
Keyra membuka koper yang tadi dikirimkan oleh unclenya ditemani oleh bibinya dikamar bibi lantai bawah. Tak ada yang tahu kalau Keyra disana. Mereka para pria sedang sibuk berdandan dan para nyonya besar tentu saja sudah berangkat ke kampus terlebih dahulu.
"Bi...bisakah bibi tunggu diluar. Jika ada yang turun mencariku bilang aku sedang membuat jus. Tapi apa jusnya sudah siap bi..? "
"Sudah Non. Baiklah bibi diluar. Tapi..."sebenarnya ada yang ingin ditanyakan olehnya tentang isi koper itu. Bagaimana mungkin isinya senjata dan untuk apa. Tapi niat itu dia urungkan karena merasa tidak sopan.
"Maaf Non...saya keluar. "ucap bibi pada akhirnya.
Keyra tersenyum. Sekarang dia mulai dari petunjuk yang telah diberikan oleh uncle padanya lewat memo kecil yang menempel pada sebuah kotak kecil.
First open this box and wear it.
Keyra membukanya dan ternyata sebuah anting tindik yang sederhana. Dia memasangnya. Dan tiba tiba langsung terdengar bunyi bip secara otomatis.
"Nona...non Key... test... test.. "suara seseorang yang sudah sangat dia kenal.
"Uncle...apakah ini uncle Moe..?"Keyra menjawab sampai memegang anting itu memastikan.
"Ya benar Non. Ini uncle Moe. Dan kau pun tersambung dengan uncle Fian. Mulai dari sekarang.
"Terimakasih uncle. "
"Maafkan uncle Nona. Uncle hanya menyiapkan pistol kecil saja sudah dengan tempatnya. Pisau. Dan kain penyangga untuk perutmu Nona. Tenang saja alat itu didesaign khusus untukmu. Bahannya lentur dan aman secara otomatis mengikuti lebar perut Nona saat ada pergerakan. Uncle rasa itu sudah cukup Nona. Sisanya biar kami dan yang lainnya yang menangani."
"Uncle tak mau kejadian dulu terulang lagi. Uncle dan beberapa pengawal akan masuk bersamaan dengan keluarga anda Nona. Jadi jangan khawatir. Jika mereka sekali saja mencoba menyentuhmu kupastikan tak ada yang selamat."
Tanpa sadar Keyra meneteskan air mata. Kejadian dulu. Sungguh mengingatpun dia tak pernah terbersit.
"Terimakasih uncle."
"Baiklah...aku akan bersiap siap."
"Baik Nona..hati hati.."
"Hmm.."
Keyra mulai memasang senjata pistol dan pisau dikedua paha sebelah kanan kirinya. Dengan penuh percaya diri Keyra terus memantapkan dalam hati untuk tidak pernah takut lagi. Demi anak anaknya. Demi suaminya. Demi keluarganya.
"Sayaangg... "suara Levin memanggil dirinya membuat Keyra tersentak kaget.
"Oh Tuhan..."ucapnya kaget.
Keyra segera keluar dari kamar yang kecil itu dan langsung menuju dapur.
"Ini Nona... "Bibi tiba tiba menyerahkan segelas jus jeruk padanya karena mendengar suara Tuannya memanggil Nona cantiknya.
"Terimakasih Bi.. "ucapnya.
"Aku disini Kak... "suara keras Keyra menjawab panggilan suaminya.
"Sayang kau kemana saja hmm.. "Levin datang menghampiri dengan merentangkan kedua tangannya.
Keyra terkekeh geli.
Levin memeluknya erat sekali.
"Sayang kau sangat cantik. Dan harum sekali.. "Levin menatap wajah cantik istrinya masih tetap memeluk pinggangnya.
"Kau juga sangat tampan Kak. Benarkah ini suamiku..? "ucap Keyra sambil menggenggam erat gelas yang berisi jus jeruk.
"Tentu saja sayang. Aku suamimu. Milikmu.. "Levin mengecup bibir Keyra sekilas. "Dan kau...selamanya milikku.. "lanjutnya sambil mengecup kembali bibir istrinya.
