My Two Men Protector

My Two Men Protector
69.



Saat ini seluruh keluarga Ferdinand berada di rumah sakit besar menunggu putri kesayangan mereka dengan perasaan khawatir. Sangat khawatir.


Sudah satu jam sejak dia masuk namun belum ada kabar apapun dari para dokter. Tidak tanggung tanggung Jon memanggil seluruh dokter ahli yang berada dirumah sakit itu.


"Levin...sebaiknya berhenti mondar mandir seperti itu. Dad yakin putriku baik baik saja.."


"Tapi kenapa belum ada kabar Dad...Oh God...aku belum pernah sekhawatir ini ..."Levin mengacak rambutnya frustasi.


"Putriku sedang berjuang Nak dan kita harus menemaninya. Jangan membuatnya pantang menyerah.."


"Benar Kak..."Sandy menghampiri Levin.


"Aku tidak tahu dibuat dari apa hati Kakakku Key. Disaat dirinya sama sama ditahan oleh mereka. Disaat tubuhnya terus menerus merasakan sakit. Kakakku berusaha keras menyelamatkanku.."


"Disaat kita sedang sibuk menyiapkan perayaan. Disaat kita sibuk dengan baju pesta. Dia malah sibuk menyiapkan pasukan,senjata,dan peralatan mengerikan lainnya. Aku hampir takut melihat sisi Kakakku yang satu itu.."


"Tapi dalam hatiku paling dalam...aku yakin Kakakku akan kembali padaku.."ucap Sandy tegas dan terisak.


Semua keluarga menatap wajah Sandy yang sembab karena terlalu sedih melihat kondisi Keyra.


Ceklek


"Dokter...bagaimana kondisi istriku..?"Levin langsung berlari menghampiri dokter dengan cepat.


Namun...mereka terdiam saat melihat raut wajah sang dokter.


"Dokter..."


"Kondisi janin baik baik saja bahkan sangat sehat.."nafas lega dan senyum kecil terpancar diwajah para keluarga.


"Namun.."


Jantung Levin berdebar kencang. Takut...takut sekali...untuk mendengar sebuah kabar saja baru pertama ini dia merasa benar benar sangat takut.


"Nona Keyra..."


"Apa yang terjadi dengan istriku dokter..!!"Levin mencengkram krah baju sang dokter.


"Levin...Lev...hentikan..!"perintah Jon dibantu oleh saudara lainnya melepaskan kedua tangan Levin dari leher dokter itu.


"Katakan Dok...apa yang terjadi dengan putriku..?"mohon Jon dengan mata berkaca.


"Tuan Jon maafkan kami dengan kabar ini.."


"Nona Keyra koma.."


Deg


Deg


Deg


Jatuhlah sudah tubuh Levin dengan Fero terus menahan tubuhnya.


Teriakan histeris pun langsung terdengar dari suara Sandy dan saudara lainnya.


Bunda dan Momy pingsan. Uncle Moe dan Fian benar benar terpukul dengan berita itu.


"Apa maksudmu Dok..."ucap Levin sangat lirih dan terisak.


Entah bagaimana sang dokter ikut berjongkok menyetarakan tubuh Levin yang lemah. Dia sangat terharu dengan kasih sayang keluarga ini.


"Tuan...saya akan jelaskan disini. Sungguh saya tak tega melihat kesedihan kalian .."


Akhirnya dokter itupun menjelaskan didepan seluruh keluarga Ferdinand masih didepan ruang IGD.


"Nona Keyra terlalu banyak pikiran. Bahkan dengan sangat terpaksa memikirkan sesuatu diluar batas kemampuan fisiknya. Dan terus terang itu dilarang untuk wanita hamil. Jika dalam keadaan tidak hamil saya yakin Nona tidak akan seperti ini. Tapi berhubung Nona punya riwayat koma sebelumnya jadi itu tidak dianjurkan Tuan...Saya tahu bagaimana keluarga anda begitu melindungi Nona. Tapi...hati dan perasaan kita tidak bisa menebaknya bukan. Dan Nona diam diam melakukan itu.."


"Detak jantungnya lemah. Ketahuilah Tuan...meskipun Nona tidak melakukan aktivitas berat. Tapi untuk wanita hamil pikiran berat sangat berpengaruh. Kami tadi lama diruang itu karena..."jeda dokter itu.


Semua kepala menatap dengan sedih dokter itu.


"Karena detak jantung Nona sempat berhenti.."


