
Keesokan harinya, aku beserta Lucas, Bianca dan Frederra memulai pencarian kami. Lucas mengubah warna matanya menjadi abu-abu lagi.
“Apa kamu sudah melihat aura dari Stephanie, Lucas?”
“Dapat!”
“Temanku ke arah mana, Luc?” Bianca menanyakannya dengan semangat.
“Dia ke arah sana.” Jarinya menunjukkan ke depan sana. Hutan yang sangat luas dan panjang. Hutan itu adalah satu-satunya jalan alternatif ke istana serigala.
‘Sebentar.. itu jalan cepat menuju hutan serigala!’ Aku dan Lucas saling bertatapan dan mencoba mempercepat pencarian. Tanpa tersadar, kami telah meninggalkan Bianca dan Frederra terlalu jauh.
“Richard, aura Stephanie terhenti disini dan...”
“Dan apa?”
“Dan aku melihat ada satu aura lagi yang berdekatan dengan aura Stephanie,” pungkasnya.
“Apa?!”
Aku dan Lucas mencoba mencari apakah ada sesuatu dari Stephanie yang terjatuh disini. Tiba-tiba, kami mendengar suara dari belakang.
“Apa yang sedang kalian cari?” Itu ternyata adalah suara Bianca.
“Kami hanya mencari apakah Stephanie menjatuhkan sesuatu atau tidak,” aku menjawab dengan tetap fokus mencari.
“Boleh kami membantu?” Frederra menanyakan yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan.
“Tentu saja.” Aku tetap menjawabnya dengan sabar.
“Kami berdua sudah menelisuri di sebelah kiri sini. Mungkin kalian lebih baik cari di sebelah kanan kami,” jawab Lucas dengan sedikit tegas.
“Ok.” Mereka berdua serempak bergegas ikut mencari juga.
Setelah beberapa, kami hanya mendapatkan sehelai rambut Stephanie yang terjatuh.
Setelahnya, dia duduk dan berdiam diri. Kami tidak tau apa yang akan dia lihat dan kami hanya bisa menunggu untuk mengetahui siapa orang itu.
Lima menit telah berlalu, Lucas selesai melihatnya dan aku membantunya berdiri.
“Aku sih sangat marah saat melihat siapa orang itu, Richard. Apakah kamu akan marah atau terkejut?” Aku bingung apa yang dibicarakan oleh Lucas.
“Maksudnya?”
“Orang itu adalah adikku, Luther. Dia yang memberhentikan aura Stephanie sampai disini dan dia membawa Stephanie pergi.” Dia menghela nafas yang sangat berat untuk mengurangi amarahnya.
“APA?! A-Apa B-benar?! Tidak mungkin! Dia akan membawanya kepada raja serigala! Apa yang harus kita lakukan?!”
Mereka bertiga hanya terdiam karena bingung apa yang harus dilakukan. Tanpa berpikir panjang, aku berlari menuju istana serigala itu dan meninggalkan mereka semua.
Sesudah sampai di depan istana serigala, aku memilih bersembunyi terlebih dahulu untuk memantau situasi sekitar.
Disana masih terdapat banyak penjaga, aku harus berhati-hati dalam menyerangnya. Aku melihat sekitar apakah penjaganya akan bertambah atau berkurang.
Aku membutuhkan sepuluh detik untuk melihat itu semua. Lalu, aku menyerang dan membuat mereka pingsan. Aku sebenarnya ingin membunuh penjaganya tapi aku tidak tega. Jika aku melihat mereka terbunuh olehku sama saja aku melihat pelayanku yang sudah terbunuh olehnya dan aku teringat kembali akan kejadian Rachel. Itu akan membuatku merasa bersalah seumur hidup.
Setelah itu, aku mencari Stephanie ke dalam istana dengan cepat dan berhati-hati juga.
Aku sudah mencarinya dari lantai bawah ke lantai paling atas dengan seksama tapi tidak kutemukan.
‘Dimana dia mengurung Stephanie?’ Aku bingung apa yang harus kulakukan.
‘Oh, iya disini ada penyihir ya? Mungkin dia sudah memantrai ruangan itu agar tidak terlihat olehku.’
Aku mendengar tepuk tangan dan suara dari belakangku. Dengan refleks, aku membalikkan badanku untuk melihat siapa itu.
“Yap, memang aku sudah menyihir kamarnya dan kamu tidak akan mengetahui dan tidak terlihat letak dimana ruang Stephanie terkurung. Oh, iya satu lagi, aku baru saja membuat Stephanie pingsan di ruangannya sekarang.” Aku terkejut melihat Luther dengan senyum sinisnya.
“Aku akan menepati janjiku. Aku akan mencarimu dan melindungimu lagi. Aku mau hidup abadi denganmu saja. Apa kamu akan menyesal karena telah menjadi milikku selamanya dan berubah sepertiku?”