My Two Men Protector

My Two Men Protector
79.(extra part 3)



"Sebenarnya ada apa Mom.."tanya Leo tiba tiba mengejutkan semuanya.


"Apa yang kami tidak tahu Mom.."timpal Owen disamping Leo.


Keyra diam terkejut begitupun keempat saudaranya. Apalagi kali ini tidak ada sang suami disisinya. Dia butuh pendamping untuk meredakan kemarahan sikembar.


"Apa maksudmu sayang..."Keyra mencoba tenang walaupun dalam hatinya dia sangat takut.


Leo dan Owen menghampiri Keyra menjauhkan para unclenya.


"Kami dengar semua yang kalian bicarakan. Tapi kami tak mengerti Mom. Apa maksudnya Mom...?"


"Leo...kami hanya membicarakan tentang masa lalu. Itu saja.."


"Tapi Mom...kenapa jantungku bergetar cepat sampai terasa sakit saat mendengar tadi.."ujar Owen polos diangguki Leo.


Deg


Keyra diam menatap si kembar. Ternyata dia,suaminya dan si kembar saling terikat. Tapi disisi lain dia juga tidak ingin jika si kembar tersakiti. Kenapa harus saling terikat jika salah satu dari mereka tersakiti.


Mata Keyra berkaca dengan menundukan kepala.


"Moom.."panggil Leo dengan sedikit nada keras sampai Keyra tersentak kaget.


Namun melihat Keyra terlonjak kaget Leo jadi merasa sangat bersalah karena meluncur sudah air mata yang tadi Keyra tahan.


Leo langsung memeluk erat Keyra. Dia mengucapkan kata maaf berkali kali.


"Maaf Mom..."


"Maaf jika ...."


"Tidak Nak...jangan minta maaf..."


Keyra mengusap lembut kepala Leo dan Owen yang telah memeluknya erat.


"Ketahuilah..Mommy tidak menyembunyikan apapun dari kalian. Jika kalian menganggap ada sesuatu yang kalian tidak tahu bukan berarti Mommy merahasiakannya sayang. Itu karena bagi Mommy hal itu tidak penting untuk kalian ketahui. Kalian mengerti maksud Mommy.."


Leo dan Owen saling menatap mencerna perkataan Mommynya.


"Owen sayang...apa masih sakit.."Keyra menyentuh dada Owen mengingat tadi dia mengatakan dadang sakit.


"Tidak Mom. Sebenarnya aku kenapa Mom..?"ujarnya polos.


Keyra menangkup wajah Owen dan mengecupi seluruh wajahnya dengan sayang. Dalam hati dia berdoa semoga putra bungsunya ini sehat selalu.


"Mommy doakan semoga kau selalu sehat dalam lindungan Tuhan. Apapun yang terjadi Mommy dan Daddy akan selalu menjaga dan melindungimu.."Owen menangis dan menganggukan kepala pelan meng-Amin -i doa sang ibu.


Setelahnya Keyra berganti menangkup wajah Leo sama dengan yang dilakukannya pada Owen. Dia mengecupi seluruh wajahnya berkali kali dengan sayang.


"Jangan pernah meragukan kami sayang. Kau adalah putra sulung kami. Mommy berdoa semoga kau selalu dalam lindunganNya. Ingatlah bahwa Mommy sangat sangat mencintaimu dan adikmu.."Leo menganggukan kepala dan memeluk sang Mommy dengan sangat erat.


"I love you Mom.."


"I love you too Son.."


"Come here.."Keyra membawa Owen kedalam pelukannya.


Melihat Keyra dan si kembar membuat para keempat pria semakin yakin bahwa memang mereka tidak bisa selamanya berada disisi Keyra selamanya.


Tapi Leo dan Owen masih belum cukup untuk melindungi Keyra-nya. Mereka harus dilatih. Mereka harus kuat mental.


Fero memberi isyarat pada mereka bertiga Maxy Rey dan Kevin untuk mengikutinya keluar.


Saat diluar halaman Fero berkata.


"Kita harus segera melatih Leo dan Owen.."


"Apa maksudmu Kak..?"


"Dua hari lalu.."Fero merasa ragu untuk mengatakannya.


