
Aku hanya bisa menatapi jendela kaca yang sudah pecah oleh Stephanie. Aku mengambil pecahan kaca itu dan menggenggamnya dengan erat sampai tanganku berdarah. Lucas menepuk pundakku dengan pelan.
“Tenang, Richard. Aku akan menolongmu untuk mencarikan Stephanie. Aku bisa melihat auranya dan kita akan bisa menemukannya.”
“Terima kasih, Lucas. Kamu sudah banyak membantuku. Aku tidak bisa merepotkanmu lagi.”
“Jangan begitu, Richard. Aku tidak keberatan dan aku malah senang jika membantumu terus-menerus. Bukankah itu arti dari seorang sahabat?”
Aku membalasnya dengan senyuman tipis.
“Ehm, Ehm. Richard dan Lucas bolehkah aku ikut membantu?” Aku melihat di belakangku sudah ada Bianca.
Bianca masih merasakan sakit tapi dia berjalan dengan tangannya bertopang pada pundak Frederra.
“Apa kamu yakin, Bianca? Kamu masih kurang sehat.” Lucas menanyakan itu seraya menghampiri Bianca.
Bianca menggelengkan kepalanya dan melayangkan senyuman tulus.
“Dia temanku. Aku akan membantunya meski dia telah menyakitiku.” Itu membuatku terkejut setelah mendengarnya. Dari sini, aku masih melihat bekas cekikan dari kekuatan Stephanie yang tertinggal di lehernya.
Disana, Lucas membopong Bianca ke ranjang Stephanie. Dia mencoba menyembuhkan luka yang di leher Bianca.
“Ini sedikit sakit. Apa kamu bisa menahannya?,” tanya Lucas kepada dia.
“Hmm, iya.” Lucas mengeluarkan cahaya putih dari tangannya. Tangannya diarahkan ke luka itu.
Bianca menahan rasa sakit itu meskipun di wajahnya tergambarkan rasa sakit yang terlalu dalam. Lucas memandang Bianca dan menitihkan airmatanya. Dia tidak tega melihat Bianca merasakan sakit itu.
Sebenarnya ini yang pertama kali, aku melihat dia menangis.
Sekitar 30 menit, Bianca sudah dipulihkan oleh Lucas. Dia membantu Bianca berdiri.
“Apa kamu lapar, sayang?” Frederra menanyakan dengan lembut.
“Hehehe, iya, Bi.” Pipinya memerah yang membuatku makin teringat dengan perilaku Stephanie setiap aku mencium pipi atau keningnya.
Dia melanjutkan perkataannya, “tapi tidak usah repot-repot. Sekarang yang terutama adalah keselamatan dari Stephanie terlebih dahulu.”
“Gimana bisa kamu mau menyelamatkan temanmu dengan perut yang bunyi itu? Betulkan, Richard.”
“Eh, iya-iya. Kamu makan terlebih dahulu saja.”
Frederra mengajak Bianca keluar dari kamar. Mungkin, Frederra akan memasakkan untuknya. Lucas menghampiriku dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya.
“Mungkin kita akan mulai mencari Stephanie dari besok pagi. Istarahatlah dan jangan lupa minum darah. Matamu sudah berubah lagi. Besok akan menjadi hari yang panjang.”
Sebelum dia meninggalkanku sendiri dia kamar ini, dia menjentikkan jarinya dan tersedialah segelas darah di meja sampingku.
“Sekali lagi terima kasih, Lucas.”
“Tidak masalah.”
Aku langsung meneguknya tanpa tersisa dan mengarahkan pandanganku ke langit yang penuh bintang berkelap-kelip.
‘Stephanie, kamu dimana? Aku sudah gagal melindungimu. Aku sudah gagal. Benar-benar gagal.’ Aku berlutut dan memukul-mukulkan tanganku ke pecahan-pecahan kaca itu. Air mataku bercucuran ke bawah mengenai tanganku. Aku tidak merasakan perih karena lukaku yang terluka akan tertutup lagi dan seterusnya begitu.
‘Walau ini hanya baru beberapa menit, kamu meninggalkan istana ini. Aku rindu padamu, Stephanie. Apa kamu baik-baik saja di luar sana? Apa bisa aku bertemu kamu lagi? Maafkan diriku yang terlalu egois dan terlalu banyak membohongimu. Aku mohon kembalilah.’
“Pertama kalinya bertemu denganmu, aku telah berjanji untuk melindungi serta mencintaimu selama-lamanya. Akan tetapi keadaan sekarang sedang seratus delapan puluh derajat berubah, aku gagal melindungimu. Aku memang tidak pantas tinggal di hidupmu. Apakah aku harus mundur lagi untuk melihatmu bahagia?”