
Author pov
"Maaf Tuan Levin...sebaiknya anda keluar dulu. Kami akan melakukan operasi pada pasien. "ucap seorang suster pada Levin yang dari tadi terus disamping Keyra menggenggam erat tangannya.
"Tidak aku harus disini menemaninya..."ucap Levin dengan suara datar dan dingin.
"Tapi Tuan... "
"Kerjakan saja tugas kalian dan cepat selamatkan istriku.."teriak Levin dengan menatap tajam suster itu.
"Ada apa ini.. "seorang dokter dan Jon masuk kedalam ruang operasi karena mendengar teriakan Levin.
"Dokter...keluarkan suster ini. Dia cerewet sekali. Kalian lakukan saja tugas kalian aku tidak akan mengganggu. Aku hanya ingin bersama istriku.."ucap Levin ketus namun melembut saat menatap wajah pucat istrinya.
Jon mengerti perasaan putranya itu.
"Dokter...biarkan saja dia. "ucap Jon.
"Baiklah... Saya mengerti. "jawab dokter itu lalu menghampiri Levin.
"Tuan Levin...anda boleh menemani istri anda tapi harus memakai baju ini dulu..."ujar dokter itu dengan memberikan baju serba hijau khusus ruang operasi.
Levin menuruti perintah dokter itu dan Jon beranjak keluar dari ruang operasi.
Tak lama operasi pun berjalan dengan Levin berada disamping Keyra tanpa melepaskan sematan di jemarinya.
Bahkan sesekali dia mengecup lengan Keyra saat terlihat darah mengalir deras keluar dari tubuhnya.
"Pelurunya sangat dalam kemungkinan pasien membiarkannya terlalu lama. ."ucap salah satu dokter membuat hati Levin tercengkat.
"Kau benar.. "jawab dokter lain yang menanganinya.
"Dokter...tekanan darah pasien sangat lemah. Dia kejang dok...bagaimana ini.. "ujar salah satu suster.
Melihat kondisi Keyra dalam keadaan kritis. Jantung Levin berdetak cepat.
"Tenanglah sayang...aku disini. Ku mohon padamu ..."ucap Levin tiba tiba dan langsung mengecup tangannya yang dari tadi dia genggam.
Tubuh Keyra tanpa sadar merespon setiap sentuhan lembut suaminya.
"Dokter...tekanan darah pasien kembali normal.. "ucap suster itu.
"Bagus...pelurunya sudah terlihat. Sekarang... "perintah dokter pada suster nya.
"Baik...."
"Ini dia dapat. Setelah selesai operasi berikan peluru ini pada polisi. "
"Baik dok.. "
Operasi selesai dan berjalan dengan lancar.
"Tuan Levin...operasinya berhasil. Tekanan darah istri anda juga sudah kembali normal. Istri anda sangat kuat. Kami akan membawanya kekamar inap. Anda masih ingin menemani..? "
"Ya...aku akan menemaninya sampai kamar inap. Pastikan yang terbaik untuk istriku Dok.. "ucap Levin.
"Tentu Tuan...kami mengerti. "
Selama dua jam Levin menemani Keyra didalam ruang operasi sampai akhirnya dia keluar kamar operasi sambil mendorong kasur dimana Keyra berbaring lemah dengan tancapan infus di lengannya.
Seluruh keluarga yang dari tadi menunggu didepan ruang operasi terkejut saat pintu ruang operasi terbuka.
"Bagaimana keadaan putriku Dok.. "Momy Levin mendekati Dokter itu.
"Putri anda selamat...operasinya berhasil. Tinggal tunggu dia sadar. Baiklah kami permisi dulu.. "ucap Dokter.
"Teimakasih Dokter.. "
"Sama sama Nyonya..."
"Lev...."Jon memanggil putranya Levin yang tidak melepas sedetik pun dari Keyra.
"Aku akan mengantarnya ke kamar inap Dad. .."ucap Levin lirih.