"Kaaakk...lihatlah. Aku takut jus jeruk ini menumpahi bajumu dan nanti suamiku tidak tampan lagi.. "ucapnya gemas sambil menunjuk jus jeruk dengan dagunya.
Levin mengambil alih jus jeruk yang dipegang istrinya dan meletakannya dimeja.
"Kemarilah..."Levin membantunya agar Keyra duduk di kursi makan.
Setelah Keyra duduk Levin berlutut menghadap istrinya kemudian mengambil jus jeruknya lagi.
"Minumlah sayang... "Levin menyodorkan jus itu kemudian membantu meminumkannya. Keyra menghabiskannya hingga tandas.
Levin membelalak.
"Woow sayang...kau menghabiskannya begitu saja..aku juga mau sayaang..."ujar Levin sambil menatap gelas kosong lalu menaruhnya dimeja makan.
Namun tak disangka tiba tiba Keyra menangkup wajah Levin kemudian menciumnya lembut hingga pria tampan itu tersentak kaget. Bukan saja menciumnya tapi Keyra pun menuangkan separuh jus jeruk yang dari tadi dia belum telan kedalam mulut suaminya.
Levin menerima kemudian menelannya. Namun saat Keyra ingin melepas ciumannya tengkuknya dengan cepat ditahan oleh Levin dan memperdalam ciuman hangatnya.
"Aku menyukainya sayang... "ujar Levin saat melepas ciumannya hanya sedetik.
Keyra mulai meronta memukul dada suaminya pelan berkali kali karena suaminya itu tak ingin melepaskannya.
"Su dah Kak. Ma...lu.."ucap Keyra terbata karena Levin tak kunjung berhenti.
Levin melepas ciumannya dengan sangat terpaksa.
"Sayang...bagaimana kalau kita tidak usah ikut ke perayaan..? "
"Yyaachh...kak. Aku malu ada bibi.."Keyra memukul dada Levin bertubi tubi.
Levin tertawa geli. Kemudian mengusap bibir pink istrinya.
"Darimana kau belajar itu sayang..? "
"Belajar apa..? "
"Waaahh...kau benar benar menggemaskan.."ucapnya sambil mencubit kedua pipi istrinya gemas.
"Maksud Kakak apa..? "
"Darimana kau belajar metode itu..jus jeruk.. "jawab Levin sambil menaikkan alisnya.
Keyra merona dengan pipi memerah.
"Itu... Itu kan tadi Kakak minta tapi sudah terlanjur aku habiskan. Jadi... "
"Tapi bisa kan dengan membuatnya lagi... "
"Jadi Kakak tidak suka.... "ucap Keyra sambil menundukan kepalanya.
"Heeeyyy...kenapa berkata seperti itu sayang. Bahkan aku sangat menyukainya ..."Levin menaikkan dagu istrinya agar menatap wajahnya.
Keyra menatap wajah tampan suaminya.
"Sungguh...?"
Levin menganggukkan kepala dan menaikkan alisnya berkali kali dengan senyum devilnya.
Dan Keyra tahu maksudnya.
"Jangan mulai Kak...please !"ucapnya galak sambil memukul bahu suaminya pelan.
"Baiklah.. Baiklah...aku kalah. Ayo cantik kita pergi. Mereka sudah menunggu.."Levin membantu istrinya berdiri dan merapikan bajunya.
Keyra tersenyum geli.
"Bi...aku berangkat ya.. "Keyra berpamitan pada tiga bibi yang tiba tiba muncul didepannya.
Mereka tersenyum.
"Hati hati Non. Tuhan selalu bersamamu. Kembalilah dengan selamat.."ucapan salah satu bibi yang selalu bersama Keyra membuat Levin mengerutkan keningnya.
"Baiklah. Terimakasih bi.. "jawab Keyra dengan senyum ramahnya.
Levin tahu memang kebiasaan istrinya ini yang selalu ramah pada semua orang tanpa pandang bulu membuat banyak orang menyayanginya. Tapi ucapan salah satu pelayan dirumahnya ini membuat hatinya tersentil. Ada sebuah peringatan secara tidak langsung padanya agar membawa kembali istrinya dalam keadaan selamat.
