My Two Men Protector

My Two Men Protector
39.



"Lev...kita harus segera pergi ke Amerika Nak. Perusahaan dalam keadaan kritis dan kau sangat dibutuhkan disana. Dan satu hal yang sangat penting adalah keluarga kita disana beberapa kali diteror oleh musuh. "Jon bercerita pada Levin yang sebenarnya.


"Apaa..!!"teriak Levin panik.


"Tenang Nak...Dady sudah memerintahkan seluruh pengawal pribadi Dady untuk berjaga dirumah besar kita. "


"Hari ini Dady akan pulang terlebih dahulu bersama Momy...Kau selesaikan dulu urusan kantor lalu segera pulang kesana. "


"Baiklah Dad..."


"Apa istrimu akan ikut.. "


"Tentu saja... Kemana aku pergi dia harus ikut "


"Baiklah...Dady percaya padamu kau bisa menjaganya. ".


Setelah percakapan mereka diruang pribadi Levin ...Dady Jon keluar ruangan dan beranjak pergi ke bandara bersama istrinya yang sudah menunggunya dimobilnya.


Tak berapa lama Levin dan seluruh direksi terpenting di perusahaan itu mengadakan rapat darurat.


Dua jam setelah rapat selesai Levin diikuti yang lainnya keluar dari ruangannya. Dia melangkah tegap dan berwibawa namun dengan wajah yang sangat dingin membuat seluruh penghuni kantor itu merasa ada hal yang sangat serius telah terjadi.


Semua karyawan kantor itu menatap mereka gerombolan orang orang penting dengan wajah sangat mengerikan.


Tak terkecuali Keyra dan beberapa temannya yang sedang asyik mengobrol dikantin.


Meskipun baru satu hari dirinya bekerja Keyra sudah mempunyai banyak teman kantornya.


"Oh My God... Apa yang terjadi dikantor ini ? Lihatlah mereka...tampangnya seperti sedang dilanda masalah besar. " ucap Dena saat melihat Levin dan yang lainnya dari kejauhan.


Mendengar ucapan Dena, Keyra dan tiga teman lainnya menoleh dan mencari sosok yang dilihat Dena.


"Ya...kau benar. Non Keyra..apa kau tahu sesuatu..? "tanya Katy.


Keyra masih tetap fokus menatap suaminya dari jauh.


"Kak Levin... aku belum pernah melihatmu seperti itu sebenarnya apa yang terjadi.. "batin Keyra.


"Non.... Non Keyra.. "Dena menepuk bahu Keyra.


"Ya..."Keyra terkejut dari lamunan nya.


"Apa kau baik baik saja..? "


"Aku baik baik saja Den. "ucap Keyra dan kembali menatap Levinnya.


Dan ternyata Levin datang menghampiri Keyra di kantin. Pandangan Levin dan Keyra pun bertemu membuat Levin semakin mempercepat langkahnya menuju meja kantin yang sedang diduduki oleh istrinya.


Tatapan mereka tak pernah lepas sampai dirinya sudah berada didekat dengan Keyra. Levin berjongkok didepan Keyra sambil mengelus pipinya tanpa berkata apa apa.


Keyra menyentuh tangan Levin yang menyentuh pipinya.


"Are you Ok.. "ucap Keyra lirih dengan masih menatap sendu mata Levin. Dia tahu pasti terjadi sesuatu dengan diri suaminya.


"Hanya dengan melihatmu pasti aku akan baik baik saja.."ucap Levin yang sudah kembali tenang.


Levin menggenggam lengan Keyra erat dan menariknya pelan agar ikut berdiri.


"Ayo...kita harus segera berangkat. "Levin menarik lembut tangan istrinya dan membawanya pergi.


"Kita mau kemana ...? "tanya Keyra


Levin tak menjawab pertanyaan Keyra namun baru beberapa langkah Levin berhenti dan memutar badannya. Dia menatap kearah meja dimana masih ada Dena dan karyawan lainnya. Karena tatapan tajamnya mereka spontan langsung berdiri.


"Terimakasih karena telah menemani istriku selama beberapa jam tadi. "ucap Levin datar.


"Ti -tidak masalah Tuan. Kami senang berteman dengan Nona Keyra. "ucap Dena terbata.


"Apa Anda dan Nona Keyra akan pergi..? "tanya Katy.


