
"Kak Levviiinn..."
Teriakan Keyra membuat seluruh penghuni mematung seketika. Levin dalam hitungan detik langsung berlari menuju sumber suara yang memang tidak jauh dari ruang tamu.
"Sayaangg..."panggil Levin sambil berlari diikuti Fero dan adik adik sepupunya.
Saat dihadapannya...sungguh jantung Levin serasa berdetak lebih cepat dengan sendirinya. Keyra dalam posisi menunduk dengan kedua lutut ditekuk, satu tangannya memeluk perut besarnya dan satu tangannya lagi berpegangan disebuah tiang menahan berat badannya. Dia meringis kesakitan dengan penuh keringat dan muka mulai memucat.
"Key..."ucap Levin dengan mendekat dan merengkuh tubuh Keyra.
"Kak...sakit..."lirih Keyra dengan menatap wajah suaminya. Tangannya spontan menggenggam erat tangan Levin.
"Moommm...."Levin spontan memanggil Momynya dengan keras.
Tanpa menunggu lama Momy dan Bunda serta yang lainnya menghampiri mereka.
"Oh Tuhan...Key..."ucap Momy panik
"Sayang..."Bunda pun terlihat lebih panik dan khawatir.
"Lev...Key akan segera melahirkan. Ketubannya sudah pecah...cepat bawa ke rumah sakit...cepat..."perintah Momy.
"Ya...ya...Mom..."Levin segera menggendong Keyra.
"Kev...siapkan mobil.."
"Siap Kak..."
Levin dengan tergesa membawa Keyra keluar rumah.
"Levin...hati hati..."teriak Momy
"Sakit Kak...sakit sekali..."
"Bertahanlah sayang..."
"Kevin...cepat...!"
"Pakai mobilku...lebih nyaman dan cukup untuk beberapa orang..."Orion memberikan kunci pada Kevin.
Tanpa pikir panjang Kevin meraihnya.
Maxy membukakan pintu mobil untuk Levin dan Keyra. Diikuti Maxy dan Fero. Kevin sudah siap dengan kemudinya. Lalu tiba tiba Rey pun ikut masuk kedalam mobil samping kemudi.
"Cepat Kev...."perintah Fero keras.
"Arrgghh...."Keyra semakin keras menggenggam lengan atas Levin kuat.
"Sayang...bertahanlah...kita kerumah sakit.."
"Sabar ya Dek...kau adikku yang kuat. Bertahanlah..."Fero mengusap keringat dikening Keyra tanpa henti.
"Kak...apa sakit sekali..."tanya Max serak. Dia sangat tidak tahan melihat kondisi Keyra saat ini.
Keyra berbaring di dada Levin dengan terus menggenggam kuat bajunya. Rasa sakitnya benar benar melebihi tembakan senjata. Aneh sekali rasanya...sakit...mulas...dan ada rasa ingin mengejan. Ada sesuatu didalam perutnya yang memaksa ingin dikeluarkan. Dia benar benar tidak tahan...dia ingin mengejan...
"Kak...mereka...me mak sa ...arrgghh....ing in ke lu ar...arghh..."ucap Keyra tersengal sengal.
"Sayang...bertahanlah...sebentar lagi. Cepatlah Kev..."Levin benar benar tak pernah dalam situasi seperti ini. Dia sangat ketakutan. Dia berkali kali menciumi seluruh wajah Keyra.
"Dek...tarik nafas buang...tarik nafas buang..."perintah Fero.
"Kakak pernah mendengarnya di tv saat seseorang akan melahirkan. Cobalah..."
Keyra menuruti perintah Fero. Dia melakukannya berkali kali. Dan mulai terbukti bisa sedikit mengurangi rasa sakit. Hanya sedikit.
"Kev....tancap gasmu Kev..."
"Ini sudah tercepat Kak....apa kau tidak merasakannya haah.."teriak Kevin. Memang sejak mereka berangkatpun Kevin menancapkan gasnya. Bahkan kecepatannya sudah melebihi diatas rata rata. Tapi dia juga panik...khawatir juga akan keselamatan Kakak kesayangannya. Dia harus konsentrasi.