(Baju yang dipake Levin sama Keyra)
***********
Dikampus
Semua para mahasiswa dan mahasiswi beserta dosen dan para petinggi kampus sudah memadati ruangan aula yang sudah didesaign dengan sangat megah.
Bahkan para keluarga Ferdinand sudah berkumpul semua ditengah tengah aula menunggu sang pemilik datang. Dan tak ketinggalan para pengawal dari masing masing anggota keluarga Ferdinand sudah mendampingi dan mengelilingi mereka tanpa disadari oleh mereka.
"Aneh sekali...kenapa aku merasa aku dikelilingi oleh orang orangku sendiri.."ucap Max dengan memandangi seluruh sisi aula. Tentu saja dia tahu dan hafal betul siapa siapa saja orang yang menjadi pengawalnya. Begitupun saudara lainnya.
"Ya kau benar Max. Tapi aku tak melihatnya.. "ujar Kevin.
"Kurasa uncle merencanakan sesuatu yang tidak kita ketahui..."ucap Rey dengan terus mengawasi sekitarnya.
"Apa Kakak belum datang.? "lanjutnya.
"Belum...ah itu mereka.. "ucap Max berbinar saat melihat wanita yang di tunggunya.
Jon memang memerintahkan untuk setiap keponakannya dikawal oleh satu pengawal pribadinya yang handal. Untuk para wanita seperti istrinya, Bunda Keyra dan adik adiknya mengerahkan pengawal wanita yang selalu disamping mereka.
Keyra dan Levin memasuki aula kampus dan disambut dengan tepukan yang sangat meriah. Keyra menyapu pandangannya dari atas,samping kanan dan kiri gedung mengamati sesuatu yang mencurigakan.
"Nona...sepertinya Tuan Jon sudah menyiapkan segalanya. Setiap keluarga anda sudah didampingi oleh pengawal masing masing.. "suara uncle Moe di telinganya mengejutkan dirinya.
"Benarkah...? "gumam Keyra yang ternyata bisa didengar Levin yang dari tadi memeluk pinggangnya erat.
"Kenapa sayang...? "
"Ahh...tidak tidak.. "jawab Keyra denga senyum manisnya.
"Nona...uncle akan melaporkan saja. Nona jangan menjawab.."
"Nona tenang saja. Semua persiapan sudah uncle siapkan dengan detail. Pengawal kita pun sudah masuk ke lokasi secara diam diam. Nona bisa lihat dengan pin di dada mereka. Pin dengan bentuk kunci. "
Keyra terkekeh geli saat melihat dua orang pria melewatinya memakai baju serba hitam yang terlihat keren tapi saat melihat sebuah pin di sakunya...
"Ckk...kenapa harus ada pitanya unc.."gumam Keyra berbisik sangat lirih.
"Tapi bagus kan Nak... "suara Moe menjawab bisikannya.
Keyra berhenti tertawa. Ternyata berbisik pun uncle masih bisa mendengarnya.
"Alat ini sangat canggih Nona. Berbisik pun masih bisa terdengar. Jadi anda tak perlu khawatir.. "ucap uncle Moe seakan tahu isi hatinya.
"Kenapa dimana mana selalu ada mereka..!"ucapan dingin Levin membuat Keyra mendongak menatap suaminya. Kemudian mengikuti arah pandangannya yang ternyata tertuju pada empat pria tampan yang sedang berjalan menghampirinya.
Keyra tersenyum saat tiba tiba Max berlari kecil sambil merentangkan kedua tangannya lalu menubruk tubuh Keyra dan memeluknya erat tidak memperdulikan pria tampan yang dari tadi selalu disampingnya.
Max kemudian mengecup pipi kanan kiri Keyra. "Hi Kak...kau cantiiik sekali.."
Keyra hanya bisa tersenyum karena tak lama muncul pria lain menyingkirkan Max didepannya. Kemudian ikut memeluk dan mengecup kedua pipinya.
"Kenapa lama sekali Kak.. "ujar Rey.
"Minggir..."Kevin menyingkirkan Rey kemudian memeluk Keyra sangat erat.
"Hmm Kak...aku sangat merindukanmu.."ucap Kevin sambil menggoyangkan tubuh Keyra.
