My Two Men Protector

My Two Men Protector
71.



Seorang pria tampan yang masih terlelap damai dalam mimpinya terbangun karena tak mendapat sosok sang istri disampingnya. Berkali kali dia meraba disampingnya...dan benar...istrinya tidak disampingnya.


"Sayaaangg...!"sontak dia bangun dari tidurnya dan berteriak dengan sangat keras. Hampir saja dia berlari dengan cepat kalau saja dia tidak sadar bahwa dia masih dengan celana boxernya.


Kembali lagi dia kesamping kasur dan segera mengambil celana piyama panjangnya lalu memakainya dengan tergesa. Karena tak sabar dia mengambil secara gesit atasan piyamanya dan memakainya sambil berlari.


"Keeeyy....!"teriaknya berkali kali dari kamarnya menyusuri setiap ruangan.


"Heeii...pelankan suaramu bodoh...."teriak Momy dari arah dapur.


"Aku mencari istriku Mom....dimana dia..?"


"Tidak tahu...kau ini bagaimana sii.. Makanya bangun pagi jadi kau tahu apa yang dilakukan istrimu setiap pagi. Dasar bodoh..."


"Oh c'mon Mom ini baru jam 6 pagi asal Mom tahu."ucapnya. Dia sama sekali tak mempermasalahkan umpatan Momynya padanya.


"Hhhh...tentu saja Mom tahu."


"Tadinya Mom tidak boleh memberitahukannya padamu. Tapi Momy mulai kesal sekarang..."ucap Mom dengan bersidekap dada.


"Harusnya empat saudaramu juga disini. Jadi Mom tidak cape cape berbicara pada mereka..."


Mendengar ucapan besannya yang terlihat menggebu gebu Bunda hanya menggelengkan kepalanya. Dia tahu pasti suatu saat besannya itu akan membocorkannya.


"Kak...aku tinggal sebentar tak masalah.,"ucap Momy pada Bunda. Bunda tersenyum dan menganggukan kepala .


Levin terdiam dengan melihat interaksi mereka. Ada yang aneh pikirnya.


"Bunda..."tanya Levin penasaran.


Tapi tidak ditanggapi olehnya. Bunda hanya tersenyum dan mengangkat bahunya. Lalu dia kembali mengerjakan tugasnya.


Bunda dan Momy sedang sibuk membuat roti pesanan khusus putri kesayangan mereka.


Levin mengikuti Momynya. Dia tahu arah jalan ini.


Ruang gym...


Momy membuka pintunya perlahan dan Levin seketika terkejut. Ada satu ruangan tapi dia baru tahu ruangan itu sudah disekat dengan rapi mewah dan...sejuk. Ruangan itu menghadap keluar dengan pemandangan yang segar. Dari sana terlihatlah dibalik kaca seorang wanita cantik berpakaian dress putih sepaha sexy dengan perut besarnya sedang....bermeditasi.


Levin terkejut dan melototkan matanya.


"Mom...?"


"Aku tahu kau pasti terkejut.."


"Sejak awal kalian datang kemari dan sebelum kejadian penyergapan penjahat James. Keyra meminta satu hal pada Momy....dia ingin membuat ruang untuk aktivitasnya disini di ruang ini. Awalnya Momy tidak mengerti apa yang ingin dilakukannya....lalu dia bilang pada Momy. "Hanya untuk latihan Mom...". Dia maniiiss sekali.."ucap Momy sambil membayangkan saat dulu Keyra memohon pada Momy dengan jurus pupy eyesnya.


Levin memandang wajah Momynya yang sedang memejamkan mata dengan gemas.


"Pasti istriku menggunakan jurus andalannya.."ucap Levin tiba tiba.


"Ya Momy rasa begitu. Tapi dia sangat manis sekali...


Sudah sana temui istrimu ....Momy akan melanjutkan masakan Momy..."


Levin terus menatap sosok istrinya yang sedang bersila hingga terlihatlah perutnya yang sudah sangat besar sambil memejamkan mata.


Levin menghampirinya dengan perlahan. Karena tak ingin mengganggu kegiatan istrinya dia duduk perlahan disamping istrinya dan menatapnya tanpa berkedip.