Kembali seluruh keluarga Ferdinand menangis meraung raung.


"Apa ini...kenapa jantungku sakit sekali..."ucap Levin dalam hati dengan menyentuh dadanya.


Namun sebuah tepukan dibahu Levin membuatnya kembali mendongakan kepalanya.


"Tapi...istri anda sangat kuat. Dia berjuang dengan hebat. Dia kembali..anda beruntung mempunyai istri yang hebat seperti Nona Keyra.."ucapnya lagi dengan senyum kecil.


"Terimakasih sayang. Cintaku.."isak Levin dalam hati.


"Namun ada satu hal lagi yang harus kalian siapkan.." kembali dokter itu mengucapkan dengan nada tegas.


"Beruntunglah karena bayi yang ada dalam kandungannya tidak berpengaruh pada kesehatan ibunya. Saya perkirakan dua minggu lagi mereka lahir.."


"Dan saya kira mau tidak mau kita jalankan operasi caesar. Tapi..jika dalam dua minggu itu Nona Keyra tidak bangun dari komanya. Kalian harus..."


"Harus apa dokter..?"tanya Jon dengan bergetar seluruh tubuh.


"Harus menerima kenyataan untuk hidup Nona Keyra.."


Kenapa selalu Kakak..?


Apa yang harus aku lakukan tanpa dia..?


Apa maksudnya tentang kehidupannya..?


Dia adalah hidup kami.


Dia adalah hidup keluarga Ferdinand.


"A apa mak sud mu Dok..?"ucap Levin terbata.


"Akan saya permudah. Kita tidak bisa melakukan operasi saat pasien sedang koma..itu terlalu beresiko.."


"Tuan Jon , Tuan Levin dan seluruh keluarga sekalian. Percayalah bahwa di alam bawah sadarnya Nona Keyra sangat membutuhkan dukungan anda anda sekalian. Bantu dia keluar dari kegelapan. Jangan terlalu bersedih. Dukung dia. Ceritakan apapun padanya. Bukan berarti seorang pasien koma tidak bisa apa apa. Dia masih bisa mendengar Tuan.."


"Nona akan segera dipindahkan ke ruang rawat. Saya permisi Tuan Tuan..."pamit dokter itu.


Levin terduduk lemas dengan kepala tertunduk diatas lututnya. Dia terus menangis.


"Apa yang harus aku lakukan Dad..?"


Jon mendekat dan mengusap rambut putranya. Sungguh baru pertama kali ini dia melihat putra tunggalnya semenyedihkan ini.


"Kita lakukan apa yang diperintahkan Dokter..."Levin mendongakan kepala menatap Dadynya.


"Kau harus bangkit Nak..kita semua harus bangkit...dan aku perintahkan pada kalian. Buang wajah sedih kalian. Karena putriku tidak suka melihat wajah seperti itu.."ucap Jon dengan air mata terus mengalir.


Benar..


Istriku tidak suka melihatku sedih. Bahkan dia akan menangis jika melihatku sedikit lelah. Ucap Levin dalam hati.


Levin berdiri. Dia usap sisa air matanya. Bersamaan dengan itu pintu ruang IGD terbuka. Dan terlihat beberapa perawat mendampingi tubuh Keyra yang berbaring dengan damai disebuah kasur rumah sakit.


Levin lagi lagi mematung. Kenapa ini terjadi lagi. Kenapa...


Beberapa alat alat canggih sudah terpasang rapi disamping kanan kiri tubuh Keyra.


Seluruh keluarga Ferdinand mengikuti tubuh Keyra yang berbaring sedang dibawa menuju ruang VVIP.


Saat sudah sampai..para perawat dengan cekatan memasang alat alatnya kembali.


Satu persatu perawat berlalu pergi meninggalkan ruangan.


"Kami permisi Tuan. Kami akan datang bergantian setiap setengah jam sekali untuk melihat keadaan.."ucap salah satu perawat.


Namun ada yang aneh dalam penglihatan keluarga Ferdinand. Satu perawat perempuan masih setia berdiri disamping tubuh Keyra. Memandanginya dengan penuh sayang.


Tiba tiba...


"Nona...berjuanglah. Anak anakmu sangat membutuhkanmu. Saat kau seperti inipun mereka masih aktif bergerak...sepertinya mereka ingin ibunya segera bangun.."ucapnya dengan meneteskan air mata.


Saat perawat itu akan segera pergi. Dia baru sadar bahwa tinggal dirinyalah yang belum keluar. Dan yang mengejutkan saat berhadapan dengan seluruh keluarga Ferdinand.