"Keviinn...!"tiba tiba Rey berteriak histeris. Dan spontan Kevin menghentikan mobil itu dengan rem darurat.
Ccchhhiittt....
Mobil pun berhenti mendadak. Keyra dengan cepat ditahan oleh Levin dan kedua saudaranya.
"Are you crazy Haahh..."teriak Levin geram.
"Kau ingin membunuh kami..."Fero tak kalah kesal.
"Kak...kau baik baik saja...?"tanya Maxy dengan mata berkaca.
Keyra menganggukan kepalanya pelan.
"Ada apa Kak...kenapa ber hen ti..."tanya Keyra lirih.
"Entahlah sayang...sebentar..."ucap Levin lembut.
"Kev...ada apa.."pertanyaan Levin segera dipotong Kevin.
"Kak...lihatlah. Siapa mereka...?"Kevin terkejut dengan terus menatap kedepan.
Levin, Fero dan Maxy mengikuti arah mata Kevin. Dan mereka diam terpaku saat melihat beberapa mobil menghadang mobil mereka. Dimana setiap mobil keluarlah satu persatu orang orang berpakaian serba hitam dan satu hal yang membuat mereka tercengang. Mereka masing masing membawa senjata.
"Apa lagi ini...?"
"Siapa mereka...?"
Pertanyaan Levin dan Fero membuat Keyra menatap Levin penasaran. "Ada apa Kak..."
"Ada orang yang menghadang mobil kita sayang.."
"Tapi kita tidak mengenal mereka..."timpal Fero.
"Bagaimana ini...?"ucap Maxy khawatir.
"Bagaimana Kakak Key Kak...kita harus segera ke rumah sakit.."
"Heeyy ORION...keluar kau.."
"Aku tahu kau didalam...cepat keluar atau aku yang akan memaksamu keluar.."teriak seseorang yang berdiri sendiri di barisan paling depan.
Mereka yang berada didalam mobil sontak langsung saling memandang.
"ORION...??"ucap mereka bersamaan.
"Katakan jika dugaanku salah.."ucap Rey
"Tidak. Kau tidak salah.."timpal Kevin disampingnya.
"Mereka mengira kita Orion hanya karena mobil yang kita tumpangi. Ahh shitt..."geram Fero.
"Heeii...your languange.."ucap Levin keras dengan menutup kedua telinga Keyra.
"Sorry..."
"Apa yang harus kita lakukan Kak...?"ucap Maxy
"Fer...kau keluar. Kev...hubungi Orion. Rey dan Max...hubungi pengawal pengawal kita..."perintah Levin
Mereka menganggukan kepala bersamaan.
Fero keluar dengan kedua tangan diatas. Dia tahu maksud dari perintah Levin. Negosiasi.
"Listen...kami bukan Orion. Dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan nama itu. Kami hanya akan mengantar saudara kami yang akan segera melahirkan. Jadi....bisakah kalian jangan menghalangi jalan kami...."ucap Fero dengan maksud bernegosiasi.
"Siapa Kau..?"ucap orang asing itu.
"Tidak penting siapa aku. Adikku akan segera melahirkan jadi bisa tolong kalian beri kami jalan.."lanjut Fero. Namun melihat gelagat orang asing itu dia yakin mereka tidak percaya begitu saja.
"Baiklah..."Fero sedikit lega mendengar jawabannya. Namun tak berlangsung lama.
"Tapi kami ingin lihat dulu..."lanjut orang asing itu dengan maju beberapa langkah.
Namun Fero berubah menjadi sangat kesal. Dan menghentikan langkahnya.
"Kalian maju satu langkah lagi. Maka kalian akan habis..."ujar Fero geram menahan emosi.
Levin dan yang lain didalam mobil sana mendengar pembicaraan Fero. Dan mereka pun berubah semakin emosi.
"Rey...Max...?"tanya Levin.
"Mereka akan datang dalam waktu 5 menit.."jawab Rey begitupun Max mengiyakan.
"Kev...?"tanya Levin pada Kevin.
"Orion dan para pengawalnya juga akan datang kesini. Mereka dalam perjalanan..."jawab Kevin.
"Rey..Kev....keluar..!"perintah Levin selanjutnya untuk menemani Fero.
