
Keesokan pagi, aku menyuruh pelayanku untuk membuat berbagai hidangan. Setelah hidangan itu jadi, aku membuat empat minuman untuk mereka tapi aku memisahkan yang untuk Stephanie. Aku memasukan ramuan itu ke dalam minuman milik Stephanie. Lalu, giliranku untuk mengambil sekantung darah dan ditaruh di dalam gelas.
Satu-persatu mereka datang mulai dari Lucas, Bianca, Frederra, dan yang paling terakhir adalah Stephanie. Stephanie masih mengucek-ngucek matanya. Kami berempat bersikap biasa aja dengan menikmati makanan yang ada. Aku hanya bisa makan sedikit karena di mulutku sudah terasa ingin muntah.
“Selamat pagi.” Stephanie mengucap itu nada yang masih mengantuk.
“S-selamat pagi, Stephanie.” Aku membalasnya dengan sedikit canggung.
Stephanie memakan makanannya terlebih dahulu. Setelah itu, dia meminum segelas air yang sudah ku sediakan tanpa tersisa.
Hanya membutuhkan lima menit, reaksi ramuan itu mulai terjadi.
“Aduh kepala sakit.” Dia mencoba berdiri dan hampir saja terjatuh. Aku menangkap terlebih dahulu sebelum dia terbentur lantai. Stephanie menutup matanya perlahan-lahan. Aku mengecek nadinya apakah masih berdenyut atau tidak.
Aku menggelengkan kepalaku kepada mereka bertiga. Hanya Bianca yang menangis karena dia belum diberitahu rencana yang sesungguhnya. Dia mendekati Stephanie yang sudah pucat pasi.
“Steph, Steph, Stephanie!! Bangun!! Kamu sudah berjanji kepadaku untuk tidak pergi! Mengapa kamu pergi?!” Dia memeluk Stephanie dengan erat. Lucas mencoba mendekati Bianca untuk menenangkannya.
“Ayo, Bianca. Kita pergi dulu. Biar Stephanie diurus oleh Richard. O-ok?” Lucas membantu Bianca berdiri dan menjauhkannya menuju kamar Bianca yang bersampingan dengan kamar Lucas.
Sesudah itu, aku mengangkat tubuh Stephanie yang sudah kaku ke kamarnya. Sesampai di depan kamar Stephanie, aku berkata kepada Frederra.
“Kamu lebih baik disini aja karena bisa berbahaya jika Stephanie sudah berubah.” Frederra menuruti perintahku. Akupun menutup pintu kamar itu serta membaringkan Stephanie di ranjang itu.
Aku mengambil pisau yang sudah kusiapkan dari awal di saku celanaku. Aku mengiris pergelanganku yang kuarahkan ke atas mulut Stephanie yang sedikit terbuka. Sesudah cukup, aku memberi napas buatan dari mulutku ke mulutnya seraya menutup lubang hidungnya. Cara itu agar darahku bisa mengalir di dalam tubuhnya.
Aku melihat ke dalam mulutnya dan ternyata darahku sudah masuk ke dalam tubuhnya.
“Ah, sekarang aku tinggal menunggu dia terbangun.” Aku keluar dari kamar ini hanya sebentar. Di luar sudah ada Frederra dan Lucas yang menunggu.
“Bagaimana, Richard? Apa ritual sudah selesai?” Lucas menanyakan terlebih dahulu. Aku menjawab dengan anggukan.
“Bagaimana keadaan Stephanie, Raja Richard?”
“Belum terbangun, Frederra.”
“Oh iya, Richard, tadi aku udah menjelaskan kepada Bianca tentang semuanya. Jadi, dia sedikit tenang di kamarnya.”
“Ok, kerja bagus, Lucas.” Aku memberikan senyuman tipis.
“Oh iya satu lagi, luka di tanganmu sudah tertutup tapi sisa darahnya belum kamu mengelapnya.” Lucas memberikan saputangan kepadaku.
“Terima kasih.”Aku mengelapnya dengan saputangan itu.
“Aku akan di kamar ini sampai Stephanie terbangun. Jadi menurutku, lebih baik kalian di luar sini agar aman. Tunggu situasinya stabil.” Aku masuk ke dalam kamar lagi sebelum mereka menjawabnya.
“Cepatlah bangun, Stephanie. Aku ingin tetap berbincang denganmu.” Aku mencium keningnya yang dingin itu. Aku duduk kembali disana. Tidak lama kemudian, aku berjalan berkeliling kamar itu karena bosan.
Tidak terasa 6 jam sudah berlalu dengan cepat, aku menatapi pemandangan yang ada di luar. Tiba-tiba, aku mendengar rintihan Stephanie yang sudah berdiri dengan berpegangan besi ranjang itu. Aku mendekatinya dan membantunya. Dia memelukku dengan erat.
“Aku cinta kamu, Richard.” Airmatanya sudah membasahi bajuku. Aku membalas pelukannya itu. Setelah lima menit, dia mendongakkan kepalanya dan matanya berubah berwarna merah.
‘Matanya sudah sama denganku.’ Dia mendadak melepas pelukannya serta mencekikku dengan keras. Dia mencekik sambil mendorongku ke dinding. Aku sedikit merintih kesakitan.
“Kenapa kamu membiarkan aku terbunuh oleh temanku, Raja Richard. Kenapa kamu diam saja waktu itu!” Cara bicaranya berubah drastis.
“Rachel!” Dia melepaskan cekikan itu seraya berteriak.
“Ahhh, tolong aku, Richard! Kepalaku sangat sakit.” Dia memegang kepalanya.
Lucas mendobrak pintu kamar itu, dia melihat perubahan Stephanie yang kelihatan sangat signifikan.
“Ada apa, Richard?!”
“Sst.” Aku menyuruh Lucas untuk diam.
Aku melihat hanya sesaat di belakang Lucas sudah ada Frederra dan Bianca.
“Rachel, apa yang kamu mau? Balikin Stephanie, Rachel!” Dia berhenti merintih kesakitan dan menatapku dengan tajam. Warna bola matanya berubah lagi sebelah kiri berwarna hitam seperti kepunyaan Stephanie. Sedangkan, sebelah kanan berwarna setengah merah dan setengah biru.
‘Warna biru seperti kepunyaan Rachel?!’
Dia melempar pandangannya ke arah Bianca. Dari jarak jauh itu, dia mengeluarkan kekuatannya untuk mencekik Bianca juga.
Pikiranku dan Lucas sama, ‘kekuatan sihir? Mengapa kekuatannya masih ada?’ Bianca meringis kesakitan.
“Rachel lepaskan Bianca! Stephanie kembalilah! Dia bukan temanmu yang dulu, Rachel!” Aku berteriak kepadanya.
Dia menghentikan kekuatannya dan memegang kepalanya lagi.
“Ahhhh!!!!”
Keadaannya mulai sedikit stabil dengan bola mata yang sama, dia berkata kepadaku. “Maafkan aku, Richard.” Setelahnya, dia berlari keluar melewati jendela dengan memecahkan kaca itu.
Kami berempat tidak bisa menghentikannya karena terlalu cepat gerakannya. Itu gerakan percampuran antara penyihir dan vampire.
“Aku akan mencarimu lagi. Walaupun, kamu akan menghindariku. Aku tidak takut pada perubahanmu. Aku hanya akut jika kamu meninggalkanku lagi. Aku akan tetap mencintaimu.”