
“Ok, sekarang aku, aku adalah Grizelle.” Grizelle mengulurkan tangannya untuk salam kenal sambil tersenyum.
“Hmm, iya. Salam kenal juga, Grizelle.”
“Bagaimana keadaanmu sekarang?”
“Cukup baik.”
“Bagaimana dengan rasa hausmu?”
“Masih sedikit terasa. Tapi tidak apa-apa. Aku masih bisa menahannya.”
Grizelle bangun berdiri dan berkata, “Ikut aku!” Jade mengikutinya dari belakang. “HEI! Mau kemana?!”
“Sudah ikut saja.”
Tiba suatu tempat, Grizelle menyuruh Jade untuk bersembunyi di balik semak-semak sebentar. “Apakah kamu melihat kelinci itu, Jade?”
“Hmm iya. Terus aku harus apa?”
“Coba kamu tangkap kelinci itu. Aku akan tunggu disini.”
“Ok.” Hanya 10 detik kelinci itu sudah tertangkap oleh Jade. Grizelle mendekati Jade dan mengambil alih kelinci itu dari genggaman Jade.
“Terus kelinci itu mau diapain, Griz?”
“Mari kita buat makanan untukmu dan untukku.” Setelah mendengar itu, Jade merebut kelinci itu dari Grizelle. “Apa maksudmu?! Ini tidak boleh di-dimakan.”
Lalu, Grizelle menyodorkan lehernya yang sudah tidak tertutup oleh rambutnya. “Terus kamu mau meminum darahku gitu?!”
Jade melihat leher Grizelle membuatnya menelan salivanya dengan kasar. Seusai itu, Jade membuang wajahnya ke tempat lain. “Aish, ya sudahlah ini kelincinya.” Jade menyerah serta memberikan kelinci itu kepada
Grizelle.
“Nah gitu dong.”
Mereka balik ke rumah milik Grizelle. Grizelle mengambil darah kelinci untuk Jade sedangkan dagingnya untuk diolah masakan lain untuknya. Akhirnya, mereka jadi makan makanannya masing-masing.
Di makan sederhana itu ada sedikit perbincangan, “Jade, lalu kenapa matamu sedikit berbeda?”
“Karena aku masih setengah manusia dan setengah vampire.”
“Oh.”
“Lalu, kamu sendiri kenapa tinggal disini?”
Grizelle menjadi tersedak mendengar pertanyaan Jade. Grizelle meminum air putih didekatnya baru menjawab pertanyaan itu, “Aku? Aku sedang mencari ayahku. Ayahku sudah diculik oleh kaum serigala. Tapi, aku juga dalam daftar orang yang dicari oleh Raja Serigala. Jadi, aku menunggu waktu yang
tepat. Pada akhirnya, disinilah aku.”
“Terus kenapa kamu dalam daftar orang yang dicari?”
“Maksud kamu vampire?”
“Yap. Sudahlah aku mau makan makananku yang enak ini.”
Jade pun berhenti bertanya dan lanjut menyeruput darah lagi.
Di Istana, Alardo sedang meminum darah langsung dari leher manusia sambil duduk di kursi takhta kerajaan vampire. Satu pelayan menghampirinya serta berlutut di hadapan Alardo.
“Tuan.. Kami gagal menemukan Jade.” Alardo yang mendengar hal ini menyingkirkan manusia itu seraya mengubah wajahnya menjadi marah. Alardo berjalan cepat ala vampire menuju ke pelayan itu dan mencekiknya.
“APA?! KAMU GAGAL?! BISA-BISANYA KAMU GAGAL!”
“Ma-maaf-kan saya, tuan.”
“Maaf? Hahahaha. Aku akan memberimu kesempatan sekali lagi. Jika kamu gagal, aku akan membunuhmu.”
“I-iya, tuan.” Alardo melepaskan cekikannya dan pergi dari ruangan itu ke kamar mandi. Alardo merendamkan dirinya di air bewarna merah sambil memandangi bulan yang bercahaya terang di jendela yang terbuka. Air berwarna merah itu adalah darah. Alardo memandangi pergelangannya. Pergelangannya sudah tidak dihiasi dengan gelang yang diberikan oleh Frederra (Neneknya). Gelang itu
sudah hancur menjadi berkeping karena dia kehilangan kontrol akan sihirnya setelah mengingat kedua orang tuanya yang meninggal pada empat hari yang lalu. Dia mulai tertatawa sendiri dan menangis tiba-tiba di kamar mandi.
Di tempat Grizelle, Jade menyuruh Grizelle untuk tidur terlebih dahulu di dalam. Jade berpikir akan tidur di luar untuk menjagai Grizelle sambil memandangi bintang dan aurora yang indah menghiasi langit. Sepuluh menit kemudian, Grizelle memanggil Jade dari dalam.
“Jade?”
Jade menyahut dari luar, “Hmmm? Kenapa?”
“Kamu sedang apa?”
“Aku sedang melihat langit.”
“Bolehkah aku ikut?”
”Iya, boleh.”
Grizelle mengambil lalu memakai cardigan berwarna hitam agar tidak merasakan dingin di luar. Grizelle memilih duduk disamping Jade. Mereka menikmati pemandangan langit itu tanpa pembicaraan hingga Grizelle tertidur. Kepalanya sudah tertunduk-tunduk dan juga matanya sudah tertutup. Jade memilih
membetulkan kepala Grizelle menjadi bersandar ke pundaknya.
Malam itu, Jade tidak merasa ngantuk sedikitpun. Dia sekali-kali melihat wajah Grizelle. Wajah Grizelle sudah bercucuran keringat disertai suara menggigil. Grizelle mengigau memanggil ayahnya beserta nama Alardo.
Nama Alardo membuat Jade cukup terkejut dengan rasa takut bercampur aduk. ‘Kenapa kamu mengucap nama itu, Grizelle? Apakah kamu mengenalnya, Grizelle?’ Pertanyaan terus berputar di kepala Jade.
Akan tetapi, Jade memilih mengangkat Grizelle masuk ke dalam rumah agar tidak kedinginan. Dia menyelimuti tubuh mungil Grizelle menggunakan selimut. Dia mengecek suhu tubuh Grizelle yang saat itu sedang dingin. Dengan
buru-buru, Jade membuat air hangat lalu dikompreskan ke kening milik Grizelle.
Jade berbicara pelan pada orang yang tertidur,“Diantara semua vampire, kenapa kamu harus mengenalnya?”