita mengenyampingkan keluarga kita terutama Keyra. Ada masukan untuk hal ini..?" kata kata dingin Dad membuat mereka berpikir keras.


Lama dalam diam Levin mengutarakan isi hatinya.


"Ada Dad. Sebenarnya aku merencanakan hal ini hanya sebagai cadangan."


"Apaa itu Nak..?"


"Aku telah membuat alat khusus untuk mendeteksi keberadaan seseorang yang berbentuk chip yang sangat kecil. Bahkan orang lain pun tak bisa menyangka jika dalam tubuh itu dipasang chip pendeteksi.."


"Ohh..Dad ingat. Yang kau sebut proyek VinK itu.."


"Benar Dad. Tapi alat itu baru satu yang selesai dan sudah teruji hasilnya. Karena beberapa kendala yang membutuhkan waktu lama.."


"Lalu..apakah maksudmu alat itu mau dipasang kepenjahat itu..? Bagaimana caranya..?" tanya Fero penasaran


"Tidak ...itu untuk keluarga kita. "


"Apaa..!" spontan mereka teriak bersamaan kecuali Jon. Sepertinya mereka berpikiran sama. Mereka berpikir alat itu digunakan sebagai umpan atau lebih parahnya lagi alat itu bisa membuat orang yang terpasang chip didalam tubuhnya menjadi tumbal.


"Aku tahu yang ada dalam pikiran kalian. Tapi percayalah alat ini hanya sebagai pendukung. Aku pun awalnya merancang alat itu hanya untuk melindungi orang yang kita sayang. Namun tanpa sadar alat itu bisa sekaligus sebagai pancingan orang jahat."


"Bagaimana cara kerjanya..?"suara Fero tiba tiba.


"Alat nya serupa dengan bulu mata palsu."


"Apaa..!"


"Ya..hanya satu helai. Alat itu akan berfungsi jika berjauhan dengan pusat saat jarak 5km. Melebihi itu maka dinyatakan sebagai tanda bahaya.." ucap Levin dengan nada masih ragu ragu.


Semua terdiam.


"Kenapa kau menjelaskan dengan ragu ragu Nak..." suara Jon seakan tahu isi hati putranya.


Levin menatap Jon dengan wajah khawatir.


"Saat pertama kali aku merancangnya..." ada jeda diucapan Levin.


"Aku mengukurnya untuk mata istriku. Keyra..." akhirnya Levin mengutakan isi hatinya.


Semua mata tak terkecuali Jon membelalak terkejut dan dengan tubuh kaku.


"Jika begitu. Jangan lakukan."