
"Kak...apa kau baik baik saja..?" Sandy tiba tiba mendekati Keyra. Saat dia akan pergi kuliah dia melihat Kakak kesayangannya sedang berdiri menahan berat badannya, tangan satunya berada diatas perut besarnya dan satu lagi menggenggam ujung kursi.
Keyra terkejut dan menoleh kesumber suara dengan wajah meringis.
"Ya ... mereka sedang nakal dan terus menendang nendang. Aaghh..." lagi lagi Keyra menjerit.
"Aku bantu Kak...sini.." Sandy merengkuh pinggang Keyra dan membantunya duduk.
"Terimakasih. Akhir akhir ini mereka sangat membuatku kewalahan. Kau mau berangkat kuliah...?"
"Ya Kak...ada kelas pagi hari ini dan tugasku belum sepenuhnya selesai. Jadi..." jawab Sandy sambil menggarukan kepalanya. Namun tiba tiba dia sadar sesuatu.
"Oh Ya...kenapa Kakak sendirian disini. Mana Kak Levin atau yang lainnya. Mana bibi ...Kau mau kemana Kak...kenapa sendirian...?" pertanyaan Sandy keluar beruntun dengan kedua tangan dipinggangnya.
Keyra menggelengkan kepalanya.
"Suamiku sedang mandi dan tadi aku turun dengan bibi. Tadinya aku mau memasak sarapan tapi dilarang keras oleh bibi. Hhh...bahkan sekarang bibi melarangku melakukan apapun. Akhirnya aku menyuruh bibi untuk meninggalkanku sendiri. Tapi tiba tiba perutku sakit dan akhirnya kau datang..."selesai sudah penjelasan Keyra
"Kenapa tidak ada bibi lain lagi yang menemanimu Kak..?"
"Apa kau tahu ada tiga bibi yang sedang pulang kampung jadi Bunda dan Momy yang ambil alih dapur.."
Sandy tampak menganggukan kepala.
"Baiklah...aku terima penjelasanmu.."
"Sekarang pergilah...selesaikan tugasmu.."ujar Keyra pada akhirnya.
"Oh Tuhan...baiklah Kak. Aku berangkat. Tetap disini sampai mereka datang.."Sandy mengecup pipi Keyra dengan cepat dan berlari pergi.
Namun belum sampai pintu utama dia kembali masuk sambil berlari membuat Keyra mengerutkan keningnya.
Sandy berlari melewati Keyra dan berhenti diujung anak tangga.
"Akan ku buat mereka bangun.." gumamnya sambil tersenyum jahil.
"Heey Kalian Para Pria Cepatlah Bangun...Kakakku Key sudah dibawah dan the baby's terus menganggunya. Aku pergi kuliah dulu...Daaahh" teriak Sandy dengan suaranya yang keras yang bisa menggemparkan seluruh isi istana
Keyra hanya bisa menepuk jidatnya. Dipastikan setelah ini dia tidak boleh bergerak sedikitpun.
Sandy mendekati Keyra lagi. Tiba tiba mengecup pipinya.
"I love you Kak...maaf tidak bisa menemanimu. Tapi dalam waktu satu menit mereka pasti akan datang...daah Kak..."katanya sambil berlari.
Benar saja ucapan Sandy. Belum ada satu menit suara langkah kaki berlari dari lantai atas. Ralat. Beberapa langkah kaki.
"Kak..."
"Kak Key.."
"Minggir Kalian..!!"
"Key...dimana kau adikku.."
"Awas...Kalian minggir..!"
Bayangkan lima pria dengan cepat berlari menuruni tangga. Hingga lebar tangga dipenuhi dengan tubuh mereka. Dan tentu saja suara berisik mereka membuat wanita hamil yang sedang duduk manis disofa tunggal menyentuh keningnya menggelengkan kepala sampai menghela nafas panjang.
Suara bising mereka pun membuat semua penghuni rumah keluar dari persembunyiannya masing masing.
"Dad...stop." suara lantang Levin saat melihat Dadynya baru keluar dari ruang kerjanya dan akan menghampiri istrinya itu.
Dia tahu jika mereka berdebat tentang Keyra pasti akan selalu datang Jon untuk menengahi dan tentu saja Keyra memilih bersama Dadynya.
Jon spontan menghentikan langkahnya sambil menggelengkan kepala melihat tingkah konyol putra putranya.
Dengan cepat Levin menghempaskan keempat pria disampingnya dan langsung berlari dengan gesit.