"Baik Kak..."Rey dan Kevin langsung saja keluar.
"Aaaarrghhhh...."teriak Keyra lagi. Dia berteriak karena menahan keinginannya untuk mengejan.
"Aku... tidak... tahan Kak..."isak Keyra.
"Max...hubungi Dokter Kriss..."perintah Levin dengan menyerahkan ponsel miliknya pada Maxy.
Max segera mencari nama Kriss dan menghubunginya.
"Halo Tuan Levin...ada yang..."
"Dok...ini aku Maxy. Kakak Key akan segera melahirkan..."
"Apaa...!"
"Kalau begitu cepat bawa kesini..."
"Itulah masalahnya. Kami dihadang orang tak dikenal.."
"Arrrrgghhh....."teriakan Keyra menggema menahan sakit.
"Alihkan vcall.."ucap Dokter Kriss saat mendengar teriakan Keyra.
"Ok..."Maxy mematikan ponselnya dan beralih video call. Dan dalam sekejap terlihatlah wajah Dokter Kriss.
"Aku ingin lihat Nona Key..."Maxy menghadapkan ponselnya pada wajah Keyra yang sedang dipangku Levin.
"Dengar...mereka membawa senjata. Bantuan akan segera datang. Tapi katakan padaku apa yang harus aku lakukan...istriku kesakitan..."ucap Levin dengan bergetar.
"Tenang ...tenang Tuan. Jika aku lihat dari kondisi Nona Key ...dia akan segera melahirkan. Tapi aku belum bisa memastikannya jika belum melihatnya..."
"Apa maksudmu....melihat apa haah...!"Levin panik.
"Memastikan Nona Key sudah sampai pembukaan berapa..?"
"Pembukaan apa..?"
Dokter Kriss sempat bingung bagaimana menjelaskan padanya.
"Tuan....lihatlah bagian bawah Nona Key..."perintahnya.
"Maaf..."
"Apaa...!"teriak Levin.
"Tuan Levin..."
"Ayo Kak...cepat. Lakukan perintahnya. Biar Kakak Key dipangkuanku..."ucap Maxy.
"Ce pat Kak..."perintah Keyra dengan meringis.
"Tapi sayang...aku...."
"Tuan Levin...Tuan...jangan buang waktu...atau..."
"Ok...Ok..."Levin segera memposisikan dirinya dibawah kaki Keyra.
"Nona Key...tekuk kedua kakimu dan buka sedikit. Dan Tuan Levin...dengar instruksiku."
"Buka celananya perlahan...lalu lihatlah sudah mencapai pembukaan berapa..."
Dengan tubuh bergetar Levin membuka jas dan bajunya untuk menutupi tubuh Keyra. Melihat kegugupan Levin yang masih saja diam jiwa keibuan Keyra mulai kesal.
"Ayo cepat Kak..."
"Tuan...biar aku yang melihatnya..."ucap Kriss gemas melihat tingkah Levin yang ragu ragu.
"Tidak..."lihatlah dalam keadaan genting pun jiwa posesifnya masih tetap tertanam dijiwanya.
Levin membungkukkan badannya dan melihat bagian bawah Keyra yang sangat membuat hati Levin terenyuh. Betapa tidak...darah terus mengalir. Dan ...
"Dok...bagaimana aku tahu itu pembukaan berapa..?"
"10 cm..."
"Bagaimana jika sudah...terlihat...kulit ke pa lanya..."ucap Levin terbata.
"Kaaakk....aku ...aarrghhh...me re ka sa ling do rong...arggghh.."teriak Keyra
"Tuan ... kita harus segera melakukannya. Ini darurat. Aku dan Dokter Jane akan segera kesana membawa ambulance. Tapi itu tak cukup waktu untuk kami kesana..."
"Jadi.."tanya Levin
"Jadi....kau harus menggantikan posisi kami sementara.."
"Max...segera panggil saudara saudaramu yang lain. Nona Key butuh kalian..."terlihat Dokter Kriss melakukan video call dengan berjalan tergesa dan memanggil Dokter Jane dan beberapa perawat lainnya.