Perawat itu menatap Jon.


"Maaf..."ucapnya lalu segera menundukan kepalanya sopan.


Jon mengerti.


Tapi entah keberanian dari mana perawat itu kembali mendongakan kepala.


"Tuan...cucu cucu anda laki laki. Mereka sangat sehat. Bahkan bergerak aktif. Saya terlalu kagum pada Nona Keyra...Nona sangat menjaga sekali putra putranya..oh ya sebentar.."jeda perawat itu


Perawat itu meninggalkan ruangan sejenak lalu kembali dengan sangat cepat.


"Ini Tuan..."perawat itu memberikan sebuah kain penyangga perut.


"Tanpa kain ini mungkin cucu cucu anda akan..."perawat itu segera membungkam mulutnya karena merasa berbicara lancang.


"Maaf Tuan..."


"Kain ini terbalut diperut Nona.."


"Maaf sekali lagi. Saya permisi.."pamitnya


"Tunggu...!"perintah Levin


Perawat itu berbalik.


"Apa benar putra putraku bergerak..?"


Perawat itu kembali menghampiri tubuh Keyra. Dan menganggukan kepala saat Levin menatapnya.


"Mereka semakin sering bergerak Tuan. Anda jangan khawatir...meskipun Nona masih tertidur kami terus memberi mereka asupan nutrisi.."


Perawat itu hendak beranjak lagi. Tapi tiba tiba berhenti lalu mengalihkan pandangannya pada Levin.


"Maaf...apa anda yang bernama Tuan Levin..?"


"Ya.."jawabnya dingin tanpa mengalihkan pandangannya pada istri tercintanya.


Perawat itu akhirnya tersenyum.


"Nona sempat menyebut nama anda sebelum koma.."ucap perawat itu membuat Levin menatapnya.


Kemudian perawat kembali menatap wajah pucat Keyra. "Nona...suamimu sudah datang. Jadi kembalilah..."ucap perawat itu kemudian mengecup pipi Keyra lembut.


"Permisi.."


*****


"Dimana ini...?"


"Kak Lev...?"


"Kak Fero..?"


"Max..."


"Keviinn...Rey ..Sandyy...?"


"Mom...Bunda...? Kalian dimana...?"


"Dad...?" Where are you..?"isak Keyra


"Kak Levin...aku dimana. Kenapa gelap sekali. Tolong aku Kak...."dia berlutut lemas dan menundukan kepalanya.


Lalu dia melihat perut besarnya..dia usap perutnya.


"My baby's...apa yang terjadi sebenarnya pada Momy son..?"


"Oh Tuhan...apa yang terjadi padaku.."


"Nak ..kau belum kembali..?"


Keyra membeku mendengar suara itu. Suara yang dirindukannya. Benar benar rindu. Dia mencari sumber suara itu.


"Kembalilah Nak...mereka menunggumu ."


Sebuah cahaya muncul tiba tiba didepannya. Lalu muncul sebuah sosok pria paruh baya yang masih sangat tampan.


"Ayah..."tangis Keyra sangat merindukan sosok itu. Kedua tangannya reflek membentang lebar ingin meraih sosok itu.


Sosok itu mendekat dengan tersenyum damai. Lalu memeluknya sangat erat. Keyra benar benar merasakan kembali pelukan hangatnya. Oh Tuhan...ini pelukan Ayah yang sama. Berarti aku...


Lama mereka berpelukan melepas rindu.


"Ayah tahu semua yang terjadi padamu putri cantikku..."


Keyra mendongakan kepalanya yang masih tenggelam didada sang Ayah.


"Apakah aku sudah mati Ayah..?"tanyanya dengan wajah sembabnya.


Pria itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Kau hanya terlalu lelah sayang dan butuh sedikit istirahat .."Keyra kembali menenggelamkan kepalanya didada sang Ayah.


"Aku ingin bersama Ayah saja."


"Lalu bagaimana dengan suamimu..?"


Keyra terkejut mendengar pertanyaan Ayahnya. Dia menatap sang Ayah kembali.


"Bagaimana dengan saudara saudara kesayanganmu..? Ehmm...siapa nama mereka. Kevin..Rey...Sandy dan yang paling manja padamu siapa dia..?"sang Ayah terlihat menerka nerka.


"Maxy..."ucap Sang Ayah dan Keyra bersamaan. Dan kemudian mereka tertawa bersama.