"Ya....kami akan pergi untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Jadi aku harap kalian tetap bekerja dengan baik untuk perusahaan ini . Kalian mengerti..!! "


"Tentu Tuan....kami mengerti. "


"Maaf...bolehkah kami tetap berteman dan menghubungi Nona Keyra..? "


"Tentu saja... "ucap Levin dingin tanpa menatap muka lawan bicaranya. Dia hanya fokus menatap wajah cantik istrinya.


"Ayo sayang....kita pergi. "Levin menarik tangan Keyra dan membawanya pergi.


Keyra masih melihat kebelakang dimana teman temannya sedang melambaikan tangan padanya. Keyra membalasnya dengan senyuman dan memberi tanda dengan ibu jari dan kelingking tangannya seolah ingin mengatakan agar selalu menghubuginya.


Ada perasaan takut dan khawatir pada diri Keyra saat ini.


"Kita kemana Kak... "tanya Key saat dirinya sudah didalam mobil namun tidak kunjung pulang kerumah mereka. Arah jalannya berbeda.


"Ke bandara.."


"Bandara..? "


"Memang kita mau kemana Kak..? "


"Kita harus pulang ke Amerika. "


"Apa... Amerika...? "


"Sudah sampai... Ayo turun. "ucap Levin singkat lalu menggenggam erat tangan Keyra.


Keyra terdiam melihat gerak gerik Levin yang sangat berbeda dari biasanya. Dia sangat dingin, datar, bicara seperlunya namun meskipun begitu dia tak pernah sedikitpun mengurangi perhatian dan kasih sayangnya pada istrinya .


Semenjak masuk kedalam pesawat pribadi yang sudah disiapkan satu jam lalu. Levin tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada tangan Keyra. Bahkan sesekali mengeratkannya meskipun satu tangannya sedang mengecek sesuatu dilayar tab nya.


Lagi lagi Keyra hanya bisa diam dia takut mengganggu suasana hati Levin. Meskipun dalam hatinya dia ingin sekali melemparkan tab nya itu. Karena sudah tiga jam lamanya didalam pesawat Levin tidak melepaskan benda canggih itu didepannya.


Karena merasa bosan dan kelelahan... Keyra tanpa sadar menjatuhkan kepalanya di kaca pesawat hingga membuat Levin terkejut dan melemparkan tab nya.


"Oh Tuhan.. sayang...."Levin membaringkan kepala Keyra dipangkuannya dan menyelimutinya.


Levin merasa bersalah karena telah mengabaikan istrinya dengan masalah yang sedang melandanya. Dia kecup seluruh wajah istrinya yang sedang tertidur pulas. Dan mengucap kata maaf berkali kali.


"Istri anda pasti kelelahan..? "ucap seseorang yang sudah tidak asing lagi bagi Levin. Dia adalah Joe asisten sekaligus sekretaris pribadi Levin selama di Amerika. Dan dia sengaja menjemput Tuannya di Indonesia .


"Ya Joe...aku juga bersalah karena telah mengabaikannya. Dia pasti merasa bosan hingga tertidur. "ucap Levin dengan mengeratkan pelukan tangannya di tubuh Keyra.


"Lebih baik Anda beristirahat juga, besok kita lanjutkan kembali. "


"Kau benar Joe...bangunkan aku jika sudah sampai.."


"Baik Tuan. "ucap Joe lalu kembali duduk dikursi pesawat tidak jauh dari Levin.


🌃🌃


"Tuan...seluruh keluarga sudah menunggu kedatangan Anda dari satu jam yang lalu..."ucap Joe yang sedang fokus menyetir mobilnya.


Sejak pesawat mereka mendarat Levin tidak sedetik pun melepaskan Keyra dari dekapannya. Bahkan saat keluar dari pesawat sampai masuk mobil pun Levin menggendong Keyra dengan sangat hati hati dan penuh sayang.


"Kebiasaan mereka tidak pernah berubah. "


Tak lama mereka telah sampai dirumah megah dan luas. Pintu gerbang pun terbuka dengan sendirinya saat mengenal pemilik mobilnya.


"Sudah sampai Tuan... "


"Baiklah. Bukakan pintu mobilnya untukku Joe. Aku tak mau istriku terbangun. "


"Tentu Tuan... "Joe segera turun dan berlari mengitari mobilnya dan membukakan pintu mobil.


Levin keluar dengan menggendong tubuh mungil Keyra. Keluarga besar nya sudah siap menyambutnya terbukti dengan keberadaan mereka didepan pintu mereka. Namun baru beberapa langkah Levin mengisyaratkan pada seluruh keluarganya.