"*Jane...ikut aku. Dan kalian siapkan dua ambulance. Bawa perlengkapan kalian. Jane...pegang ponselku jangan matikan...itu video call..."
"Ada apa...siapa yang video call..."
"Keyra.."
"Keyra...jangan jangan..."
"Ya benar. Ada yang menghalangi mereka untuk datang kesini. Tapi Keyra sudah pembukaan. Kau yang tuntun Keyra dan suaminya. Kita harus lakukan proses melahirkan darurat.."
"Apaa.."
"Kita tidak punya banyak waktu. Lihatlah Keyra..."Jane dokter kandungan yang selama ini memeriksa kandungan Keyra sontak terkejut melihat kondisi pasiennya.
"Mereka di dalam mobil..."ucap Jane lirih namun masih bisa didengar oleh Kriss.
"Tidak perduli dimanapun tempatnya. Kita harus segera mengeluarkan bayinya jika tidak...mereka akan kehabisan nafas karena sudah kehabisan air ketuban. Dan Keyra akan pendarahan besar besaran..kau mengerti maksudku Jane..."ucap Kriss dengan mengemudikan mobilnya tanpa sadar mereka masih melakukan sambungan video call yang tentu saja bisa didengar oleh "mereka".
"Kriss..."suara Jane mengingatkan dan menunjukan wajah wajah* pucat Levin, Maxy dan saudara lainnya. Dan dalam hitungan detik Kriss menghentikan mobilnya mendadak saat sadar akan ucapannya.
Saat Max ingin memanggil Fero Kevin dan Rey...bertepatan dengan itu Orion dan para pengawalnya berdatangan dengan senjata lengkap ditangan mereka masing masing.
Setelahnya pengawal dari keluarga Ferdinand berdatangan membuat benteng dengan sendirinya menutupi mobil dan seluruh keluarga Ferdinand.
Kevin,Fero dan Rey bermaksud kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanannya kerumah sakit. Namun mereka diam terpaku saat mendengar percakapan Dokter Kriss dan Dokter Jane.
"I'm sorry..."ucap Kriss lirih.
"Apa maksudmu Haaahh..."suara Fero menggelegar penuh amarah menghadap layar ponsel.
"Kita akan segera kerumah sakit. Ayo Kev...cepat.."lanjut Fero tergesa.
"Fer...Fer...tenangkan dirimu.."ucap Levin.
"Aku tak bisa biarkan adikku kesakitan...aku tak..."
"Fer...apa kau tak dengar ucapan Dokter Kriss hhaahh..."
"Bayinya sudah kelihatan Fer...kita tak bisa menundanya.."teriak Levin untuk menenangkan Fero.
Fero diam seketika menatap wajah pucat Keyra. Tak sengaja mata Keyra bertemu dengan mata Fero...matanya penuh syarat. Dia butuh bantuan. Dia butuh dukungan. Tidak seharusnya sebagai Kakak berdebat didepan adiknya yang sedang berjuang.
Fero menangis. Dia menutup wajahnya. Tak terpikirkan olehnya bahwa adiknya akan melahirkan secepat ini disebuah mobil di tengah tengah peperangan orang lain. Apa ini tugasnya sebagai Kakak...
"Key...Key...are you there.."ucap Jane menghentikan mereka.
Keyra dengan muka penuh keringat menahan sakit dan menahan keinginannya untuk mengejan ...dia menatap wajah Dokter Jane diponselnya.
"Hi Dok...boleh kah aku mela ku kan nya se karang...aku tak ta han..."
"Sure...tapi tunggu aba aba dari suamimu. Ok.."
"Tuan Levin...kau harus menuntun istrimu. Jangan khawatir posisi kepala mereka sudah dibawah. Jika kepala bayi sudah keluar sepenuhnya beri aba aba padanya untuk berhenti mengejan. You understand.."ucap Jane tegas pada Levin.
Levin tanpa sadar menganggukan kepalanya pelan.
"Dok..."suara Keyra sedikit keras menandakan dirinya sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Ok...siapkan posisimu Tuan Levin.."Levin menganggukan kepala pelan.
"Baiklah...berjuanglah Key. Aku tahu kau bisa.."
"Satu ....dua...tiga...sekarang Key..."