"Dua hari lalu kenapa Kak..?"desak Maxy tak sabar.


Setelah itu Fero mengeluarkan selembar kertas dari sakunya yang sudah dilipat lipat dan memberikannya pada Maxy yang ikut dibaca oleh saudara lainnya.


Sontak mereka pun terkejut dengan rahang mengeras.


"SEKERAS APAPUN KALIAN MENJAGA SAUDARIMU.


KUPASTIKAN DIA AKAN ...MATI SECEPATNYA.."


"Apa ini Kaaakk.."teriak Maxy tak sadarkan diri.


"Max...jangan keras keras.."Fero menutup mulut Max dan menariknya tubuhnya keluar jauh jauh dari rumah besar.


"Kak...darimana dapat surat kaleng ini.."tanya Rey datar.


"Dua hari lalu aku mendapat sebuah amplop. Aku kira itu dari klien karena terlihat sangat rapi. Tapi yang aku heran tak ada nama pengirimnya.."


"Surat itu datang dari orang tak dikenal. Bukan dari klienku. Aku sudah memerintahkan orang untuk menyelidikinya.."


"Apa kak Levin tahu..?"tanya Kevin


"Belum..!"


"Apaaa. !"teriak ketiga saudara lainnya.


"Sejak dapat surat itu aku belum sempat menemuinya secara langsung..."


"Apa karena itu kau memerintahkan pengawas secara diam diam mengikuti Kak Keyra kemanapun dia pergi.."


"Ya. Dan untung saja sejak kejadian surat kaleng itu Keyra tidak banyak keluar rumah aku jadi semakin mudah mengawasi. Tapi melihat Leo dan Owen seperti itu...mereka pasti akan selalu dekat dengan Keyra. Dan itu semakin memudahkan mereka untuk mengincar permata keluarga Ferdinand.."


"Sebenarnya siapa mereka Kak..!"geram Max.


"Aku belum tahu...aku masih menunggu laporan dari pengawalku."


*******


"Kak Leo..."panggil Owen.


Keyra memang memerintahkan Owen agar tetap memanggilnya Kakak pada Leo. Karena bagaimanapun Leo tetap Kakak sulungnya.


"Hmm..."


"Aku malas.."


Leo mengerutkan keningnya.


"Kenapa.?"


"Entahlah...perasaanku tidak enak Kak.."Owen memang sudah berpakaian rapi tapi hatinya tiba tiba merasa ada sesuatu yang akan terjadi pada keluarganya.


Leo menghampiri Owen.


"Apa yang kau pikirkan...?"


"Aku..."Owen menundukan kepala dengan mata berkaca.


"Aku merasa akan terjadi sesuatu dengan Mommy Kak..."


Deg


Leo diam mematung. Dia tahu adiknya ini punya kelebihan yang hanya dia yang tahu. Dan hanya Leo dan Owen sendiri yang mengetahuinya. Mereka menyadarinya sejak satu tahun yang lalu. Tapi anehnya...Owen akan merasakan itu hanya pada keluarganya.


"Mommy..."gumam Leo


"Kak...Kakak saja yang berangkat. Aku tinggal dirumah ya dengan Mommy. Apalagi Daddy sedang keluar kota.."tampak Leo berpikir keras.


Tiga hari sejak acara pertemuan keluarga Ferdinand...Levin dan keluarga kecilnya pulang kerumahnya kembali. Namun tak lama setelah itu Levin ada pertemuan bisnis diluar kota yang baru saja berangkat sore kemarin.


"Leo..."


"Owen.."


Suara keras Keyra memanggil putra putranya untuk sarapan pagi.


"Ya Mom...sebentar.."jawab Leo dan Owen kompak.


"Kita ijin dulu pada Mommy.."sambung Leo pada Owen.


"Alasannya.."


"Biar itu aku yang urus.."


Leo dan Owen turun tangga menuju tempat makan ruang keluarganya.


"Duduk Nak.."


"Mom...kaki Mommy sudah sembuh..?"tanya Owen dengan nada khawatir.