Sudah sepuluh jam Keyra tak kunjung sadar selama itu pula Levin tak sedikit pun beranjak dari sisinya. Bahkan hanya untuk makan pun dia tidak bergeming.
Entahlah apa yang ada di pikirannya saat ini. Perasaan bersalah terus saja menyelimutinya bahkan kata kata saudara sepupunya terus saja terngiang di kepalanya saat beberapa jam lalu datang kekamar inap Keyra.
Flashback on
"Dimana Kakakku Mom...aku ingin menemuinya.. "teriak Sandy yang berlari dari lorong rumah sakit hingga kamar inap Keyra.
"Dad.. Dimana Kak Key. Bagaimana keadaannya.."tanya Rey pada orang tuanya.
"Dia sudah selesai operasi tapi belum sadar.. "jawabnya.
"Ahhh...shit.. "teriak Rey dengan mengacak rambutnya frustasi.
Max yang dari tadi memapah Kevin tiba tiba menubruk pintu kamar inap Keyra hingga terbuka.
Betapa terkejutnya mereka saat melihat kondisi orang yang telah bertaruh nyawa menyelamatkannya berbaring lemah tak berdaya dengan berbagai alat alat rumah sakit menancap di hidung dan mulutnya.
Tangan kanan yang terluka karena luka tembakan sudah dibalut rapi oleh perban.
"Kak Key..."isak Sandy dengan suara lirihnya menahan tangis.
Levin terkejut melihat semua saudaranya masuk secara tiba tiba. Bahkan semua keluarga masuk karena terharu dengan kasih sayang mereka kepada iparnya yang tidak lain Keyra.
"Kaaak...ini aku Kevin kak... Lihatlah aku baik baik saja. Aku sudah bisa berdiri. Kata dokter jika bisa ularnya tidak kau keluarkan terlebih dahulu aku mungkin tidak akan selamat Kak. "ucapan Kevin sontak mengejutkan semua keluarga begitu juga dengan Levin.
Kevin mendekati Keyra dan menyentuh lengannya.
"Bangunlah Kak...aku mohon. Kami menyayangimu. Jangan seperti ini.. "isak Kevin.
Saat ini Keyra dikelilingi oleh keempat saudara sepupunya yang duduk disamping kanan dan kiri Keyra.
"Kak...lihatlah Kak...kami selamat. Aku berhasil membawa Kevin kerumah sakit. Jadi aku mohon...bangunlah.."Rey ikut terisak.
"Kak...jika tidak kau berikan senjata itu padaku mungkin kami tidak akan bisa keluar dari rumah itu. Mereka menghadang kami Kak...tapi aku ingat dengan senjata yang kau berikan padaku. Sesuai dengan perintahmu aku tembak bagian bawah tubuh mereka. Tenang saja Kak...mereka tidak mati. Tapi aku berhasil melindungi saudara saudaraku karnamu Kak.. "isak Maxy.
"Kak...bukalah matamu. Lihatlah kami. Kami selamat Kak. Kau sudah melakukan yang terbaik untuk keluarga kami Kak. Ku mohon bangunlah .."isak Maxy lagi.
Entahlah karena kasih sayang mereka tubuh Keyra mulai mendapat respon jemari lentiknya bergerak sedikit tapi tanpa sadar bisa dilihat oleh Sandy.
"Kaak....tangan Kak Key bergerak. "teriak Sandy. Levin mendekat menghampiri istrinya dan merengkuh jemarinya.
"Sayang bangunlah....lihatlah banyak yang menantimu. Ku mohon... "ucap Levin lirih kemudian mengecup lembut jemari tangannya.
"Kak...lihatlah. Orang yang sangat kau rindukan sudah kembali padamu. "ucap Sandy penuh penekanan. Levin sontak menatap Sandy.
