My Two Men Protector

My Two Men Protector
68.



"Jangan sentuh adikku.." geram Keyra. Entah kekuatan darimana melihat mereka membawa Sandy dengan diseret karena Sandy terus meronta tak ingin berjauhan dengan Keyra membuat seluruh darah dalam tubuh wanita hamil itu mendidih.


Sandy diseret oleh dua orang berpawakan tinggi besar. Dan Keyra digiring oleh dua orang juga dikanan kirinya.


"Heeyy...jangan macam macam dengan Kakakku.." teriak Sandy.


"Diam..." teriak salah satu dari mereka.


"Heeyy...aku ada ide biar dia cepat diam.."


Perasaan Keyra semakin tidak enak saat melihat mereka saling berbisik. Matanya terus mengawasi mereka dan seluruh tubuhnya bergetar hebat saat mereka tiba tiba membawa Sandy keruangan komputer disamping mereka.


"Kalian duluan saja bawa wanita hamil itu pada bos. Nanti kami menyusul..." ucapnya dengan seringai yang menjijikan.


Sandy diangkat oleh dua orang itu dengan terus menangis dan berteriak histeris.


"F**k you all. Let me go..."


"Kalian akan habis oleh Kakak kakakku.."teriaknya dengan isak tangisnya


" Oh ya...tapi sayangnya Kakak Kakakmu mungkin juga tidak bisa berbuat apa apa..hahaha..."


"Ayolah sayang...tubuhmu indah sekali..hahaha..."


Suara tawa menjijikan mereka membuat Keyra terdiam. Mencoba menenangkan hatinya dengan cara memejamkan mata.


Dia sudah tidak bisa diam lagi.


"Boys...i"m sorry..." ucap Keyra dalam hati mencoba berbicara dengan anak anaknya jika dia akan berbuat nekad.


Sesaat dirinya membuka mata. Tangan kirinya secara diam diam memgambil sebuah pisau dipaha kirinya. Dan dengan secepat kilat dia tusukan sejajar dengan paha kanan salah satu penjahat.


Saat dia merintih dengan cepat juga Keyra mengambil senjata dipaha kanannya lalu menembakan dengan jarak yang sangat dekat agar tidak menimbulkan suara dikaki kiri penjahat satunya.


Keduanya terkapar dan secara otomatis senjatanya terlepas dari masing masing tangannya. Dan segera menendang kedua senjata itu.


"Well...aku lama tidak menggunakan ini.."


Begh...begh...


Begh...begh...


Keyra menotok leher kedua orang itu. Dan berhasil.


"Sepertinya berhasil.." gumam Keyra saat melihat kedua orang itu membatu dengan mata melotot dan nafas tak beraturan.


"Jangan remehkan wanita hamil.."setelah mengucapkan kata kata tajamnya. Dia mengambil kedua senjata yang tadi ditendangnya. Lalu melucuti semua senjata yang dipakai kedua penjahat itu.


Setelah mengalungkan senjata panjang dilehernya Keyra menghampiri ruangan komputer. Dan ...


Braakk..


Dor..


Dor..


Dengan kedua tangan yang sama sama memegang senjata dia arahkan pada kedua penjahat itu secara bersamaan.


"Kakaaakk...." Sandy berlari memeluk Keyra dengan menangis histeris.


Keyra membalas pelukannya sangat erat.


"Maaf Kakak terlambat." ucap Keyra.


Sandy menggelengkan kepala.


"Kakak...aku takut..." isaknya dengan ujung bibir mengeluarkan darah.


"Kau ditampar..?"Sandy menganggukan kepalanya.


" Tapi mereka tak bisa menyentuhku Kak hingga kau datang. Terimakasih..."Sandy memeluk Keyranya lagi.


Mereka belum sempat menyentuhnya terlihat dari baju Sandy yang sudah sobek dan beberapa memar di kedua pipinya dan tubuhnya. Terlihat bahwa Sandy sangat berusaha keras untuk lepas dari mereka.


