My Two Men Protector

My Two Men Protector
40.



Masih Keyra Pov.


Aku tidak tahu siapa mereka tapi yang aku tahu mereka sangat berbahaya. Senjata yang mereka gunakan membuat tubuhku gemetar. Aku tidak mungkin bisa melawan mereka yang dengan senjata kosong. Aku harus merencanakan sesuatu.


"Heey kau...dimana saudaramu yang satu itu.. "seorang pria berbaju hitam dengan memakai masker penutup wajah menodongkan pistol pada Sandy. Tapi tentu saja dia tidak menjawab karena mulutnya ditutup dengan perekat hitam.


Oh Tuhan...kumohon lindungi Sandy dan saudaraku yang lain.


Aku lihat mereka berbisik sesuatu saat Sandy terus meronta. Dan aku bisa liat dari kejauhan niat buruk mereka pada Sandy.


Sudah aku duga..mereka akan melakukannya pada Sandy. Sandy diangkat tubuhnya oleh salah seorang dari mereka dan tunggu...mereka akan menuju kamar Sandy. Aku harus lebih dulu masuk kesana.


Dengan berjinjit pelan aku berlari cepat menuju kamar Sandy sebelum ketahuan mereka. Tentu saja langkahku tidak bersuara karena aku tidak memakai alas kaki apapun.


Aku segera bersembunyi di kamar mandi milik Sandy dan menunggu waktu yang tepat untuk menghajar mereka. Dan tak salah lagi dugaanku.  Aku mendengar beberapa orang laki laki masuk ke kamar Sandy lalu terdengar juga kamar ini telah dikunci oleh mereka.


Suara rontaan Sandy membuatku tidak sabar ingin keluar dari persembunyian. Saat aku keluar betapa terkejutnya aku saat melihat Sandy dikelilingi oleh tiga orang laki laki yang ingin melakukan asusila padanya. Sungguh menjijikan.


Entah datang darimana kekuatan itu datang aku langsung memukul leher salah satu dari mereka hanya dengan satu tanganku. Kemudian satu orang dari kanan kiri Sandy aku hajar dengan bogeman tangan dan tendangan kakiku.


Mereka sempat ingin melawan namun aku segera mengeluarkan keahlianku. Menotok aliran darah mereka . Dan seketika mereka langsung tergeletak lemas walaupun masih sadar dan bisa melihat.


Saat sudah merasa aman aku mendekat pada Sandy dan melepaskan perekat di mulutnya. Seketika itu juga dia langsung menubruk tubuhku dan memelukku erat.


"Kaaakkk....aku takut.. "isak Sandy padaku dan aku bisa merasakan gemetar ditubuhnya karena takut.


Segera aku balas pelukannya dan mengelus punggungnya mencoba menenangkannya.


"Hsstt...tenanglah. Aku ada disini. Sudah jangan menangis. Kakak pernah bilang kan kalau aku akan selalu di samping mu.  Jadi tenanglah.. "aku uraikan pelukannya namun dia kembali memelukku lagi.


"Aku tidak tahu apa jadinya jika tidak ada Kak Key disini.. Aku.. "suara Sandy bergetar hebat.


"Hssst....dengarkan aku. "aku kembali menguraikan pelukannya.


"Sekarang aku sangat butuh bantuanmu. Jadi kau mau membantu Kakak.. "ucapku pada Sandy.


"Hmmm.. "Sandi menganggukkan kepala tanda setuju.


Kemudian aku beranjak turun dari atas kasur Sandy dan mulai melucuti perlengkapan yang penjahat itu bawa dan aku pakaikan ke tubuhku.


"San...pegang ponselku dan hubungi Kak Levin atau Dady atau siapapun keluarga kita. Aku sudah menghubungi mereka tapi belum ada balasan satupun. Mungkin sedang sibuk. Jadi tunggulah mereka mengubungimu.. "ucapku sambil memasukan pistol di pinggang kanan kiri ku.


"Sambungan telpon mati. Lebih baik kirim pesan saja.  Aku takut mereka menyadap jaringan telpon yang masuk atau keluar. "jelasku lagi sambil memasukan pisau ke saku celana belakang kanan kiri ku.


Aku lihat Sandy menatapku tanpa berkedip.


"Sebenarnya siapa kau Kak.. "pertanyaan aneh tiba tiba keluar dari mulut Sandy.


"Apa maksudmu...? "tanyaku penasaran dengan sedikit senyum.


"Kau mau melawan mereka sendiri..?Bagaimana bisa.? Apa kau tidak takut.? "tanyanya bertubi tubi


"Pertanyaanmu banyak sekali.. "ucapku sambil tersenyum.