"Jangan berisik...aku tidak mau istriku terganggu karena suara kalian. "ucap Levin


"Hsstt....si Lion dingin kita sudah pulang jadi jangan pancing emosinya "bisik seorang laki laki remaja.


"Ya kau benar...lihatlah mukanya. Tidak berubah sama sekali semenjak pergi dari rumah ini. "suara lirih seorang gadis berumur 16 tahun.


Mendengar ocehan mereka Levin hanya melirik mata mereka tajam.


"Diam atau aku lempar kalian dari rumah ini sekarang juga. "geram Levin.


"Uuuuhhhh.... "spontan mereka pura pura takut.


"Sudah... Sudah....kalian ini pergilah tidur..."


"Son...bawa istrimu ke kamar mu. Beristirahat lah. Kalian pasti lelah. "ucap Momy.


"Baik Mom... Oh ya dimana Dady.. "


"Dady belum pulang dari kantornya. Katanya sebentar lagi selesai dia juga ingin bertemu denganmu. "


"Baiklah aku ke atas dulu. "


〰〰〰


"Aaaghhh.... Kak Leviinn... "teriak Keyra dengan langsung bangun terduduk dan menaikkan selimut hingga batas dadanya.


Saat dirinya bangun dia dikejutkan dengan beberapa orang asing di kamar nya yang sudah duduk manis di kasur ranjang nya.


"Heeyyy....jangan teriak seperti itu. Kami tidak akan mengganggumu. Kami hanya ingin melihatmu dari dekat seperti apa istri cantik Lion itu "ujar laki laki remaja itu dan diangguki dua anak lainnya.


"Ya itu benar. Dan tenyata kau cantik sekali sangaaat cantik. Pantas saja Lion terus mengejar mu. "ujar seorang gadis cantik yang sedang duduk sila disebelahnya.


"Baiklah aku perkenalkan satu satu. Dari kiri.. Rey, Maxy, Kevin dan aku sendiri Sandy. Kami sepupu dari suamimu Lion. "ucap Sandy si gadis cantik.


"Lion...? "Key terheran saat mereka menyebut suaminya Lion.


"Yaa... Dia suamimu Levin."


"Ooohhhh God... You so pretty... Sini aku ingin peluk doongg... "Sandy memeluk Key erat sampai digoyang goyangkan ke kanan ke kiri karena gemas.


Tak lama Rey Maxy dan Kevin pun ikut berpelukan ala teletubies. Key hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka.


"Sayang.. Ada ap. ?"tiba tiba Levin datang dengan berlari kecil karena mendengar teriakan istrinya tadi. Namun baru saja membuka pintu kamarnya dia dikejutkan dengan pemandangan yang sebenarnya sangat mengharukan tapi tidak bagi dirinya.


"Heyy apa yang kalian lakukan. Lepaskan istriku... "teriak Levin dan menghampiri mereka lalu melepaskan pelukan mereka satu persatu dari Keyra.


"Aiishh... Kau ini. Kami sedang menyambut saudara cantik kami. Dasar Lion posesif.."cibir Rey


"Aku ambil istrimu baru tahu rasa kau.. "geram Maxy.


"Lihat saja nanti istrimu ini akan selalu bersama kami..."Kevin ikut ikutan gemas dengan tingkah saudaranya itu.


"Betul....pergi saja sana urusi kantor mu. Biar Kak Key bersama kita. "teriak Sandy


Mendengar perdebatan mereka Key terkekeh geli. Dan Levin mulai emosi dan berkaca pinggang.


"Diam kalian. Sebaiknya kalian pergi dari sini. Siapa yang menyuruh kalian masuk kamar sembarangan haah... "Levin beraksi.


Mendengar Levin berteriak mereka diam seketika . Memang mereka yang salah karena masuk kamar tanpa ijin. Tapi mereka dari tadi malam sangat penasaran ingin melihat gadis cantik yang bisa meluluhkan hati seorang Lion.


Melihat mereka dengan kepala tertunduk Keyra merasa harus ambil tindakan.


"Kak... "Keyra menurunkan tangan Levin yang sedang berkaca pinggang dan langsung menatap wajah istrinya itu.


"Aku lapar..."ucap Keyra singkat berharap bisa mengalihkan emosinya


Levin langsung tersentak bagaimana dia lupa akan keadaan istrinya. Sejak dibawanya paksa dari Indonesia sampai detik ini dia belum makan apa pun.


"Maaf sayang...aku sampai melupakan jadwal makan mu. "Levin mengelus pipi Keyra.