"Aarrgghhh...."Keyra mengejan dengan penuh tenaga. Fero menggenggam lengan Keyra dengan kuat. Kevin dan Rey melihat dengan menangis dikursi kemudi.
"Lagi sayang...sedikit lagi..."aba aba Levin dengan suara bergetar.
"Ayo Kak...kau pasti bisa.."
"Aarrgghhh...."Keyra mengejannya dengan nafas panjang.
"Cukup sayang....cukup..."perintah Levin diikuti Keyra dengan nafas lega. Levin mengangkat bayi pertamanya yang penuh merah darah. Dia menangis.
"My boy..."isak Levin.
Oooeee.....oooeee....
"Tuan Levin...segera selimuti..."suara Jane dengan berbinar dan mata berkaca.
"Dan jangan lupa masih ada satu lagi bayi kalian...cepatlah.."
Levin seakan tersadar.
"Fer..."Levin memberikan bayi pertamanya pada Fero. Dengan gesit Fero membuka bajunya hingga telanjang dada dan dengan lembut menutupi tubuh polos bayi mungil itu.
Fero benar benar bergetar menerimanya. Air matanya tak henti mengalir.
"Tuan Fero....arahkan bayinya didadamu...seperti kangguru.."perintah Jane diangguki olehnya.
"Rey..."Fero memanggil Rey dengan menggeser posisinya pelan. Rey tahu maksudnya. Dengan cepat Rey keluar mobil dan masuk kebelakang penumpang menggantikan Fero.
"Arrghhh...Kak..."
"Ya sayang..."Levin kembali dengan posisinya membungkukan badannya dibawah Keyra. Dan dia mulai melihat kembali kulit bayinya.
"Dia sudah terlihat..."
"Aarrrgghhh.....saaa...kiitt Kaaaak..."
"Sedikit lagi sayang. Kau hebat..."
"Ayo Key...aku sebentar lagi sampai..."ucap Jane.
"Aarrrgghhh....aarrggghhh...."
Ooooeee....oooeee.....
"Stop sayang...dia sudah keluar.." Levin kembali menarik kepala bayinya perlahan. Dan diikuti dengan nafas lega dari Keyra. Bayi laki laki keduanya dia gendong dengan sangat lembut.
"Ini Kak..."Rey menyerahkan bajunya pada Levin dan Levin membungkus tubuh bayinya perlahan.
"My baby boy..."
"Tuan Levin ....jepit tali pusar di kedua ujungnya lalu potong ditengahnya..."
"Apaa. Max...cari sesuatu untuk menjepit."
Max dan Kevin langsung dengan gesit mencari sesuatu. Namun tak ada apapun.
"Sial...kenapa mobil ini tidak ada apapun .."ucap Kevin kesal.
"Kak...tak ada apapun...hanya tisu...pulpen...aaahhh...harusnya kita tidak pakai mobil ini. Harusnya..."isak Maxy. Dia menangis.
Levin menatap adiknya satu persatu. Wajah sembab dan mata merah terpancar pada diri mereka.
"Max...Max..."panggil Levin.
"Apa Kak...benar kan. Tidak seharusnya kita pakai mobil ini.."
"Max...tenanglah. Lihat Kakakmu..."ucap Levin agar Maxy tenang. Max melihat wajah pias Keyra. Dia kelelahan.
"Dokter Jane...tak ada apapun untuk menjepitnya..."ucap Levin.
"Kami datang..."suara Jane dan Kriss saat pintu mobil terbuka secara tiba tiba. Jane langsung mendekati Keyra. Mengecek nadinya. Lalu menjepit tali pusar dan memotongnya.
"Maaf kami terlambat...Kriss...periksa bayinya. Bawa mereka kedalam ambulan. Tuan Levin...biar Keyra aku yang urus selanjutnya. Anda bisa membawa bayi anda kedalam ambulan itu.."ucap Jane tanpa memandang Levin. Tangannya dengan lihai membersihkan sisa sisa proses tadi.
"Tidak...aku tetap disini.."
"Rey...bawa bayiku. Hati hati.."Levin memberikan bayi keduanya pada Rey setelah mengecupnya lembut.