Keyra tertawa.
Kevin mengecup kedua pipi Keyra.
"I love you Kak... "ucap Kevin membuat Levin semakin menahan emosinya.
"Cukup.. "suara dingin seseorang menghentikan kegemasan Kevin pada Keyra. Fero menarik baju Kevin hingga menyingkir dari hadapannya. "Kalian ini... "
"Hi sayang..."sapa Fero melembut saat berhadapan dengan adik kesayangannya kemudian memeluknya tak kalah erat.
"Hi Kak...dari tadi aku tidak ada kesempatan untuk menjawab sapaan kalian.. "Fero melepas pelukannya kemudian mengecup kedua pipi adiknya sayang.
Keyra menggelengkan kepala melihat tingkah pria pria didepannya. Namun saat menoleh ke sampingnya. Sungguh dia benar benar terkejut saat melihat wajah suaminya. Wajahnya merah menahan emosi, rahangnya mengeras , kedua tangannya mengepal hebat dan mata tajamnya menyorot pada empat pria tampan didepannya.
Keyra tahu suaminya ini sedang menahan emosi. Dan tentu saja dia tahu cara mengendalikannya.
Keyra melangkah hingga benar benar di depan suaminya. Dia tiba tiba melingkarkan kedua tangannya dipinggang suaminya. Meskipun terhalang dengan perut besarnya Keyra tak pantang menyerah untuk membujuk suaminya.
Tak disangka Keyra tiba tiba berjinjit lalu mencium bibir Levin. Tidak lama karena Keyra tak kuat untuk berjinjit lebih lama.
Levin terbelalak karena kejutan dari istrinya. Memang hanya dialah yang bisa meredam emosinya. Levin kembali luluh.
"Sudah marahnya.."
"Sayaaang...mereka selalu begitu jika bertemu denganmu. Aku tidak suka sungguh.."ucap Levin dengan nada manjanya sambil merengkuh pinggang Keyra.
Tentu saja perubahan sikap Levin membuat orang orang disampingnya mencengo kaget. Bagimana bisa...
"Kaak...disini banyak orang tidak baik cemburu seperti itu.."
"Aku tidak perduli.. "Levin mengecup kedua pipi Keyra lembut dan lama. Namun tiba tiba terdengar suara mikrophon memanggil dirinya untuk memberi sambutan diatas panggung.
"Kenapa harus aku..!"
"Sudah sana.."Keyra mendorong tubuh Levin agar maju kearah panggung.
"Tunggu sayang... "Levin berbalik dan menunjuk empat pria didepannya.
"Kalian...jangan pernah jauh jauh dari istriku. Jaga dia .."perintah Levin penuh penekanan. Tadi saja cemburunya minta ampun sekarang berubah 180 derajat jika berhubungan dengan istrinya.
"Dan kau sayang.. "berganti Levin menangkup wajah cantik istrinya.
"Jangan pergi kemanapun tanpa ada pendamping disampingmu. Mengerti.."perintahnya tegas.
Keyra menganggukan kepala.
"Ya aku mengerti Kak.. "
Levin mencium bibir Keyra cepat kemudian melangkah pergi ke atas panggung.
Semua orang yang hadir di acara perayaan kampus itu terkesima dengan sosok pria tampan yang sedang membawakan sambutan dengan penuh wibawa. Keyra yang saat ini didampingi oleh Sandy tersenyum senyum jika bertemu pandang dengan suaminya dari atas panggung.
Suaminya itu bahkan di sela sela sambutannya sering mengedipkan mata padanya. Tidakkah sadar bahwa kedipannya itu bisa disalah artikan oleh wanita lain dibawah sana. Memang wanita diruangan itu hanya istrinya saja. Itulah yang dipikirkan dalam hatinya.
Namun tiba tiba...
"Dan asal kalian tahu...bahkan saat aku disini pun aku sedang merindukan seorang wanita cantik yang berdiri disana. I love you my beautiful wife.."suara Levin dari mikrophon mengejutkan Keyra sambil menunjuk dirinya dan diakhiri dengan kedipan matanya lagi.