"Tak masalah...lagi pula ini salah ku karena ketiduran di pesawat. Kenapa Kakak tidak membangunkan ku. "


"Aku tidak mau mengganggumu. Kau pasti kelelahan. Sudahlah...ayo kita turun lalu makan. "ucap Levin lalu berjongkok membelakangi dirinya.


"Aku bisa sendiri Kak... "dia tahu maksud dari tingkah Levin itu. Namun tidak dipedulikan olehnya. Dia menarik tangan Keyra di bahunya kemudian mengangkat tubuh Keyra di punggungnya.


Tanpa berkata apa pun Levin melangkah pergi keluar kamar. Tak peduli bahwa dikamar mereka masih ada segerombolan anak remaja di kamar nya.


Keyra melirik pada mereka yang masih mencengo melihat pemandangan antara Levin dan Keyra. Dia kemudian memberi tanda pada mereka dengan jarinya membentuk huruf o seolah ingin mengatakan it's ok.


"Apa kalian tidak turun atau kalian tidak lapar.!"ucap Levin dingin tanpa menatap mereka.


"See..."ucap lirih Keyra pada mereka seolah ingin membuktikan bahwa suaminya ini sudah tidak emosi lagi.


Sandy dan yang lainnya tersenyum dan tertegun melihat mereka.


"Tentu kami lapar. "ucap mereka serentak dan langsung mengikuti Levin dan Keyra dibelakangnya


Tak lama Levin dan Keyra sampai didepan meja makan yang panjang dan mewah. Dan sudah banyak anggota keluarga yang menunggu mereka . Akhirnya yang mereka tunggu tunggu datang juga dihadapannya. Namun belum ada satu kata penyambutan untuk Keyra. Levin sudah menyambut mereka dengan dingin.


"Acara perkenalannya nanti saja. Istriku dari kemarin belum makan. "ucap Levin sedingin dinginnya sampai membuat Keyra malu dibuatnya.


"Memangnya kemana saja kau bisa bisanya istri dari kemarin belum makan. "ucap Dad Jon tambah sinis.


"Apa karena masalah keluarga kita sampai kau tidak bisa mengurusnya. Tahu begitu lebih baik kemarin dia ikut kami terlebih dahulu bersama Momymu. "tambahnya.


Suasana makan pagi yang menyeramkan.


"Key tidak apa apa Dad. Kemarin ketiduran jadi tidak sempat.. "ucap Keyra menengahi.


"Dad tahu sayang. Sekarang makanlah... "


Levin kali ini terdiam. Dia memang menyadari kesalahannya. Sejak tiba dirumahnya Levin kembali berkutat dengan laptopnya. Bahkan dia sampai ketiduran karena lelahnya perjalanan tadi di pesawat.


Levin dengan sigap mengambil menu sarapan paginya untuk Keyra.


"Aku bisa sendiri Kak. "


"Biar Kakak yang menyuapimu makan.. "


"Kak ku mohon..."


"Baiklah. "Levin memberikan makanannya pada Keyra. Kemudian Key mengambilkan satu makanan lagi untuk Levin.


"Makanlah...Key tahu Kakak juga belum makan dari kemarin kan.?"


Levin menatap lembut wajah istrinya. Tak lama mereka pun menyantap makanan mereka masing masing dengan hening.


Setelah beberapa menit acara makan pagi selesai Jon selaku pemimpin keluarga memulai topik pembicaraannya.


"Sepertinya acara makan pagi kita sudah selesai jadi aku akan perkenalkan kalian pada putri menantu kesayanganku. "


"Key ... Mereka adalah keluarga besar kami. Dari ujung Sarah adikku dan suaminya Jerry mereka orang tua Rey dan Maxy. Sebelahnya Shany dia juga adikku dan suaminya Carl mereka orang tua dari Sandy dan Kevin. Dan kalian perkenalkan dia adalah istri sahnya Levin. Namanya Keyra.


Aku harap kalian bisa menerimanya. "


"Salam kenal semuanya. "Keyra melipat tangannya didepan dada sebagai tanda hormat.


"Salam sayang kami juga untukmu sayang. Kau cantik sekali. Levin beruntung mendapatkan mu jika tidak aku akan memberikannya pada putraku Rey. "canda  Sarah.


"Ya kau benar...Key sayang bilang padaku jika Levin sudah bosan denganmu aku akan menyuruh Kevin untuk menemanimu..."ledek Shany. Dan diikuti tawa kemenangan dari Kevin.


"Auntyyyy..... Plesee."geram Levin.