"San....pegang ini.." perintah Keyra dengan memberikan senjata pada Sandy.


"Bidik dan tembak...understand...!"


Tubuh dan tangan Sandy bergetar hebat.


"A aku tak bi sa Kak.."


"Listen to me.." Keyra menyentuh bahu Sandy. "Waktu kita tidak banyak..aku punya rencana dan kau yang kerjakan. Aku akan memandumu.."


Air mata Sandy lagi lagi keluar tanpa permisi. Betapa hebat wanita didepannya ini.


"Pleasee.." mohon Keyra.


Sandy menganggukan kepalanya mantap. Dia harus berubah. Dia harus melindungi Keyranya.


"Good. Sekarang..." Keyra seperti mencari cari sesuatu. Saat yang dicari ditemukan dia mengambilnya perlahan.


"Beruntung ada seragam yang tertinggal...pakailah.." Keyra membantu memakaikan sebuah jas pada Sandy menutupi bajunya yang sudah terkoyak.


Braakk..


Suara pintu dibuka paksa membuat keduanya berbalik sambil menodongkan senjata kearah sumber suara.


"Nona Key..."


"Stop San.." teriak Keyra.


"Dia dipihak kita.." lanjutnya saat dia melihat pin berbentuk kunci dibajunya. Dan juga...dia mengenal pria itu. Kenzo.


Keyra menahan lengan Sandy karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Sandy menurunkan senjatanya perlahan.


"Nona Key ..Nona baik baik saja..?" Kenzo menghampiri Keyra dan tampak menscan seluruh tubuh Keyra dari atas hingga bawah bahkan sampai diputar bolak balik.


"Ya...aku baik baik saja Kak.."


"Tapi kata Tuan Fian...perut anda sakit." ucapnya dengan nada khawatir.


"Tadi...sekarang tidak. Kurasa anak anakku mengerti situasi saat ini.."


Kenzo menoleh kebelakang dan melihat dua orang terkapar.


"Mereka mencoba menyentuh adikku.."ucap Keyra


"Mereka belum mati Nona. Sebentar.." Kenzo menghampiri kedua tubuh yang tergeletak bersimbah darah lalu memeriksanya.


"Aku ikat dulu mereka. Lalu kita keluar dari sini.." ucapnya sambil mengikat kedua tubuh penjahat itu.


Keyra menyiapkan senjatanya. Sandy terus menatap Kenzo.


"Mereka belum mati..?" tanya Sandy tiba tiba.


Kenzo menoleh pada sumber suara.


"Karena terlalu baik ...Nonaku tidak pernah membunuh seorang penjahat sekalipun.." jawab Kenzo dengan kembali menyelesaikan kerjaannya.


Sandy kemudian menoleh kembali pada Keyra yang sedang tersenyum menanggapi jawaban Kenzo.


"Nona...apa ada rencana. Beri kami perintah.."


Ok. Its time.


Keyra, Sandy dan Kenzo keluar dari ruangan itu perlahan. Dengan posisi Kenzo didepan melindungi kedua wanita dibelakangnya.


"Tampaknya mereka semua tidak berkeliling.." ucap Kenzo tiba tiba saat merasa tidak ada yang mengawasinya.


"Ya...mereka semua penjahat bodoh. Jika mereka tidak menahan kedua ibuku sudab habis mereka.." ucap Keyra.


"Anda benar Nona. Apa yang harus kita lakukan..?"


"Waktu tinggal 30 menit lagi. Perintahkan sniper untuk bersiap siap. Apa mereka menggunakan alat yang sama seperti kita..?"


"Ya Nona. Mereka akan secara otomatis mendengar pembicaraan kita.."


"Bagus. Apa ada diantara kalian penjinak bom..?"


"Kami bisa Nona. Tapi kami diikat.." ucap seseorang menanggapi pertanyaan Keyra.


Sandy hanya bisa terdiam melihat kakaknya yang tidak tahu sedang apa.


"Ada berapa sniper disekeliling kampus..?"


"Semua penjuru Nona..sudah siap melaksanakan perintah."jawab Kenzo.