Keyra terharu sekaligus malu. "Dia sungguh tahu apa yang aku pikirkan. "
Namun tak menyangka suasana kembali ramai saat suara tepukan para penghuni aula.
"Kak...kau hebat sekali. Baru kali ini aku melihat Kak Levin semanis itu.."ucap Sandy yang dari tadi merangkul lengan Keyra.
Keyra menoleh dan tersenyum menjawabnya.
Awww...
Keyra tiba tiba meringis kecil saat merasa ada pergerakan didalam perutnya.
"Kau baik baik saja Kak... "tanya Sandy saat menyadari tubuh Keyra membungkuk dengan tangan menahan perut besarnya.
"Hmm..."angguk Keyra masih dengan senyum manisnya.
Meskipun sebenarnya rasa sakit yang dirasakannya sangat berbeda dengan sebelumnya.
"Hsstt....kenapa sakitnya berbeda. Nak...ada apa dengan kalian..? "gumam Keyra dalam hati.
Keyra melangkah perlahan ingin keluar dari kerumunan. Namun baru dua langkah lengannya ditahan oleh Sandy.
"Mau kemana Kak..? "
"Kakak ke toilet sebentar ya."
"Aku temani...ayo.."
Sandy menuntun Keyra perlahan.
Tak lama mereka pun sampai di toilet kampus.
"Masuklah. Sandy tunggu diluar. Panggil saja kalau sudah selesai.."
"Baiklah ..."jawab Keyra.
Sementara diluar kampus.
Ada satu mobil yang tanpa disadari oleh siapapun didalamnya terdapat beberapa orang sedang sibuk merencanakan sesuatu.
"Tuan...ternyata banyak pengawal mengelilingi kampus. Dan saya yakin didalam pun pasti ada.."
"Aku tak perduli. Sebanyak apapun mereka pasti tidak bisa berkutik jika salah seorang dari mereka kita sandra.."
"Maksud anda Tuan..?"
"Serang dan sandra orang tua mereka. Dan satu lagi yang penting...bawa wanita yang sedang hamil padaku. Biar aku yang mengurus sendiri wanita itu.."
"Baik Tuan. "
Tak lama mereka turun dari mobil dan langsung masuk halaman kampus dengan pakaian rapi agar tidak mencurigakan. Mereka masuk kedalam aula tanpa merasa berdosa sedikitpun. Pintu utama mereka tutup dan dikunci rapat.
Dua orang dari mereka mendekati Bunda Keyra dan Momynya berjalan santai agar tak ada orang yang curiga.
Bunda dan Momy sedang asyik membahas perayaan kampus. Disaat itulah kesempatan mereka.
Sebuah senjata ditodongkan dipunggung belakang Bunda dan Momy.
"Hallo Nyonya..." ucapnya sinis. "Maaf mengganggu acara kalian.
Doorr
Suara peringatan senjata yang menggema membuat semua orang mengarah pada sumber suara. Tak terkecuali seluruh keluarga Ferdinand terkejut membelalak mata melihat kedua orang yang sangat penting bagi hidup mereka terancam dengan senjata tertuju dipelipis mereka dan dengan mulut sudah tertutup lakban hitam.
" Moomm..."
"Bundaa.."
Teriak Levin dan Fero bersamaan.
Suasana berubah menjadi tegang dan teriakan histeris.
Doorr
Seseorang mengarahkan senjatanya keatas memberi peringatan dan seketika suasana pun menjadi sunyi tapi menegangkan.
"BAIKLAH...PERHATIAN SEMUANYA..!!"
"Tuan Ferdinand...maafkan aku terpaksa menyandra nyonya besar kalian. Itu karena salah anda...terlalu banyak menempatkan pengawal disekitar keluarga anda.."
"Heeyy..." dia tiba tiba menodongkan senjatanya lagi pada kening Bunda saat Fero dan Levin melangkahkan kakinya satu langkah.
"Siapa kalian...!" suara Levin terdengar serak menahan emosi.
"Sebelum aku jelaskan siapa aku. Untuk anda Tuan Ferdinand..." jeda orang itu.
"Perlu anda ketahui bahwa aku tidak main main. Jadi itupun berlaku untuk pengawal dan sniper yang kau siapkan jangan berani macam macam jika tak ingin istri anda mati .!"