"Tentu saja aku tidak bisa melawan mereka sendiri maka dari itu aku butuh bantuan mu untuk minta pertolongan. Sementara itu aku akan membebaskan beberapa pengawal yang disandera agar bisa membantuku melepaskan Rey Maxy dan Kevin. "jawabku untuk pertanyaan pertama.


"Aku sering latihan taekwondo jadi tenanglah aku bisa jaga diriku. Tapi jika aku dikepung kau harus membantuku.. "ucapku sambil terkekeh untuk pertanyaan kedua.


"Tentu saja aku takut. Kau tahu...aku seorang perempuan bahkan takut ku melebihi dirimu tapi aku tidak ingin keluargaku terluka sedikitpun meskipun nyawa taruhannya. "jawabku untuk pertanyaan terakhirnya.


Seketika Sandy memelukku dan menangis dileherku.


"Ku mohon jangan berkata seperti itu. Aku akan menghubungi mereka. Aku akan marahi habis habisan jika mereka tidak datang tepat waktu. Berjanjilah padaku kau akan baik baik saja Kak...aku sayang padamu Kak Key.. "ucapannya membuat aku kuat namun sekaligus membuatku takut.


"Aku juga sayang padamu San.. "


"Dengarkan aku San...tetaplah selalu di belakangku dan turuti perintahku. Kau mengerti!"ucapku penuh penekanan.


"Ehmm...aku mengerti "kata Sandy


Akhirnya kami keluar perlahan dengan berjongkok dengan posisi aku didepan dan Sandy di belakangku.


Yang aku heran kenapa tidak ada Rey Maxy dan Kevin.


"San...dimana Rey dan yang lainnya?"suara ku lirih. 


"Aku tidak tahu Kak...tadi masih ditempat itu. "ucap Sandy ikut terheran.


"Apa sebenarnya rencana mereka."pikirku dalam hati.


"San..tetaplah disini. Aku harus bebaskan mereka. Kita tidak boleh ulur waktu aku takut terjadi sesuatu pada Rey dan yang lainnya. "perintahku pada Sandy agar tetap bersembunyi dibalik pilar yang cukup besar dilantai atas.


Ada tujuh orang pengawal rumah ini yang disandera dengan diikat jadi satu disebuah pilar dengan mulut ditutup oleh perekat hitam.


Dan sadisnya mereka dikelilingi oleh para penjahat yang masing masing menodongkan pistol pada mereka. Jadi tentu saja mereka tidak bsa berkutik sedikitpun.


Ada rencana nekad yang aku pikirkan dalam benakku. Ahhh...aku tidak perduli. Yang aku pikirkan sekarang adalah aku butuh bantuan mereka jadi aku harus menolong mereka terlebih dahulu.


Dengan cepat aku turun tangga dengan berseluncur dipinggiran pegangan tangga dan tak lupa senjata pistol di tanganku. Saat sudah sampai dilantai bawah mereka langsung menoleh ke arah ku dan aku langsung berguling sambil menembak dua orang dari mereka. 


Melihat kawan mereka terkapar mereka langsung mengejarku dan menghujaniku dengan peluru peluru namun secepat kilat aku menghindar. Aku berlari dan bersembunyi dibelakang apapun yang bisa menutupi tubuhku dari peluru itu.


Sedetik saja mereka berhenti aku langsung melumpuhkan tiga orang sekaligus. Wooww..senjata ini keren sekali.  Tinggal satu orang lagi.


"Keluar kau...siapa kau. Berani sekali melawan kami...keluar atau aku keluarkan isi otak kepala orang ini..."teriak penjahat itu yang tinggal satu satunya.


Shit. Ok aku harus keluar.


Aku keluar dari persembunyianku perlahan dengan kedua tanganku yang sedang memegang kedua pistol aku angkat keatas.


"Shiit...kau seorang perempuan. "dia tampak geram sekali.


"Lemparkan senjatamu atau kutembak orang ini.. "teriaknya lagi.


Satu... Dua...perlahan aku turunkan kedua tanganku dengan terus menatap orang itu tajam. Aku bidik sasaran ku dan lalu aku kunci dengan mata tajam ku. Tiga...


Door...


Sebelum pistolku jatuh ke lantai dengan secepat kilat aku tujukan sasaran ku ke daerah pahanya. Namun..


Door..


Aku mendengar suara ledakan pistol itu. Dan tak terasa...lengan atas kananku terkena pelurunya.


Shit. Ahh..perih sekali.


Lalu aku berlari ke arah nya dan menendang jauh senjatanya. Dan kutodongkam kembali di kepalanya.