"Baiklah...pertama lumpuhkan senjata utama di kedua sandra. Kedua remot pengontrol bom. And..." ucapan Keyra menggantung.


"Serang mereka..!"


"Jinakan bom.."


"Lalu selamatkan para sandra..?"


"Understand...?"


"Yess Miss.." jawab Kenzo dan beberapa orang memekakkan telinga.


"Ooww..bisa kalian tidak berteriak.." ucap Keyra dengan memegang telinganya.


Kenzo tampak menahan tawa.


"Soryy Miss.." jawab mereka lagi dengan nada...lebih rendah.


"Disini saja Nona..." Kenzo menuntun Keyra dan Sandy diujung tangga tapi masih tertutup oleh tembok yang menjulang tinggi.


Keyra menghela nafas dengan keringat yang terus mengalir. Kenzo menatap wajah Keyra kemudian mengusap keringatnya dengan ujung lengan bajunya. "Anda tidak apa apa Nona..?"


Keyra menyipitkan mata menahan lelah dan tersenyum kecil.


"Aku hanya sedikit lelah Kak."


Diposisi mereka saat ini Keyra dan yang lainnya bisa mengintip keadaan yang menegangkan jauh dari sana.


Keyra mengamati dengan seksama. Dan tanpa sadar air matanya mengalir saat melihat kedua ibunya menangis sedih dengan masih ditodong senjata dipelipis. Para sandra yang diikat dengan bom waktu yang terus berjalan mundur. Kemudian dia melihat keempat saudaranya dan...suaminya. Keyra menutup mulutnya dengan terisak.


Mereka diikat dengan ...rantai.


"Dia Kenan..!"


"Anda mengenalnya Nona..?" tanya Kenzo.


"Dia bodoh dan pengecut maka dari itu dia menggunakan kelemahan kita untuk membuat kita kalah.." Keyra menengok jam dilengannya.


"25 menit lagi..."


Keyra memejamkan mata dan bersiap siap. Setelahnya dia menyiapkan senjata panjang dan mengarahkan pada beberapa orang.


"San...tetap disampingku. Jika melihat ada yang tidak aman...bidik lalu tembak...ok..?"


"Tembak bagian bawah.." lanjut Keyra.


"Ji ka tidak bi sa bagi an ba wah..?" tanya Sandy gugup


"Bagian atas.." jawab Keyra. Sandy melongo. Kenzo tersenyum. Dia tahu Nonanya jika berhubungan dengan keluarga dan teman temannya...maka akan berubah sikap lembutnya.


"Now.."


Dalam sekejap perintah singkat Keyra menggerakkan seluruh senjata yang gatal ingin dikeluarkan. Dan mengejutkan seluruh tahanan.


Dor...senjata yang mengarah dipelipis Momy jatuh tiba tiba.


Dor....senjata yang mengarah dipelipis Bunda pun jatuh tiba tiba.


Setelahnya...dilanjutkan dengan jatuhnya kedua orang yang menodongkan senjata pada Bunda dan Momy. Disusul dengan tembakan tersembunyi beruntun mengenai para penjahat lainnya hingga satu persatu terkapar tanpa bisa melawan.


Dan para sandra satu persatu terbebas. Diawali dengan dibebaskannya para pengawal Keyra yang bisa menjinakkan bom.


"aku akan melihat yang sebelah sini...lindungi aku..." ucap salah satu penjinak bom.


"Ok.."


Kenan panik.


"Heeyy....keluar kalian..jika tidak akan kubunuh mereka.." dia mengacungkan senjata ke arah keempat saudaranya.


Namun belum sampai pelatuknya ditarik Keyra menembaknya dari jauh. Dor...Mengenai senjatanya.


Dor...Dor...kemudian kedua kakinya.


"Woow Nona...tepat sekali.." Kenzo terkagum melihat keahlian Keyra.


Keyra tersenyum.


Serangan Keyra dan para pasukannya benar benar kalap dan brutal. Sandy hanya bisa melihat aksi mereka dengan kagum.