"Cantik sekali istriku...""ucapnya dalam hati.


Merasa ada seseorang yang mempehatikan Keyra membuka matanya perlahan lalu spontan bertabrakan dengan mata teduh suaminya.


"Good morning..."sapa Levin lalu mengecupnya singkat.


"Kakak...."


"Bagaimana kau tahu kalau aku ada disini. Dan kau bangun pagi sekali..."ucapnya dengan nada heran.


"Aku diantar Momy..."


"Dan...cup...morning kiss..."jawab Levin.


Keyra tersenyum melihat tingkah suaminya dan mulai mengangkat tubuhnya perlahan. Levin dengan sigap membantu sang istri bangun dari duduknya.


"Apa sudah selesai..?"


"Ya. Cukup 30 menit saja. Karena perutku mengganggu konsentrasi..."ucap Keyra dengan tawanya.


Levin menuntun Keyra erat.


"Sayang...apa kau belum terasa apapun...?"


Keyra menggelengkan kepala.


"Memang kenapa Kak..?


"Hanya bertanya. Perkiraan dokter satu minggu lagi. Tapi setiap melihatmu aku takut sekali..."


Keyra tersenyum.


"Jangan takut Kak...itu akan membuatku takut juga..."


"Maaf.."


"Kakak belum mandi...?"Levin menggelengkan kepalanya.


Keyra menoleh dan menatap wajah suami tampannya sedang diam termangu. Dia tahu pasti sedang ada dipikirkannya.


Levin mengeratkan pelukan dipinggang Keyra dan terus menuntunya hingga ruang makan.


"Sayang...duduklah. Kue pesananmu sudah matang.."


"Terimakasih Mom. Maaf merepotkan Momy dan Bunda.."Keyra duduk dibantu Levin. Kemudian Levin berlalu pergi.


"Mau kemana Kak...."Keyra menahan tangan Levin.


"Hanya ingin membuatkanmu jus..."ucapanya sambil mengecup puncak kepala Keyra.


"Jus jeruk..."


"Sure..."jawab Levin kemudian menuju meja bar dan dengan lihai membuat jus jeruk favorit istrinya.


Bunda dan Momy membawa masing masing nampan berisi kue dan cemilan pesanan Keyra.


"Sayang...makanlah..."ucap Bunda.


"Terimakasih Bunda...Momy..."mereka menjawab dengan anggukan kepala dan tersenyum


"Sayang...hari ini Momy dan Bunda akan pergi mengunjungi beberapa panti lalu setelah itu pergi ke butik hanya untuk melihat stock barang. Apa kau tidak keberatan jika kami tinggal ..."


"Tapi jika kau tidak mau sendiri kami bisa pergi besok sayang..."lanjut Momy.


Keyra tersenyum.


"Mom...Bunda...pergilah. Key tidak apa apa. Lagi pula Key tidak sendiri..."


"Benar Mom...pergilah. Levin dirumah kok..."ucap Levin sambil membawa satu gelas berisi jus jeruk untuk sang istri.


"Loh bukannya ada meeting menggantikan Dady..."tanya Momy. Jon saat ini sedang pergi keluar kota mengurus beberapa perusahaannya. Harusnya ini adalah tugas Levin tapi mengingat Keyra sedang menunggu hari hari kelahirannya Jon melarang Levin untuk bepergian jauh. Lagipula Levin tak menginginkannya. Dia hanya ingin disamping sang istri setiap detiknya.


"Itu bisa diatur Mom...meeting hanya sebentar. Dan aku akan membawanya bersamaku..."


"Heeyyy...apa maksudmu Lev..."Momy mulai kesal.


"Moomm...aku akan ikut Kak Levin kemanapun dia pergi. Tenanglah...lagipula Key akan bosan jika dirumah terus sampai menunggu hari kelahiran.."Keyra menggenggam tangan Momy erat menenangkannya.


"Tapi...jika kau mulai terasa hubungi Momy dan Bunda. Ok.."


"Ok..."