"Diam... Atau aku yang mengeluarkan isi kepalamu. "ucapku sinis pada penjahat itu.


"Sandy...cepat lepaskan ikatan mereka"teriakku pada Sandy dan aku langsung mendengar langkahnya turun.


"Aku tak peduli siapa kau...tapi aku tak segan segan membunuhmu jika tidak kau katakan dimana saudara saudaraku.. "aku ancam dia. Ceklek.. suara pistol yang sudah siap menembaknya.


"Me re ka ada di ruang be lakang . Mungkin me re ka sudah ma ti ber sama ular ber bisa..."ucapnya terbata.


Mendengar itu aku langsung berlari ke ruang belakang... aku cari diantara  gudang dan ruang olahraga.


"Kaak... "


"Non Keyra.. tunggu kami"


Aku mendengar Sandy dan para pengawal berteriak memanggil namaku. Tapi aku terus berlari mencari mereka. Darah terus mengalir di lengan ku namun entah kenapa aku tidak merasakan sakit bahkan aku masih mencengkeram kuat pistol yang dari tadi berada dalam genggaman ku.


Saat di ruang olahraga aku tak menemukan mereka aku langsung pindah berlari menuju gudang yang tak jauh dari tempat sebelumnya.


Saat aku buka tempat itu.


Oh Tuhan...ini tidak bisa dibiarkan.


Aku langsung menembak satu persatu ular yang akan mendekat kearah Rey Maxy dan Kevin. Namun satu ular yang sangat cepat berlari kearah Kevin yang sama sekali tidak bisa bergerak karena tubuh mereka diikat dan mulut ditutup perekat. Dan sempat menggigit kaki kanannya.


Shiitt. Umpatku lagi. Entahlah sudah berapa kali aku mengumpat.


Aku berlari mendekat dan menendang jauh ular itu dan Door... door.. Aku bunuh ular itu.


Sandy dan para pengawal muncul di belakang ku.


"Cepat lepaskan ikatan mereka. "perintahku pada mereka dan aku langsung menghampiri Kevin.


Aku lepas ikatan dan perekat yang melilit di tubuh Kevin. Kemudian tanpa aba aba aku langsung menarik kakinya dan melihat bekas gigitan ular itu.


"Kak Key... "rintih Kevin. Aku tahu dia pasti sangat takut dan tegang.


"Tenang Kev... Kau harus tenang jangan panik jika tidak itu akan mempercepat bisa ular di tubuh mu. "ucapku tanpa menatap wajah Kevin tapi aku langsung melakukan pertolongan pertama.


Aku tahu ular tadi berbisa terlihat dari dua titik bekas gigitan ular itu di kaki nya.


"Kak ...ayo cepat bawa Kak Kevin ke rumah sakit. "teriak Sandy padaku. Namun aku berusaha tak memperdulikan nya.  Yang aku lakukan malah mengeluarkan pisau dibalik celanaku dan membersihkannya dengan bajuku.


"Kalian jaga didepan...Rey ambil tali apapun,  Max ambil kain panjang. Cepat.. "teriakku.


Tanpa mendengar jawaban dari mereka aku langsung menggores kaki Kevin dengan pisau yang berada tak jauh dari dua titik gigitan ular itu.  Seketika itu juga darah biru bercampur hitam keluar dengan sendirinya.


"San.. sumbat mulut Kevin dengan apapun. Cepat.. "aku teriak kembali sambil menekan luka kaki Kevin agar darah birunya cepat keluar.


Aku melihat kekhawatiran dari ketiga bersaudara ini saat melihat Kevin terluka. Dengan sigap dan cepat mereka melakukan semua yang aku perintahkan. Dan Sandy dia memasukan sebuah handuk kecil ke mulut Kevin dengan menangis.


Oh tidak... Jangan sekarang.


"Tidak apa apa..ini hanya mimisan. "ucapku enteng agar tidak membuat mereka khawatir.


Aku berpaling melihat kaki Kevin dan darah merah yang bergantian keluar.


"Rey.. tali. "aku lingkarkan sebuah tali di kaki Kevin diatas luka gigitan ular dan diatas luka baru yang tadi aku lukai.


"Max...kainnya. "kemudian aku tutupi luka baru itu dengan kain panjang dan aku lilitkan. 


Setelah semuanya rapi. Aku kembali menatap wajah Kevin dan menyentuh pipinya.


"Kau akan baik baik saja. Tenanglah....."ucapku pada Kevin. Entah kenapa Kevin tiba tiba meneteskan air mata dan memelukku.


"It's ok...kau pasti sembuh. "ucapku menenangkannya.