"Sayang...kau baik baik saja. Mana yang sakit..? Apa anak anakku terus mengganggumu..?" Levin dengan wajah panik langsung berlutut didepan Keyra menangkup kedua wajahnya lalu turun mengusap lembut perut besarnya.
Keyra tertegun melihat kekhawatiran suaminya. Dengan penampilan yang belum benar benar rapi hanya dengan kemeja kantornya dan baru mengenakan celana boxernya. Bibir manisnya melengkung sedikit keatas lalu mengusap pipi suaminya.
"Kakak tahu kan the baby's sekarang lebih sering aktif. Mereka terus menendang perutku. Jadi aku sedikit kewalahan.."
Levin tiba tiba memeluk istrinya erat.
"Maafkan Kakak sayang jika kau selalu kesakitan.."
"Heeyy...kenapa berkata seperti itu Kak. Aku bersyukur kalau mereka seperti ini mungkin itu pertanda agar aku selalu duduk manis.." ujar Keyra dengan tawa kecilnya.
Keyra menatap keempat pria didepannya.
"Aku baik baik saja. Kalian kembalilah..."
"Tap.."
"Cepat kembali atau jangan bicara apapun padaku.." teriak Keyra tegas.
Spontan saja mereka berlari kembali kekamarnya masing masing melanjutkan kegiatan paginya.
Tingkah mereka membuat semua penghuni tertawa geli.
"Kak...pakai celanamu . Nanti bisa terlambat.."
"Apa sebaiknya aku libur saja ya sayang.." ucap Levin dengan memeluk perut besar istrinya. Keyra mengerti perasaan suaminya yang terlalu khawatir.
Keyra mengangkat kepala Levin hingga mendongak menghadap wajahnya lalu menangkup kedua pipinya.
"Percayalah padaku Kak. Aku akan selalu menjaga anak anak kita. Tidak akan kubiarkan sesuatu terjadi pada mereka.."
"Aku percaya padamu sayangku. Justru aku takut sesuatu itu terjadi padamu disaat aku tidak ada.." entah kenapa mata Levin panas saat mengucapkan itu.
"Bukankah kau sering bilang padaku Kak. Bahwa aku separuh nafasmu. Jadi disaat kau merasa sesak maka carilah aku karena sesungguhnya aku sangat membutuhkanmu sayangku.." air mata lolos begitu saja meluncur dimata cantik Keyra.
"Dokter bilang mungkin minggu minggu ini mereka akan segera lahir tapi berjanjilah padaku Kak...disaat dimana aku berjuang nanti kau harus ada disampingku didepanku didepan mataku..." lanjut Keyra. Sesungguhnya dalam hati Keyra seperti akan terjadi sesuatu yang besar dalam hidupnya. Dan saat ini dia sangat sangat takut.
Levin merangkum seluruh wajah cantik istrinya. Ibu jarinya menghapus lembut air mata yang keluar dari mata cantiknya.
"Dengarkanku aku sayang. Apapun yang terjadi didunia ini saat kau memanggilku maka percayalah aku akan segera datang padamu. Kita akan berjuang bersama sayangku .." dikecupnya kedua mata, hidung, kedua pipi, dagu dan bibir manisnya.
"Aku sangat mencintaimu istiku.." Levin mencium istrinya mesra memberi kekuatan padanya.
"Sangat sangat mencintaimu..." ucapnya lagi saat melepas ciumannya. Lalu menciumnya kembali dengan lembut penuh cinta. Tetesan air mata dari kedua insan itu ikut membasahi ciuman mereka.
Perasaan takut, khawatir, senang dan bahagia bercampur jadi satu diantara keduanya. Mereka berjanji pada diri mereka sendiri. Bahwa mereka harus kuat dan harus bertahan untuk meraih kebahagiaan yang sangat dinantikannya.
******
"Tuan....seluruh anggota keluarga Ferdinand selalu dijaga oleh pengawal pengawal yang handal. Mereka sudah teruji tidak bisa ditembus oleh mafia terjahat sekalipun.." seserang melapor kepada Tuannya.
Braakk.
"Bulshit semuanya. Pikir dengan otak kalian. Pasti ada suatu celah yang bisa kita tembus. Setiap kekuatan pasti ada kelemahan. ."geram seseorang dengan rahangnya mengeras.
"Saya tidak tahu Tuan apa kelemahan mereka. Tapi ada satu keluarga mereka yang sedang hamil besar. Mungkin bisa kita jadikan umpan Tuan.."