"Kau benar benar merindukannya kan.? Lihatlah bahkan sampai detik ini kau masih memakai bajunya kau bilang jika memakai baju suamimu kau merasa sedang dipeluk olehnya ya kan..? Tapi lihatlah...ini nyata..suamimu sudah kembali padamu. Bangun dan lihatlah di sampingmu. BANGUN KAK KEYY... AKU PERINTAHKAH KAU UNTUK BANGUN.. "teriak Sandy sudah tak tertahankan.
Keyra memang sampai detik ini masih memakai baju putih panjang milik Levin hanya saja sudah tidak seputih awalnya. Bagian lengan nya sudah digunting waktu operasi berjalan tadi.
Momy dan Dady Sandy menariknya untuk menenangkan emosinya.
"Sayang...ku mohon tenanglah. Dia pasti bangun. "ucap Shany menenangkan putrinya sambil memeluknya.
"Mom...aku berhutang padanya. Jika Kak Key tidak ada disana aku mungkin sudah kehilangan kehormatanku oleh mereka Mom... "teriak Sandy dengan tubuh gemetar mengungkapkan hal yang sebenarnya.
Ucapan Sandy sontak membuat para penghuni kamar inap membelalakkan mata dan menatap Sandy yang sedang dipeluk oleh Momynya. Tidak terkecuali Rey dan yang lainnya. Karena memang mereka tidak tahu akan hal itu.
"Apa...ap a itu be nar sayang.. "tanya Shany dengan gagap.
Sandy menganggukan kepalanya lemah.
"Mereka..? Apa maksudmu mereka.. "tanya Shany dengan isaknya.
"Mereka...penjahat itu. Mereka bertiga menjijikan. Me re ka...mengikat tubuhku dan hendak menelan ja ngiku. Tapi sebelum me re ka menyentuh tubuhku kakak Key datang memukul mereka. Dia menyelamatkanku Mom. Bahkan dia tidak memperdulikan rasa sakitnya. Hidung Kak Key terus mimisan Mom waktu menolong Kak Kevin. Aku takut sekali dia... "tangis Sandy semakin histeris dan menubrukan tubuhnya pada Shany.
Sungguh kejadian ini tidak akan pernah terlupakan untuk seluruh keluarga Ferdinand.
"Big uncle.."Sandy menatap Jon yang sedari tadi mengepalkan lengannya menahan amarah.
"Kau seorang yang hebat...aku mohon padamu. Beri hukuman yang berat pada mereka. Jika perlu bunuh mereka...."ucap Sandy dengan muka memerah.
Jon mendekati Sandy dan memeluknya.
"Tenanglah sayang...Big Uncle-mu ini tidak akan melupakan kejadian ini. Akan aku beri hukuman yang setimpal karena telah mengusik kelurga besarku. Aku berjanji padamu Nak.."ucap Jon dengan penuh penekanan.
Betapa bodohnya dirinya hanya karena pekerjaan sialan itu dia meninggalkannya. Kenapa tidak dibawa saja bersamanya bukankah dia sekretaris nya juga.
"Arghhh.... "Levin mengacak rambutnya frustasi.
Tak lama semua keluarga masuk kembali ke kamar inap Keyra yang sangat luas. Levin menempatkan istrinya dikamar kelas teratas sehingga semua keluarga bisa menemaninya.
"Eenngghh.... "suara rintihan seseorang membuat suasana sunyi seketika.
Keyra perlahan mengerjapkan matanya.
Kepalanya mulai berdenyut.
"Key sayang... Oh thank God. You wake up. Kau membuat kami khawatir. Apa yang kau rasakan...apa masih sakit. Dimana sakitnya..."tanya Levin bertubi tubi namun seketika terdiam saat menatap Keyra dengan pandangan kosong.
"Sayang... "
Keyra merasa dirinya sedang berada disebuah taman yang sangat indah. Dia sapu pandangannya namun tak menemukan siapapun disana. Dia mulai menangis terisak. Lalu tiba tiba pandangan matanya menemukan sosok yang di rindukan nya.
"Ayah... "ucap Keyra lirih. Dia bangun dari tidurnya dan memposisikan duduknya.