"Lalu Kakak Kandungmu...Bundamu...kau tahu sayang mereka semua sangat menantikanmu..."Keyra kembali memeluk sang Ayah semakin erat.


"Ayah sangat bangga padamu Nak. Kau menyelesaikan tugas dengan lancar. Dan karena kau putri Ayah...karena tugasmu belum berhenti sampai disini...kau harus kembali. Kau lihat perut besarmu...apa kau tidak ingin melihat mereka.."ucap sang Ayah skakmat.


Keyra mengusap perut besarnya .


"Aku sangat ingin melihat mereka Ayah...kami sudah berjanji akan membesarkannya dengan penuh cinta."


"Maka dari itu...buka matamu dan kembalilah. Belum saatnya kau disini Nak..."


"Ayah..."


"Ayah sangat bahagia melihat kebahagiaanmu dari sini Nak.."sang Ayah menangkup kedua pipi sang putri kemudian mengecup keningnya lama.


"Kembalilah...dan berbahagialah Nak. Ingatlah satu hal..."


"Ayah akan selalu disampingmu..ku..."ucap Keyra dan sang Ayah bersamaan.


Mereka tertawa kembali.


**********


"Lev...sebaiknya kau pulang. Istirahat dirumah dan tidur.."Fero mendekati Levin yang sudah seperti...mayat hidup.


Bagaimana tidak...sudah tiga hari sang istri tak kunjung bangun. Dan itu sungguh membuatnya kehilangan separuh jiwanya.


"Lev...biar aku yang berganti menjaga Keyra. Kau pulanglah.."ucapnya lagi karena sama sekali tak mendapat respon darinya.


"Bagaimana jika dia bangun lalu mencariku.."ucapnya lirih dengan genggaman tangannya tak pernah sekalipun lepas dari tangan Keyra.


"Aku akan segera mengabarimu.."jawab Fero


"Tapi aku ingin aku yang pertama dilihatnya.."


Fero mulai kesal dengan keras kepalanya.


"Lihatlah penampilanmu. Kau seperti mayat hidup. Adikku pasti tidak ingin melihatmu seperti ini. Pulang dan makanlah sesuatu. Sudah tiga hari kau isi perutmu dengan roti kecil dan kopi. Kau ingin membunuh dirimu sendiri Hahh..."bentak Fero.


"Tidak...istriku bukan wanita seperti itu. Istriku mencintaiku. Dia sangat mencintaiku.."ucap Levin dengan masih menatap wajah sang istri.


"Sayangg...bangunlah. Sudah cukup kau tidur cintaku. Kau bilang padaku kau akan selalu disampingku...kau.."Levin kembali terisak menundukan kepala.


"Lev...tenangkan dirimu. Dia pasti kembali..."


"Aku tahu..."


"Tapi aku lemah sekali melihatnya seperti ini. Dia sudah mengambil separuh jiwaku dengan terus berbaring seperti ini. Bangunkan dia Fer...mungkin dia akan mendengarkanmu.."


"Ayo...aku antar kau pulang.."Fero menarik tubuh Levin agar terbangun dari tempat duduknya.


"Tidak..lepaskan aku.."Levin menepis tangan Fero.


"Kau jangan keras kepala Lev..."


"Aku tidak keras kepala. Aku hanya ingin menemaninya.."


"Tapi tidak seperti ini.."


"Biar saja..jangan perdulikan aku. Aku hanya ingin disampingnya.."


"Lev...sadarlah Lev...lihatlah sekelilingmu. Mereka juga sangat mencintai Keyra. Tapi kita sadar jika mereka melakukan seperti yang kau lakukan mereka takut Keyra marah pada mereka...kau mengerti maksudku Haah..."teriak Fero dengan memaksa tubuhnya menghadap beberapa orang yang tertidur disofa panjang.


Kevin,Rey dan Maxy sedang tidur berjejeran disofa itu. Jon tidak mengijinkan para perempuan untuk berjaga. Biar para pria lah yang menginap.


Mendengar keributan diruangannya para saudara yang tertidur pun terbangun dengan sendirinya.


"Sekarang...dengarkan aku. Aku akan mengantarmu pulang dan..."


"Tidak..."


"Minggir.."teriak Levin namun karena tubuhnya lemah dia sempat limbung namun segera ditahan oleh Fero.


"Lev..."


"Awas..."Levin mencoba menepis Fero namun tiba tiba.


Bugh...


Bugh...


Fero memukuli wajah Levin bertubi tubi hingga tubuhnya sudah berada dibawah Fero.