"Apaa..?"
"Siapa..?"
"Ini Tuan..."orang itu menyerahkan dokumen yang terdapat foto seorang wanita.
Tangan itu gemetar saat melihat foto itu. Dia adalah foto wanita yang dicintainya.
"Keyra.." gumamnya lirih
Namun masih bisa didengar oleh pengawalnya.
"Anda mengenalnya Tuan..?"tanyanya namun sang Tuan hanya diam mematung.
"Dia Keyra Putri Hijaya. Istri dari putra tunggal Jon yaitu Levin.."
"Apa..!"
"Ya Tuan. Dulu tinggal di Indonesia dan karena sesuatu hal keluarga Ferdinand memboyongnya ke negara ini. Perlu anda tahu Tuan. Ayahnya dibunuh oleh Paman anda.."
" Apaa..!"
"Benar Tuan. Maaf...ini dokumen lengkapnya..."
"Baiklah...tinggalkan aku sendiri..!" perintahnya.
Berjam jam dia membaca dokumen tentang profil dari wanita yang dari dulu didambakannya. Keyra. Namun lebih banyak dia habiskan dengan memandang foto wajah cantiknya.
Tak habis pikir tentang sejarah kehidupan Keyra. Dari awal dia diculik hingga koma dan trauma yang pada akhirnya menemukan fakta bahwa wanita itu ahli tentang virus komputer.
"She's jenius.."
"Tuan...anda memanggil.." suara seorang lelaki yang tadi dipanggil lewat panggilan interkomnya.
"Dengar. Siapkan semua pasukan saatnya kita untuk menyerang. Dan aku ingin kalian membawa wanita itu padaku. Tanpa luka dan lecet sedikitpun.!" perintahnya keras.
"Tapi Tuan.."
"Aku tahu pasti kau berfikir tentang pengawalnya. Pasti ada waktu disaat dia sedang sendiri. Cari celah itu dan bawa dia padaku.."
"Tuan...besok adalah acara perayaan kampus milik Ferdinand. Pasti seluruh keluarga akan hadir. Bagaimana Tuan menurut anda..?"
"Baiklah. Besok kita selesaikan misi kita.!"
"Keyra...akhirnya aku menemukanmu.." ucapnya dalam hati.
*****
Dipagi hari buta Keyra sudah terbangun karena bayi mereka terus saja bergerak gelisah hingga membuat Keyra meringis.
Dia terus menahannya karena tak ingin mengganggu suaminya yang masih tertidur pulas.
"Kalian kenapa sayang...kenapa dari malam kalian terus bergerak. Momy jadi tidak bisa tidur..." ucapnya dalam hati.
"Apakah kalian merasakan apa yang Momy rasakan..? Jika iya bergeraklah dibagian kanan perut Momy..." Keyra terus bergumam dalam hati sambil mengusap perutnya. Dan tiba tiba.
Jduk
Keyra tersentak saat merasakan tendangan diperut bagian kanannya.
"Kalian gelisah..?"
Jduk
Lagi lagi dia meringis tersentak dengan gerakan selanjutnya.
Dia pejamkan matanya sejenak. Seperti yang sering dilakukannya saat senam yoga.
Lama dia merenungkan segalanya rasa khawatir dan rasa gelisah itu tak kunjung hilang. Bahkan yang dirasakannya saat ini melebihi saat para penjahat dulu menyerbu rumah besarnya.
"*Jangan takut sayangku...kau harus berani melawan semua ketakutanmu. Kau adalah putri kebanggaan Ayah Nak. Sampai saat ini kau berhasil melalui segalanya hingga titik ini. Dan sekarang kau harus mempertahankannya.."
"Tenanglah Nak...banyak orang yang menyayangi dan mencintaimu akan selalu menjagamu. Ingatlah itu putriku.."
"Berjuanglah...Ayah akan selalu disampingmu menjagamu dan cucu cucu Ayah*.."
Keyra membuka matanya. Lagi lagi suara Ayahnya.
"Ya...kau benar Yah. Kau selalu disampingku. Baiklah...Momy harus berjuang Nak. Apa kalian akan membantu Momy..?"tanyanya dalam hati pada buah hatinya
Jduk
Keyra tersenyum.
" Momy anggap kalian setuju.."
Dengan langkah pelan namun pasti Keyra beranjak dari kasur king size meninggalkan suaminya yang masih lelap tertidur karena kerja lemburnya.