Jon diam terpaku mendengarnya. Sekaligus bingung..dia sama sekali tak menyiapkan sniper. Hanya pengawal dan itu pun tidak sebanyak pengawal yang orang itu bawa. Bahkan dia pun tidak habis pikir. Bagaimana mereka bisa masuk..
Jon mengarahkan satu tangannya keatas memberi isyarat agar pengawalnya tidan melakukan apapun tanpa perintahnya.
"Dengar Tuan Jon. Kau lihat bom waktu ditangan anak buahku..! Kau pasti sudah tahu maksudku."
"Aku memberimu waktu 60 menit untuk membebaskan pamanku James.." ujar Kenan masih dengan penutup wajah.
"Kauu.." geram Jon dengan kedua tangan mengepal.
Dan suasana saat ini benar benar tak bisa diduga. Beberapa dari mereka sedang mengikat para mahasiswa dan mahasiswi menjadi satu. Dan memasang sesuatu ditengah tengah ikatan mereka.
Sebuah bom rakitan. Dan..
Waktu yang sedang diatur berjalan mundur mulai dari 60:00 hingga berkurang terus menerus setiap detiknya.
"Apa yang kau lakukan haaahh...!" teriak Levin dengan sangat geram namun dengan cepat dicekal oleh kedua saudaranya.
"Wooww...aku tahu siapa kau.!"
"Kau Levin kan...kau sangat pemarah sekali. Lagipula apa urusanmu kau tidak mengenal mereka. Bagaimana kalau aku pasang alat itu pada..." jedanya memancing emosi.
"Wanitamu..."lanjutnya.
Sukses sudah dia memancing pria tampan itu. Dia tahu maksud wanitanya.
Meskipun sebenarnya ada pertanyaan dalam benaknya darimana dia tahu yang dimaksud wanitanya adalah istrinya.
Tapi sejak para penjahat itu datang dan sejak dia turun dari panggung. Dia belum menemukan sosok istrinya. Dimana dia.
Wajahnya memerah, rahangnya mengeras, tubuhnya meronta ronta hebat mencoba melepaskan dirinya dari kedua saudaranya. Namun yang membuat Fero dan Kevin terkejut adalah saat melihat Levin tanpa sadar mengeluarkan air mata.
"Levin tenangkan dirimu...kumohon.."ucap Fero sambil merangkul tubuh keras Levin yang terus meronta.
"Kak..kumohon jangan seperti ini. Kita tahu kalau Kak Key wanita yang kuat. Ingat itu Kak...dia hebat Kak.." isak Kevin
Entah kenapa kata kata Kevin membuatnya mulai tenang. Benar dia harus tenang.
" Sebaiknya kalian gunakan waktu kalian untuk menghubungi polisi dan membebaskan pamanku. Dan aku tidak mau tahu bagaimana caranya jika sampai polisi tahu mengenai ini ...remot yang aku pegang ini akan aku percepat.."ucapnya dengan santai.
Lagi lagi Levin meluap.
" Hheeeyyy....aku bersumpah padamu.."
"Lepaskan aku Fero..."Fero dan Kevin menahan tubuh Levin yang akan berlari menghajar orang itu.
" Lev...tenangkan dirimu. Lihatlah ada Bunda dan Momy..."Fero berusaha menenangkan Levin. Dia takut mereka nekad pada dua wanita paruh baya yang dari tadi terus menangis ketakutan.
Levin mulai tenang. Tapi tidak hatinya.
"Kau berurusan dengan orang yang salah. Kau tidak tahu siapa aku dan aku bersumpah padamu sedikitpun kau melukai istriku ...aku pastikan kau dan anak buahmu tidak akan selamat dari tempat ini..!" Levin benar benar kalap saat ini. Suara dingin penuh amarah membuat seluruh keluarga menatap Levin sepenuhnya.
Dan orang itupun sepertinya mulai terancam hanya dengan suaranya. Dia menelan ludah menutupi rasa cemasnya.
"Hahahaha..." tawanya berusaha menutupi kegelisahannya.