Para saudara lainnya terkejut dengan Fero.


"Hey Kak...stop it.."Maxy dan yang lainnya mencoba menahan tubuh Fero yang berada diatasnya.


Levin sama sekali tak melawan.


"Kak...kau bisa membunuhnya.."


"Lepaskan aku...aku benci sekali dengannya. Apa dia tidak mengerti sama sekali. Aku hanya menyuruhnya istirahat dan makan yang benar..."ucap Fero dengan nafas terengah.


"Kau ini bodoh atau apa. Bagaimana reaksinya nanti melihat suaminya seperti zombie haahh...dia pasti akan merasa sangat bersalah. Kau ini bodoh...bodoh...arrghh..."teriak Fero tak sadar jika mereka masih diruang rumah sakit.


Levin berjalan tertatih meghampiri tubuh sang istri. Fero benar...dia salah. Tapi dalam lubuk hatinya dia masih sangat sakit melihat kondisi istri tercintanya sedang terbaring koma dalam keadaan hamil besar. Bahkan seluruh organ tubuhnya ingin sekali menggantikan posisinya saat ini. Sungguh dia sangat tidak tega.


"Sayang..."isak Levin. Bahkan semua saudara yang masih disampingnya merasa iba dengan kondisinya akhir akhir ini.


"Sekalii saja...jika kau mendengarku. Beri aku tanda. Sekalii saja sayang...aku mohon.."tangis Levin dengan mengecup jemari tangan Keyra.


"Apa saja...tanganmu..matamu atau apapun itu. Kumohon...."


"Kumohon sayang...."


Jangan salah...Keyra mendengarnya. Bahkan tanpa mereka sadari satu tetes air mata turun dari kelopak matanya.


"Aku mendengarmu Kak..."ucap Keyra dalam hati.


"Aku kembali untukmu Kak.. Suamiku.."


"Kak..."suara lirih Keyra. Bahkan sangat lirih.


Levin mendengarnya. Suara itu...suara yang sangat dirindukannya. Dia mendongakan kepala.


"Sayang..."Levin mengangkat tubuhnya dan mendekat hingga tak ada jarakpun diantara mereka. Levin mengusap lembut pipinya.


"Kau tadi memanggilku..?"Levin terus menatap wajah Keyra yang masih terpejam. Saudara lainnya terlonjak kaget. Benarkah..?


"Sayang...panggil aku sekali lagi..?"


"Kak.."Keyra benar benar membuka mulutnya. Jantung Levin berdetak sangat cepat. Ya..dia tahu bahwa istrinya ini memanggil dirinya. Dia tahu meskipun banyak yang dipanggilnya "Kak"...tapi saat wanita ini memanggil dirinya..desiran aneh selalu menjalar ditubuhnya. Jantungnya berdetak sangat cepat. Dan itu dia rasakan sejak pertama kali mengenalnya dulu di Indonesia.


Tak terasa air mata mengalir dimata Levin. Dan senyum pun mengembang dibibirnya.


"Kak Lev in..."panggil Keyra lagi bersamaan dengan terbukanya mata indahnya yang sudah lama terpejam.


Levin benar benar bahagia sekarang. Dia telah kembali. Istrinya telah kembali padanya. Untuknya.


Sedangkan saudara lainnya saling berpelukan karena Keyranya telah kembali. Fero menghubungi keluarga lainnya. Dan Kevin berlari memanggil dokter.


Levin menghujani seluruh wajah Keyra dengan lembut. Bahkan air matanya pun tak sengaja menetes di kening dan pipinya.


Mata Keyra terus menatap wajah tampan suami yang sangat dirindukannya.


"Terimakasih sayang...akhirnya kau kembali padaku.."Levin mengecup bibir Keyra.


"Terimakasih karena kau menepati janjimu. "Levin mengecup kembali bibir Keyra.


Dengan penuh perjuangan tangan Keyra berusaha meraba wajah suaminya.


"Kenapa denganmu Kak..?"Keyra meraba wajah Levin yang penuh dengan lebam.


Levin baru tersadar. Dengan cepat dia menghapus sedikit jejak darah yang tersisa disudut bibirnya.


"Aku tidak apa apa sayang.."ucap Levin.


"Kau bohong. Kak Fero...suamiku kenapa..?"suara Keyra mulai serak menahan tangis.


Fero tercengang saat namanya dipanggil.


"Dia...itu aku yang melakukannya.."jawab Fero cepat.