Sejak jatuhnya Keyra dari tangga tiga hari lalu Levin memanggil kembali dokter untuk memeriksa kaki sang istri. Karena masih terlihat bengkak. Menurut dokter karena Keyra terlalu banyak beraktivitas.


"Bengkaknya sudah mulai hilang. Hanya sedikit ngilu jika buat jalan terlalu lama.."


Leo dan Owen saling menatap.


"Mom...hari ini kami tidak berangkat sekolah ya.."


Keyra terkejut menatap Leo.


"Memang kenapa. Apa kalian sakit..? Dimana yang sakit..?"tanya Keyra bertubi tubi penuh khawatir.


"No Mom No..."


"Jangan bilang kalian ingin menemani Mommy dirumah.."


Leo dan Owen terdiam.


"Oh God...Son.."Keyra hampir tak percaya. Lagi lagi dengan keposesifan putra putranya.


"Mommy tidak sendirian asal kalian tahu. Ada bibi. Ada paman. Banyak orang dirumah ini Son.."Keyra membujuk mereka. Memang di rumah sebesar ini tidak mungkin Levin membiarkan istri kesayangannya mengurus rumah mereka sendirian. Its impossible.


"Tapi Mom..."


"Kalian harus tetap berangkat. Jangan hanya karena Mommy kalian jadi bolos. Bukankah setiap istirahat kalian selalu menghubungi Mommy. Kalian lupa..?"lanjut Keyra. Itu memang kebiasaan si kembar.


Sebenarnya Keyra pun bertanya tanya dalam hati. Tidak biasanya putra putranya sekhawatir ini. Pasti sibungsu merasakan sesuatu..pikirnya dalam hati.


"Owen...kau baik baik saja..?"Keyra memanggil Owen yang dari tadi menundukan kepala.


Owen sontak mendongakan kepala terkejut.


"Ya Mom..."


Keyra mengernyitkan dahinya. Dia lalu menghampiri Owen duduk disampingnya. Dia mengusap bahu Owen menenangkannya.


"Mommy adalah mommy kalian. Yang melahirkan kalian. Mommy tahu siapa kalian.."


"Kalian tidak bisa menyembunyikan apapun dari Mommy.."


Deg


Deg


Leo dan Owen menatap Mommy yang tersenyum manis.


"Apa kau merasakan sesuatu Owen..?"


Deg


Owen kembali terkejut.


"Mom.."


"Ceritakan pada Mommy.."


"Aku...aku...merasa akan terjadi sesuatu pada Mommy..."


Owen memeluk Keyra.


"Aku takut Mom. Aku tidak mau berangkat sekolah Mom. Ya Mom..please. Aku ingin menjaga Mommy.."isak Owen.


Tak lama Leo pun memeluk Keyra dari samping kanannya.


"Mom...boleh ya..?"ujar Leo.


Keyra tak bisa menampik apa yang Owen rasakan. Karena pada dasarnya sudah tiga hari ini dia juga merasakan sesuatu akan terjadi padanya.


"Bagaimana kalau Mommy ikut kalian sekolah..?"


Leo dan Owen langsung berbinar. Berbeda dengan kebanyakan anak sekolah...si kembar ini memang mengharapkan kalau Mommynya menemaninya di sekolah.


"Benarkah...Mommy ikut dengan kami ke sekolah..?"


Keyra menganggukan kepala cepat.


"Kenapa tidak. Mungkin Mommy disana bisa makan dikantin ehmm kalau tidak ....cari papah baru..."canda Keyra dengan mengkerlingkan matanya pada sikembar.


"Waaah....waahh..."


"Oh My God....Mom...kuharap Daddy tidak dengar.."


"Hahaha..."tawa mereka.


"Daddy tak akan dengar. Siapa suruh pergi pergi jauh dari Mommy..."ujar Keyra dengan memanyunkan bibirnya.


Keyra memang pandai sekali merubah keadaan.


Seketika suasana menjadi hangat dan nyaman.


"Sebentar sayang. Mommy ganti baju dulu. Kalian tunggu saja didepan.."


"Mau Leo antar Mom.."


"Tidak usah. Biar Mommy sama bibi saja.."


"Baiklah.."


"Ayo bi.."