Keyra yang masih dalam dunia tidak sadarnya merentangkan kedua tangannya tanpa memperdulikan sakit di lengannya.
"Ayah....ayah.. "Keyra menatap Jon sebagai Ayahnya. Dalam pandangan matanya Jon dilihatnya sebagai Ayahnya .
Jon merasa iba melihat kondisi putrinya. Dia memandang seluruh keluarganya dan terakhir dokter yang barusan datang karena panggilan darurat dari ruangan Keyra.
Ada yang aneh dialami Keyra hingga dokter menganggukkan kepalanya pada Jon agar menuruti keinginan Keyra.
Jon mendekat dan duduk disisi kasur dan menghadap Keyra yang terus menangis menatapnya.
"Ayah..."isak Keyra dan langsung memeluk Jon.
"Maafkan Key Yah.... aku putrimu yang tidak berguna. "Jon terdiam mencoba mendengarkan apa yang sebenarnya yang ingin diceritakan oleh putrinya ini.
Keyra melepas pelukannya.
"Aku... Aku sudah menemukan mereka Yah. "ucapan Keyra membuat semua orang tercengang.
"Aku sudah menemukan pembunuh Ayah tapi apa daya ku. Aku tidak bisa melakukannya. Sedikit lagi....sedikit lagi aku akan membalasnya. Tapi... Tapi... "isak Keyra dengan memegang kepalanya erat.
"Tapi...sakit kepala sialan ini menggangguku..."Key tanpa sadar memukul kepalanya sendiri.
"Kepalaku sakit Yah...selalu sakit ini yang menghalangi ku. Bahkan sangat sakit...."Keyra mulai mempercepat pukulan kerasnya dikepalanya sendiri.
Jon tak tahu harus bertindak apa. Baru kali ini dia melihat betapa rapuh putri menantunya ini. Dia sangat kuat melindungi saudara saudaranya namun di balik nya dia sedang menahan rasa sakitnya sendiri.
Jon masih memegang kedua lengan Keyra yang masih ingin memaksa memukul kepalanya sendiri.
"Cukup hentikan sayang....ini akan melukaimu..."ucap Jon.
Levin pun ikut panik melihat kondisi istrinya. Dan langsung memeluk Keyra dari belakang.
"Tenanglah sayang... Ku mohon. "ucap Levin diceruk leher Keyra . Namun bukannya terdiam Keyra malah semakin meronta
Rontaan Keyra sangat kuat bahkan mimisan nya kembali mengalir di hidungnya
"Lev...Keyra mimisan.. "Jon mulai panik.
"Lepaskan aku...Aaaghh sakit...sakit sekali..."teriak Keyra mulai histeris.
Levin berbalik menghadap kedepan Keyra menggantikan posisi Jon.
"Sayang....tenanglah ku mohon. Ini aku...tatap aku.. "ucap Levin menahan rontaan Keyra. Namun Keyra masih terus bergerak hebat hingga kedua tangannya terlepas dari pegangan Levin dan mencengkeram kepalanya kuat sampai ditarik keras rambutnya sendiri.
Semua keluarga menutup mulutnya tak percaya melihat kondisi Keyra saat ini.
Levin merengkuh kembali Keyra dalam pelukannya. Kedua tangan yang sedang mencengkeram kepalanya di tariknya kebelakang tubuh Keyra .
"Sayang...lihat aku... Lihat mataku. "pinta Levin lembut namun Keyra masih merintih kesakitan dengan hidung yang masih berdarah.
Levin menggenggam kedua lengan Keyra dengan satu tangan kekarnya. Dan satu tangannya yang bebas mengusap air mata dan darah di hidungnya.
"Keyraa. .dengarkan aku...lihatlah mataku. Ini aku Levin...tenanglah sayang.. "ucap Levin lembut dengan menangkup pipi Key dengan satu tangan Levin.
Melihat Levin menenangkan Keyra sungguh membuat semua keluarganya terenyuh.