Menangislah Keyra pada akhirnya.


"Sayang ..sayang...jangan menangis. Please..."Levin mengusap air matanya yang mengalir.


"Ini salahku. Aku tidak apa apa. Aku baik baik saja. Kumohon hentikan. Jangan menangis sayang.."Levin menangkup sepenuhnya wajah Keyra agar hanya dia yang ditatapnya.


"Apa kalian bertengkar gara gara aku.."isak Keyra


"Tidak sayang...tidak. Fero kakakmu hanya membantu menyadarkanku..tak ada masalah sungguh.."


"Benar.."


"Ya benar adikku..."Fero merangkul bahu Levin mencoba meyakinkan Keyra.


Keyra menatap kedua pria tampan didepannya dengan tatapan yang masih tak percaya.


"Dokter.."panggil Keyra lirih.


"Kak ..aku panggilkan Dokter."Kevin kembali bersama Dokter dan beberapa perawat.


"Nona...anda sudah..."baru saja Dokter ingin memeriksanya Keyra menahan Dokter itu.


"Tolong obati suamiku Dokter.."ucap Keyra lirih. Sang dokter sempat bingung dengan ucapannya.


"Sayang....biar Dokter memeriksamu dulu. Aku tidak apa apa.."ucap Levin sambil menggenggam tangannya.


"Dokter...lihatlah suamiku."


"Kumohon...obati lukanya.."mohon Keyra yang tiba tiba menangis.


"Tapi.."ucap Dokter itu terhenti karena melihat pasiennya menangis.


Dokter itu tersenyum. "Baiklah Nona.."


"Mari Tuan..."dokter itu menghampiri Levin.


"Disini saja Dok..."ucap Levin sambil menggenggam tangan Keyra.


"Baiklah..."ucap Dokter itu menahan tawa.


Keyra ikut meringis melihat suaminya diobati.


"Hey pelan pelan dok.."ucap Levin melihat raut wajah istrinya.


"Ini pelan Tuan. Sepertinya pukulannya terlalu keras sampai lebam begini. Saya kasih cairan ini biar cepat sembuh..."ujar dokter itu.


"Diamlah dok...ini tidak sakit. Aww.."tadinya dia hanya tidak ingin membuat istrinya khawatir. Tapi rupanya sang dokter malah menggodanya dan menekan lebam itu.


"Sakit Kak...?"tanya Keyra dengan menyipitkan mata.


"Tidak sayang..."jawab Levin sambil mengelus punggung tangannya yang dari tadi tak dilepas.


Tak lama para keluarga datang dengan wajah berbinar.


"Sayangku.."suara Momy menggelegar tapi langsung bungkam saat melihat didalam ruangan.


"Hei ada apa ini kenapa malah .."jedanya karena Levin segera membuatnya bungkam dengan menunjukan telunjuk diatas bibirnya.


"Selesai..."


"Sekarang giliran kami memeriksa anda Nona.."sang dokter menghampiri Keyra.


"Bagaimana dokter...?"tanya Keyra.


"Semuanya sudah kembali normal Nona. Ini benar benar keajaiban. Detak jantung anda pun sudah..."


"Aku tidak menanyakan keadaanku..suamiku bagaimana..?"sang dokter menghentikan pergerakan tangannya memeriksa Keyra karena pertanyaannya.


Dia sangat terkagum. Mungkin inilah kekuatan cinta. Dia terbangun karena mengkhawatirkan sang suami.


Dokter itu tersenyum.


"Suami anda baik baik saja Nona. Lebam diwajahnya sebentar lagi akan sembuh. Jangan khawatir.."Keyra tersenyum.


Levin menundukan tubuhnya dan memeluk Keyra. "Aku tidak apa apa sayang. Semua ini karena kau telah kembali padaku.."ucap Levin diceruk leher.


Keyra tersenyum. Dengan tangannya yang masih bebas tidak terkena infus dia membalas pelukan suaminya dengan menepuk punggungnya pelan.


"Ayah menyuruhku kembali.."ucapnya.


Levin menguraikan pelukannya merasa terkejut dengan ucapan istrinya. Dia menatap wajah cantik Keyra. "Ayah..?"


Keyra menganggukan kepala sambil tersenyum.


"Katanya...aku harus kembali...karena suamiku semakin jelek jika aku tidak kembali."..ucap Keyra dengan senyum manisnya. Levin memeluk erat kembali istrinya.


"Aku harus berterimakasih pada Ayah.."