"Baik Non.."bibi Sheren asisten keluarga Keyra membantunya berjalan dengan merangkul tangan Keyra.


"Non...apa anda baik baik saja.?"


"Maksud bibi.."


"Bibi tahu anda sedang tidak enak badan.."


"Lagipula kaki Non masih belum sembuh...apa bibi ikut juga Non..?"


Keyra tersenyum karena perhatian bibi.


"Tidak perlu Bi.."


"Aku hanya tidak ingin membuat mereka kecewa...bibi lihat kan wajah mereka.."Keyra terkekeh geli.


"Ayo bi...sudah selesai.."


"Mari Non.."bibi kembali menuntun Keyra.


"Bi...kalau suamiku telpon kerumah bilang saja aku lagi main.."kekeh Keyra di akhir perkataannya.


"Mana berani Noon.."


Kembali Keyra membawa tawa dirumah besarnya.


"Ayo Nak...Mommy udah siap.."


Sontak Leo dan Owen membalikkan badan.



"Waah Moom...Mommy cantik sekali. "Leo berlari menghampiri Mommynya. Dan diikuti Owen dibelakangnya.


"Ya benar Mom. Mommy cantik sekali. Untung tidak ada Daddy. Kalau ada Daddy pasti tidak boleh pergi kemana mana.."


"Ya. Kau benar Owen..haha.."


"Ayo Mom..kita berangkat.."


*****


"Sudah sana masuk..."


"Tapi Mommy dimana..?"


"Jangan khawatirkan Mommy. Mommy mau jalan jalan dulu.."


Keyra dan si kembar sudah sampai disekolah mereka. Namun tiba tiba Leo dan Owen merasa ragu untuk meninggalkan Mommynya.


"Kenapa aku merasa ini salah ya Kak.." gumam Owen.


"Bagaimana bisa kita belajar dan meninggalkan Mommy disekolah ini. .."gelisah Owen.


Mereka jalan masuk keruangan kelasnya dengan langkah bimbang.


"Ya kau benar Owen. Kenapa aku tidak berpikir sampai sana ya.."


"Jangan khawatir...kita jangan lost kontak dengan Mommy..."


"You know what i mean..?"


Owen menganggukan kepalanya.


Saat masuk kedalam ruangan kelasnya....Leo dan Owen terkejut saat melihat beberapa teman nya sudah berdiri berbaris didekat jendela kelas sambil menatap keluar kelasnya. Si kembar mengernyitkan dahinya.


"Sedang apa mereka..?"tanya Owen menatap dua sahabat karib mereka .


"Entahlah.."jawab Leo singkat.


Leo dan Owen mempunyai sahabat dekat..Brian dan Kai. Mereka berempat merupakan most wanted disekolahnya.


Saat yang lain ikut penasaran dengan apa yang dilihat Brian dan Kai...Brian selaku ketua kelas memberi peringatan.


"Diam kalian ditempat masing masing. Atau aku akan masukkan kalian ke daftar black list ku. Kalian mengerti maksudku..!"peringat Brian.


Sontak mereka duduk kembali di tempat duduk mereka masing masing. Haaahh...mereka paham betul apa yang dimaksud dengan daftar black list Brian.


Brian akan menulis dibukunya bagi siapa saja yang tidak menuruti perintahnya lalu sedikit demi sedikit mereka akan mendapat hukuman hingga mereka ingin keluar sekolah dengan sendirinya.


Jangan salahku Brian jika dia keras...itu karena dia mendapat didikan keras dari sang ayah sebagai kepala detektif.


Tapi...sifat keras Brian tidak bisa dia keluarkan pada ketiga sahabatnya. Bukan karena tidak mempan..tapi dalam keadaan emosi dia malah kalah menyeramkan dari ketiga sahabatnya. Hahaha...


Kembali ke mereka berempat.


Leo dan Owen sudah ikut berdiri disamping Brian dan Kai.


"Lagi apa loe pada..."tegur Leo


Brian dan Kai menoleh bersamaan pada sikembar.


"Loe lihat keluar.."perintah Brian pada mereka bertiga.


Sontak Leo dan Owen terkejut saat melihat keluar kelas. Mereka melihat Mommynya dengan gurunya sedang mengobrol santai dan sesekali tertawa.