Rey menggendongnya pelan.
Rey menangis terharu.
Semua pintu mobil sudah terbuka semua. Fero dengan masih menggendong keponakannya sudah dipindahkan kedalam ambulan.
"Bagaimana istriku..."tanya Levin pada Jane.
"Kondisinya lemah karena mengeluarkan banyak darah. Tapi jangan khawatir...istri anda baik baik saja. Kami sudah menyediakan transfusi darah yang cocok untuknya..."
Jane memasangkan transfusi darah dan selang infus pada Keyra. Dan Keyra...dia lemas namun masih tersadar.
"Anda hebat Keyra. Selamat...usahamu berhasil. Mereka lahir dengan selamat. Dan tak ada jahitan satupun dijalan lahirmu. Its amazing..."ucap Jane pada Keyra.
"Benar kah..."ucap Keyra lirih.
"Ya. Itu karena kalian saling bekerjasama."balas Jane.
"Tuan Levin...kita pindahkan istri anda kedalam ambulan.."
"Baiklah.."Levin menggendong Keyra perlahan.
"Terimakasih sayang..."ucapnya sambil mengecup bibir Keyra.
Keyra tersenyum.
Dia bahagia.
"Anak anak kita..."
"Jangan khawatir...mereka bersama Fero dan Rey..."Keyra menganggukan kepalanya.
Keyra dibaringkan perlahan dikasur yang sudah disediakan ambulance.
"Baiklah Key...kita berangkat. Dan satu kabar bagus untuk kalian. Putra putra kalian sangat tampan dan menggemaskan. Mereka sehat.."ucap Jane disamping Keyra lalu perlahan menutup pintu ambulance. Keyra dan Levin saling tersenyum bahagia. Levin terus mengecupi punggung tangan istrinya. Berkali kali juga dia mengecup seluruh wajahnya seraya mengucapkan terimakasih tanpa henti.
Jane dengan seorang perawat hanya bisa tersenyum melihat kemesraan dan kebahagian mereka.
Keyra bersama dengan Levin dan Jane satu ambulance.
Dan kedua putra mereka bersama Fero dan Rey juga Maxy dimobil ambulance lainnya. Kevin menggunakan mobil Orion mengikuti kedua ambulance dibelakangnya.
"Aku ingin menggendongnya..."ucap Maxy.
"Tidak...kau tidak bisa.."timpal Rey
"Sebenarnya kalian bisa membaringkan mereka dibox ini. Kami sudah menyediakannya dari awal.."ucap Dokter Kriss
"Tidak..."ucap Fero dan Rey bersamaan.
Maxy dan Kriss saling pandang.
Betapa lucu dan kompak ternyata keluarga Ferdinand.
Diwaktu yang bersamaan diluar mobil itu.
Terlihat sekelompok orang saling menodongkan senjata.
Orion bersama para pengawalnya..diikuti para pengawal dari keluarga Ferdinand.
"Dengar...kalian sudah dikepung. Menyerahlah atau kalian hancur..."teriak Orion geram.
Mereka saling pandang ketakutan melihat ke sekeliling mereka. Ya ....mereka sudah dikepung. Pengawal mereka kalah banyak dengan pengawal Orion dan Ferdinand. Dan tak lama suara sirine mobil polisi mendatangi mereka.
Para penjahat yang menghadang mereka berhamburan ingin meninggalkan tempat itu namun kalah cepat. Mereka semua diringkus oleh para polisi.
Namun sayang...Orion tahu...dari sekian banyak musuhnya yang datang. Pemimpinnya tidak ada. Dan itu berarti dia belum aman. Orion sadar...secara tidak langsung dia sudah melibatkan keluarga Ferdinand.
"Dengar... mulai sekarang...aku perintahkan kalian untuk menjaga Keyra dan keluarganya. Karena dia belum tertangkap.." perintah Orion pada salah satu tangan kanannya.
"Baik Tuan.."
"I love you honey.."
"I love you so much.."
End
*Ngga diiinkk....masih ada satu part lagi. ☺☺☺*
*Maaf ya...jika selama ini membuat kalian kecewa. Thank you for your support...love you all....😘😘😘😍😍😍*