My Two Men Protector

My Two Men Protector
13.



Braakk


Suara pintu ruangan yang dibuka paksa mengejutkan Fero.


"Fer..gue mau tanya ama loe." ucap Levin dengan tiba tiba karena dengan tergesa gesa masuk keruang kerja Fero.


"Hooy..loe kesambet setan mana. Ga bisa ya loe ketok pintu dulu...",omel Fero saat sedang fokus fokusnya mengecek data yang ada dilayar laptop ternyata diganggu oleh sahabatnya itu.


" Sory...gue cuma mau nanya. Loe kenal Alex, seniornya Keyra dikampus.??"tanya Levin.


"Alex..?? Gue baru denger nama itu. Coba gue cek namanya..bentar." ujar Fero.


Fero memang mempunyai data nama nama mahasiswa yang dia minta dari kampus Keyra. Karena dulu ayahnya pemegang saham kampus itu. Dan sekarang Fero melanjutkan usaha ayahnya.


"Biasanya kalau ada data terbaru apapun dari kampus gue pasti langsung update. Tapi dari kemaren gue ga ada kabar dari sana." ucap Fero sambil menekan tombol tombol dilaptop mencari sesuatu yang didampingi oleh Levin disebelahnya.


Fero tampak mengernyitkan dahinya.


"Alex..ga ada yang namanya Alex Lev.., apa itu bukan nama aslinya." tanya Fero.


BRAAKK..


Levin secara spontan menggebrak meja kantor Fero dengan muka memerah penuh emosi.


"Emang kenapa Lev..."Fero tampak berpikir dan seketika ingat adiknya.


" Keyra dimana Lev..? "tanya Fero yang langsung bangkit dari duduknya.


"Tenang aja..Key ada dikafenya. Dia ijin pulang dari kampus terus katanya pengen ke kafe." ujar Levin dengan keadaan sudah tenang kembali.


"Kenapa dia ijin pulang...sakit..?" tanya Fero dengan muka khawatir.


"Tidak. Kalaupun sakit gue ga mungkin ada didepan loe. Dia ijin pulang gara gara ketemu orang yang namanya Alex itu." Levin menjelaskan.


"Fer..Alex si songong itu ngajak kenalan Keyra tapi Keyra ga nanggepi, dia malah ketakutan. Key bilang dia orang jahat jadi takut. Memang kalau dilihat dari tatapannya sama Key dia genit banget, pengen gue colok tuh mata terus gue cemplungin ke minyak mendidih." geram Levin dengan muka memerah kembali.


"Dan Keyra...dia terlihat sangat panik. Wajahnya pucat, tubuhnya gemetar. Apa yang terjadi Fer..?"


"Itu karena kejadian itu." ucap Fero seperti menjawab keheranan Levin.


"Maksud loe.." tanya Levin dengan menatap Fero tajam.


"Hhmm..mungkin ini saatnya gue crita ama loe." ucap Fero dengan mencoba duduk kembali di singgasananya. Dan Levin pun duduk tepat didepannya.


"Sebenarnya Ayah ga meninggal karena kecelakaan, tapi dia dibunuh karena menyelematkan Keyra yang waktu itu diculik dan tragisnya dia melihat dengan mata sendiri kematian Ayah kami dan itu yang menyebabkan dia trauma sampai sekarang" ucap Fero tanpa jeda.


Levin tercengang.


"Kejadiannya waktu kami pergi berlibur ke Singapura. Kami memang berlibur tapi tidak dengan Ayah. Ayah sedang mengadakan pertemuan bisnis dengan rekannya. Namun yang gue dengar perjanjiannya dibatalkan . Ayah tahu mereka curang.


"Keputusan Ayah ternyata membuatnya merasa bersalah setelah Keyra tiba tiba diculik. Ayah sudah tahu mereka lah yang menculik Keyra. Ayah rela menukar dirinya dengan Keyra, namun itu hanya akal licik mereka. Mereka menyiksa Ayah didepan Keyra sampai meninggal.


"Setelah puas melihat Ayah meninggal,mereka pergi begitu saja. Saat gue menemukan Keyra dan Ayah. Keyra terikat dan terlihat sangat lemah dengan seluruh tubuh penuh cambukan." ucap Fero dengan terisak.


"Wajahnya penuh banyak lebam. Luka cambukan dibadannya buat gue sesak nafas. Kepalanya berdarah seperti telah dipukul oleh benda keras. Gue semakin lemas setelah melihatnya hanya mengeluarkan air mata tanpa henti dan terus menyebut nama Ayah.."


Ada getaran dihati Levin dia merasa sesak mendengar penderitaan gadisnya.


"Beberapa bulan setelah kejadian itu, gue belum berhasil menemukan pembunuh Ayah. Karena pikiran gue terbagi untuk Keyra dan Bunda. Gue jadi ga bisa fokus mencari pelakunya.."