Memang ada apa dengan Mommy....pikir sikembar dalam hati.


"Sepertinya Miss Grey akan telat masuk kekelas kita...ahh itu lebih baik.."ujar Kai santai.


"Bodoh...bukan karena Miss Grey..tapi lihatlah wanita disampingnya.."Brian menepuk dada Kai yang ada disampingnya.


"Kalian tahu siapa dia..?"Kai menggelengkan kepala. Dan sikembar...mereka hanya diam. Tentu saja mereka tahu...wanita itu adalah hidup mereka.


"Dia adalah wanita yang sangat hebat. Nyonya Keyra Ferdinand.."


Leo dan Owen saling memandang terheran. Darimana  dia tahu..?


"Loe kenal..?"tanya Kai semakin penasaran.


"Gue ga kenal. Cuma tahu aja. Siapa yang tidak mengenal Nyonya cantik itu. Selain karena nama besar suaminya. Dia juga seorang wanita yang ramah dan penuh kasih sayang. Panti asuhan, rumah sakit dan sekolah ini...asal kalian tahu wanita cantik itu pendirinya.."


Deg


Leo dan Owen kembali menegang. Kenapa mereka tidak tahu.


"Tapi yang paling aku kagumi adalah dia seorang programer sejati, hacker dan salah satu anggota cyber yang paling jenius. Banyak para mafia dari seluruh negara takut padanya. Selain karena dia jago bela diri tapi dia juga sangat ahli dalam program komputer dan persenjataan. Gue heran kenapa dia bisa datang kesekolah ini sendirian. Biasanya dia selalu didampingi suaminya.."Brian mengusap dagunya terheran heran.


Apa...Jago bela diri..??


Programer..??


Cyber..??


Kenapa mereka sama sekali tidak tahu.


"Memang kenapa..?"lagi lagi Kai begitu penasaran dengan cerita si Brian


"Kan gue udah bilang...banyak mafia takut padanya. Tapi bukan berarti dia bisa bebas keluar. Karena pasti akan banyak bahaya yang mengincarnya.."


Deg


Leo dan Owen semakin tak mengerti dengan perkataan Brian.


"Oh ya...tadi kan gue lihat wanita cantik itu datang dengan sikembar.."Kai menunjuk sikembar yang masih diam mematung.


Baru mereka akan menjawab namun Brian kembali menyela.


"Pasti loe loe pada murid Nyonya Keyra ya..?"Brian menunjuk pada Leo dan Owen.


Murid..


Hell No.


Leo dan Owen adalah putranya. Putra kesayangan keluarga Ferdinand.


Leo semakin tersadar. Saat pertama kali mereka sekolah dasar sampai sekarang mereka hanya memperkenalkan nama mereka tanpa embel embel Ferdinand. Dan dalam daftar kelas maupun raport pun hanya tertulis inisial F dibelakangnya.


Apa jangan jangan tak ada yang tahu kalau mereka adalah putra putra keluarga Ferdinand.


"Murid..?"Owen mengernyitkan dahinya.


"Ya. Kalian tidak tahu kalau Nyonya Keyra mendirikan sekolah khusus cyber. Haaahh...aku juga ingin sekali masuk kesekolah itu. Tapi Dad belum mengijinkan.."


"Apa yang terjadi jika Nyonya Keyra keluar sendirian..?"suara Leo membuat Brian menoleh padanya.


"Mmm...sebenarnya tidak akan ada yang terjadi. Semoga selalu begitu. Apa kalian tahu kenapa..?"Brian mengambil sesuatu didalam tasnya. Sebuah teropong kecil.


Dan tiba tiba Brian memberikan teropong itu pada Leo.


"Lihatlah diatas depan gedung sekolah kita.."perintah Brian dan Leo sontak terkejut saat melihat seseorang sedang mengawasi dengan senjatanya. Dia memakai baju hitam hitam.


"Dibalik pohon beringin.."Leo mengikuti arah yang ditunjuk Brian dan lagi lagi dia dibuat terkejut saat melihat orang yang sama.


"Selatan..."


"Barat.."


"Timur.."