Namun...diujung mata Sandy seperti melihat seseorang sedang membidik mereka. Sandy menengok...dan...


"Kakak....tidaak..." teriak Sandy panik.


Keyra dan Kenzo menoleh. Sandy sudah berdiri didepan melindungi Keyra dengan senjata diacungkan pada orang itu.


"Bidik....dan tembakk..." gumam Sandy dalam hati.


Dor...


Dor..


Dor


Dan Kenzo membunuhnya.


"Kakak..." suara Sandy bergetar.


"Kau baik baik saja San..?"


Sandy menubruk tubuh Keyra dan memeluknya erat.


"Aku menembaknya Kak..."


"Ya..dan tepat sasaran.."


"Dia ingin menembakmu.."


"Terimakasih. Kau melindungiku.." jawab Keyra dengan senyumnya.


"Nona...situasi aman. Kita keluar..." ucap Kenzo.


Keyra kembali merasakan sakit diperutya. "Apa aku akan melahirkan..?"


"Kak...kau kenapa..?" Sandy panik saat melihat Kakaknya kembali membungkuk dengan tangan menahan perut besarnya.


Huuh....Huuhh...Keyra mengambil nafas lalu membuangnya.


"Ya...ayo..?"


"Nona...bagaimana keadaanmu..?"


"Sakit..."


"Pelan pelan saja.." Kenzo mengalungkan lengan Keyra kelehernya.


Kondisi sudah kembali normal. Para snipper yang bersembunyi diluar kampus pun sudah mulai berdatangan dan berbalik menguasai mereka yang kalah terkapar. Kenan pun sudah berbalik kondisi...dia sudah ditodong dengan senjata dipelipisnya. Namun dia sama sekali tak bisa bergerak karena kedua kakinya.


Mobil polisi dan ambulance pun sudah berdatangan.


Tiga penjinak bom...masih sibuk mengutak atik karena waktu tak bisa dihentikan.


Ada tiga bom yang masih diikat pada satu orang sebagai utamanya. Ikatan pada sandra yang sudah terlepas membuat mereka keluar kampus secara otomatis.


Keyra datang dituntun oleh Kenzo. Sontak membuat keluarga terkejut.


"Kak Key..." orang pertama yang melihat sosok Keyra berteriak histeris. Dan Levin..mendengar nama istrinya disebut langsung berlari mendekat.


Wajah pucat Keyra tersenyum.


Levin segera memeluk Keyra dengan sangat erat. "Sayang..." ucap Levin lirih.


Keyra membalas pelukan suaminya tak kalah erat.


"Kakak terluka..."


"Tidak sayang..aku baik baik saja.." ucap Levin kemudian menghujani seluruh wajah Keyra dengan ciuman hangat.


"Maaf....maaf...karena Kakak tidak disampingmu.."


"Aku baik baik saja Kak..." jawab Keyra lirih dengan senyumnya.


"Kau pucat sayang..."


"Perutku dari tadi terus menerus sakit. Entahlah..."


Semua keluarga mendekat mengkhawatirkan Keyra dan tak lupa menanyakan kondisi Sandy yang juga tak baik dilihat.


"Sandy...kau baik baik saja Nak.."


"Ya Mom...aku dan Kakak ditoilet tadi.."


"Tapi kenapa bajumu...?"


"Kami sempat ditangkap Mom. Dan mereka mencoba melecehkanku..."


"Apaa...!" suara beberapa keluarga terdengar kaget.


"Tapi Kakak datang dengan cepat Mom...kakak lagi lagi menyelamatkanku. Kakak tidak perduli dengan kondisi dirinya sendiri yang dari tadi terus merasakan sakit diperutnya...aku.." isak Sandy menjelaskan pada Momynya. Hingga tak tahan menceritakannya dia kembali memeluk Momynya.


"Mom...ayo kita keluar dari sini.."


"Ya nak...ayo..."


"Bagaimana..?"


"Tidak bisa dihentikan...!"


"Apaa..!"