"Ohhh....aku tidak takut Lev. Justru aku ingin melihatnya. "ucap Sarah seakan dia tahu bahwa jika ledekannya berhasil akan membangunkan singa tidur dirumah ini.


Mereka sekeluarga memang sangat suka meledek Levin. Namun itu tidak sepenuhnya serius mereka hanya bercanda. Karena mereka tahu para lelaki di keluarga ini adalah workholic semua. Jadi para wanita yang bertugas menghibur mereka.


"Kau tahu Keyra sayang....dari semua para lelaki disini hanya Levin yang sangat menggilai bekerja. Aku heran...diciptakan dari apa otaknya ini. Apa tidak merasa lelah. Bahkan untuk sekedar berkenalan dengan gadis pun dia sangat menjauhi nya. Sampai sampai dia pernah di juluki guy hahaha... "cerita Shany panjang lebar membuat semua keluarga tertawa .


"Benarkah..."tanya Keyra tak percaya.


"Ya itu benar...sampai pada akhirnya Momynya memutuskan perjodohan dengan anak teman bisnis Kak Jon. Namun apa yang dilakukan Levin. Dia pergi ke Indonesia dengan alasan membangun cabang baru disana. "lanjut Shany dan diangguki oleh Momy Levin.


"Tapi sekarang aku tahu...ternyata dia tidak melarikan diri tapi menjemput gadis impiannya. Kau telah membuat Levin kami tersenyum kembali Keyra sayang. Aku sangat berterimakasih padamu. "ucap Shany dengan terharu


"Apa sudah selesai aunty...?"ucap Levin


"Ayo sayang...aku akan berangkat sekarang.. "Levin menarik tangan Keyra dan membawanya keluar.


Dia sudah jengah dengan ledekan auntynya. Sebenarnya itu sudah menjadi hal biasa baginya namun yang membuat suasana hatinya buruk adalah saat mereka mengatakan akan memberikan istrinya untuk anak anaknya. Double what. Keyra adalah miliknya. Siapapun dan sampai kapan pun dia tidak akan memberikannya pada siapapun meskipun pada keluarganya sendiri.


Levin menarik lengan Keyra paksa dari kerumunan keluarganya bahkan Keyra sendiri sulit menyeimbangkan langkahnya.


Tawa ringan merekah dari semua sudut bibir keluarga mereka. Putra kebanggaan dan kesayangan mereka akhirnya terlahir kembali.


Disinilah akhirnya ...didepan mobil Levin yang sudah siap didepan pekarangan rumahnya.


"Hhmmm... Ternyata disini segar sekali. Kak... Kakak belum mengajakku berkeliling rumah ini. Oh tidak... Ini bukan rumah. Ini istana.. "ucap Keyra dengan merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara segar sedalam dalamnya.


Keyra yang saat ini masih memakai baju kantornya kemarin namun tidak memakai jas rompinya dan dengan tingkah nya seperti itu membuat Levin gemas melihatnya.


Levin mendekat lalu mengangkat tubuh Keyra dan memeluknya erat. Gerakan Levin membuat Key memekik keras. Namun tidak dipedulikan Levin dia malah membawanya didepan kepala mobil dan mendudukan tubuhnya dikap mobil.


Levin menangkup wajah cantik Key dengan kedua tangan kekarnya. Lalu sedikit memilin kedua pipinya gemas dan mengecup seluruh wajahnya berkali kali. Key terkekeh geli karena perlakuan manis Levin.


"Cukup Kaak...aku belum mandi. "Keyra terkekeh geli dan mencoba mendorong  dada Levin namun tak mempan sedikitpun.


"Kau cantik dan wangi... tubuhmu adalah aromaterapy untukku. "ucap Levin lembut dengan menempelkan keningnya di kening Keyra.


"Baiklah....sekarang dengarkan aku. Ini perintah dan tidak terima penolakan. "ucap Levin serius dan diikuti senyum Keyra.


"Aku serius sayang.. "


"Ya.. Aku tahu.. "


"Lalu kenapa senyum begitu. Kau meledekku. "


"Tidak..."Key gelengkan kepala.


"Aku tidak berani.. "


"Dengar... Aku mungkin akan sibuk beberapa hari ini jadi dengarkan perintahku. Jangan pergi kemana mana sendirian, tidak boleh pergi tanpa sepengetahuanku, setiap satu jam kabari aku tentang kegiatan mu, jika aku menghubungi mu kau harus mengangkatnya, pastikan ponsel mu selalu aktif, jangan terlalu banyak pikiran, jika lelah langsung tidur, jangan lakukan pekerjaan rumah,  jangan lupa makan teratur."