Begitulah perintah Brian pada Leo.


Dan bergantian dengan Owen dan Kai.


Tubuh Leo bergetar. Tapi entahlah dia tidak tahu apa artinya ini.


"Siapa mereka.."tanya Leo dengan nada sedikit serak.


"Mereka orang orang yang diperintahkan suaminya yaitu Tuan Levin untuk menjaga sang istri. Dan itupun Tanpa Nyonya Keyra tahu.."


"Apaa...!"


"Seketat itukah.."seru Kai bernada keras.


"Ya. Tapi gue memakluminya. Kalau gue diposisi Tuan Levin pun gue akan melakukan apapun itu. Karena kejadian yang menyeramkan lainnya tidak ingin terjadi pada istri tercintanya.."


"Kejadian menyeramkan..!"Owen semakin tak terkendali.


"Gue ga tahu persis kehidupan keluarga Ferdinand. Tapi yang jelas keluarga itu pasti selalu saja ada kabar menyedihkan. Yang paling menyeramkan menurut gue.."jeda Brian.


"Saat dia melahirkan putranya..?"


"Apaaa...?"teriak Leo dan Owen bersamaan.


Brian mengernyitkan dahinya melihat sobat kembar disampingnya ini terlihat kompak mengejutkannya.


"Ya. Saat Nyonya Keyra akan melahirkan putranya...diperjalanan mobilnya dihadang oleh penjahat.."


Deg


Deg


"Karena tak memungkinkan lagi untuk dibawa kerumah sakit akhirnya dia melahirkan putranya didalam mobil dibantu oleh suami dan saudara saudaranya.."


"Apaa..!"teriak sikembar lagi.


"Sejak kejadian itu banyak media menyorot kehidupan keluarga Ferdinand. Nyonya Keyra sempat syok karena takut nama keluarga besar Ferdinand menjadi tercoreng.."


"Tapi dengan bijaknya Tuan Jon ayah mertua Nyonya Keyra mengadakan konferensi pers dan menjelaskan tentang kejadian itu dengan apa adanya. Dia sama sekali tidak malu kalau putri menantunya melahirkan penerusnya di sebuah mobil. Justru dia sangat bangga.."


"Lalu...bagaimana anaknya..?"pertanyaan Kai sontak membuat sikembar menegang.


"Gue ga tahu. Setelah kabar terakhir itu gue ga denger kabar selanjutnya. Yang jelas anak yang dilahirkannya selamat. Dan sejak itu berita tentang penerus keluarga Ferdinand hilang bagai ditelan bumi.."


"Tapi gue pikir...mereka menyembunyikannya.."


Tanpa sadar Owen meneteskan air matanya.


"Kira kira anaknya cewe cowo apa kembar....?"lagi lagi Kai membuat Leo dan Owen mendongakan kepala.


"Gue denger sii cowo. Kalau kembar...gue ga tahu.."


"Kenapa loe tahu banget kehidupan keluarga Ferdinand..?"tanya Leo tiba tiba.


"Loe lupa kalau bokap gue kepala detektif..."


"Berarti mereka sering banget dong bolak balik minta bantuan detektif.."ujar Kai


Haahaha...Brian tertawa.


"Terbalik.."ujar Brian saat tawanya berhenti.


"Maksud loe..?"mereka bertiga semakin penasaran.


"Terbalik. Bukan mereka yang minta bantuan. Justru para detektif yang membutuhkan bantuannya. Terutama bantuan Nyonya Keyra.."


"Apaa...!"teriak mereka lagi.


"Aisshhh...loe pada teriak mulu dari tadi..."


"Awass...gue mau minta tanda tangan.."Brian berlari keluar kelas tak lupa membawa secarik kertas dan pena.


Leo , Owen dan Kai sempat terkejut mencengo melihat reaksi cepat Brian yang berlari secepat kilat.


Dan akhirnya mereka bertiga pun berlari mengikuti Brian dibelakangnya.


Namun sayang...keempat remaja itu mematung seketika saat melihat sosok pria tampan nan gagah masih memakai setelan jasnya berjalan tegap menghampiri sosok wanita cantik ....yang sebenarnya tanpa dia sadari...wanita cantik itu belum tahu akan kedatangannya.