**********


Saat ini Keyra sedang menyiapkan baju kantor untuk sang suami karena jadwal meeting dadakan yang sangat penting. Keyra tahu meeting itu sangat ditunggu tunggu oleh keluarga Ferdinand tapi entah kenapa bagi Levin dianggap sepele sekali. Sehingga perdebatan kecil sempat terjadi tadi setelah acara makan pagi romantis.


Namun dengan bujuk rayu sang istri...Levin menyetujuinya hanya dengan syarat tertentu yang tentu saja harus dilakukan oleh Keyra.


"Sayang....jangan lupakan syaratku tadi...ok.."teriak Levin dari dalam kamar mandi.


Keyra yang mendengarnya hanya bisa geleng kepala. Yang benar saja dia tidak tuli dan tidak mungkin lupa. Bagaimana mungkin lupa jika dia sudah diingatkan beberapa kali oleh Levin hingga dia mulai jengah sendiri.


"Sayangg....kau disitu kan...? Remember...just one meter from me..."teriaknya lagi.


"Oh Tuhan..."gumam Keyra.


"Ya Kak....aku masih disini ... aku masih ingat syaratmu dan aku berjanji akan melakukan syarat itu... Puas..."teriak Keyra dengan nada kesal.


Levin tertawa puas didalam sana.


"Puas Honey..."jawabnya dengan tawa.


"Memang aku akan kemana dengan perut besar ini...tidak boleh berjauhan maximal 1 meter. Bagaimana bisa sejauh itu jika dia terus menempel padaku. Dan apalagi syarat konyolnya itu...bermalam dihotel setelah pulang dari meeting..."gerutu Keyra sambil memilih gaun untuk dirinya ikut pergi kekantor.


"Apa dia tidak tahu jika orang yang meeting dengannya orang yang sangat susah untuk bekerja sama...bagaimana kalau tidak goal.."


"Jika tidak goal...maka aku akan mencetak goal padamu..."ucap Levin tiba tiba dengan memeluk Keyra dari belakang. Keyra terkejut dan spontan menghentikan kegiatannya mencari gaun untuknya.


"Oh Tuhan..."spontan Keyra.


"Rupanya dari tadi kau terus menggerutu. Itu tidak baik sayang bagaimana kalau anak anak kita dengar.."ucap Levin sambil mengusap perut besar Key.


Benar juga..


Keyra membalikan badan hingga menghadap tubuh Levin yang masih bertelanjang dada.


"Maaf..."


Cup...Levin mengecup bibirnya gemas.


"Aku maafkan..."jawabnya


Mereka saling pandang saling mengagumi.


"Cantiknya istriku....seandainya tidak ada meeting hari ini..."


"Tampannya suamiku. Kenapa tidak pakai baju Kak..."


"Sebaiknya pakai bajumu Kak..."ucap Keyra memutuskan pandangan mereka.


"Aku tak ingin..."


"Apa maksudmu...? Kau bisa terlambat jika seperti ini terus..."ucap Keyra yang dari tadi meronta melepaskan rengkuhan suaminya dipinggangnya.


"Aku tak perduli...."


Keyra menepuk jidatnya kesal.


"Pakai bajumu dan berangkat sekarang jika tidak ingin aku mengingkari janjiku sendiri.."akhirnya Keyra mengucapkannya dengan penuh penekanan. Dan seketika Levin melepas pelukannya.


"Ok...ok...kenapa sii sekarang kau suka sekali mengancam.."ucap Levin dengan tergesa memakai baju kantor yang sudah disiapkan oleh istrinya


"Kau sendiri belum memakai gaunmu. Kenapa terus menyuruhku..."sekarang giliran Levin yang menggerutu. Dan Keyra hanya tersenyum kecil.


Keyra menemukan gaun hamil favoritnya lalu memakainya langsung dihadapan Levin yang masih asyik menggerutu.


"Awas saja jika kau ingkar janji. Aku tidak perduli kau sedang hamil besar aku akan tetap menghukummu.."


"Sayang .... Pakai juga bajumu. Dan jangan baju yang terlalu sexi. Aku tidak suka.."lagi lagi Keyra memutar bola matanya jengah mendengar gerutuan suaminya. Siapa yang akan melirik pada wanita hamil besar. Oh c'mon.