"Satu hal lagi...jangan heran jika di rumah ini banyak sekali pengawal karena sejak kedatangan teror yang tak jelas Dady mempersiapkan semuanya. Dan itu pun berlaku untukmu. Akan ada pengawal yang akan terus menjagamu. Kau mengerti.. "


"Apa separah itu...? "


"Dad dan aku selalu mengantisipasi kemungkinan terkecil sekalipun. "


"Kakak butuh bantuanku... Aku siap. "


"Tidak sayang...aku tidak ingin melibatkan mu dulu. Dad, aku, uncle Jerry dan uncle Carl sekarang sedang fokus pada perusahaan dan mencari pelaku teror itu. "


"Cukup ada kau selalu di samping ku itu sudah menjadi kekuatanku. "ucap Levin dengan mengusap pelipis Keyra lalu mengecup keningnya.


"Berjanjilah padaku...bahwa kau akan selalu menjadi kekuatanku. "ucap Levin


"Aku janji..."ucapnya singkat lalu menghambur ke pelukan Levin. Dan tentu saja dibalas oleh Levin dengan memeluknya erat.


Ada satu hal yang membuat Keyra merasa aneh dan sekaligus ada perasaan takut saat dia menginjakan kakinya dirumah ini. Insting nya mengatakan akan ada sesuatu besar yang terjadi pada keluarga ini.


Namun hal itu harus dia simpan dalam hatinya tapi apapun yang akan terjadi di keluarga ini dia harus siap. Siap menjadi Keyra yang kuat dan berani. Apalagi ada orang terkasihnya yang akan selalu disampingnya.


"Sudah saatnya Kakak pergi ke kantor. Lihat Dad yang lainnya sedang kesini. "ucap Keyra dengan menguraikan pelukannya  saat Jon dan adik adiknya beranjak menghampiri mereka.


Levin mengangkat tubuh Keyra dan menurunkan dari kap mobilnya.


"Hey Son...kenapa tidak dibawa saja istrimu ke kantor. Kau sepertinya tidak rela meninggalkannya. "ledek Jerry.


"Belum waktunya unc..."ucap singkat Levin pada uncle Jerry.


"C'mon Lev... It's time.. "ucap singkat Jon dan menghampiri Keyra.


"Jaga dirimu nak... "ucap Jon pada Key dengan mengelus puncak kepalanya.


"Sure Dad... I will.. "ucap Key tahu maksud dari Dadynya.


"Masuklah..."perintah Levin pada istrinya yang dibalas dengan anggukan kepala.Namun baru berapa langkah Levin kembali mencekal lengan Keyra dan mendekatinya lalu..


Cuuppp..


Levin mengecup bibir Keyra sedikit lebih lama tidak memperdulikan banyak pasang mata menatapnya dengan tawa.


"Love you my wife.. "


"Love too my hubby.. "ucap Keyra singkat dengan rona wajahnya yang sudah bersemu merah.


﹏﹏﹏


Key Pov


Sudah dua hari aku berada dirumah ini.. No.. No...diistana ini. Bagaimana tidak bisa disebut istana sedangkan bangunan ini sangat megah dan luas tidak ketinggalan juga pekarangan nya seperti sebuah lapangan namun ini lebih indah dan segar.


Dan tidak lupa dikelilingi tembok keliling yang kokoh dan elegan.  Dan sepertinya tidak masuk akal kalau ada penjahat yang berniat masuk kedalam bangunan ini. Apalagi terpasang ratusan cctv di setiap ruangan.


Tak ada kegiatan yang aku lakukan selama dua hari ini selain mengobrol dengan keempat saudara iparku. Kami jadi semakin dekat. Dan suamiku Levin...sejak kepergian pertamanya ke kantor waktu itu sampai hari ini aku jarang bertemu dengannya. Dia selalu pulang dini hari saat aku sudah tertidur dan berangkat lagi sebelum aku bangun.


Namun aku masih bisa merasakan perhatiannya dengan memo memo kecil untuk mengingatkanku agar tidak lupa makan, jangan terlalu lelah dan lebih sering nya dia menulis kata cinta padaku.


Levin dan keposesifannya. Saat ini aku merasakan kecupan hangat di keningku. Dan ucapan lembut darinya.


"Love you sweety... "lalu dia mengecup bibirku lama. Aku sempat membuka mataku sedikit dan terlihat wajah tampannya sudah rapi.