Keyra keluar kamar tidurnya lalu menuju ruangan pribadinya. Ruang kerjanya yang berada diujung lantai atas.
Keyra menutup pintu ruangan lalu menguncinya. Dia nyalakan semua komputer miliknya.
"Hmmm...lama sekali aku tidak menggunakan kalian.."
Beberapa menit setelahnya salah satu layar komputer menampakan video call wajah seseorang.
"Nona benarkah ini Anda..?"suara Moe dengan wajah didepannya.
"Uncle..." sapa Keyra dengan senyumnya.
"Apa anda baik baik saja..?"
"Apapun akan saya lakukan untuk anda Nona. Tidak perduli berdasar apapun itu kami siap membantu anda.."
"Uncle...aku ingin semua anak buah handalanmu untuk berjaga jaga dikampus."
"Maksud anda Nona..?"
"Akan ada perayaan disana uncle. Aku merasa mereka akan menyerang kita. Karena seluruh keluarga berkumpul disana. Uncle...pastikan orang orang kita datang lebih awal dari perayaan dimulai. Siapkan juga sniper dan yang lainnya. Bila perlu minta bantuan CIA.."
"Saya mengerti maksud anda Nona. Kami akan langsung laksanakan.."
"Aku percaya padamu Uncle.."
"Uncle...satu lagi. Dalam sepuluh menit bisakah seseorang mengirimkan beberapa senjata padaku.."
"Tapi Nona.."
"Hanya untuk berjaga jaga uncle. Apalagi ada anak anakku yang selalu kubawa.."
"Baiklah Nona..akan saya kirim senjata terbaru. Nanti ada seseorang yang mengirim paket dengan password "thankyou". Nona tahu maksudku.."
"Terimakasih uncle.."
"Sama sama Nona. Dan kita akan selalu terhubung setelah memakai alat yang uncle kirim nanti. Pakailah terus ditelinga anda Nona..."
Keyra menganggukan kepala.
Beberapa menit setelahnya layar komputer gelap dengan hilangnya wajah uncle Moe.
Keyra mematikan kembali komputernya dan pergi keluar ruangan.
Baru saja menutup pintu ruangan. Salah satu bibi menghampirinya.
"Nona...anda bangun pagi sekali.."
"Ya...aku tidak bisa tidur Bi."jawabnya ramah.
" Bi..maukah menemaniku keluar.."
"Tentu Nona..mari." bibi membantunya turun tangga secara perlahan.
Baru saja sampai dilantai bawah tangga suara bel rumah berbunyi.
Ting tong
"Siapa yang bertamu jam segini..?" gumam bibi lirih tapi masih didengar oleh Keyra.
"Biar aku yang buka Bi..bibi mau kedapur ..?"
"Tidak Nona...biar saya temani Nona dulu.." ujar bibi itu dengan panik.
Keyra terkekeh geli melihat kepanikan bibinya.
Akhirnya Keyra dan bibi mengampiri pintu utama dan sosok seseorang berpakaian hitam hitam dengan tutup masker wajah membuat bibi tersentak kaget.
"Oh Tuhan...Non masuk Non.."bibi hendak membawa kembali Keyra kedalam namun Keyra menahannya.
"Tunggu Bi..."
Keyra menatap orang itu. Lalu tiba tiba.
"Thank You.." Keyra tahu dia orang suruhan unclenya terbukti dengan pakaian yang dipakainya ada bordiran berbentuk kunci. Dan itu adalah seragam yang didesaign olehnya. Dan diapun tahu itu adalah password dari uncle Moe.
Bibi yang masih setia disamping Keyra tampak heran. Belum apa apa sudah bilang thank you..apa maksudnya. Seperti itulah yang dikatakan dalam hatinya.
"Thank you.." ucap Keyra tiba tiba membuat bibi semakin tercengang dan mengerutkan keningnya.
Dan kemudian orang itu menunjuk sebuah koper kearah samping bawahnya. Keyra mengikuti arah pandang orang itu.
"Mau ditaruh dimana Nona..?"tanya orang itu.
"Taruh disini saja biar nanti aku yang.."
"Maaf Nona...kami diperintahkan untuk membantu Nona hingga selesai.." orang itu memotong ucapan Keyra dengan cepat. Keyra tahu maksudnya.
"Ehmm...baiklah." Keyra tampak berpikir dan menimbang nimbang ruangan mana yang mudah dijangkau. Tidak mungkin dikamarnya. Masih ada suaminya.