"Apa kau lupa untuk makan Kak. Kau terlihat kurus..rahangmu juga mulai berjenggot.."ucap Keyra lagi dengan mata berkaca.


"Entahlah sayang...aku hanya terus memikirkanmu. Aku tidak ingat apapun selain dirimu. Jadi jangan lakukan ini lagi padaku...cukup ini yang terakhir.."Levin masih dengan memeluk Keyra erat. Dia bahkan enggan untuk melepasnya.


"Maaf.."


"Aku tidak akan melakukannya lagi.."


Jon menghampiri sang dokter.


"Bagaimana Dok..?"


"Ini sebuah keajaiban Tuan. Kesehatan Nona sudah kembali pulih. Bahkan jika memungkinkan Nona bisa saja melahirkan secara normal.."


"Tidak...aku takut putriku kesakitan lagi.."


"Tak masalah Tuan. Apapun caranya Nona sangat sehat sekarang. Kalau begitu saya permisi.."


"Terimakasih.."ucap Jon


"Sama sama Tuan. Mari.."


Jon menganggukan kepala dan tersenyum ramah.


**********


Saat ini seluruh keluarga Ferdinand sedang mengadakan acara kangen kangenan dengan putri kesayangan mereka. Keyra.


Ruangan besar itu bahkan penuh dan sangat ramai. Keyra berkali kali tertawa melihat candaan mereka. Dia bahkan sudah seperti bumil yang sehat seperti lainnya.


"Oowwhh..."


"Kenapa sayang...?"tanya Levin dengan sangat khawatir.


"Mereka terus menendang.."jawab Keyra dengan menatap perut besarnya.


Levin meletakan tangannya diatas perut Keyra dan mengusapnya lembut.


"Hei boys...are you ok. Kalian sepertinya sudah tidak sabar ingin keluar. Dady juga ingin segera bertemu kalian. Tapi bisakah kalian jangan membuat Momy kesakitan..."


Keyra tersenyum.


"Hei Nak...itu hal yang wajar jika bayi dalam kandungan seorang ibu terus menendang. Itu berarti mereka sangat aktif dan sehat.."ucap Momy.


"Tapi Mom...mereka menyakiti istriku.."


"Aku tidak sakit Kaak...hanya terkejut. Karena mereka bergerak tiba tiba.."sela Keyra.


"Tapi kau..."bantahan Levin terpotong karena suara pintu diketuk dari luar.


Maxy membuka pintu dan masuklah beberapa pria tampan.


"Unclee.."teriak Keyra saat melihat sosok unclenya. Uncle Moe dan uncle Fian. Dan beberapa pengawal lainnya.


Moe dan Fian menghampiri Keyra dan memeluknya erat.


"Kalian juga ikut..."lanjutnya.


"Ya Nona. Kami ingin menjenguk Nona...anda baik baik saja..?"Kenzo sedikit membungkukan badannya memberi salam.


"Ya...bahkan aku merasa lebih sehat sekarang. Kalian bagaimana..?"


"Kami pun begitu Nona. Terimakasih.."ucap salah satu orang disamping Kenzo. Dia orang yang berusaha menjinakan bom waktu itu.


"Kami kesini hanya ingin mengucapkan terimakasih pada anda Nona. Sekalian berpamitan.."Keyra menyipitkan matanya mendengar pernyataan satu pria lagi yang sebenarnya Keyra belum kenal betul. Tapi dia tahu mereka pengawal yang dilatih oleh Moe dan Fian.


Semua keluarga Ferdinand mendengar dan mengamati pembicaraan mereka.


Levin membantu Keyra bangun dan menyamankan posisi duduknya.


"Kalian mau keluar dari..."ucapan Keyra terpotong.


"Tidak Nona..kami sama sekali tidak berniat keluar dari organisasi yang dibentuk oleh Nona. Bahkan penghasilan dan kehidupan kami berawal darimu Nona.."Kenzo menyela ucapan Keyra.


"Ya benar Nona.."


"Kami...kami hanya mau pulang sebentar.."


"Memang asal kalian darimana..?"tanya Maxy penasaran.


"Saya dari Jepang.."ucap Kenzo.


"Kalau mereka dari negara yang sama. Indonesia."


Keyra tersenyum dengan tingkah Maxy yang menganggukan kepala.


"Kenapa Kak..kau mengejekku.."tanya Maxy.


"Tidak...apa kau tahu Max. Bahkan aku saja tidak tahu nama mereka.."