"Maaf membangunkanmu. Aku akan pergi ke Montana dan mungkin akan pulang larut malam. Aku ingin segera menyelesaikan ini agar aku bisa bersamamu. "ucapnya yang duduk di pinggir kasur namun tubuhnya mendekapku dan kedua tangannya menangkap wajahku.


Entahlah kenapa rasa kantuk ini begitu berat hingga badan ini terasa enggan untuk bangun.


"Oh sayangku.....betapa aku sangat merindukanmu. "suara lembutnya membuatku terhipnotis dan yang aku rasakan dia mengecup bibir ku lembut.


Setelahnya aku tidak merasakan apa apa lagi. Yang aku dengar suara pintu kamar terbuka dan aku tidak bisa mencium bau tubuhnya lagi disampingku.


Tak lama aku terbangun dan melihat  jam di atas nakas dan menunjukan pukul lima pagi. Lalu jam berapa tadi dia pergi. Aku segera pergi berlari keluar kamar dan menuruni tangga kemudian aku melihat Mommy di dapur.


"Moom... Kak Levin? "hanya itu yang aku bisa katakan semoga Momy tahu maksudku.


"Suamimu pergi ke Montana bersama uncle Jerry. Dady dan uncle Carl dia juga sudah pergi ke kantor. Dia titip pesan pada Momy katanya dia sangat rindu padamu.. "ucap Momy.


Kata kata Momy membuatku tak bisa membendung lagi pertahanan hati ini. Aku langsung menghambur ke pelukan Momy dan menangis dalam pelukannya.


"Aku salah Mom... Aku tidak bisa menjadi istri yang baik. Disaat suamiku akan pergi aku malah masih tertidur dan tidak bisa melihat wajahnya. Aku merindukannya Mom.. "isakku tak terbendung.


Momy mengeratkan pelukannya.


"Sayang...jangan seperti ini. Kau tidak salah sayang dan kau sudah menjadi istri yang terbaik baginya. Momy tahu kau selalu menunggu kepulangannya bahkan hingga dini hari kau baru tertidur. Momy tahu disaat kau ingin menyambutnya pulang kau kelelahan karena telah menunggunya. "


"Dengar Momy nak...Levin sangat menyayangimu dia rela pulang walau sebentar hanya sekedar untuk melihat wajahmu katanya untuk menambah kekuatannya. Masalah kantor sialan itu yang membuat waktu kalian tersita. Tapi tenanglah sebentar lagi akan kembali seperti semula. Perusahaan sudah mulai kembali normal. "Momy menjelaskan semuanya kepadaku dengan lembut.


Setelah mendengar penjelasan dari Momy aku kembali tenang namun belum menghilangkan rasa rindu ku padanya.


Aku kembali ke kamar ku dan membersihkan diriku agar lebih segar. Saat aku sudah selesai mandi aku langsung mencari baju Kak Levin entahlah saat ini aku ingin sekali memakai bajunya.


Aku memakai kemeja putih panjangnya yang terlihat kebesaran ditubuhku dan menutupi celana pendek ku. Dengan ini aku merasa Kak Levin sedang di samping ku dan memelukku. Tak lama aku mendengar seseorang mengetuk pintu kamarku.


"Kak Key....ayo turun kita makan. "suara Sandy memanggil ku dari luar. Aku langsung beranjak membuka pintu.


"Woooww....kau begitu cantik pagi ini. Kau suka sekali pakai baju suamimu ya. "kata Sandy


"Ehhmm...sudah dua hari aku tidak melihatnya. Ini untuk mengobati rindu ku. "tanpa sadar mataku terasa panas setiap aku membicarakannya.


Tiba tiba Sandy memelukku.


"Tenanglah...dia pasti akan kembali padamu. Gara gara teror sialan itu keluarga kita jadi tidak bisa hidup tenang. "geram Sandy setelah melepas pelukannya padaku.


"Tapi sepertinya teror itu sudah tidak datang lagi. Kita tidak menemukannya dua hari ini. "kataku pada Sandy sambil berjalan turun tangga menuju meja makan.


"Ya..tapi kita harus tetap hati hati sebelum dinyatakan aman. Aku sangat takut jika itu datang lagi. "ujar Sandy dengn bergidik ngeri.


"Tenanglah...ada aku disini. "aku mencoba menenangkannya


"Oh terimakasih Kak Key... I love you so much"teriaknya sambil memelukku dari samping.