"Nanti banyak laki laki hidung belang terus menatapmu liar. Oh Tuhan ....aku tidak bisa membayangkannya. Awas saja jika ada sepasang mata pun yang melirikmu akan kucongkel matanya..."ucap Levin masih dengan cepatnya memakai celana panjang kantornya. Merasa dirinya telah selesai memakai baju kantornya dia berbalik menghadap istrinya untuk memasangkan dasinya namun lagi lagi dia dibuat tercengang dengan penampilan sang istri.



"Sayang...."ucap Levin sambil ternganga dengan menatap penampilan istrinya dari ujung kepala hingga bawah kakinya.


Merasa dirinya dipanggil Keyra menatap suaminya dengan senyum manisnya. Tapi kenapa wajahnya tampak aneh saat melihat dirinya. Apa ada yang aneh dengan penampilannya. Dia mengaca dirinya sendiri. Tidak ada yang aneh...pikirnya.


"Apa yang kau pakai sayang...?"ucap Levin dingin. Bukannya marah ataupun kesal. Tapi sungguh....istrinya terlihat cantik sekali. Sangat cantik. Sungguh dia tak rela...kenapa dia secantik itu. Pasti banyak relasinya ...tidak tidak...bukan relasinya...karyawannya...karyawan pria khususnya pasti dengan sangat mudah menatap kagum penampilan istrinya.


Tidak...tidak...dia tidak inginkan hal itu.


"Memang kenapa Kak..."


"Sayaaang...."rengek Levin menghampiri Keyra.


"Baju itu....kenapa...?"


"Kenapa dengan bajuku Kak...apa ada yang aneh. Ini baju favoritku. Tetap sopan kan jika dipakai ke kantor...?"tanya Keyra sambil menarik ujung gaun itu dan menggoyangkannya.


Tentu saja sangat sopan. Bahkan terlihat elegan. Tapi...


"Cantik..."ucap Levin tanpa sadar.


"Lalu kenapa melihatku seperti itu. Kakak tidak suka..?"


Levin merengkuh pinggang Keyra.


"Kau sangat cantik sayang. Aku takut mereka melihatmu..."


Belum selesai ucapan Levin...Keyra memotongnya.


"Oh Tuhan. Suamiku..."Keyra menangkup kedua pipi Levin gemas. "Aku tahu yang kau maksud. Apa salahnya mereka melihatku...hanya melihat Kak...kau ini. Mereka juga punya mata.."


"Tapi aku tidak suka sayang..."


"Baiklah kalau begitu. Aku tidak usah ikut saja ya..."ucap Keyra santai.


Tentu saja ucapan Keyra membuatnya melotot tak percaya.


"Tidak. Kau tetap ikut. Tapi...bisakah ganti gaunmu..."ucap Levin lirih dengan nada memohon.


"Aku hanya mengikuti pakaianmu Kak. Aku hanya ingin tampil serasi denganmu. Apa salah...?"ucap Keyra dengan nada lirih pula.


"Lihatlah penampilanmu...kau sangat tampan.."


q1



Entah kenapa kata kata terakhirnya membuat sensasi hangat ditubuh Levin. Dan dia sangat menyukai sensasi ini.


"Maafkan aku. Kau benar...kau sudah memilikiku. Dan tak boleh melepaskannya. Takkan pernah boleh.."ucap Levin pada akhirnya lalu mengecup bibir istrinya dengan lembut dan meminta maaf lagi.


"Dan satu lagi...ini bukan hal kecil bagiku..."ucapnya lagi sambil mengecup pipinya.


"Pasangkan dasiku sayang..."


******


"Kak...apa kau tahu siapa yang akan meeting kali ini..?"tanya Keyra pada suaminya yang sedang memasang sealtbelt untuknya dengan pelan.


"Tidak. Yang aku tahu perusahaan Orion bergerak dibidang property. Dad pernah bilang padaku pemiliknya sangat sulit ditaklukan. Tapi aku tak percaya..."


"Apa Dad pernah berhubungan dengan perusahaan itu..?"


"Tidak. Kami belum pernah melakukan hubungan kerjasama dengan mereka. Hanya mendengar isu yang beredar dikalangan bisnis.."Levin menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang dengan satu tangan. Tangan lainnya dia letakkan diperut besar istrinya melindunginya.