"Apa..!"teriak Maxy dan saudara lainnya. Keyra menganggukan kepalanya berkali kali.


"Apa kalian sakit hati..? Nona kalian tidak mengenal nama kalian."tanya Kevin pada Kenzo dan lainnya.


Kenzo dan dua pria tampan disampingnya hanya tersenyum.


"Tidak sama sekali Tuan.."


Mereka memandangi Keyra.


"Nona menyerahkan semua pasukannya pada Tuan Moe dan Tuan Fian. Meskipun begitu Nona sangat baik pada kami. Bahkan kami kagum dengan keahlian Nona.."


Keyra tersenyum.


"Siapa nama kalian ?"Selain Kak Ken tentunya.."


"Saya Jade.."


"Saya Tom.."ucap mereka bergantian dengan sedikit menundukan badan mereka.


"Lalu apa ada hal yang penting hingga kalian ingin pulang kampung .."tanya Keyra.


"Saya..mau menikah Nona.."ucap Kenzo.


"Wooow....benarkah. Kapan..?"ucap Keyra dengan wajah berbinar.


"Dua minggu lagi Nona. Berhubung banyak urusan yang harus kami urus jadi saya ijin lebih awal Nona.."


"Ya tidak apa apa. Kenapa tidak bilangĀ  sebelumnya. Mungkin Kakak bisa pergi dari kemarin.."


"Tidak Nona...keselamatan Nona lebih penting dari segalanya."ucap Kenzo menggetarkan seluruh keluarga Ferdinand.


Keyra terdiam dengan mata berkaca.


"Lalu kalian..? Apakah akan menikah juga..?"


"Ya Nona...satu minggu lagi..maafkan kami jika bersamaan. Karena saya menikah dengan adik dari Tom. Dan Tom menikah dengan saudara sepupu saya.."terang Jade.


Keluarlah air mata Keyra.


Kenzo, Jade dan Tom mematung seketika merasa bersalah.


"Nona..."


Keyra mendongakan kepala menatap uncle Moe yang dari tadi disampingnya.


"Uncle...kenapa tidak memberitahukan hal penting ini padaku. Aku merasa bersalah.."isak Keyra


"Tidak Nona...jangan merasa bersalah pada kami..kami mohon.."ucap Jade dengan wajah khawatir.


"Tidak Nona...tidak..."Moe mulai menjelaskan dari awal.


"Kau tahu siapa kami. Siapa mereka. Mereka tentara Nona. Dan kau tahu tugas seorang tentara.."Keyra menganggukan kepala.


"Tapi.."


"Nona...mungkin anda belum mengenal kami sepenuhnya. Mungkin kau tidak sadar bahwa kau selalu menyelamatkan kami disetiap pekerjaan kami. Contohnya terakhir kemarin.."


"Uncle.."


"Nona...kau tidak menganggap kami sebagai pekerjamu..pengawalmu. Tapi kau menganggap kami keluargamu. Kau anggap mereka Kakak Kakakmu. Lalu mana mungkin seorang Kakak tidak memperdulikan keselamatan adiknya.."Keyra kembali terisak.


Keyra kembali menatap Kenzo Jade dan Tom yang tersenyum padanya sambil menganggukan kepalanya pelan.


"Maaf..."


"Jangan minta maaf pada kami Nona. Justru kami yang harusnya minta maaf pada Nona. Karena kami anda terbaring disini.."ucap Kenzo


"Kami juga harus berterimakasih padamu Nona. Karena pemikiran dan keahlian anda kami semua selamat tanpa terluka sedikitpun.."


"Oh ya..kami membawakan sesuatu untuk anda.."ucap Kenzo lalu keluar ruangan.


Tak lama dia membawa sebuah..



"Maaf Nona.. kami hanya bisa memberi ini untuk putra kembar Nona jika sudah lahir nanti. Semoga bermanfaat..."


Keyra menutup mulutnya dengan mata berkaca. Mereka begitu perhatian padanya. Padahal dia namanya saja baru tahu tadi.


"Terimakasih Kak.."isak Keyra.


"Nona...sebelum pergi boleh kami minta sesuatu..?"ujar Kenzo.


"Hmm...katakan..?


"Kami ingin berfoto dengan Anda.."


Jdar..


Jdar..


Jdar..


Seorang pria tampan yang selalu disamping istrinya dengan wajah sudah memerah dan rahang mengeras mencoba menahan emosinya. Kepalan tangannya pun semakin memutih.


"Berani sekali mereka..."