"Keyra seperti orang yang tidak mau hidup. Dia selalu melamun dan sering tiba tiba kepalanya sakit yang membuatnya ingin membunuh dirinya sendiri.


Levin menutup mulutnya tak percaya.


" Bunda sering pingsan karena Keyra. Suatu hari mungkin itu hari yang tak pernah terlupakan. Keyra tiba tiba berteriak histeris memanggil Ayah,dia terus berteriak minta maaf pada Ayah,dia merasa dirinya yang membuat Ayah terbunuh."


"Dia terus membentur benturkan kepalanya,hidungnya berdarah dan sakit dikepalanya membuat dia koma. Dokter mengatakan itu karena traumanya yang sangat menyakiti hatinya. Bahkan dokter mengatakan Key termasuk beruntung karena dia dinyatakan koma, jika sakit dikepala yang menyebabkan hidungnya berdarah lagi kami akan kehilangannya..."


" Sungguh gue ga bisa membayangkan jika dia pergi Lev. Gue memutuskan untuk tidak mencari pelakunya itu. Semua utusan gue tarik kembali agar tidak mencari mereka kembali. Gue menyebarkan berita pada semua media kalau Ayah kami meninggal karena kecelakaan. Gue berpikir itu akan membuat Key tidak menyalahkan dirinya sendiri lagi."


"Enam bulan bangun dari komanya Keyra seperti orang yang baru terlahir kembali. Bahkan berita meninggalnya Ayah karena kecelakaan sudah sedikit menutup ingatannya akan kejadian itu. Gue dan Bunda bersyukur karenanya. Namun kata dokter traumanya bisa saja tiba tiba datang. Dan itu yang kami jaga selama ini agar terus selalu disampingnya.."


"Gue jadi semakin protectif padanya. Gue ga peduli jika dia marah sama gue karena tindakan gue. Gue ga mau kehilangan orang yang gue sayangi untuk kedua kalinya. Apalagi sejak bangun dari komanya. Dia seperti bisa menilai orang dari raut mukanya, dia bisa langsung menjauhi orang itu jika dia merasa orang itu orang jahat. Dia panik jika melihat orang yang menurutnya benar benar asing.."


" Gue berfikir...mungkin karena hanya Keyra yang mengenal pelaku yang telah membunuh Ayah. Tapi gue gak pernah menanyakannya sampai sekarang. Gue takut sesuatu terjadi lagi padanya."


"Loe tau ga Lev...saat Keyra sama loe,gue belum pernah melihat dia senyaman itu sama teman prianya selain gue." ucap Fero.


"Teman pria...maksud loe..? " ucap Levin dengan sedikit teriak.


"Loe kira ade gue temennya cewe semua, loe kira kampus itu khusus kampus cewe. Gila aja loe.." ledek Fero


Levin terlihat frustasi mengacak rambutnya. Teringat kembali akan sosok Alex.


"Loe tenang aja..kan gue sudah bilang. Dia udah nyaman sama loe. Tinggal loe nya aja bagaimana perjuangan.." ucap Fero menenangkan emosi Levin.


"Gue harap loe bisa jagain ade gue. Meskipun gue masih belum percaya ama loe seratus persen , tapi kalau loe serius sama ade gue. Camkan ini baik baik..Gue ga peduli loe sahabat gue tapi kalau loe bikin kenapa napa ade gue..gue akan BUNUH LOE." ucap Fero penuh penekanan serius.


Levin hanya menanggapinya dengan santai.


"Loe tahu Fer...sebenarnya gue kesini karena gue mau dijodohin sama Mommy. Karena sampai sekarang gue ga pernah bawa cewe ke rumah..." ucap Levin polos.


"Apa..?" ucap Fero terkejut


"Gue ga suka dijodoh jodohin. Sebelum gue ketemu sama cewe yang mau dijodohin sama gue. Gue terima tawaran Daddy untuk mengurusi perusahaan baru disini."


"Entah kenapa saat bertemu Keyra gue merasa ada yang beda dihati gue. Apa ini yang dinamakan cinta pandangan pertama. Loe tahu sendiri kan sejak kuliah gue selalu dihadapkan dengan bisnis dan bisnis. Mungkin itu sudah mendarah daging dikeluarga gue. Dan gue menikmati itu. Sampai sampai gue ga pernah ngrasain yang namanya cinta sebagai kekasih..."Levin menceritakan awal mula dia memutuskan untuk hidup dinegara ini.


"Gue mau Keyra jadi istri gue. Besok gue mau ngomong sama Mommy dan Daddy gue buat nglamar dia. " lanjut Levin.


"Hmm..kalau masalah itu gue serahin sama Keyra. Kalau dia setuju gue ga bisa buat apa apa." ucap Fero


"Oh ya..banyak yang loe mesti tahu tentang Keyra. Gue kasih tahu hanya beberapa hal kecil."