Keyra mengerutkan keningnya.


"Kak...aku seperti tidak asing dengan nama Orion.."


"Oh ya...?"


"Hmm...tapi dimana ya..aku lupa.."ucapnya sambil mengetukan jari didagunya.


Levin menatapnya sekilas dan tersenyum saat melihat istrinya berubah menggemaskan. Dia genggam jemari Keyra lalu mengecup punggung tangannya.


"Aku tidak perduli siapa dia. Yang terpenting janjimu setelah meeting nanti..remember that..."ucapnya santai sambil tetap fokus menyetir mobilnya.


Keyra menoleh dan mengerucutkan bibirnya.


"Apa yang ada dalam pikirannya hanya itu...Oh God..."gumam Keyra lirih. Sangat lirih bahkan hanya terlihat bibirnya yang bergerak. Namun sayang...suaminya sekarang ini sedang dalam mode peka 100%.


"I hear that honey..."Keyra spontan mengalihkan pandangannya keluar jendela.


Levin tersenyum gemas melihat tingkah istrinya.


******


"Good Morning Sir.."sesorang menyapanya saat mereka sudah sampai dilobi. Namun tak sedikitpun Levin menanggapinya. Dia tetap fokus melangkah kedepan dengan penuh wibawa sambil merengkuh pinggang istrinya erat.


"Good Morning Miss Key. You look so beautiful..how are you today..?"sapa Lyla lagi pada Keyra. Receptionist perusahaan Levin yang selalu ramah pada Keyra tentunya.


"Good morning Lyl...i'm fine thank you.."jawab Keyra sambil berjalan karena Levin terus membawanya menuju ruangannya.


"Kau cantik hari ini Lyl..."lanjutnya lagi sambil melambaikan tangan.


Lyla menjawabnya tanpa suara. "Thank you.."


"Hhhaahh....dia sangat cantik dan ramah. Beda sekali dengan bos kita.."gumam Lyla


"Hei diamlah...jangan terlalu keras jika kau tidak ingin dipecat.."ucap seseorang yang baru saja tiba.


"Ya aku tahu. Nona Keyra baik sekali yaa.."


"Kau benar. Pantas saja banyak orang menyukainya.."


"Ayo lanjutkan pekerjaan kita.."


Keyra dan Levin tiba dilantai paling atas gedung itu dan disambut oleh sekretarisnya.


"Tuan...akhirnya anda datang juga. Selamat pagi Nona Key...anda cantiik sekali.."puji Fredy sekretarisnya Jon. Namun Keyra tampak tak senang dengan pujiannya. Karena...


Levin menghentikan langkahnya seketika dan menatap Fredi tajam.


"Kau ingin aku pecat atau ingin babak belur disini..."ucapnya dingin.


"Maaf Tuan. Saya tak berani..."ucapnya yang sebenarnya tak mengerti apa salahnya. Dia pikir dia hanya sekedar menyapa istri dari Tuannya.


"Sayang...mereka sudah menunggu kita. Ayo.."Keyra menarik lengan Levin. Jika tidak dilakukannya pastilah ucapan suaminya itu akan menjadi kenyataan. Kasihan kan Fredi...dia kan hanya bertugas selama sekretaris suaminya itu dibawa ke luar kota oleh Jon dadynya.


Karena istrinya Fredi sedang hamil besar jadi dia meminta izin kepada Tuan Besarnya yaitu Jon untuk tidak ikut ke luar kota. Apalagi perjalanan bisnisnya itu diperkirakan menghabiskan satu minggu disana. Bagaimana jika sang istri tiba tiba melahirkan. Dan dengan baik hatinya Jon mengusulkan untuk menukar posisi sementara dengan sekretaris dari Levin. Terpaksa Levin mematuhi perintah Jon.


Dan sayangnya Fredi belum mengenal baik putra dari Tuan Besarnya Jon jika sudah menyangkut tentang istrinya.


Keyra terus merangkul lengan Levin dan sekilas melirik pada Fredi dan tersenyum sambil mengatakan sesuatu dengan tak bersuara. "I'm sorry.."