"Lebih baik Nona Keyra diberi suntikan agar lebih tenang..."ucap Dokter namun dihentikan oleh Levin.
"Tidak....dia tidak butuh itu. "
"Itu hanya akan semakin menyakitinya. "cegah Levin.
"Saaakiitt..."rintih Keyra lagi.
Levin mengecup kening Keyra lama.
Keyra sudah mulai sedikit lebih tenang.
"Sayang...buka matamu. Ini aku..suamimu. Levin-mu. "ucap Levin. Key mulai membuka matanya perlahan.
Seakan bangun dari tidur panjangnya Keyra menatap sendu wajah yang berada dekat di depannya. Dia tersenyum kecil saat ingatannya kembali. Tentu saja dia mengenalnya...orang yang selama dua hari ini sangat dinantinya.
Keyra mulai menangis terisak kembali.
"Sakit Kaak...ini sangat sakit...bahkan lebih sakit dari yang pernah aku rasakan.."ucap Keyra dalam tangisnya.
Tak tahan melihat derita istrinya,Levin mengecup lembut bibir Keyra. Menumpahkan rasa rindunya dan berharap kerinduannya bisa mengobati rasa sakit ditubuh Keyra.
Levin melumat bibir Keyra dengan lembut memberi kehangatan pada Keyra. Tanpa sadar Levin meneteskan air matanya dan membasahi pipi Keyra.
Tetesan air mata Levin membuat mata Keyra membuka perlahan. Dia membalas lumatan bibir Levin. Tanpa ada nafsu dari kecupan mereka yang ada hanyalah sepasang kekasih yang sedang melepas rindunya.
"Maafkan aku Kak..."lirih Keyra saat melepas pagutannya.
Levin menggelengkan kepalanya.
"Tidak jangan meminta maaf..…aku yang harusnya minta maaf. Hingga kau menjadi seperti ini. .."Levin menangkup kedua pipi Keyra dengan kedua tangannya.
Levin menarik kembali tubuh Keyra dalam dekapannya. Mengecup puncak kepalanya berkali kali. Keyra merasa sudah kembali pada dunianya. Dia hampir tidak percaya dengan kehangatan yang dirasakannya saat ini. Apakah ini tidak mimpi..?
Keyra meletakkan tangannya di dada Levin. Dia memejamkan matanya merasakan degub jantung suaminya.
"Ini benar kau Kak...ini tidak mimpi. Kau Levinku.. "ucap Keyra dengan mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya.
"Aku Levinmu sayang... Kau tidak bermimpi.."
Keyra mengecup pipi Levin.
"Jangan tinggalkan aku Kak. "
Levin menarik kembali tubuh Keyra dan memeluknya erat. Dia tidak bisa berkata apa apa lagi. Dia sungguh bahagia tidak terkira Keyra-nya telah kembali.
"Tidak sayang. Tidak akan pernah.. "ucap Levin disela sela pelukannya.
Pelukan dan usapan lembut Levin menenangkan Keyra hingga dia tertidur pulas. Levin membaringkan tubuh Keyra perlahan dan mengecup keningnya.
Sebelum beranjak Levin kembali menangkup wajah Keyra dengan kedua tangannya.
"Cukup sudah kau menderita sayang...saatnya giliranku. Aku berjanji padamu mereka akan membayar semuanya. "janji Levin kemudian mengecup seluruh wajahnya dari kening, mata, hidung, pipi dan bibirnya dengan penuh sayang.
Levin beranjak dari ranjangnya lalu membenarkan bajunya..
"Dokter tolong periksa istriku. Lima belas menit aku akan kembali dan mendengar hasilnya. "Levin berkata dingin.
Mendengar nada bicaranya semua keluarga tahu dia akan melakukan suatu bahaya besar.
"Dad...aku akan pergi sebentar ."
Jon tahu maksud dari putranya itu.
"Dady akan ikut.. "ucap Jon.
"Aku juga ikut.. "ucap Jerry menyusul.
"Aku juga...."Carl juga mengikuti mereka.