"Keyra...dia akan sangat manja jika sudah menyayangi seseorang,dia sangat suka sama susu moca,dia suka menggambar,suka menyanyi,dia ga suka petir sama gelap ...itu salah satu traumanya.."


" Kalau loe sayang ama dia..loe ga boleh jauh jauh sama dia. Karena sampe sekarang pun gue sama Bunda ga pernah ninggalin dia jauh jauh.."


"Gue pernah ninggalin kerjaan gue karena Keyra ada kegiatan sosial kampusnya di Surabaya. Yaaa...meskipun akibatnya dia jutek abis sama gue. Ck.." kenang Fero dengan senyum kecil.


"Tenang aja .. Gue ga akan pernah jauh jauh sama dia. Kalau gue kerja diluarkota gue pasti akan bawa dia." ucap Levin


"Mulai sekarang loe serahin tanggung jawab buat jagain Keyra sama gue." lanjut Levin dengan menepuk bahu Fero.


Fero hanya tersenyum dan menganggukan kepala.


"Gue ke kafe ya.. Mau jemput gadis cantik gue..hehe.." ucap Levin dengan melihat jam ditangannya.


"Ok..hati hati ya bawa ade gue."


"Siipp..." ucap Levin sambil berlalu pergi.


-----------


"Non jangan Non...ini sudah perintah Tuan Fero sama Tuan Levin. Kalau anda di sini anda tidak diijinkan ikut membantu kerja disini." ucap Pak Anton.


Saat ini Keyra sedang berada dikafenya yang sedang sangat ramai. Namun dia tidak boleh sedikitpun ikut membantu karena perintah dari Fero dan Levin.


"Paman..biar Key yang antar pesanan ini" ucap Keyra memohon pada Anton.


Dia sudah gatal tangannya kalau melihat kafenya sudah ramai.


"Noon..paman mohon kali ini saja Non nurut sama Paman." ucap Anton.


"Kalau anda tidak nurut nanti salah satu dari kami akan kena akibatnya." lanjutnya.


"Maksud Paman apa..?" tanya Keyra


"Salah satu dari kami nanti akan dipecat Non." jelas Anton kembali


"Permisi Non.." Anton berlalu pergi meninggalkan Key untuk mengantar pesanan.


Keyra tercengang,bingung,marah,senang bercampur jadi satu dalam hatinya. Tidak seharusnya mereka terlalu posesif padanya yang membuatnya merasa tidak enak hati pada orang yang ada didekatnya.


Namun disisi lain dia merasa sangat nyaman karena sudah ada dua orang yang sangat menyayanginya.


Keyra akhirnya pergi ketaman belakang menyendiri disana, berusaha mengabaikan keramaian yang ada dikafenya. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku gambar dan alat nya. Yaa..dia memang suka melukis.


Melukis bagi Keyra seperti ungkapan imaginasinya. Saat ini dia sedang melukis sebuah bangunan.


Tak lama dia dikejutkan dengan sebuah kecupan dipuncuk kepalanya.


"Kak Levin.." ucap Keyra dengan senyum manis.


"Hai sayang..." sapa Levin dengan mengecup bibir Key sekilas.


"Kak.." teriak Keyra.


"Kakak suka sekali menciumku apa tidak lihat ini tempat umum" tanya Keyra.


"Kakak tidak peduli sayang.." ledek Levin.


"Aku rindu..."lanjutnya.


Keyra merasa ada kupu kupu terbang didalam perutnya.


Key memukul pelan dada bidang Levin.


"Kita pulang.." tanya Levin.


Key hanya menganggukan kepala.


"Gendong.." ucap Key manja.


"Dengan senang hati my princes.." ucap Levin dengan senyum.


Levin membantu membereskan perlengkapan Keyra dimasukan kedalam tas. Setelah semua beres Levin berjongkok membelakangi Keyra.


"Ayo.." ajak Levin agar Keyra segera naik kepunggung Levin.


Kedua tangannya langsung dikalungkan keleher Levin. Dan menjatuhkan badannya dipunggung Levin. Levin pun langsung mengangkatnya.


"Kak...Key berat ya..?" tanya Key manja.


"Ngga kok..ngga berat. Apa makanmu sedikit." tanya Levin


"Key ngantuk Kak.." pertanyaan Levin tidak dijawab oleh Keyra.


Entahlah sejak bertemu dengan pria yang sedang menggendongnya ini. Key merasa lupa akan sekelilingnya, yang diinginkannya hanya mencium aroma tubuhnya dan selalu dekat dengannya.


Levin hanya tersenyum. Dia jadi teringat perkataan Fero sahabatnya. Key akan menjadi sangat manja jika sudah menyayangi seseorang.


"Tidurlah sayang..." ucap Levin dengan tersenyum bangga.