Fredi membalasnya dengan menganggukan kepala dan senyum sopan. Dia tak menyangka istri Tuannya yang dingin itu ternyata sangat baik dan ramah sekali.


"Sayang...jangan bertindak apapun di belakangku.."suara Levin masih tetap dingin.


"Aku tidak melakukan apapun. Trust me..."bujuk Keyra dengan mengusap lengan Levin menenangkannya. Dan nyatanya berhasil hanya dengan satu sentuhan istrinya. Levin mengecup pelipis istrinya tak perduli masih ada sekretaris dibelakangnya dan beberapa orang sedang menghampirinya.


"Tuan Levin..."


"Klien kita sedang dalam perjalanan. Mereka baru saja menghubungi untuk meminta maaf atas keterlambatannya. Karena ada suatu hal yang tidak bisa ditinggalkan.."ucap salah seorang tangan kanannya.


"Haaah...alasan saja.."ucap Levin sambil membetulkan tatanan rambut sang istri.


"Apa mereka menyebutkan alasannya...?"tanya Keyra.


"Ya Nona. Putra mereka tiba tiba ingin ikut mendampingi ayahnya. Karena tidak ingin menunggu lama akhirnya beliau membawa serta keluarganya. Itu alasannya Nona.."


"Hmmm...baiklah. Tak masalah menurutku. Sebaiknya kita tunggu diruang rapat.."ujar Keyra. Dan Levin hanya diam menuruti perintah sang istri. Para karyawan sempat dibuat kagum sekaligus heran. Seorang Tuan Levin hanya bisa tunduk dan patuh pada satu wanita cantik disampingnya.


"Baik Nona. Mari..."


Levin masih tetap merengkuh pinggang Keyra membawanya menuju ruang rapat.


"Apa semuanya sudah disiapkan..?"tanya Levin pada Fredi disela sela langkahnya


"Sudah Tuan.."


"Bagus..."


"Kak...boleh aku kekantin sebentar.."tanya Keyra tiba tiba. Dia ingin makan sesuatu. Maklum perut besarnya minta jatah.


"Tidak.."jawab Levin tegas.


"Bawakan cemilan sehat dan bergizi untuk istriku.."lanjutnya dengan nada dingin pada salah satu pekerjanya.


"Baik Tuan.."dia langsung menghubungi petugas kantin.


"Hh..kebiasaan..."gumam Keyra mendengar perintah Levin pada mereka.


"Duduklah sayang....tunggu sebentar. Makananmu akan segera datang.."


Keyra menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


Beberapa saat kemudian seseorang membawakan makanan untuk Keyra. Dia kenal orang itu.


"Waahh....thanks aunty May..."binar Keyra saat melihat petugas kantin membawakan makanan segar untuknya. May tahu makanan cemilan favorit Nona besarnya.


"Maaf merepotkan.."lanjutnya.


May tersenyum kagum melihat kebaikan Keyra yang tak pandang bulu.


"Tak masalah Nona. Apa masih ada yang ingin anda inginkan..biar aunty bawakan ..?"


Keyra menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak...tidak aunty. Ini sudah cukup. Terimakasih..."


"Sama sama Nona. Saya permisi..."pamit May menunduk hormat. Sebenarnya Keyra tak suka diperlakukan seperti itu. Dia pernah mengutarakannya pada mereka. Tapi sayang...mereka tetap terus melakukannya mengingat dia adalah istri kesayangan Tuan Besarnya.


Keyra makan satu roti sandwich coklat dengan lahap. Levin menatap gemas istrinya.


"Kakak mau..?"


"Tidak...habiskan untukmu. Jika nanti kau lapar saat meeting..makanlah jangan perdulikan apapun. Mengerti...?"ucapnya tegas.


"Hmmm.."angguk Keyra.


Tak lama klien yang mereka tunggu datang.


"Tuan...Tuan Orion sudah datang.."ucap salah seorang pegawainya.


"Suruh mereka masuk..."jawabnya.


Levin berdiri menyambut mereka. Saat Keyra ingin ikut berdiri tubuhnya ditahan oleh Levin.


"Makanlah...biar aku yang menyambut.."ucap Levin lembut.