Perbincangan mereka didengar oleh keluarga Ferdinand tak terkecuali Keyra.


Keyra sontak menoleh.


"Ada apa uncle ..?"


"Uncle..?"ucap Levin terheran.


"Uncle Moe kenapa..? Waktunya tinggal 15 menit lagi." Keyra menghampiri Moe dan Fian yang sedang sibuk bersama tim memecahkan bom waktu itu. Tanpa memperdulikan pertanyaan suaminya.


Langkah Keyra yang lemah dan sedikit tertatih membuat Levin mendampingi Keyra dengan cepat kemudian merengkuh pinggangnya.


"Nona...pergilah."perintah Moe


"Tuan Levin maaf. Tolong bawa Nona dan keluarga keluar dari sini. Pengawal kami akan mendampingi kalian..." lanjutnya.


"Apa maksudnya ini.."Levin heran dan panik.


"Tuan Levin...saya mohon."


"What happened..!" suara Keyra terdengar keras membuat Levin yang berada disampingnya terkejut. Moe dan para tim pun sontak menoleh pada Nona Besarnya.


"Nona...sebaiknya kita segera keluar dari sini. Mereka menggunakan virus X didalam bom ini. Tidak bisa asal potong kabel. Remot ini hanya untuk mempercepat dan memperlambat. Tidak didesaign untuk menghentikan. Kita hancurkan pun bom ini tetap akan meledak.." seseorang maju menerangkan pada Keyra.


Semua kembali tegang.


Tubuh Keyra sempat limbung namun segera ditahan oleh Levin dan Fero yang sudah disampingnya. "Sayang...ayo kita keluar.." ucap Levin.


"Ayo adikku...kau sangat lemah. Aku tidak ingin terjadi apa apa denganmu.." suara Fero sedikit serak melihat kondisi Keyra yang pucat dan penuh keringat.


"Tidak...tidak...siapa dia berani sekali mengganggu kehidupan keluargaku. Bangunan ini pasti penuh keringat didalamnya dan siapa dia dengan mudahnya mau menghancurkannya..." pikir Keyra dalam hati.


"Semua pasti ada jalan keluarnya. Semua pasti ada cara menghentikannya.."


"Pasang bom itu padanya.." ucap Keyra lirih namun masih bisa didengar oleh orang orang disampingnya.


"Apa.."


"Apa Nona..!"


Keyra mengambil senjata lagi dipahanya kemudian menyiapkan pelatuknya.


"Pasang bom itu padanya.." perintah Keyra dingin sambil menodongkan senjata pada Kenan.


Kenan yang sudah lemah pun mencengo kaget.


"Semuanya.."


"Cepat..!"


Salah seorang pengawal memasangkan bom bom itu pada Kenan dengan cepat. Kenan yang kedua tangannya sudah diborgol dibelakang hanya bisa pasrah.


"Ayo kita pergi..." ucap Keyra santai pada Levin dan yang lainnya.


"Heeiii...!" teriak Kenan.


"Semuanya...kita keluar.!" perintah Keyra lagi dengan nada dingin.


Entah apa yang ada dalam pikiran Keyra. Dia benar benar memerintahkan semuanya untuk pergi keluar dari gedung ini.


Semuanya bergantian keluar dengan berlari cepat.


"Heeii...apa yang kau lakukan..!"


"Keey...apa yang kau pikirkan Haah."


"Lepaskan aku...lepaskan benda ini.."


"Key...Keyyrraa...."


Semua teriakan Kenan benar benar tak didengarkan oleh Keyra. Levin pun benar benar terkejut dengan sikap istrinya ini.


"Hey...Keyra...lepaskan benda ini dariku..cepat..!"


"Aku tak menyangka kau wanita kejam.."


"Aku salah menilaimu Key..."


Keyra yang sekarang sungguh berbeda dengan yang biasa mereka lihat sehari harinya.  Levin dan saudara lainnya terheran dengan sikapnya kali ini yang masa bodoh dan...terkesan kejam.


