
Leana’s POV
Satu minggu kemudian, aku akan diajak oleh Jack ke taman bunga yang sangat besar. Kami melakukan teleportasi agar bisa cepat sampainya.
Sesampai disini, aku terpana dengan keindahan bunga warna-warni tersebar luas di taman ini. Disini tidak ada orang kecuali kami berdua.
“Apakah ini cukup indah, Leana?” Aku mengangguk senang dengan memperlihatkan senyuman lebar kepadanya.
“Ini sudah cukup bagiku, Jack.”
“Ayo, jangan diam. Kita berlarian untuk menikmatinya.” Jack mengambil tangan kiri lalu menarik ku untuk berlari dengannya. Hati berdegup kencang tidak karuan karena dia.
“Jack, pelan-pelan.” Segera dia memperlambat lajunya.
‘Kamu orang yang baik, Jack.’ Tiba-tiba, dia memberhentikan langkahnya dan melepaskan pegangannya. Dia berkata kepadaku, “apa kamu baru memujiku tadi?” Wajahku terkejut mendengar pertanyaan.
“T-tidak. Aku tidak memujimu.” Aku berbalik badan untuk menyembunyikan muka merahku.
“Benarkah? Kalau begitu..,” dia memberhentikan kalimatnya dan mengambil tangan kananku. Dia menarik tubuhku ke dalam dekapannya. Posisi kami kurang dari satu inci. Dia melumatkan bibirnya pada bibirku sehingga membuat hatiku semakin berdegup kencang tanpa henti. Setelah itu, kami saling bertatapan dengan canggung. Lebih tepatnya, aku yang lebih canggung. Sedangkan dia tetap berperilaku biasa saja seperti dia habis tidak melakukan apa-apa.
“Jadi, apa kamu mau mengakuinya bahwa kamu tadi memujiku?”
“Baiklah, aku mengakuinya. Ini tidak adil, kamu bisa baca pikiranku juga sama seperti kakak Luther.” Dia tertawa senang melihat perilakuku yang sedikit cemberut. Lalu, tawanya terhenti dan mengambil sesuatu di saku celananya. Itu adalah kotak kecil berwarna merah.
Tiba-tiba, dia berlutut dihadapanku dan membuka kotak merah itu. “Hmm, sebenarnya aku malu mengungkapkan padamu. Maukah kamu menikah denganku?” Aku memeluknya serta mengangguk senang.
“Iya, aku mau, Jack.” Dia membalas pelukanku dengan senang.
Dia berbisik kepadaku, “Terima kasih, Leana.”
\~\~\~\~\~\~\~\~\~Dua hari sebelumnya\~\~\~\~\~\~\~
Luther’s POV
Malam hari, aku mendatangi Tuan Jack ke dalam ruang perpustakaan miliknya. Aku melihatnya sedang membaca buku berjudul “Strategi Berperang”.
“Biarkan saja. Lagipula dia belum pulihkan ingatannya?,” tetap fokus membaca.
“Belum, tuan.”
“Ya sudah, biarkan mereka memasuki perangkap ini.” Tuan Jack tetap terlihat tenang mungkin dia sudah tidak peduli lagi.
“Tuan, bolehkah aku memberi saran?”
“Apa?”
“Bagaimana kalau kamu pura-pura melamar dan menikahi tuan saja? Sepertinya dia mecintai tuan.”
“Jika itu maumu, aku akan lakukan. Apakah itu bisa mencegah raja Richard kembali ke istanaku lagi?”
“Kemungkinan yang ada 70%, tuan. Dia tidak akan memata-matai tempat ini lagi.”
“Ok, baiklah. Itu adalah hal mudah untukku. Akukan Raja yang cerdik dalam hal mendapatkan hati seorang perempuan. Tapi aku mempunyai syarat tentang masalah ini.”
“Apa, tuan? Aku akan berjanji akan melaksanakannya.”
“Setelah delapan bulan, kamu akan membunuhnya di depanku. Ok?” Aku membelalakan mataku karena terkejut.
‘Apa tidak mungkin?!’ Dia menutup bukunya dengan keras. Lalu, dia menghampiriku untuk mencekik dan mendorong ku sampai terbentur ke dinding.
“Apa kamu menyukainya, Luther? Bagaimana kalau penggantinya adalah kau saja? Kamu mau menggantikan nyawanya?Jika kamu mau, aku akan rela melakukannya sekarang demi dia.”
“T-ti-tidak, tuan.” Dia melepaskan cekikannya itu dan berkacak pinggang di depanku. Sedangkan, aku sedang mengelus-ngelus leherku yang tadi habis dicekiknya dengan erat.
“Ok, kalau begitu laksanakan perintahku. Jangan membantahnya!”
“Iya, tuan.”
“Langit indah baru bertemu langit gelap yang menutupi keindahannya. Cinta yang kelihatannya indah dari pandangan luar belum tentu indah di dalamnya.”