Namun Keyra merasa tak enak.


"Selamat datang Tuan..."sapa Levin.


"Terimakasih Tuan..."jawabnya dengan wajah penasaran saat melihat rupa tampan Levin.


"Saya Levin..."sambung Levin.


"Tuan Levin..."


"Saya seperti tidak asing dengan anda. Apa kita pernah bertemu sebelumnya..?"tanya Orion.


Levin tampak berpikir mengingat ingat sesuatu. Ya...dia juga seperti pernah melihatnya. Tapi dimana ...


"Sepertinya kita belum pernah bertemu..."


"Ya saya rasa juga begitu. Maaf. Dan kenalkan ini istri dan anak saya. Maaf jika saya membawa keluarga saya..."


"Julia dan putra saya Nick..."lanjutnya.


"Nick..."ucap Levin seperti mengingat nama itu.


Seorang wanita cantik menggandeng lengan seorang anak kecil berumur 6 tahun masuk dan mengulurkan tangan pada Levin.


"Julia.."


"Levin.."


"Hey son..give your hand.."perintah Julia pada putranya.


"Hi boy..."sapa Levin


"Hi.."


"What's your name..?"


"I'm Nick..."


"Nick..."itu bukan suara Levin melainkan Keyra yang sudah berdiri dibelakang Levin.


Keyra mendekat menghampiri Levin dan seketika dia terpaku dengan sosok bocah kecil didepannya.  Dia menatap bocah itu dari ujung kepala hingga bawah meyakinkan apakah benar anak kecil ini sama dengan yang ada dalam pikirannya.


Dan sungguh tak menyangka. Nick pun ikut menatap sendu Keyra dengan mata berkaca.


"My sister. Sist Key..."ucap Nick dengan suara serak menahan tangis menghampiri Keyra dengan langkah perlahan.


"Nick...is you..?"isak Keyra.


Keyra menurunkan tubuhnya dengan kesusahan dan berlutut mensejajarkan tingginya dengan Nick.


"Oh My God...is really you Nick. Come here...hug me. I miss you.."ucap Keyra dengan merentangkan kedua tangannya.


Nick menangis. Akhirnya dia menemukannya.


Tapi kenapa ada yang berubah...apakah dia benar benar wanita yang dulu menolongnya..? Dia menghentikan langkahnya tiba tiba.


"Is it really my sister..?"ucap Nick polos meragukan Keyra.


"Yes ...its me.."


"Is it true that you helped me first at the mall..?"


"Yes boy...why do you doubt me..?"


"your stomach is huge..."ucap Nick saat melihat perut besar Keyra.


Keyra tersenyum mendengar ucapan polos Nick.


"because there is a baby's .."jawabnya sambil mengusap perutnya.


"Baby's...?"


"Yes. Its ok...Now..don't you want to hug me..?"


Seketika Nick berlari dan memeluk Keyra dengan erat. Levin pun secara bersamaan ikut berlari dan langsung berlutut dibelakang Keyra menahan punggung dan perut besar istrinya.


Adegan ini sangat mengharukan bagi yang melihatnya. Ada perasaan takut dan khawatir melihat Keyra dan Nick.


Keyra merasakan kedua tangan kekar suaminya melindunginya. Dia membalas pelukan Nick tak kalah erat.


Tak lama Nick sadar akan sesuatu dan melepas pelukannya.


"I'm sorry dd....am i hurt you..?"


"No boy. Who is dd..?"


"DD ....panggilannya padamu Nona Key. Itu panggilan sayangnya.."ucap Julia. ( DD dibaca didi )


"Oh..."


Nick tiba tiba menatap Levin dingin dan terheran.


"Uncle...what are you doing here ..?"ucap Nick merasa heran dengan posisinya. Levin terlihat seperti memeluk Keyra dari samping seolah dia tak boleh ikut memeluknya.


"Can't i hug her too..?"lanjutnya


Levin mulai kesal dengan bocah satu ini. Dia ingat sekarang. Dia adalah bocah yang dulu diselamatkan oleh istrinya dari lantai atas mall.


"Of course NOT ...Boy..."jawabya dengan nada sangat dingin.