"Rey.. Max...cepat kita harus bawa Kevin ke rumah sakit. "perintahku


"Tapi bagaimana dengan mereka. Mereka pasti sudah mendengar pertarungan tadi jadi pasti dia akan mengejar kita. "ucap Sandy.


"Aku dan para pengawal akan berjaga disini sampai kalian keluar dari rumah ini. "ucapku.


"Tidaaakk.. "ucap mereka serempak.


"Kita akan keluar bersama Kak... "teriak Kevin .


"Ya itu benar...jika Kakak tidak ikut bersama kami...kami juga akan tetap disini. "ucap tegas Rey dan diangguki Max.


"Apa Kakak tidak lihat kondisimu. Bagaimana kau akan menjaga kami jika kau terluka seperti ini.."isak Sandy


Oh Tuhan...bagaimana ini. Kenapa belum ada bantuan datang. Terus terang kepalaku sudah terasa sakit dari tadi. Aku terdiam sejenak sambil menengadahkan kepalaku keatas menghambat mimisanku.


"Non Keyra...kami yang akan melindungi kalian. Kalian sebaiknya pergi ke ruang garasi. Salah satu dari kami akan mendampingi kalian. "ucap salah satu pengawal kami.


"Baiklah... Ayo.. "aku membantu Kevin berdiri namun baru akan melangkah satu langkah badanku terasa lemas sekali dan sempat terhuyung kesamping. Untung saja Sandy dan Kevin memegang kedua tanganku.


"Kaaakk..."teriak mereka.


"Aku baik baik saja.. Ayo cepat kita pergi..."akhirnya kami keluar dari ruangan itu menuju garasi rumah. Kami dijaga oleh satu pengawal.


Rey dan Max memapah Kevin. Sandy menuntunku. Aku bisa melihat wajah gadis ini begitu mengkhawatirkan ku. Setiap kali dia mengusap darah yang keluar dari hidungku tanpa rasa jijik sekalipun.


Aku menatapnya.


"I'm ok San... "ucapku lirih karena terus terang pandanganku sudah mulai buram mungkin karena terlalu banyak keluar darah.


"No... You're not ok. Aku tahu itu kau sangat pucat Kak.. "isaknya membuatku sedih.


Mendengar isakan Sandy... Rey Max dan Kevin menoleh kebelakang. Dan langsung menghampiri aku dan Sandy.


Tubuhku tiba tiba jatuh terduduk.


"Kaaakk Keyyy.... "teriak mereka dan langsung berlari mendekatiku.


"Aku tidak apa apa...cepat siapkan mobilnya Rey. "ucapku lirih. Aku masih bisa melihat Rey berlari ke arah mobil.


"Non Keyra...mereka sudah mendekat..."kata pengawal yang sedang berjaga melindungi kami.


Aku langsung berdiri dengan sisa tenagaku.


"Ayo cepat kita masuk mobil.."


Max membantu Kevin masuk mobil. Dan aku mendorong Sandy ke dalam mobil. Setelah itu aku menutup paksa pintu mobil itu tanpa aku.


"Kaak Key...kenapa kau.. "teriak Sandy dengan menangis sejadi jadinya.


"Dengar sayang...kau harus selamat. Kalian harus selamat. Rey cepat bawa Kevin ke rumah sakit terdekat aku takut bisanya menjalar. "ucapku pada mereka.


"Tapi kami tidak bisa pergi tanpamu Kak.. "ucap Rey yang entah sejak kapan jadi anak yang cengeng.


Aku semakin lemah melihat kekhawatiran mereka. Karena terus terang aku sendiri sangat takut.


"Dengar...kalian harus selamat. Max mau membantuku...? "ucapku dan diangguki oleh Max dengan mata berkaca.


"Max pegang ini...kau bisa menggunakannya. ?"aku memberikan sebuah senjata padanya.


"Didepan sana masih ada penjahat...mereka pasti akan menahan siapapun yang keluar dari tempat ini. Jadi aku dan pengawal akan mencegah mereka. Dan Max jika terancam arahkan pistol ini kebagian bawah saja. Ok.. "terang ku pada Max.


"Non Key...sebaiknya saatnya pergi. "teriak pengawal itu.


"Baiklah. "


"Sekarang Rey... tancap gas nya. "teriakku pada Rey.


"Aaaghhhh.... Shiit. Aku akan kembali menolong mu Kak. "teriak Rey dengan kesal.


Aku bisa melihat mereka terus menatapku tapi aku balas dengan senyuman kecil dan ucapan penenang hati.  "I'm ok.. "


Dan benar saja saat pintu garasi terbuka secara otomatis sudah ada tiga orang penjahat didepan mencoba menghadang kami. Rey menancap gas mobilnya cepat dan aku melindunginya dari samping mobil dengan senjata ditanganku.