Aku tahu perasaan Sandy saat pertama kali dia diteror dengan surat kaleng yang isinya agar dia harus hati hati jika dia ingin selamat. Tak hanya pada Sandy. Itu pun datang pada Rey, Maxy dan Kevin. Seakan kurang peneror itu pernah mengirimkan lemparan bungkusan dus kotak yang isinya bangkai bangkai tikus.


Setelah acara makan pagi selesai Momy dan para aunty pergi ke butik. Ya.. momy punya butik dan saat ini adalah acara pergelaran busana miliknya. Tinggal kami berlima yang ada dirumah ini. Dan tentunya para pengawal yang selalu siaga depan rumah.


Ok.. Saatnya aku beraksi. Menjadi Keyra yang kuat sesuai permintaan almarhum Ayah.


Tak ada yang tahu bahwa sebenarnya aku sering berlatih taekwondo atau semacamnya. Aku memang memutuskan untuk tidak ikut campur apa pun yang berbau karate tapi apa salahnya kan kalau hanya berlatih. Hitung hitung agar badan tidak terasa kaku.


Aku berjalan menuju kamarku. Kamar yang sekarang aku tempati cukup luas jadi aku hanya menggeser beberapa perabotan dan menggelar matrasku. Saat ini aku ingin sekali olahraga yoga.


Satu jam aku melakukan yoga membuatku merasa tenang kembali. Kata dokter pribadiku aku harus sering sering melakukan olahraga ini katanya untuk jaga jaga saja karena trauma yang dulu aku derita bisa saja datang lagi.


Saat latihan selesai aku merasa suasana rumah sangat dingin. Aku tak mendengar suara Rey dan Maxy yang biasanya berteriak tak jelas saat main game. Aku pun tak mendengar suara Kevin yang setiap hari latihan drum, dan Sandy..?? Oh tidak...


Ada yang tidak beres dirumah ini. Suara langkah kaki pun aku tak mendengar sama sekali. Aku melangkah menuju pintu kamar yang dari tadi aku kunci. Namun baru akan memasukan kunci pintu aku mendengar suara benda jatuh yang sangat keras.


Aku terkejut dan mengurungkan niatku membuka pintu kamar. Lalu berlari ke jendela kamar. Aku terkejut saat tidak ada satu pun pengawal yang siaga didepan rumah dan yang begitu mengejutkan ku adalah beberapa mobil yang tidak aku kenal. Jantungku berdetak cepat badanku tiba tiba gemetar hebat.


Fokus... Fokus... Key.


Kata kata itu yamg selalu aku ucapkan dalam hati. Aku berjalan mengambil telepon rumah berniat menghubungi Kak Levin. Aku tidak peduli dia ada dimana pikiranku hanya satu menghubunginya. Tapi yang membuatku aneh beberapa kali aku tekan nomor yang sama tak ada satupun suara dari telpon yang aku genggam ini.  Oh Tuhan.. Sambungan telpon pun mati.


Aku beralih mengambil ponsel ku. Ahh tidak ponsel ku tinggal 12%. Tanpa pikir panjang aku mengirim pesan pada Kak Levin dan Dady secara bersamaan.


"***Rumah besar dalam bahaya. Sambungan telpon mati,pengawal tidak siaga didepan, dan beberapa mobil yang tidak aku kenal ada didepan rumah kita.


Tolong kami. "


Sent : My Hubby and Dad***


Aku terlonjak kaget saat suara pintu kamarku seperti akan dibuka paksa.


Oh tidak... Tanpa pikir panjang aku keluar jendela dan berjalan merayap dipinggiran balkon. Saat aku berada didepan balkon kamar Sandy aku mengintip kedalam kamarnya yang sudah kosong dan aku pun segera masuk melalui jendela kamarnya yang terbuka.


Aku menyapu pandanganku mencari sesuatu yang bisa aku pegang. Namun tanpa sadar aku menemukan sebuah power bank. Dan aku segera meraihnya lalu menyambungkan nya kedalam ponsel ku.


Aku masukan keduanya kedalam kedua saku celana pendek ku dan memasangkan headset ke telingaku. Berharap ada seseorang atau siapapun menghubungiku.


Aku tahu ini tindakan nekat tapi tidak ada cara lain. Perlahan aku keluar dari kamar Sandy yang terletak dilantai dua bersebelahan dengan kamarku. Aku melihat keadaan dilantai satu rumah ini aku mendengar suara gaduh dari bawah sana. Dan sekaligus aku tersentak kaget saat menemukan Sandy Rey Maxy Kevin dan beberapa pengawal keluarga ini disandera dengan mengikat kedua tangan dan kaki mereka.