Tanpa aba aba pria itu melingkarkan lengannya diperut wanita cantik itu yang sontak  membuatnya terkejut.


"Sayang..."Levin melingkarkan lengannya diperut Keyra dan mengecup pelipisnya tak perduli guru wanita yang masih berada didepannya.


Ya...wanita cantik itu Keyra dan suami tampannya...Levin.


"Oh Tuhan...kau mengejutkanku. Bagaimana..?"ujar Keyra berbalik menatap sang suami.


"Maaf ...sepertinya anda terlalu banyak melewati waktu mengajar anda.."ucap Levin datar pada Miss Grey sembari melirik sosok putra kembarnya yang tak jauh darinya.


"Oh maaf...baik saya permisi. Mari Nyonya ..."pamit miss Grey dengan nada malu.


Levin segera menarik tubuh Keyra erat.


"Ayo kita pulang sayang..."pria itu mengecup kening istrinya sekilas lalu memeluknya sangat erat. Lalu dia menatap putra kembarnya secara bergantian dan tersenyum penuh arti. Kurasa sudah tiba waktunya.


Keyra hanya bisa diam. Dia tahu kesalahannya.


"Tapi Kak. Aku kesini menemani..."belum selesai ucapan Keyra ....Levin ******* bibir manisnya. Lama.


Dia benar benar tak perduli sekarang ada dimana.


Keyra mendorong dada Levin.


"Kak...please ini di sekolah.."


"Terserah. Ayo kita pulang...kau harus mendapat hukuman.."Levin menarik tangan Keyra.


"Memang apa salahku..?"tanya Keyra sambil menyamakan langkah suaminya yang sangat lebar.


"Banyak sayang...apa mau kusebutkan...?"Levin berbalik lalu menyeringai devil.


Saat tiba didepan mobilnya. Levin membukakan pintu untuk sang istri dan membantunya.


Setelah sang istri masuk. Levin mengeluarkan ponselnya.


"Kalian tetap awasi sikembar. Apapun yang terjadi jangan sampai terluka segores pun..!"ucapnya dingin dan datar pada seseorang saat panggilannya tersambung.


"Baik Tuan..."


Levin menutup sambungan telponnya lalu memutari mobil lalu masuk kedalam kursi penumpang.


"Pulang..."perintah Levin pada supir pribadinya.


"Baik Tuan.."


Saat Levin sudah duduk tegap disamping istrinya. Keyra membetulkan posisi duduknya menghadap suaminya.


"Kak...aku belum pamit dengan Leo dan Owen.."ujarnya dengan memanyunkan bibirnya. Namun sayang rajukan sang istri malah terdengar menggemaskan dimata Levin.


Sambil terkekeh geli Levin mengangkat tubuh Keyra duduk dipangkuannya.


Lalu dengan gemas mengecup hidung istrinya.



"Kenapa tidak pamit padaku kalau mau pergi kesekolahnya sikembar..?"


"Kakak kan tidak dirumah..."jawabnya singkat dengan melingkarkan kedua lengannya dileher Levin.


"Tidak biasanya sayang kau tidak pamit padaku. Biasanya selalu bilang. Itu sangat mengkhawatirkanku sayang..."Levin memeluk Keyra erat. Menghirup aroma tubuhnya dengan sangat puas.


Melepaskan rindu selama satu hari tak bertemu dengan cintanya.


"Maaf..."ujar Keyra diceruk leher Levin.


Masih saling memeluk tiba tiba Levin teringat sesuatu.


"Sayang....kurasa sudah saatnya sikembar tahu.."


Deg


Deg


Keyra spontan menguraikan pelukannya dan menatap suami penuh arti.


"Mereka sudah mulai tahu sayang. Aku bisa lihat dari mata mereka tadi. Jangan khawatir...serahkan saja padaku. Hmmm..."bujuk Levin


Meskipun dihati masih sangat ragu Keyra akhirnya menganggukan kepala.


Levin tersenyum dan memeluk kembali sang istri.


"I love you Kak..."


Levin semakin mengeratkan pelukannya.


"I love you too Honey. Love you so much..."