Aku tembak ke arah tangan mereka hingga pistol mereka masing masing terjatuh


"Cepat pergi... "teriakku pada Rey.


Dan tak lama beberapa pengawal menyusul ku dari belakang dan langsung mengelilingiku hingga aku sudah berada ditengah tengah mereka.


"Non Key...anda baik baik saja..? "tanya salah satu dari mereka.


"Maaf kami terlambat.. "ucap mereka lagi.


"Tidak masalah.. Apakah belum ada bantuan datang. Aku sudah tidak kuat lagi...?"tanyaku lirih dengan terus memegang kepalaku yang dari tadi aku tahan rasa sakitnya.


"Sebentar lagi bantuan polisi akan datang.. Tuan Jon dan Tuan Levin juga sebentar lagi akan datang.."ucap salah satu dari mereka.


Dan seketika saat mendengar namanya tubuhku langsung berdesir hebat. Aku menjadi sangat tenang. "Cepatlah Kak...tolong kami.."ucapku dalam hati


Prook.. Prook...


"Jadi ini gadis penghancur rencana besarku.. "suara berat seseorang datang menghampiri kami dengan lima orang pengawal di belakang nya.  Dan aku yakin dia adalah pemimpinnya.


"Woooww....kau cantik sekali ternyata..."lanjutnya lagi.


Mendengar ucapannya para pengawal langsung merapat dan menutupi tubuhku.


"Tak kan kami biarkan kalian menyentuh Nona kami.."ujar salah satu pengawal dengan geram.


"Woo...tantangan aku suka itu. "


"Cepat hajar mereka dan tangkap gadis itu..."teriaknya.


Dalam sekejap mereka sudah baku hantam. Aku akui pengawal yang dipilih oleh Dady sangat ahli dan berpengalaman. Hanya dengan beberapa pukulan dan tendangan mereka sudah terkapar. Sang pemimpin pun kewalahan dan hendak melarikan diri. Namun segera dicekal oleh pengawalku dan langsung di hajarnya habis habisan.


Hhhh...aku sudah tidak memperdulikan lagi mereka yang sedang baku hantam. Saat ini tubuhku sangat lemas seperti tidak ada energi sedikitpun yang tersisa. Kepalaku sakit seperti ada yang menghantam keras di dalamnya.


Oh Tuhan...aku sakit..sakit sekali.


Dadaku sesak...dan...tubuhku seperti kapas yang sedang ditiup angin.


"Nona Keyra...."aku masih mendengar suara mereka memanggil namaku.


"Non..."


"Non.. "seseorang sedang menepuk nepuk pipiku agar aku tersadar.


"Tuan Levin... "suara seseorang memanggil namanya.


Apa aku tidak salah dengar.


"Sayang...sayangku...."suaranya aku mengenal suaranya. Dia...


Sentuhannya memberi aku kekuatan aneh. Dia memelukku erat hingga aku bisa mencium aroma tubuhnya. Dia suamiku... Levinku.


Aku membuka mataku perlahan dan aku bisa melihat mata abu abunya berkaca kaca. Tanganku bergerak sendiri meraba wajahnya. Aku usap seluruh wajahnya dari kening, pelipisnya, mata, hidungnya dan bibirnya.


"Ini nyata...kau suamiku. "ucapku lirih dan aku tersenyum bahagia.


"Aku rindu Kak... "kata kata itu akhirnya aku keluarkan dengan sisa tenagaku dan tanpa sadar aku meneteskan air mata.


"Ya..ini aku sayang. Levin suamimu. Milikmu..aku juga sangat rindu sayang..."isaknya. Kak Levinku menangis.


"Maafkan aku sayang....maaf.."Kak Levin menghujaniku dengan ciuman lembut diseluruh wajahku.


"Aku baik baik saja Kak..."ucapku kemudian aku mengangkat wajahku dan mengecup kedua matanya yang berkaca kaca.


Kak Levin memelukku erat dan sangat erat.


Dan tak lama aku merasakan tubuhku diangkat dalam pangkuannya. Tanpa sadar juga aku menjatuhkan kepalaku di dadanya.


Beberapa detik kemudian pandangan yang sangat gelap menyelimutiku. Aku sudah tidak merasakan apa apa lagi tapi aku masih bisa mendengar suara Kak Levin.


"Ku mohon sayang bertahan lah... Jangan tinggalkan aku cintaku. Kau sudah berjanji padaku... Tepati janjimu sayang.."isaknya sangat memilukan hati.


Key Pov End