"Diruangan itu.." Keyra tiba tiba menunjuk sebuah ruangan tepatnya kamar bibi.
"Baik...permisi.." dengan secepat kilat orang itu membawa sebuah koper lumayan besar.
"Non itu kan kamar bibi. "
"Key pinjam sebentar ya bi. Nanti Key ambil lagi.."
"Tidak Non...nanti bibi yang bawakan kekamar Non.." ujar bibi dengan senyumnya.
"Tugas selesai Nona Keyra. Saya harap anda hati hati. Saya permisi..." ucap orang itu dengan sedikit menunduk.
"Terimakasih .."
"Apapun untuk anda Nona.." setelah mengatakannya orang itu segera pergi.
"Non...ternyata baru pukul 5 pagi. Anda mau kembali ke kamar Nona ..? Biar saya antar. " tanya bibi pada Keyra dengan masih setia menuntun lengannya.
"Apa tidak mengganggu kerja Bibi..?" tanya Keyra balik dengan sangat sopan.
"Tentu saja tidak Nona. Mari.." Keyra dibantu bibi menuju kamarnya lagi dengan menaiki tangga perlahan.
"Lihatlah bi...baru saja tiga tangga aku sudah letih sekali.."
"Mau berhenti dulu Non."
"Ya bi..maaf ya..."
Entah kenapa akhir akhir ini Keyra cepat sekali letih. Mungkin karena perasaannya sedang tidak karuan.
Keyra duduk perlahan ditangga ditemani bibi yang duduk disampingnya.
"Jangan minta maaf Non. Bibi senang melakukannya apalagi buat Non. Sepertinya bayi bayi anda sangat sehat dan kuat sampai sampai anda tidak kuat berjalan lama.."
Keyra hanya tersenyum.
"Sayang...kau kenapa ? Apa yang kau lakukan disitu..!" suara serak dan tegas membuat Keyra dan bibi tersentak kaget.
Keyra mendongakan kepala melihat Levin turun tangga dengan cepat.
"Non Keyra tadinya mau kembali kekamar Tuan. Tapi Non kelelahan.." ujar bibi yang sudah langsung berdiri.
"Padahal baru tiga tangga.." ucap Keyra menyambung perkataan bibi.
Tanpa berkata apa apa Levin langsung mengangkat tubuh Keyra tanpa merasa berat sedikitpun.
"Pergilah Bi...dan terimakasih." ujar Levin sambil melangkah menaiki tangga.
"Sama sama Tuan.."jawab bibi tertegun karena merasa aneh. Baru pertama kali Tuannya bernada ramah pada orang selain keluarganya.
Keyra menoleh kebelakang menatap bibi yang masih berdiri ditangga ketiga.
Keyra tersenyum geli melihatnya.
"Kak..."
"Hmm.."
"Kenapa terbangun..?"
"Karena kau tak ada disampingku.." ujar Levin dingin tanpa menatap istrinya.
"Kakak marah padaku..?"
Levin diam.
Keyra semakin mengeratkan pelukan dilehernya. Lalu menyandarkan kepala dibahu kekarnya.
"Aku sedih jika Kakak marah.." ucap Keyra lirih.
Levin menoleh dan menatap wajah cantik istrinya. Tanpa sadar Levin sudah didepan pintu kamarnya lalu dia mendorong pintu yang masih terbuka sedikit karena adegan konyolnya.
Levin merebahkan tubuh istrinya dengan sangat lembut. Namun Keyra menarik tubuhnya dan duduk bersandaran bantal. Setelahnya Levin duduk disamping istrinya.
Cup
Levin mencium lembut bibir Keyra .
"Aku tidak marah sayang. Hanya kecewa karena istriku tiba tiba menghilang disampingku.." ucapnya dengan mengelus pipi Keyra.
"Maaf..."
"Aku ingin setiap aku membuka mata kau selalu disampingku sayangku.." Levin kembali mencium kembali istrinya dengan penuh cinta dan kelembutan.
"Kenapa kau bangun...?" ucapnya saat melepas ciumannya walau hanya sedetik. Karena setelahnya dia kembali memperdalam ciuman manisnya.
"Katakan sayang..." kembali dia mengecup bibir istrinya bahkan semakin bersemangat.
Lama Levin tak melepas ciumannya. Hingga dia lupa tujuan sebenarnya.
Merasa istrinya kehabisan nafas barulah Levin melepas ciumannya dan dengan senyuman menghiasi wajahnya.