"Tapiii dimana dia ya...?"lanjutnya dengan mata mencari sosok wanita hamil.
"Kalian...cepat cari wanita itu.!" perintahnya telak.
"Dia sedang hamil pasti tidak akan bisa berlari jauh..." lanjutnya dengan mata menatap pada Levin.
"Hey.....jangan sentuh istriku. Arrggjhh..." teriak Levin frustasi karena tidak bisa berbuat apa apa.
"Hhhhaaaaa....berisik sekali kalian."
"Hajar mereka...aku sudah muak dengan keluarga ini.." suara orang itu tiba tiba.
"Dasar pengecut.."
Bugghh
Buughhh
Tanpa aba aba mereka menghajar Levin ,Fero, Kevin, Rey, dan Maxy. Berbagai umpatan mereka keluar dengan menahan rasa sakit. Bagaimana bisa satu lawan dua dengan ancaman senjata yang tidak sedikitpun lepas dari pelipis kedua orang tua mereka.
Jon dan para uncle sudah disandra dengan diikat menjadi satu dengan bom waktu ditengah tengahnya.
Hanya kelima pria itu yang belum diikat tapi sekarang mereka tak bisa berbuat apa apa. Dihajar pun mereka tak bisa melawan.
Para pengawal yang disiapkan Jon mereka pun sudah diikat menjadi satu.
Dan pengawal yang disiapkan Uncle Moe pun mereka belum bisa berkutik. Mereka menunggu perintah dari atasannya. Uncle Moe dan Uncle Fian yang sedang menyamar pun sudah diikat menjadi satu dengan para dosen dan para rektor.
"Firasat Nona Keyra ternyata benar Moe.."
"Ya kau benar.."
"Tapi dimana Nona ..?"
"Aku tidak tahu. Semoga tidak terjadi apa apa dengannya .."
"Apa ada dari orang kita yang mendampingi Nona...?"
"Ya. Aku memerintahkan Kenzo untuk terus mendampingi Nona..."
"Hubungi dia.."
"Baiklah.."
Moe dan Fian saling berbisik dengn kedua tangan mereka saling terikat. Dan dengan posisi sedikit menundukan kepala Moe mencoba menghubungi Keyra. Dan Fian menghubungi Kenzo.
Namun belum sampai memanggil nama Keyra. Moe terkejut dengan suara yang tidak asing ditelinganya. Bukan karena suara itu memanggil dirinya. Tapi karena suaranya sangat lemah dan serak seperti menahan sakit.
"Unc.." suara Keyra terdengar sangat lirih dan serak.
"Nona..apa kau baik baik saja..?" tanya Moe dengan suara lirih hampir tak terdengar.
"Perutku sakit unc.."
"Oh Tuhan. Bagaimana ini..?"
"Unc...aku tidak tahu keadaan disana. Tapi mendengar suara senjata aku tidak berani keluar. Aku bersama Sandy masih didalam toilet ..."suara Keyra serak menahan sakit dan rasa takut.
Moe dan Fian saling memandang dan rasa khawatir langsung menyelimuti mereka.
"Nona...tetaplah disana. Uncle Fian sedang menghubungi Kenzo."
"Unc...bagaimana keadan suamiku dan yang lain..?"
"Nona....mereka.." mengalirlah cerita uncle Moe dari awal mereka datang hingga suami dan yang lainnya tak bisa berkutik.
Keyra tanpa sadar menutup mulutnya dan menangis terisak.
"Kak...kau kenapa..? Ada apa Kak...? Aku takut.." Sandy ikut terisak melihat keadaan Keyra yang terus menerus mengeluarkan air mata.
Keyra benar benar tidak tahu harus melakukan apa. Dia memeluk Sandy mencoba menenangkannya.
"Hsst...Sandy tenanglah. Kita akan baik baik saja.."
Keyra dan Sandy sedang bersembunyi disebuah toilet dengan posisi Keyra duduk diatas closet yang tertutup. Dan Sandy berlutut dibawah Keyra sambil memeluk perut besarnya.
Keyra memejamkan mata sembari berdoa dan berpikir. "Tuhan beri aku petunjukmu.."
Braakk..
"Hahahahaha....rupanya kalian disini."