My Reincarnation and My Reincarnation 2

My Reincarnation and My Reincarnation 2
Keputusasaan



“Bi, maaf aku mau mengonfirmasi kebenaran ini. Apa benar bibi adalah seorang penyihir?


Bibi menganggukkan kepala seraya tersenyum.


“Dan apa benar bibi bukan keluargaku?”


“Benar sayang, orang tuamu adalah mantan muridku.”


Bianca hanya bisa mengamati pembicaraan diantara kami dengan menikmati segelas cokelat hangat.


“Oh, iya. Ini buku untukmu. Buku ini mungkin akan berguna untukmu.” Bibi menyerahkan buku tebal yang judulnya saja tidak bisa kupahami sama sekali. Lalu, Aku mengambilnya dari tangan bibi.


“Buku apa ini, Bi?”


“Buku ini adalah buku sihir. Tadinya, ini buku yang dulunya dipelajari oleh orang tuamu. Orang tuamu menyuruhku untuk memberikan kepadamu disaat kamu sudah siap.”


“Orang tuaku yang menyuruhnya?” Bibi tersenyum ke arahku. Aku membalasnya dengan pelukan hangat dan berbisik kepadanya.


“Terima kasih, Bi.”


“Iya, sama-sama, sayang.”


“Ehem, maaf mengganggu kalian berdua. Bisakah Bibi dan Stephanie meminum cokelat ini selagi masih hangat?”


“Oh iya-iya. Ayo, Bi. Mari kita minum.” Aku dan bibi meminumnya dengan perlahan-lahan. Tiba-tiba, Bianca menaruh gelasnya di atas meja kaca ini.


“Ah! Cokelatnya enak!” Aku membelalak mataku karena cokelat di gelasnya sudah tidak ada.


“Kamu sudah habis cokelatnya?!”


“Iya, dong! Pertama, cokelat ini sangat nikmat dan yang kedua kalian terlalu lama mengobrol. Hehehe, maaf ya, Bi.” Bibiku terkekeh mendengar ucapan Bianca.


“Kamu minta maaf ke bibi saja? Bagaimana denganku?” Aku menyindir halus kepadanya.


Seusai itu, Bianca tersandung dan terjatuh sampai terluka di lutut dan sikutnya. Walaupun di sikutnya hanya tergores kecil tapi di lutut mengeluarkan setetes darah dari sana. Disana, aku dapat mencium aroma darahnya yang tidak bisa kutahan. Namun, aku mencoba sebisaku untuk menahannya dengan terdiam di tempat. Aku tidak berani untuk mendekatinya.


Bibi yang mengetahui kondisiku yang sekarang hanya bisa mendekatiku dan memerintahkanku. “Stephanie lebih baik kamu masuk ke dalam kamarmu. Sekarang!” Tiba-tiba, Richard mendatangi kami dan menyuruh yang sama kepadaku. Aku melihat dia membopong Bianca ke kamar Bianca dan bibiku yang berada di belakangnya. Akan tetapi, aku berlari ke kamarku dan mengunci pintu. Aku terduduk dilantai itu dan meraung dengan tangisan.


“Maaf Bianca, aku yang sekarang tidak bisa membantumu seperti dulu. Ini keputusanku yang tidak bisa ku kembalikan seperti semula lagi.”


“Ah, tenanglah, Stephanie. Dia sudah ditangani oleh Richard. Tenanglah, tenanglah. Jangan berpikiran kepada darahnya.” Aku menghirup udara lalu membuangnya kembali dan seterusnya.


Aku menunggu kondisi sudah normal lagi. Aku menundukkan kepalaku dengan mata sembabku dan pipi yang basah dengan air mataku.


Setelah beberapa lama, ada yang mengetuk pintuku.


“Steph..”


‘Suara ini..’ Tanpa berpikir panjang, aku membukakan pintu. Aku langsung memeluknya dengan erat.


“Richard, aku takut. Aku sangat takut.” Richard membalas pelukanku juga.


“Sst, sst. Sudah-sudah. Tadi, kamu sudah bagus, Steph. Kamu sudah mencoba menahannya.” Aku melepaskan pelukannya dan menatap wajah Richard dengan mengeluarkan airmataku.


“Tapi tetap saja, tadi hampir saja aku mau mencelakakannya. Kalau bibi dan kamu tidak datang, aku tidak tau apa yang akan terjadi.”


Richard mengusap airmataku. “Tidak, itu adalah dari dirimu sendiri, Steph.” Dia memberikan senyuman kepadaku.


“Ayo, tersenyumlah,” sambungnya. Dia mencolek hidungku yang sudah memerah.


Aku mencoba tersenyum di depannya.


“Nah itu baru senyuman dari seorang Stephanie yang kukenal.”


“Hatiku sedikit teriris karena aku sudah tidak bisa membantu temanku yang sedang terluka. Bisakah ini kehidupanku dikembalikan seperti dulu lagi? Sekarang, aku tidak ingin ini terjadi.”