"Kau maniisss sekaallii..." ucapnya gemas sambil mengusap usap kedua pipi istrinya hingga manyun.
"Sekarang katakan kenapa terbangun tadi dan kenapa tidak membangunkanku..?"
"Bagaimana bisa aku menjelaskan jika Kakak terus menciumku.." balasnya dengan merengut sebal.
Cup
"Maaf...sekarang katakan.." ucap Levin setelah mengecup bibir gemas istrinya.
"The baby's tak henti hentinya menendang perutku.."
"Apa sangat sakit..?" tanya Levin dengan raut khawatirnya merangkum wajah istrinya.
Keyra menganggukan kepala.
"Sakit...sedikit."
"Tapi bukan hanya itu Kak mungkin karena perasaanku yang terlalu gelisah dan khawatir."
"Apa yang kau khawatirkan sayang.." posisi Levin sekarang sudah berada diatas kasur karena adegan ciuman tadi.
"Entahlah...kau tahu aku selalu merasakan firasat yang tiba tiba muncul dalam pikiranku.."ucap Keyra dengan menggenggam kedua tangan suaminya.
Levin menatap kedua tangan istrinya yang sangat erat menggenggam tangannya.
"Kak...besok diacara perayaan kuharap kau dan yang lain harus lebih waspada dan hati hati. Bilang Dady bawa semua pengawal handal secara diam diam. Bila perlu libatkan CIA. Mereka sudah berjanji padaku akan membantu kita..."mohon Keyra dengan sangat.
"Hey..heyy dear...hsst...tenang tenanglah sayang.." Levin berkali kali mencium bibir Keyra bermaksud menenangkannya. Lalu dipeluknya erat dan mengusap punggung istrinya lembut. Keyra membalas pelukan suaminya dengan sangat erat bahkan sudah terdengar isakan yang sangat menyedihkan.
"Tenanglah sayang. Kumohon.." ucap Levin penuh sayang.
Saat merasa tenang Levin menguraikan pelukannya. Mengusap air mata Keyra kmudian mengecup kedua matanya.
"Baiklah...jika itu keinginanmu. Nanti kita akan kerahkan semua pengawal keluarga kita. Bila perlu akan aku suruh mereka para pria membawa masing masing senjata untuk berjaga jaga. Bagaimana..?"tanya Levin pada Keyra atas usulnya. Dia sebenarnya ingin bertanya apa yang istrinya khawatirkan tapi dia urungkan.
Sekarang hanya satu yang ada dalam pikirannya. Menghilangkan kekhawatiran dalam diri istrinya.
Keyra dengan cepat menganggukan kepalanya dan tersenyum kecil.
"Kakak tidak marah padaku..?"
"Untuk apa Kakak marah sayang. Sekarang istirahatlah...lihatlah lingkar matamu. Kau sangat lelah sayang.." Levin membaringkan istrinya kemudian menarik tubuh Keyra dalam pelukannya. Dia mengecup keningĀ istrinya lembut dan mengusap punggungnya hingga tertidur.
"Tenanglah sayangku. Akan ku bunuh siapapun yang telah berani mengusik ketenanganmu.." ucap Levin dalam hati.
Levin menatap lembut seluruh wajah cantik Keyra. Dia usap dari ujung rambut hingga kedua mata hidung pipi dan bibir manis istrinya. Kemudian dia mengecup lama bibir candunya itu.
Levin juga mengusap lembut perut besar Keyra dan berdoa salam hati.
"Tuhan kumohon padaMu lindungi istri dan anak anakku. Dan berilah aku kekuatan untuk selalu menjaga orang orang yang sangat aku cintai ini."
"My Son's ..tetaplah menjadi putra Dady yang kuat. Jagalah selalu Momy untuk kita sayang. Karena kita sangat mencintai Momy. Benar kan..?"ucap Levin dalam hati lalu mengecup perut Keyra yang bajunya sudah disingkap sehingga terlihat kulit perut Keyra.
Tak terduga ada gerakan di sudut kanan dan kiri perut Keyra. Dan itu sungguh membuat Levin tersentak kaget dan tanpa sadar matanya berkaca.
Gerakan tiba tiba itu membuat Keyra meringis dalam tidurnya. Dan itu tak terlewatkan dalam pandangan mata Levin.
" inikah selama ini yang tidak bisa membuatmu tidur nyenyak sayang.."gumam Levin dengan memandang wajah lelap istrinya.