Keyra tetap membisu melewati Kenan yang terus berteriak.  Para polisi pun dibuat bingung dengan sikapnya.  Mereka yang tadi mendampingi Kenan hendak dibawa menuju mobil polisi namun karena perintah Keyra langsung di urungkan.


Bukan karena Keyra siapa...


Tapi karena Keyra menodongkan senjata pada mereka.


"Pergi dari sini Tuan Polisi.  Aku tak segan segan membunuh kalian jika tetap disampingnya.  Aku tak perduli masuk penjara sekalipun.. "ucap Keyra tegas dengan senjata yang sudah siap ditarik pelatuknya.


"Pergi...! "perintahnya lagi tegas. Dan langsung membuat mereka lari terbirit birit keluar kampus.


"Heyyy kalian...bawa saja aku.  Bawa aku penjara.  Heyy kalian jangan pergi.. "teriak Kenan histeris bahkan dia dibuat terkejut saat waktu yang dibom menunjuk dengan angka 05:00.


"Tidak... "


"Tidak... "gumam Kenan.


"Key....Keyra...jangan tinggalkan aku.  Ku mohon lepaskan benda ini. Remot aslinya ada dibawah sepatuku.  Tolong Key .."suara Kenan tiba tiba berhenti.


Dia mulai merasa ada yang aneh.


Para pria yang berada disamping dan di belakang Keyra mematung seketika.


Keyra tersenyum kecil saat misinya berhasil. Dia menghentikan langkahnya.


Ya...Keyra hanya menggertak. Dan ini adalah rencananya.


Keyra berbalik menoleh pada uncle Moe dan memberi tanda menganggukan kepala padanya.  Uncle Moe tahu maksud isyarat dari Nonanya. Kemudian beralih posisi didepan Kenan.


Salah satu pengawal Moe mengambil sepatu milik Kenan. Dan menarik kedua sepatunya kemudian memeriksanya.


Glutak


Sebuah remot kecil jatuh dari dalam sepatu itu.


"Tekan tombol yang merah ...cepat..!"


Dengan cepat dia menekan tombol merah dan boomm....


Seketika ketiga bom waktu itu berhenti di angka 03.56.


Huuffttt...


Semua penghuni bernafas lega.


Kenan langsung terkapar lemas. Dia yang menganggap Keyra sebagai adik kelas biasa ternyata bukan wanita biasa.  Keyra bahkan bisa membuat kakinya lemas dan ketakutan.


"I'm sorry.... "ucap Kenan lirih pada akhirnya.


"But i hate you Key... "lanjutnya.


Keyra berbalik menatap Kenan dengan senyum yang....penuh kemenangan .


"Aku lebih membencimu Kak.."jawab Keyra menanggapi ucapan Kenan.


"Dia bahkan masih memanggilku "Kak"..."ucap Kenan dalam hati dengan mata menatap Keyra dalam.


"Aku tahu siapa kau dulu. Kenan yang ramah dan baik hati . Tapi sayang kau licik dan penuh dendam. Hidupmu penuh rencana licik.  Dan aku permainkan itu.. "


"Aku tahu saat remote control itu tidak berfungsi untuk menghentikan pasti kau membuat yang lain.  Dan itu hanya kau yang tahu..."


"Maaf... Maafkan aku.. "ucap Kenan dengan menundukan kepala.


"Maaf tidak cukup dengan caramu membuat kedua ibuku menangis ketakutan.. "ucapan Keyra membuat Kenan mendongakan kepalanya kembali.


Keyra membalikan badannya lagi dan melangkah pergi dengan tangan mengusap perut besarnya.


Namun beberapa langkah...pusing dikepalanya datang dengan tiba tiba. Dadanya sesak.  Dan dia merasa...ada cairan yang keluar dari hidungnya.


Dia meraba dibawah hidungnya...lalu...hanya kegelapan yang datang selanjutnya dan teriakan dari orang orang terkasih memanggil namanya.


"Sayang...aku mohon bangunlah.  Jangan seperti ini.. "


"Key.... "


"Kakak... "